Menanti Embun dan Cahaya Syurga

By: Baiq Synthia M.R.M

       Bagi Zahra seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan,sosok orang yang ia sayangi, kagumi dan akan menjadi imam dalam mengarungi bahtera kehidupan telah meninggalkannya.

baiq aja
Baiq Cynthia

    Sebut saja namanya Zulqarnain,seorang sarjana muda yang menderita kanker darah sejak umur 5 tahun. Zahra hanya bisa menyaksikan keranda hijau menjadi tumpangan beliau. Lafadz “La ilaa ha illaAllah” terdengar hingga gendang telinganya. Tetes demi tetes mengalir dari pelupuk mata gadis shalihah berparas manis. Sambil bibirnya berkomat-kamit menyeruh kepada Allah, bahwa kehidupan di muka bumi ini tiada yang abadi.Tersimpuh lemas di dekat jendela ruang tamu kediaman sang mayyit.

   Zahra hanya bisa mengenang canda, tawa dan senyumannya ketika beliau meminangnya dihadapan keluarga Zahra. Mereka tidak pernahh berbicara satu sama lain, apalagi bertemu atau jalan bersama layaknya muda-mudi pada umumnya. Hanya sekali momen yang tak pernah ia lupakan.

   Awal perkenalannya sebenarnya sejak kelas 3 SMU.Detik-detik Ujian akan dilaksanakan, Zahra memasuki ruang kelas XII IPA 1. Disana mereka terkenal cuek dan garang, mungkin karena mereka merasa paling hebat.Nama kelas unggulan di salah satu SMU swasta bernuansa Islam.Namun Zahra tak mengindahkan semua itu, karena ia memang mendapat tugas dari seorang guru untuk menyampaikan pesan bahwa gurunya tidak akan mengajar, sehingga mereka mendapat tugas tambahan.Sedangkan Zahra sendiri adalah siswi kelas XII BAHASA 1.Saat itu terasa aneh di dada Zahra.Namun, Zahra berusaha menghilangkan saja, karena rata-rata siswa XII IPA 1 adalah anak orang berada. Tak pernah Zahra sangka Ujian dilaksanakan bersama laki-laki tinggi perawakan arab. Yang ia rasakan senang, duka dan campur aduk. Ujian Nasional kali ini memang membuat mereka menjadi ciut. Namun bagi Zulqarnain terasa tak ada beban sama sekali,memang ia sering disebut si aneh.

    Ujian telah usai, Zahra pun merasa sedikit tenang,rasa tegang masih ada karena pengumuman kelulusan tinggal 1 purnama lagi. Untuk mengisi waktu kosongnya Zahra sering mengubah celoteh hatinya menjadi rangkaian kata. Juga sering berinteraksi dengan kawan dunia maya. Hingga ia berkenalan dengan sosok wanita shaleha, yang menjadi teman curhat. Beliau berumur setahun lebih tua dari Zahra, yang memiliki nama Indah Aira. Zahra sendiri banyak belajar darinya dan mereka acap kali menyebut nama yang unik. Aira memanggil Zahra Cahaya Syurga serta Zahra tak mau kalah Embun Syurga untuk Aira. Mereka tak pernah bertatap muka, karena Laut Jawa memisahkan mereka. Keakraban mereka tak bisa dipisahkan,walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda.Zahra banyak bercerita tentang Zulqarnain kepada Cahaya Syurga.

    Waktu yang dinanti tiba,Zahra menduduki nilai tertinggi, hatinya berbinar.Aira pum bahagia.Masuk ke dunia kampus mereka semakin erat dan hal yang tak pernahh ia sangka laki-laki aneh itu sekampus dengannya.Cerita cinta monyet mereka dimulai di semester 8.Aira sangat mendukung itu.

    “Kring…Kring..”Nada dering handphone Zahra,semua lamunan Zahra buyar.Si Cahaya menelpon dan mengucapkan bela sungkawa serta tak dapat hadir.Saat itu Zahra mulai tenang mendengarkan suara kakak tercintanya.Dan kabar gembiranya ia mengajak menjadi partner untuk menggarap novel.Dan mereka sepakat akan menulis novel dengan judul “Kerinduan Cahaya dan Embun Syurga”.

   Zahra mulai sadar dalam kehidupan ada suka dan duka, ada tawa dan luka. Tak perlu berkecil kalbu.Semua itu adalah tantangan Ilahi, untuk menjadi Insan sempurna di Jannahnya kelak.

Situbondo,24 April 2014

@9.33

Iklan