Pertama jatuh cinta itu. Rasanya aneh, setiap berjumpa harus salah tingkah. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi, hanya diam yang bisa dilakukan. Kata orang cinta itu gila, cinta itu buta dan cinta itu segalanya. Tapi, menurutku cinta itu semu. Tuhan memang menganugrahkan cinta. Cinta bisa menjadi hal yang terindah. Saat cinta memberikan kebahagiaan. Tak hanya di dunia juga di di dimensi keabadian.

Semua berawal dari kecanggihan teknologi. Termasuk kedatangan media sosial yang mengubah segalahnya. Dari yang culun dan tak mengerti cinta sampai berani-beraninya jatuh cinta sebelum saatnya. Ya! Saya seorang akhwat yang pernah jatuh cinta kepada ikhwan teman sekolah di beda kelas.

Usia masih sepucuk teh. Belum pernah mengenal cinta. Cinta monyet yang ada. Teman-teman pasti membully kalau belum punya pasangan. Masa SMA layaknya teman yang lain, memiliki teman berbagi dan penyemangat. Katanya sih gitu.

Tapi, sayang saya tak memiliki kesempatan. Itu karena memiliki ayah seperti tentara  24 jam nonstop dijaga. Kemanapun pasti diantar. Hampir semua aktivitas direkam CCTV ayahku. Bahkan pesan yang masuk ke telepon seluler akan ditanyakan.

Pernah suatu ketika saat SMP di saat waktu lengan, dan hujan rintik-rintik. Ada pesan masuk, dan handphone tidak pernah di-silent. Posisinya sedang di-charger di ruang tengah. Saya hanya mendengar bunyi pesan masuk. Tapi, gak bisa menuju ruang tengah. Karena saya sibuk di ruang belakang. Biasa, membersihkan lantai yang basah karena bocor.

Ponsel sudah dalam genggaman Ayah. Saya tak pernah takut. Walaupun harus di-check. Karena tak memiliki pacar atau hubungan dengan laki-laki. Tiba-tiba namaku dipanggil. Raut mukanya merah padam. Sedikit investigasi sebuah pesan dari Dino.

“Dino itu siapa? Pasti cowok, kan? Tapi, kenapa kamu berani dekat-dekat dengan cowok?” Aku hanya menunduk. Beliau terus mengancam. Dan singkat cerita dia tanya. Ada pesan tambahan dengan nomer yang sama, Iq, jangan lupa buku IPS-nya dan penku di bawa besok!

Ya, memang pulang sekolah ada kegiatan bimbingan olimpiade IPS. Dan aku meminjam buku paketnya. Juga tanpa sadar bolpoint miliknya terbawa. Penjelasan itu, masih tetap bikin darah tinggi.

My dad is my guardian. My dad is bodyguard. Profesi yang digeluti membuat waktu lengang mengawasiku lebih banyak. Mungkin dalam sehari hanya beberapa jam keluar rumah. Selebihnya pasti otak-atik otomotif kendaraan atau sekedar menggambar desain rumah.

Ayahku bukan seorang PNS atau kerja yang memiliki kontrak. Bla…bla…bla…bla. Ayahku hanya seorang makelar. Yang tugasnya sebagai pelantara. Jadi dalam hal jemput sekolah pasti paling cepat ya, Ayahku.

Disisi lain. Aku disuruh memakai masker sejak SMP. Tujuannya agar identitasku tak pernah diketahui orang. Ya, karena aku tak suka membantah perintah orang tua. Sehingga, setiap mau berangkat sekolah. Ataupun pulang sekolah harus makai masker. Banyak yang meledekku dengan sebutan teroris. Tapi, aku gak berani menantang ayahku. Hingga tak hiraukan mereka.

Selain harus menggunakan masker jika diluar rumah. Merasakan belenggu di dalam rumah. Tidak boleh keluar, tanpa ditemani oleh beliau. Dulu aku sempat iri. Karena teman-teman, dengan mudahnya minta izin keluar, jalan-jalan, dan lain-lain. Bahkan kalau ada tugas kelompok, teman-teman harus di rumah.

Aku sih, tak paham arti ayahku yang selalu mengkekang saat itu. Tapi, aku tak pernah merasa stess. Karena bisa bebas berekpresi di kebun rumah. Menanam tanaman. Hingga bermain dengan kupu-kupu. Meskipun sudah menginjakkan kaki di SMA kelas 1.

Ada banyak yang bertanya, apakah aku gak bosan diam diri dirumah terus? Ya jawabannya tidak. Aku bisa cerita bareng umi’ sambil belajar. Atau nonton cartoon kesayangan. Menemani umi’ di dapur atau sekedar bersih-bersih rumah.

Setiap minggu pun keluar. Sekedar ke perpustaakaan kota atau mengerjakan tugas di Warnet. Yah! Dengan ayahku.

Tapi, di saat aku menginjakkan kaki di usia 17 tahun aku benar berubah. Aku bosan dengan perilaku ayahku, beberapa teman sudah boleh pacaran. Dan mereka bisa jalan-jalan ke mana saja.

Ya, aku sih tahu kalau pacaran itu hanya merusak. Tapi, pergaulan yang membuatku semakin terpojokkan. Ketika di-briefing dengan ayahku, ya kembali focus lagi untuk belajar.

Mengenal FB. Di usia remaja. Membuatku jadi lupa daratan. Lupa belajar, lupa tidur hingga lupa makan. Ya, Alhamdulillah. Kalau sholat gak lupa. Karena pasti ditanya sama umi’. Ummi gak pernah melarang aku untuk bermain hape. Cuma, melarang kalau sampai gak ada istirahatnya. Emang sih, media sosial membuat kecanduan. Apalagi tak pernah keluar rumah. Dengan mudahnya kenal sama orang ini dan itu. Tapi, aku sembunyi-sembunyi dari Ayah. Karena teman ayah banyak. Jadi foto profil Fb cukup dengan gambar animasi.

Tak ingin ada yang melaporkan kepada Ayah. Suatu saat mengenal teman beda kelas lewat Fb. Keseharian tak begitu kenal. Hanya sekedar tahu dia sekolah di tempat yang sama dan kelas berbeda dari update statusnya. Namanya Naruto. Ya aku samarkan. Karena dia penggila Naruto. Hobby-nya download film Naruto. Nonton Mario teguh dan games.

Aku kenal lewat chatting-an. Yang hingga dia meminta no.handphone. SMS-an, tapi yang dibahas dari pemain sepak bola, hingga anime juga masa-masa kecil dan lain-lain. Keesokan harinya aku tanya kepada sahabatku yang sekelas denganya. Yang namanya Naruto yang mana?

“Oh. Itu yang tinggi dan bla…bla…bla….”

Ya, walaupun tahu, tapi seorang perempuan malu ingin mengutarakan kata Assalamu’alaikum, apa kabar. Jadi hanya diam-diam melihat aktivitasnya. Namun sepulang sekolah ya … curhat -curhatan. Dasar anak alay (😁)

Beberapa bulan kemudian aku suka. Ya wajar. Karena manusia punya ketertarikan dengan lawan jenis. Tapi, aku malu. Jadi aku hanya mengekpresikan dengan perilaku GJ (Gak Jelas).

Sempat utarakan kepadanya. Tapi, Naruto juga orangnya pemalu. Jadi, seperti ‘dikacangi’ aja. Hahaha, juga dengan situasi yang akan kami hadapi. Akan melaksanakan UN. Apalagi wali kelas berpesan, jangan pacaran dulu, mainnya dikurangi dan jika masih melakukan akan di doakan tidak lulus. Ancaman banget. Ya! Aku bilang sama Naruto. Kalu kita akan pacaran setelah lulus!

Hiks. Namun yang terjadi, alih-alih akan lulus. Belum ujian tiba-tiba yang biasanya balas SMSnya cepat. Jadi lambat. Yang biasanya ada emoticon smile, love atau semacamnya jadi hilang. Hingga munccul namanya ‘galau’. Entah rasa apa yang menghantui. Gak tenang. Gak bisa kosentrasi belajar. Dan ngobrol gak terarah. Ya, setengah gila.

Astaughfirullah. Mengingat peristiwa pahit membuat jadi aneh. Pernah stalking Fb-nya. Naruto malah saling komentar-an dengan perempuan. Ya, aku baru tahu rasanya jealose.

Ya, aku SMS langsung. (Sok marah, ngambekan). Dia minta maaf tiba-tiba manggil my princess. Cewek mana yang gak bahagianya setinggi langit. Kami, sama-sama memiliki impian ingin ke Jepang/merajut mimpi. Anak ABG udah kejauhan mimpi 😂

UN udah tinggal sehari. Tapi, aku tak bisa konsen juga. Karena menghayal, setelah UN udah mau pacaran. Tapi, esoknya di depan kelas dia tetap dingin dan sok cool. Ya aku Cuma bisa diam. Dan langsung masuk kelas.

Istigosah, acara foto kenangan dan lain-lainnya. Tak pernah lagi kami bersua. Karena sebelumnya udah JANJI GAK AKAN SMS-AN SAMPAI LULUS.Ternyata janji itu palsu. Setelah UN gak ada kabar. Dada terasa sesak juga mual. Tidak selera makan maupun aktivitas.

Hingga pengumuman kelulusan pun SMS-ku tak dijawab, sepertinya dia sudah lupa. Bahkan saat memberikan video motivasi cinta dan Mario teguh. Sikapnya dingin. Acuh tak acuh. Aku benar2 gusar hanya karena lelaki yang belum jelas statusnya denganku.

Cinta pertama harus pudar seiring dengan berita kelulusan. Sempat bertanya lewat chat FB. Akan melanjutkan di mana. Tapi kami saling bertanya secara formal. Naruto berencana di Malang. Tapi, aku gak jelas kuliah ke mana. Sebab, ayahku tak memiliki dana.

Ternyata rencananya batal di Malang, destinasinya Situbondo. Flash back, kata-kata yang pernah diucapkan,“lebih baik mbak memilih orang yang menyukai mbak daripada aku. ” Memang ada sih, teman sekelas yang suka sama aku dan serius. Tapi, aku sukanya sama Naruto.

Sedih bercampur aduk. Hidup terasa kelabu. Selama setahun tak merasakan indahnya cinta. Hingga tahun berikutnya, Tetapi aku sadar. Kalau cinta yang tak halal itu harusnya dipendam. Mencari yang pasti-pasti saja. Tak ada keinginan dekat dengan siapa pun. Tak ingin lama-lama di Situbondo berangkat ke Malang. Menjauh dari sisinya, Mencari ilmu daripada harus gundah.
Tiba di Universitas swasta. Di mana ada program Pembentukan karakter, dan harus tinggal di asrama. Selama seminggu. Namanya P2KK. Ya, ada rasa canggung setelah setahun harus aku lewati tanpa kuliah atau kegiatan bersama teman2.

Sampai kenal sama ikhwan yang membuat hati ini terasa jatuh selama 7 kali. Ya, Allah perasaan apa itu. Aku tak mengerti apa yang telah terjadi. Tidak! Aku sudah berkomitment untuk tidak pacaran. Ya, aku benar-benar menjauhinya.

Tapi, setiap diskusi. Anehnya selalu satu grup, padahal di acak. Sosok yang sangat pandai mengolah kata dan berbicara lantang, mengenai keagamaan dan lain-lain. Sempat sama-sama dihukum gara-gara berbuat gaduh. Di kamar masing-masing. Dan telat tidur. Akhirnya kami di pertemukan lagi, di tempat setoran hafalan. tapi, aku tak begitu dekat, canggung. Hingga digojloki dengan teman yang ada di sana bersama kami.

Pulang dari kegiatan P2KK. Tiba-tiba minta aku tanda tangan di jas almamaternya. Kok aneh? Ada apa? Setelah berhari-hari suka mencuri pandang di kantin dan tak mengerti maksudnya.

Seminggu setelah P2KK berakhir, kami ke kampus bersama sambil jalan bertiga. Sama teman aku. Tak pernah jalan dengan ikhwan sebelumnya, tak berani berjalan dengan yang tak benar. Jadi temanku disertakan. Tapi, pulang dari kampus temanku mah pulang lebih cepat.

Akhirnya aku yang sendiri tanpa orang ketiga lagi. Hanya berdua, aku malu. Jadi aku jalan duluan. Tetapi, selalu disusul olehnya. Hingga diajak makan sore itu. Ya…. aku hanya mengangguk saja. Untuk pertama kalinya makan bareng ikhwan.

Ya Allah, ini sudah salah. Aku jelasin lagi kepadanya, bahwa aku tak ingin pacaran. Ya, dia mengangguk. Kita hanya berkomitmen saja hanya ta’aruf. Aku gak bisa mengelak. Tapi…. Sejak kejadian itu. Yang ada bukan ta’aruf. Yang ada berkhalwat di depan umum, atau *sebagian text hilang*.

Zina hati, ucapan hingga perbuatan. Ya Allah, aku merasa menjadi pribadi yang buruk. Menyesal. Terlalu jauh, apa yang kulakukan. Sering sekali aku cuek dan acuhkannya, aku tak ingin berhubungan dengannya. Namun, terus saja dia mengganggu hingga kini. Apa karena fasilitas yang dia beri pinjam. Berulang kali mengembalikan, namun  selalu dikirim lagi.

Tinggal jauh bersama keluarga sangat membahayakan. Apalagi, hanya tinggal bersama keluarga angkat yang tak melarang dekat dengan laki-laki.

Sekarang aku tahu makna dibalik pengekangan Ayahku selama ini, pacaran itu sangat menyakitkan. Aku tak sanggup jika terus-terusan. Menjadi pudar sosok muslimah. Gara-gara PACARAN. Aku tak memiliki nilai kebaikan lagi.

Tapi, aku ingat pesan dari Ustadzah. Bahwa Allah sangat baik hati. Menerima setiap kesalahan hamba-Nya dan akan selalu menunjukkan jalan terbaik untuk hamba-Nya. Jika hamba-Nya tunduk dan patuh kepada Sang Khalik. Juga menjauhi larangannya.

Sejak saat ini aku ingin hijrah! Apalagi aku sedang kuliah. Memantaskan diri terlebih dahulu. Hingga belahan jiwa datang menjemput untuk mengucapkan ijab Kabul bersama Ayah tercinta. Karena pacaran tak ada manfaatnya, yang ada hanya mudharat dan petaka. Salam hijrah dari Baiq Synithia Maulidia Rose Mitha. 

Iklan