Adalah Zaman Zulkarnaen lelaki berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai pengacara. Bergabung dengan Thompson & Co. Tapi ini bukan sekedar kisah biasa. Ini tentang kisah seseorang yang memiliki hati kristal. Cerita yang tidak akan bosan untuk diulang. Tentang perjuangan, kesabaran, persahabatan, keadilan, pengkhianatan, kebangkitan, tentang cinta dan segalanya Tentang Kamu.

Sri Ningsih gadis yang kehilangan kedua orangtuanya semasa belia. Meski masa kecilnya penuh dengan penderitaan oleh ibu tirinya. Gadis kecil bertubuh gempal, hitam dan pendek selalu ceria menjalani skenario hidup yang kelam. Ingatan tentang janji kepada Ayahnya yang membuatnya tegar dan kuat menghadapi Nusi Maratta, ibu dari adik tirinya yang bernama Tilamuta Nugroho.
Kesabaran tak pernah runtuh sekalipun orang yang lazimnya melindungi buah hatinya, justru membabi buta memperbudak anak tirinya tanpa ampun. Baginya Sri hanyalah ‘Anak yang dikutuk’. Penyebab wafatnya ibunya setelah melahirkan dan Ayahnya saat mencari kado spesial ulang tahun ke-9 Sri. Kapal karam menenggelamkan impian istri kedua Nugroho. Menjadi janda di usia 22 tahun.

Batin yang bergejolak hanya membuat Sri menjadi tempat pelampiasan. Itu tak bertahan lama. Sejatinya buah kesabaran Sri membuat luluh hati ibu tirinya. Merelakan nyawa untuk menebus kesalahan.

Masa remaja Sri tidak dihabiskan di pulau terpencil di Sumbawa. Pulau yang tak memiliki padang rumput, hingga kambing terlihat mengunyah kertas. Pulau Bungin tempat dirinya ditempah oleh siraman panas matahari. Gejolak ombak yang keras membuatnya menjadi pelaut tangguh.

Jiwa pelaut yang diturunkan Ayahnya membuat dirinya ingin mengenyam bangku pendidikan. Hingga Kapal laut mengantarkan ke sebuah Masdrasah di Jawa Tengah. Surakarta sangat berbeda dengan Pulau kecilnya. Tanah luas, hamparan sawah, gunung yang menjulang dan masjid yang megah. Membuat Sri dan Adik tirinya kerasan di kompleks Madrasah yang memilah oleh Kiai arif dan bijaksana.

Guru Bajang, sosok yang membawanya bisa bertemu Kiai Ma’sum salah satu pengasuh Madrasah yang tersohor di Surakarta. Sri tak sendiri di asrama putri. Anak bungsu Kiai Ma’sum menjadi sahabat karibnya Nur’aini. Remaja polos yang selalu berbaik hati kepada Sri. Tak pelit berbagi ilmunya. Muncul juga sahabat baru yang bernama Mbak Sulastri. Pengajar muda di madrasah yang sama. Mereka bertiga sahabat yang tak terpisahkan. Selalu bersama di setiap tawa dan duka.

Seiring berputarnya waktu semuanya berubah, dengki dan iri yang tersulut sejak lama tersimpan di dalam kobaran fitnah. Suami Sulastri, dalang yang membumihanguskan madrasah dengan tumpahan darah santri. Juga salah satu anggota Komunis saat itu. Menebas jiwa tak berdosa tanpa pandang bulu.

Hingga banyak orang tewas, termasuk Kiai Ma’sum dan istrinya mati berpelukan. Pengalaman pahit sulit dimaafkan oleh Nur’aini. Pengkhianatan sahabat yang masih berbekas. Tapi, tidak bagi Sri Ningsih. Wanita yang memiliki hati selembut kristal memaafkannya. Meski kejujurannya membuat Sulastri dijebloskan di pengasingan.

Sri berusaha untuk tidak menangis, melupakan serpihan hidup yang pahit penuh duri dan mustahil bisa melupakan semudah membalik telapak tangan.
Perjalanan hidup tak berhenti di sana. Sri mengadu nasib di Jakarta. Kota yang keras membuat kaki melepuh mencari lowongan kerja. Beruntung dipertemukan dengan Ibu Zaenab dan Tauke membuat dirinya bisa bertahan dan lebih semangat. Meski profesi berganti-ganti mulai dari menyikat wc, tukang kuli beras, hingga bisa mengajar di sebuah gedung SR (Sekolah Rakyat).

Hobinya mencoba hal baru, meninggalkan tempat mengajar, menjadi pedagang kaki lima, berjualan nasi goreng, memunculkan inovasi terbaru. Saat banyak pegangan menduplikat idenya tentang gerobak jualan.

Pernah memilih membuka sewa mobil untuk warga Asing. Naas lagi-lagi peristiwa besar yang menyeramkan menghancurkan tanpa sisa. Puing-puing rental mobil yang sudah tak berbekas, masa kejayaannya pudar oleh peristiwa 15 Januari 1974. Malapetaka yang mengerikan.

Skills Sri tak harus membuatnya bekerja dari titik nol. Kemampuan bahasa asing yang bagus membuat dirinya bergabung di salah satu pabrik sabun cuci. Posisi strategis. Kinerjanya meningkat seiring waktu berjalan.

Tak puas di sana, Sri mendirikan pabrik dengan nama ‘Rahayu’, nama almarhumah ibunda Sri. Idenya yang brilian mampu membuat omsetnya melejit sepeti roket.
Hanya sementara, di saat posisi yang nyaris sempurna. Hantu itu datang. Membuat wajah pias. Sri terpaksa menjual pabriknya. Hijrah ke London.

Salah satu impian wanita dengan tangan penuh bekas kerja keras sudah tercapai. Hidupnya di Eropa membuat bertemu dengan sosok orang yang sering bertingkah gila.

Apakah cinta memang begitu? Saat dia mulai menyemai bibit harapan, hanya untuk layu sebelum berkecambah? Atau dia saja yang berlebihan? Hakan memang penumpang biasa. Dia suka mengobrol dengan siapa pun, dan terbiasa turun terakhir. Apakah cinta memang susah dipahami? Kadang membuat sesak, kadang membuat senang – yang tidak dimengerti?” (Hal. 350)
Butuh waktu lebih dari setahun bagi Hakan Karim mempersunting Sri menjadi istrinya. Melamar kepada orang tua angkat Sri-di apartemen 801. Tempat yang selama ini Sri tinggal bersama keluarga barunya.
Rumah tangganya bahkan tak ada tangisan bayi. Sekali ada putri pertamanya meninggal selang beberapa menit hadir di dunia. Pun kejadian berulang kembali kepada putra bungsunya. Meski berhenti sementara dari pekerjaan sebagai supir bus merah bertingkat. Di usia rawan hamil. Tetap menjaga baik kandungan. Hingga takdir berkata lain. ‘Nugroho’ nama bagi bayi laki-laki Sri dimakamkan dekat ‘Rahayu’– putrinya. Nama yang sama untuk mengenang orangtuannya.
Wajah berlipat terus menyemai dalam raut Sri. Suami yang sangat romantis sering memberikan kejutan kecil, dan mengajak pulang kampung ke Turki untuk sekedar liburan. Hakan tak pernah lelah menghibur istrinya, meski melakukan tindakan paling konyol sekalipun.
Sri harus tinggal di panti jompo setelah kematian suaminya. Alasannya bertemu ‘hantu’ di siang bolong. Justru Sri semakin lincah dan produktif mengalirkan inspirasi bagi sesama.
Zaman tak pernah menyerah meski taruhan nyawa sekalipun. Warisan yang dimiliki Sri harus mempunyai ahli waris. Perjalanan menyusuri benua Asia dan Eropa demi bukti otentik untuk mengalahkan si musuh juga penghianat.
Bekal taekwondo sebagai salah satu alasan direkrut Thompson & Co.
Ditemani Eric—Senior law untuk menyerang A & Z Law yang lebih dulu menemukan bukti DNA adik Sri yang dianggap mati puluhan tahun lalu.
Pria yang rela tak makan dan istirahat terus mencari informasi di panti jompo. Setelah kematian Sri. Di tempat itu benih cinta muncul.
Sosok Ningrum yang serakah ingin kekayaan Sri jatuh telak di tangannya ternyata justru membuat hidupnya menderita.

                            ~*~

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.


Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.


Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.



Itu berupa blurb singkat yang membuat pembaca sangat penasaran dengan isinya. Ditambah tampilan cover yang simple penuh makna. Gambar sepasang sepatu. Filosofi yang kurang lebih begini, “Meski tak bisa bersatu namun selalu berjalan beriringan”.

Pertama kali membuka lembar pertama lay out yang disuguhkan sangat menyentuh hati. Seperti lukisan kuno yang tertambat di hati. TENTANG KAMU.

Membaca daftar isi bertambah rasa ingin tahu saya selaku pembaca.

Tema yang diusung sangat fresh, sepertinya penulis menggabungkan dari beberapa kisah yang telah ditulis di novel sebelumnya Pulang dan Hujan. Tentang Kamu bukan membahas hanya satu orang yang dicintai. Lebih dari itu. Tentang kamu membahas tentang kebaikan hati seseorang yang mampu menginspirasi banyak orang. Termasuk Zaman.

Penokohan di sini ditampilkan sangat rapi. Dengan sudut pandang orang ketiga. Tere Liye berhasil memasukkan karakter Zaman yang berusaha menguak sejarah Sri. Meski banyak tokoh yang muncul di setiap bab. Pembaca sama sekali tidak kebingungan. Gaya penulisannya sangat sederhana, penuh dengan mutiara kata, dan ringan. Membuat pembaca rela duduk berjam-jam dengan tatapan yang berubah-ubah.
Penulis yang juga akan melanjutkan kisah Matahari di seri novel Bintang. Sangat pandai mengolah emosi pembaca. Pembaca dibikin penasaran, merasa sedih, terharu, seolah-olah pembaca ada di kisah Tentang Kamu meski sebagai audiens. Atau pembaca seolah-olah sebagai CCTV. Tidak kaku. Selipan humor yang dimunculkan oleh karakter Rahendra Khan maupun si Maximillie. Mampu menghilangkan garis serius di dahi.

Alur yang sangat berkesan. Penulis meski menuliskan alur maju beberapa bab kisah flashback. Melalui surat dan dialog tokoh yang masih hidup. Membuat pembaca bernostalgia dengan era sebelum kemerdekaan, masa paceklik, era abad baru, hingga masa modern.

Ide sangat brilian tidak hanya memunculkan kisah romansa yang penuh klise. Penulis mengajak pembaca untuk lebih mengetahui dunia yang tersembunyi sepeti Pulau Bungin, masa zaman sebelum kemerdekaan, masa pemberontakan, hingga masa gadget lebih mendominasi. Sisipan tentang agama yang tidak ada kesan menggurui.
Latar cerita yang dibawakan sangat banyak. Mulai dari daerah terpencil yang kurang akses air bersih, daerah perdesaan sekaligus pondok di Surakarta. Daerah kota dengan kerasnya hidup—Jakarta. Hingga beberapa daerah yang menjadi impian para traveler. India, London, Paris, Turki, Mesir, Belanda, San Fransisco, Kairo, Singapura, Beijing, Abu Dhabi dan Australia. Lima benua sekaligus dihadirkan. Membuat pembaca ikut berwisata.

Sangat merekomendasikan bagi para remaja yang mencari sebuah impian, bagi seseorang yang beranjak dewasa maupun dewasa untuk mengenal cinta, juga orangtua sekalipun sebagai dongeng kepada anaknya atau sekedar bernostalgia dengan masa mudanya. Hampir semua kalangan bisa membacanya. Tapi, untuk kategori anak lebih baik orangtua yang bercerita karena mereka tidak akan mengerti kejadian yang begitu rumit di masa silam. Juga buku setebal 524 halaman akan melelahkan dibaca anak-anak.

Pesan moral yang didapat dari cerita ini sangat banyak. Bahkan jika ditulis ulang tidak akan cukup. Singkatnya penghianatan tidak akan berujung kebahagiaan. Hanya kesabaran tanpa batas yang mampu memeluk beragam luka dan penghianatan sekalipun. Juga pesan kepada pemuda-pemudi yang mencari cinta. Bukan tentang keindahan fisik dan wajah. Tapi hati yang tulus mampu membuat kisah cinta lebih lama. Juga pesan moral untuk lebih menghargai orangtua. Bagaimanapun sikap mereka tetap harus patuh. Sebagai mana pesan Ayah Sri sebelum melaut.

Hal yang paling aku suka dari buku terbitan Republika Penerbit adalah minim typo. Sangat manis layout maupun covernya. Coba sentuh gambar sepatu. Tonjolan gambar tersebut membuat seakan kita memegang sepatu tua. Kisah lama yang begitu indah. Selain itu Penulis sangat ciamik membuat cerita yang ‘bikin’ bulu kuduk merinding. Mungkin jika saya kelak menjadi produser film sangat ingin memfilmkan.

Tapi hal yang membuat pembaca kecewa ada beberapa istilah yang tidak dibuatkan catatan kaki (baca footnote). Seperti penyebutan kerabat dalam bahasa India di halaman 305. Ternyata dugaan saya salah. Ada penjelasannya di halaman 320. Meski sayang beberapa istilah baru seperti bonjour dan gypsy tidak saya temukan. Tetapi sama sekali tidak mengganggu saat membaca. Tere Liye memang sengaja membuat pembaca untuk berpikir keras. Tidak hanya membuat terlena dengan kisah yang ditulis sosok penulis Best Seller. 




Saya suka, sangat suka. Semoga ‘Bintang’ lebih menakjubkan. Selamat membaca buku karya Tere Liye. Siapkan makanan ringan.

Judul Buku : Tentang Kamu

Pengarang : Tere Liye

Penerbit  : Republika Penerbit

Tahun Terbit : Oktober 2016

Dimensi Buku : 13,5 cm x 20,5 cm

Jumlah Halaman : 524 halaman

ISBN : 9-786020-822341

Harga : Rp 79.000,-

Perensensi : Baiq Cynthia – Situbondo

Iklan