​Cita-cita masih kecil ingin menjadi dokter, guru, artis, penulis, dan ahli bahasa.

Saat usia menginjak 20 tahun aku sendiri bingung akan menjadi apa. Aku dilarang keluar. Tak paham alasannya apa.

Kalau aku diizinkan untuk egois dan hanya maunya aku sendiri. Aku bisa saja pergi lagi. Mencari jalan itu sendiri. 
Aku tahu itu salah satu perjuangan untuk meraih impian aku. Tapi, aku sadar aku terbelenggu. Dengan alasan yang tak bisa dijabarkan.


Apa yang aku tunggu?



Aku tak sedang menunggu siapapun, aku hanya ingin menjemput impianku. 
Barangkali mereka hanya berpikir aku pemalas, penakut dan pesimis.
Aku pikir, aku bingung. Tak menemukan teman diskusi yang mantap. 
Aku sendiri tak tahu ini sudah benar atau salah.

Aku ingin teriak sekarang
.
Tapi, Izinkan aku berkata. Aku ingin seperti mereka.

So, sad. Ya Allah tabahkan aku. Biarkan mereka berbicara panjang kali lebar. Mereka tak tahu rintangan aku. 
Jadi, aku tak perlu menjelaskan dan meminta pendapat mereka lagi. 
Aku hanya ingin membuang unek-unek ini, kemudian melupakan. 

Hahahahah 🐣

Setiap bulan pun banyak kejutan yang tak tertebak. 🙂 Keep smile.
Aku pernah bertanya kepada orang yang paling aku percayai. 
“Mi, aku mau jadi apa?”

“Jadi orang!”

“Nah, maksudnya cita-citanya?”

“Jadi orang yang shaleh!”
Aku tertegun sesaat. Setelah itu aku sadar, bahwa aku harus menjadi orang yang tegar dan lebih punya prinsip yang tangguh. Tak hanya bisa berprestasi di dunia. Namun, bekal untuk akhirat. 
Semangat! Semangat. Tetap tersenyum.
Gak usah dibaca, ya! :v

Iklan