Bagai Kunang-Kunang (Tanpa) Cahaya [Inspirasi]


​Sebenarnya ini uneg-uneg yang ingin saya tuangkan. Sejak semalam saya tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia. Tetapi karena pikiran dan sakit. Saya sakit malah semakin ‘gila’ dalam berpikir. 

Diawali dengan salah satu grup WA yang mengirimkan informasi berkenaan beasiswa Unggulan dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan. Saya senang saat melihat persyaratan, bisa masuk kategori tersebut. Setelah mencerna dan kembali membaca halaman selanjutnya. Halaman yang ternyata adalah page 1. Nyali saya ciut. Impian untuk melanjutkan pendidikan seperti berhenti begitu saja. Padahal saya sangat memimpikan untuk bisa lanjut ke tahap yang lebih tinggi. 

Saya tidak pesimis. Membaca kesempatan lainnya bisa menjadi alternatif. Beasiswa Non Degree yang dikhususkan untuk mereka yang berprestasi selain mahasiswa dan Dosen yang masih memiliki relevansi dengan Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti guru, seniman, pendidik dari PAUD-SMK, dsg. 

Kembali mengevaluasi diri. Selama 2016 saya berhenti kuliah. Sejak saya tahu tidak ada yang akan memberikan bantuan dana. Biaya pendidikan yang begitu tinggi nyatanya tak sanggup orangtua menanggung. Sebelum saya memberanikan diri terjun ke salah satu fakultas paling diminati karena Ayah saya pernah berjanji bisa mengusahakan. Dengan jalan menjual sepetak tanah yang dimiliki. Juga saran dari teman saya, bahwa di kampus yang akan saya jalani banyak bantuan dan subsidi. Seperti bisa kerja paruh waktu, menulis artikel atau gagasan yang dimuat di media. Dan lain sebagainya. Jujur sebagai anak baru kemarin saya kelimpungan. Tidak hanya berkecimpung dalam tugas kampus baik individual maupun kelompok. Saya masuk dalam organisasi dan kegiatan komunitas lainnya. Seperti Rumah Inspirasi Malang. Dari sana saya banyak mengenal hal baru, seputar kampus dan lingkungan Malang. Saya sudah mulai menargetkan impian tiap bulan dan tahunnya. 

Ternyata kehidupan tak sesuai yang saya persepsi. Saya harus bisa bagi waktu antara kampus, organisasi, dan tugas rumah. Juga informasi kerja paruh waktu untuk semester atas.

Berhubung saya tinggal bersama orangtua angkat tugas saya menjadi bertambah termasuk menjaga dua adik yang belum balita. Tapi, saya merasakan itu mengalir seperti air. Meski kadang saya harus memulai rutinitas dari dini hari agar tak terlambat kuliah maupun pulang organisasi tengah malam. 

Life is a procces. Banyak yang menganggap saya hidup aman, damai dan tentram di Malang. Nyatanya memang seperti itu. Saya tak pernah terbebani kuliah ke rumah dengan jalan kaki 800 meter lebih. Belum dari Gerbang kampus menuju kelas yang ditempuh 5-10 menit jika berjalan dengan cepat. 

Pun saya belajar marketing dengan menjual rujak buah dan pentol goreng. Ibu angkat saya yang membuat. Tetapi saya tidak merasa malu menjual sebelum kelas dimulai. Juga menitipkan ke kantin. Meskipun persaingan ketat. Banyak yang berbondong-bondong nitip di kantin. 

Buktinya, saya harus memikul kembali saat sore datang. Box berukuran 60x50x40 cm3. Aslinya bisa di dorong. Namun saya tak ingin banyak yang melihat. Jadi saya dekap saja. 

Hingga suatu hari saat saya ingin menjemput pentol goreng. Si petugas kantin tiba-tiba mengatakan sudah habis. Mereka pikir saya costumer. Saat saya jelaskan bahwa ingin mengambil uangnya. Nyatanya, sisa dagangan masih ada dalam kantong hitam sebagai jualan yang belum laku. Dari situ saya paham mengapa jualan saya selalu tidak laku. 

Sebagai mahasiswi semester 1, SKS yang wajib ditempuh 24. Ditambah kegiatan ESP dan keagamaan (Ahad Pagi). 

Awalnya saya tidak merasa terbebani, namun saat menjelang UTS ada syarat yang harus ditanggung salah satunya administrasi. Saya down. Saya tidak tahu harus membayar dengan apa. Orangtua saya angkat tangan.

Pikiran kalut hingga kebaikan dari orangtua angkat yang bersedia membantu mengantar separuh. Memang segitu bisa membantunya. Akhirnya saya merengek kepada bidang Keuangan untuk permintaan dispensasi. Saat itu pula saya menggendong adik angkat saya. Ibu angkat kebetulan pergi ke suatu tempat.

Saya tidak mungkin lupa. Bagaimana saya mengambil uang di bank saat si kecil kehausan tidak ingin minum susu instan. Juga hari terakhir pembayaran. 

Ternyata saya bisa mendapatkan dispensasi. Senang sekali. Semua berjalan lancar tak sebentar. 2 bulan berikutnya saya kembali pusing dengan tagihan dispensasi juga kewajiban administrasi UAS. Berarti ganda yang harus dibayar. Kembali saya menelpon rumah berharap masih bisa mendapatkan uang. Ternyata nihil. 

Siapa bilang saya gak depresi. Hampir 3 kali masuk rumah sakit karena beban pikiran yang ditanggung sendiri. Saya bingung, saya mencoba datang ke salah satu senior saya di RIM yang juga sebagai Humas di kampus saya. Dia memberikan banyak alternatif. Namun, harus berujung dengan biaya juga.

Seperti seonggok kertas yang kehilangan tinta. Tak ada kisah. Kosong melompong. 

Saat itu saya gusar. Tidak bisa bekerja paruh waktu. Mengingat hampir 20 jam saya sibuk dengan tugas rumah dan kegiatan lainnya. Akhirnya saya putuskan sendiri. 

Drop out! Jalur terminal. Sebelumnya saya rela membolos kelas demi bisa menemui Kepala Biro Mahasiswa, mencari saran atau alternatif. Setelah saya menemui 3 orang penting juga. Dan tahu apa yang dikatakan. 

Sesuatu yang menyakitkan. Entahlah saya tak ingin luka lama bersemi kembali. 

Sudah banyak yang saya pertimbangkan, dari segi finansial dan kesempatan ikut ujian. Hanya hitungan hari namun tak bisa. Sebelumnya saya juga melamar kerja, namun satupun tak ada yang menerima lamaran kerja saya. Mungkin mereka berpikir anak kuliah tidak bisa membagi waktu kerja. Padahal saya sudah siap dengan segala konsekuensinya. 

Hujan rintik mengelus puncak kepalaku. Saat itu aku menoleh ke lantai 5 di sana tampak teman kelas yang akan masuk kelas. Sebagai wakil kating saya merasa rindu. Jika harus meninggalkan kelas. Saat-saat mengambil kunci kelas atau menemui dosen bertanya jam mengajar. 

Langkah kaki sudah pasti, menuju BAA. Tempat mahasiswa mengajukan non aktif atau cuti, maupun aktif kembali, atau membuat KTM baru, juga yang ingin mendaftar kampus.

Namun, tujuanku beda. Aku hanya ingin berhenti. Aku berpikir jika tak berhenti suatu saat ditagih biaya administrasi yang nyatanya saya tak mengikuti. Mungkin pikiranku terlalu singkat. Siapa lagi yang mau mewakili. Orangtua tak mengayomi putrinya. Menyebutkan kata itu hanya membuat bulir bening mendarat tanpa halangan. 

Beberapa hari lalu saya menemuinya, saya sudah diberi waktu untuk berpikir juga konsultasikan ke atasan. Saya tak ragu pun menggandeng Gubma (Gubenur Mahasiswa), saya sangat bersyukur sudah dibantu selama ini. Tanpa menyebutkan nama. Saya ucapkan terima kasih. 

Berhadapan dengan sosok yang sabar, mengurusi mahasiswa yang cuti maupun yang ingin aktif kembali. Saya sudah siap meski menggigit bibir mendengar pernyataannya. Satu kali dihapus dari sistem. Sulit untuk mengembalikan data mahasiswa yang bersangkutan.

Hanya anggukan dan mata yang sayu. Namun, saya masih duduk dengan tenang. Mendengarkan nasihat yang sangat indah. Namun, hati saya tetap menolak untuk tinggal. Saat itu saya pun menyerahkan KTM. Staf yang bertugas bertanya satu kali lagi. Saat dia menerima surat pernyataan yang saya buat dengan tanda tangan seseorang yang paling saya hormati diatas materai. Sah secara hukum. 

“Klek!” suara pelubang kertas yang memahat ukiran di atas ATM saya. 

Airmata menyeruak ingin keluar masih kuat bertahan di sana. Aku masih tersenyum, berterima kasih dan undur diri. Hujan mulai deras. Namun, sekali lagi kuabaikan. 

Pepatah bilang, “Kegagalan adalah awal kesuksesan”. 

Selamat Baiq kamu pulang dengan tangan hampa. Tanpa ijazah pun. Suara kecil yang terus berdengung dalam hati. 

Saya berjalan di trotoar menuju depan kampus, tempat menongkrong kami. Mencari ide-ide segar. Dengan pembahasan aktual.

Saat itu niat saya hanya ingin berpamitan kepada organisasi tempat saya ditempah tidak kurang dari 4 bulan. Tetapi, salah satu demisioner yang aktif membagi apa yang beliau punya. Mengatakan. 

“Cara berpikir kamu itu normatif, kamu lupa saat mempunyai kami. Berpikirlah yang tidak kaku.” 

“KTM saya juga bolong!” tiba-tiba membuatku kaget. 
Aku tak mengerti maksud ucapannya, tapi ada benarnya juga. Jika KTM bolong otomatis tidak ada nama mahasiswa lagi. Luntur sudah. Masa mau dianggap lulusan SMA? Sebuah pertanyaan yang membuatku diam seribu bahasa. Kamu tidak papa menjadi mahasiswa non aktif. Yang terpenting kamu masih status mahasiswa. 

Akhirnya kami mengadakan rapat dadakan, yang intinya harus mengembalikan status mahasiswa saya. 

Proses demi proses dibantu oleh Ketua Pimpinan organisasi saya. Hingga suatu masa di tanggal yang semestinya saya sudah hengkang dari tugas kelompok tenyata harus kembali lagi. Akhirnya opsi tugas kuliah menjadi individu semua. 

Masalah yang saya hadapi bukan semakin mudah, semakin runyam dan tidak jelas. Masih ingat dalam pikiran, terbetik rasa untuk menegak beberapa kapsul kadaluarsa. Beruntung segera dicegat teman seperjuangan saya. 

“Man Jadda Wa Jadda,” Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Alhamdulillah saat menjelang ujian, saya diajak oleh salah satu teman organisasi yang usianya bisa dibilang lebih tua dari saya. 

Saat itu mengajak berbincang 4 mata. Sejauh mana saya bisa memperbaiki, dan mempertahankan semangat jika diberi pilihan untuk masuk. Saya menjelaskan tekad baja yang selama ini malah disia-siakan dua orang yang harusnya menjadi tiang penyangga kesuksesan. 

Saya menjelaskan alasan saya memilih kampus dan jurusan tersebut. Latar belakang nekat. Hingga tak sadar bulir bening itu kembali menetes. 

Lelaki yang duduk di sampingku. Kami terpisah oleh ruang kosong dan suasana taman penuh dengan aktivitas mahasiswa yang mengerjakan tugas maupun kelas outdoor. Tak memecah konsentrasiku mendengarkan kisah ayahnya. Dulu pun pernah menjadi di posisiku. 

Saat finansial tak bisa dipungkiri menjadi hal yang “influence”. Pengaruh yang sangat besar. Menyebabkan dia mundur mengalah, mencari jalan lain. Berwirausaha hingga sukses. Berjanji ingin membuat anaknya sukses seperti yang tak kesampaian. Aku terharu, sekaligus iri. Beruntung orang di depanku memiliki ayah yang hebat. Berjuang keras demi masa depan yang tertunda. 

Jujur saat saya menulis di bagian ini, rasanya cairan panas mulai meleleh dari kelopak mata. Tak terbendung lagi. Sejak dulu impianku adalah bisa kuliah. Bersyukur masih ada tangan-tangan Allah yang membantu untuk bisa mewujudkan meski sesaat. 

Alangkah kagetnya saat tangannya menyerahkan sebuah amplop coklat dan menyeru agar aku menyimpan dalam tas. Aku tak tahu berapa jumlahnya. Menurutnya, itu sesuai dengan angka yang aku butuhkan. Jika ditaksir mirip dengan harga laptop yang saya idamkan selama ini. Alhamdulillah. 

Nikmat yang mana lagi yang Engkau dustakan (QS. AR Rahman)

Itu salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun saya ingat 3 kali ditolak beasiswa. Beasiswa dari kampung halaman, kampus sendiri dan organisasi cabang kampung halaman. Kurangnya prosedur yang relevan. Padahal menurut guru BK saya, saya tergolong anak yang cerdas. Selalu menyabet Rangking Paralel. 

Bulan berikutnya saya tak bersama dengan orangtua angkat, saya tinggal dengan nenek angkat. Berkerja untuknya demi bisa lanjut kuliah. Menjaga sepasang lansia. Mengurus dan tugas membereskan rumah. Tak masalah meski jarak tempuh menjadi 10 kali lipat sebelumnya. Namun, kali ini saya menggunakan sepeda kayuh. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di kampus. Atau 40 menit jika memotong jalan. 

Tenyata tak sesuai yang saya harapkan. Mereka hanya mampu membiayai uang persemester. Awalnya Mama saya yang tinggal di Pulau Dewata berjanji akan mengirim. Ternyata. Diluar ekspektasi saya. Justru uangnya untuk adik saya. Katanya ada biaya program rekreasi Bali-Malang-Yogya. 

Hatiku remuk. Sakit sekali. Percuma selama ini saya berjuang jika ujung-ujungnya menjadi sebuah ‘omongan’ saja. Banyak yang mengatakan saya itu kuat. Teguh, meski banyak pengorbanan yang selama ini ditolerir. Saya selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain. 

Ternyata salah, ibarat sudah jatuh tertimpah tangga. Double sakit. Hari di mana seharusnya saya menggunakan kemeja hitam putih harus lusuh begitu saja. Saya dilarang meminta bantuan lagi kepada organisasi saya kata Ayah saya. 
Akhirnya mimpi saya pudar, seperti dicuri orang. Kejadian setahun silam yang masih berbekas dalam dada. Banyak teman yang bertanya kapan kembali? Bahkan saat waktu menyulap menjadi 2017 saya tidak mempunyai kekuatan lagi. 

Sempat saya banting stir. Saya bekerja di salah satu CV Konsultan. Bidang yang dijalani cukup berat berkenaan dengan rancangan pembangunan. Sayangnya hanya bertahan 3 bulan. Saya berhenti saat mendengar bujukan seseorang. Entah dapat bisikan setan dari mana. Saya berhenti.

Hampir 6 bulan menganggur, karena kota tempat saya tinggal minim lapangan kerja. Saya memutuskan pulang. Merasa iba dengan Nenek saya. Selama ini beliau yang membesarkan saya. 

Masih belum kering airmata kesedihan. Atas saran keluarga angkat di kota Apel. Saya katanya akan dijodohkan dengan salah seorang pengusaha. Dengan harapan saya bisa kuliah lagi. Menurutnya saya punya potensi. Sayang sekali jika dibuang sia-sia. 

Kembali merajut mimpi. Ternyata Allah tidak menghendaki. Buktinya proses itu berhenti secara perlahan. Seperti kapas yang jatuh di atas gundukan jerami. 

Hati mana tidak menangis, di saat ingin impiannya tersalurkan kemudian menemui jalan buntu lebih dari sekali. Saya sendiri bingung tidak bisa bekerja dengan omset katakanlah UMR. Untuk bisa kembali ke kampus putih. 

Seperti sembilu yang mengganjal paru-paru. Susah menambat udara, tak bisa bersua. Rasanya sudah tak ada lagi yang tersisa. Lantas apa yang harus saya lakukan? 

Lebih baik tak memiliki orangtua, daripada memiliki tapi seolah mati rasa. 

Mungkin aku anak durhaka mengatakan hal demikian. Lantas bagaimana peran dan tanggung jawab orangtua? 

Saya rasa itu cukup. Tak ada maksud menjelekkan pihak manapun. Dalam hal ini aku hanya butuh cahaya. Seperti kunang-kunang tanpa cahaya. Mengarungi dunia tanpa mata. 

Bersyukurlah kawan yang masih bisa kuliah. Karena di luar sana ada yang tidak beruntung mencapai impiannya. Meski kadang engkau memilih bolos demi kesenangan fanah. 


Salam dari Baiq yang ingin berjuang mempertahankan impian. 

Iklan

Surprise yang Berkesan. (2017)


​Apa perasaan kamu? Jika seseorang di masa lalu tiba-tiba inbox minta rekomendasi hadiah dan juga nyuruh buatkan kado untuk pasangannya. Hahaha Nano Nano. Kalau sebelumnya juga pernah buat surprise dari My Bro buat pacarnya. 

Gak masalah juga sih. Selagi juga menguntungkan aku. 😂 Beli parfume di tempatku. Nah. 

Aku kan wanita pasti tahulah apa yang mereka suka. Tapi, kalau berhubungan dengan fashion please jangan tanya ke Aku. 

Sama sekali gak fashionable dan gak tahu lah. Beruntung sekarang zaman gadget dan paket. Jadi aku bisa sekalian browsing dan mencari diskonan. Hahaha. 

Gak papa bantu mantan yang penting dapat fee. Nahloh. Lama-lama aku jadi agen khusus pembuatan hadiah. Kalau butuh langsung hubungi aku ya di FB Baiq Cynthia atau IG Baiq Cynthia. Free Consulting.

Ada banyak pilihan untuk memberikan kejutan kepada kekasih. Hadiah yang diinginkan perempuan itu apa, sih? 

Pastinya yang bermanfaat dan unik. Perempuan suka hal yang berbau unik lho. Beberapa di antaranya yang lucu, manis, warna favoritnya dan sesuai hobinya. 

Kalau nanya tentang hadiah yang paling aku suka apa? Yang pasti yang bermanfaat juga membuat saya jadi lebih semangat gunakan itu. 

Kalau hobi membaca ya kasih aja buku. Kalau hobi travelling kasih aja sesuatu yang berguna digunakan saat travelling. Parfum. Misalnya.

Usahakan tidak memberi boneka atau bunga. Kepada wanita yang usianya dewasa. Itu sangat menyebalkan. Terlihat akan konyol bagi penerima. Kecuali jika wanita yang akan kamu bahagiakan dolls lovers. Wajib bagi kamu memberi boneka paling besar sekaligus. Memang ada yang menerima? Ada. 

Namanya juga hadiah gratisan lah masak ditolak. Pasti diterima walaupun kotak hadiah kecil tapi berharga. Contoh cincin emas. 😰 Itu mah mau lamaran. 

Oh iya saya suguhkan 5 referensi hadiah anti mainekstrim, yang pasti tidak akan mengecewakan pasangan. Okey Kawan. Bagi yang ingin memberi hadiah kepada wanita idaman. Wanita ya. Bukan Cewek. :3 Jadi usianya 19 ke atas lah. Boleh nih dicoba. Dijamin tidak mengecewakan.

1. Parfume, salah satu yang sering digunakan oleh banyak orang termasuk wanita. Kenapa? Selain ekonomis mudah digunakan, dan berkesan. Aroma parfum akan melekat tiap hari. Semakin hari akan selalu ingat aroma yang hanya membuat sang kekasih mengingatmu. Untuk parfum pilih yang soft aromanya. Seperti aroma parfum Shasha, D & G 3, Love Sarah, Al Rehab Soft, Diamor Woman, dsg. Bisa sharing sama saya deh kalau aroma. Hehe. Kemudian pilih botol yang unik. Yang mudah dibawa juga sangat lucu. Nanti saya kasih contoh deh botol parfumenya.

2. Kerudung. Khusus muslimah ya. Salah satu tuntutan Agama. Berhijab. Kalau ditanya mode hijab. Mending yang Syar’i saja. Jadi gak hanya ikutan trendi. Tetapi memberikan manfaat. Bisa cari di olshop yang bertebaran. Hati-hati, cari yang emang trusted.

3. Buku atau Kitab Suci. Banyak manfaat yang bisa diambil dari buku. Rata-rata semua orang menjamah buku. Meski hanya di bangku sekolahan. Buku yang dimaksudkan yang bahasannya ringan namun membuat kita betah bacanya. Ini mending cari buku yang best seller. Boleh juga yang ada tanda tangan penulisnya. Hihihi. Pasti berkesan sama sang kekasihmu.

4. Craft atau kerajinan yang memang di desain karena ada nama kamu dan si dia. Bisa figura, mug, gantungan kunci, dsg. Banyak macamnya. Itu unik dan mengesankan. Apalagi ada karikatur lucu favoritnya. 

5. Nah yang ini yang aku maksud. Agak berat sih. Ini berkenaan dengan mode. Kamu bisa pilihkan asal tahu kesukaanya. Ajak sahabat dekatnya untuk membantu mencari referensi terbaru. Contoh nomor 5 bisa jam tangan, baju, sepatu, dompet, tas, dsg. 

Tapi, ingat yang nomor 5 agak sulit. Kenapa? Kita harus tahu size, detail, warna dan mode. Kalau ingin aman mending tas bermerk. Hehe. Pasti dipake kok. Apalagi bermerk. Pasti desainnya tidak diragukan. 

Ini rekomendasi anti mainstream untuk wanita. Beda kalau udah menikah. Kebutuhan dan barang yang disukai tidak melulu tentang di atas. Hehe. Kapan-kapan saya share deh. Kalau ingat.

Juga niatkan hadiah sebagai pemberian. Bukan embel-embel balasan (pamrih). Yah, salah satu bentuk perhatian ya begitu lah. 

Maafkan, kalau referensi ala saya tidak detail barangnya. Takut malah jadi agen suplier. Hihi. Salam.

#Baiqcynthia 

Jangan Tertawakan Mereka, Tertawakan Diri Sendiri (Tere Liye)


Hari ini saya sengaja share tulisan Bang Gere Liye Fans Page Tere Liye. 

Zaman sekarang sudah krisis dengan simpati dan empati. Hal kecil terkadang dibuat lelucon. Seperti yang viral beberapa hari ini. 

Berikut Pesan Bang Tere yang meminta untuk share. Saya copykan di sini. 

Jangan tertawakan mereka. Tertawakan diri sendiri.

YESTERDAY · PUBLIC

Lima-enam tahun silam, saat page ini punya like di bawah 50.000, saya pernah melakukan kesalahan fatal. Dalam sebuah tulisan, saya menulis, “anak muda sekarang, main gagdet, asyik betul, sampai lupa sekitar, menjadi autis.” Sungguh saya menulis kalimat tsb tanpa ada maksud apapun. Tapi tidak perlu satu jam, beberapa sudah menulis komentar keberatan. Ada yang marah2, ada yang ngamuk, dan ada yang mengirim email penuh kasih sayang, “Bang Tere, jangan menggunakan istilah autis. Karena itu bukan buat olok2, perumpamaan, lucu2an, atau apalah. Bang Tere itu penulis, nanti dicontoh orang lain. Bersimpatilah dengan ibu2 yang punya anak autis, autis itu bukan mau mereka.”

Saya terdiam lama sekali membaca email salah-satu pembaca. Ini betul sekali. Kalimat saya, meskipun tidak ada maksud apapun, itu boleh jadi menyakiti orang lain. Saya bergegas, memposting minta maaf karena telah menyakiti banyak pihak. Tapi itu tidak cukup. 4-5 tahun berlalu, setiap tahun sy menebus kesalahan ini dengan memposting postingan khusus setiap tanggal 2 April, Hari Autis Sedunia (bahkan hari ulang tahun saja sy kadang lupa, tapi khusus hari ini, rutin sy rayakan), agar kita bisa lebih memahami, menghargai dan menyayangi orang2 lain yang ditakdirkan demikian. ‘Mahal’ sekali harga penebusan dosa itu, dek, bertahun2. 

Dan bukan cuma soal autis, juga ada disleksia. 

Apa itu disleksia, kesulitan membaca, mengeja, menulis. Bagi mereka, menyebut kata “ibu”, bisa sangat susah sekali, menjadi “ubi”. Susah payah. Itu bukan mau mereka, itu adalah bawaan lahir. Dia sungguh mau bilang “ibu”, tapi yang keluar, “ubi”. Mau bagaimana? Juga saat membaca, posisi huruf terbalik2. Itu tidak mudah. Maka jangan dijadikan tontonan soal disleksia ini, dijadikan bahan lucu2an. Bahkan jika bagi penderitanya dia enjoy, tidak masalah, ikut tertawa. Tapi kita tidak tahu, mungkin bagi orang lain, itu menyakitkan. Jika itu tetap kita lakukan, kita justeru menikmati tertawanya, kita sungguh menyedihkan. Jangan tertawakan mereka, tertawakanlah diri sendiri, yang sangat memalukan hidup di dunia. 

Adik-adik sekalian, dunia ini semakin rusak, bukan karena orang2 jahatnya tambah banyak, tapi simpati dan empati kita semakin berkurang banyak. Saya tahu, banyak yg melakukannya karena tidak memahami, seperti saya dulu. Tapi lebih banyak lagi yg tidak peduli. Bahkan minta maaf-pun tidak telah menjadikannya tontonan–bahkan setelah dia tahu. Merasa baik2 saja. Semoga kita dijauhkan dari sifat: mudah sekali menilai fisik orang lain, hitam, pendek, pesek, keriting, sipit, dll. Dijauhkan dari tabiat: mudah sekali menghina kekurangan orang lain–merasa kita lebih baik. Karena kita tidak tahu, dek. Hari ini kita tertawa, besok2, boleh jadi giliran kita, keturunan kita yang ditertawakan. Saat itulah kita baru tahu betapa itu menyakitkan, bukan bahan lelucon.

*Tere Liye

Tidak Janji, Berusaha tidak mengingkari. 


Hal yang saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Adalah hal yang sangat berat untuk ditinggalkan. Masih berusaha untuk lebih semangat. Karena saya tahu efek dari hal tersebut menghanyutkan impian yang selama ini dirajut.


Malas adalah hal yang saya berjanji tidak diulangi lagi. Memang sulit tetapi akan  menjadi lebih mudah jika mencoba tidak melakukan kesalahan lagi. Malas sikap alamia semua orang juga pasti mengalaminya. Ditambah dengan perilaku yang menunda waktu. Mengabaikan seolah bisa rampung dalam sekejap. Oh, tidak lagi.

Kesempatan tidak datang dua kali. Mereka akan mendapatkan kesempatan di lain waktu. Karena waktu tidak dapat diputar. Kalau punya mesin waktu. Aku gak mau dekat-dekat sama malas. Sudah banyak pencapaian yang gagal didapatkan. Hanya gara-gara malas.

Orang sukses katanya sebisa mungkin mengalahkan ambisi untuk tidak jatuh pada lubang kemalasan. Entahlah apa kata dunia kalau aku malas. Bahkan rezeki bisa dipatuk ayam kalau bangun saja malas. Nanti Jodoh juga dipatuk ayam. :V

Sebenarnya tantangan ke 10 saya malas banget nulis. Kenapa? Saya sudah menulis tadi subuh dan selesai, tinggal copy paste. Berhubung wi-fi hanya ada di kantor saya sempatkan untuk mengirim ke Blog saat itu juga. Saat mengcopy paste saya tidak melihat kena sentuh delete dan word yang bekerja di hape otomatis menyimpan. Jadi tulisan hilang. Malas sekali saya nostalgia dengan yang saya tulis sebelumnya.

Kata malas sepertinya sering sekali masuk di neuron otak sampai saya pun sekarang memaksakan menulis. Menulis saja malas apalagi mencari jodoh? Herannya saya tidak malas menulis. Lebih kurang saya hanya mood-mood tan. Itu yang ingin saya tinggalkan dan berjanji tidak mengulangi lagi. Semoga saja saya bisa melupakan sifat malas.

Momon Kampus Fiksi terima kasih sudah mengadakan tantangan yang begitu membuat saya harus bangkit dari malas. Harapannya semoga bisa lebih rajin. Dalam segala hal, rajin membaca. Rajin menulis dan rajin memetakan masa depan.

Ini tulisan singkat saya. Sengaja singkat karena mencuri kesempatan menulis di Kantor. Hehe

Jumat Mubarak.

Selesai pulah tantangan #KampusFiksi10DaysChallenge

#Hari10

Sepucuk Surat (tanpa) Penerima


​Ketika hujan mengguyur bumi. Daun yang kering merasa segar. Ketika waktu sudah kemarin, kita malah bubar. 

Masihkah tertulis namaku dalam memorimu? Sepertinya sudah tak ada lagi. Padahal aku begitu berharap bisa menjadi bagianmu. Aku tak mengerti. Apa yang terjadi pada masa depanku nanti. 

Andai saja kamu hadir di sini. Mengukir pelita saat sunyi. Ingin sekali aku mengatur mimpi. Bukan pertemuan yang tak berarti. Bukan angan yang terlupa. 

Saat satu waktu menjelma tanpa arti. Merasa semua tak peduli. Biarkan sendiri. Menatap langit tanpa mentari.

(Situbondo, 25 Januari 2017)

Terakhir menulis sebuah surat tanpa balasan itu bulan September 2016. Kini tantangannya menulis surat. Meski saya tahu tidak ada yang akan menerima. Biarkan surat ini mengudara. 


Kepada 

Sosok nan jauh di seberang mata.

Selama Pagi,

Langit masih membungkus kumpulan air. Tapi, menahan untuk tak menangis. Raut langit suram. Begitulah yang kurasakan. Bagaimana kabarnya? Berharap engkau masih selalu sehat wal afiat. Di sana pasti hujan terus-menerus. Tak dapat dibayangkan suhunya nyaris minus. Emm, bagaimana kabar Mama dan Papamu? Harapannya selalu bahagia selalu. Hari ini pasti engkau akan sibuk. Membanting tulang demi masa depanmu.

Aku tak tahu alasan yang tepat kuterima saat engkau menyatakan kita tak bisa bersama. Padahal aku sudah siap dan menerima segenap yang ingin engkau wujudkan. Maafkan aku yang pernah mendesakmu. Aku bukan bus yang bisa berhenti di halte. Pun juga aku ingin tetap melaju. 

Perjalanan masih jauh. Tapi, seolah engkau tak peduli. Aku merasakan jarum menusuk lebih dalam. Menghunus gumpalan coklat di dada. Hingga merah kental mengalir perlahan. 


Masihkah kamu berharap mengakhiri kesendirian menjadi kebersamaan? 


Tapi, cukup bulir bening ini mewakili. Separuh jiwaku pergi. Bukan aku tak ingin engkau memilih orang selain diriku. Namun, pernahkah engkau merasa? Ada hati yang terluka menanti kejelasan. Menanti jawaban. 

Setelah jawaban engkau putuskan. Engkau yang pernah merajut harapan dalam benakku. Kini pintalan rindu kau-gunting begitu cepat. Menurutmu. Aku terlalu baik? Oh tidak. 

Aku bahkan tak bisa membedakan mana hatiku mana hatimu. Setiap aku menyandarkan pikiran tentangmu. Seperti perasan jeruk nipis yang mengucur di atas luka. Perih.

Engkau yang jauh dipelupuk mata. Jika butiran waktu bisa menyesap air laut. Kurasa hanya sekejap berganti buih. 

Ah, aku terlalu puitis. Entah engkau mengerti atau tidak. Padahal intinya aku masih banyak berharap tentang kamu. 

Maafkanlah kekeliruan yang selama ini memberikan sebuah beban untukmu. 

Kau tahu tidak? Saat aku berusaha hanyut dalam kesibukan. Keponakan paling kusayang tiba-tiba duduk di pangkuan. Dan aku biarkan saja dia di sana. 

Beberapa menit kemudian, dia terlelap sangat manis. Tapi aku tahu masa depan dia ditentukan oleh orangtuanya. Kamu tahu tidak? 

Aku juga ingin masa depanku ditentukan oleh orangtuaku. Tapi, aku tak seberuntung mereka yang selalu bisa meminta kepada orangtuanya. Langsung dikabulkan. 

Sementara aku ingin mandiri. Jika aku boleh merangkai masa depanku. Aku ingin sekali engkau yang menuntunku. Membebaskan dari belenggu istana Rapunzell. 

Sayang sekali itu hanya impian yang pupus. Sudah tidak ada kesempatan lagi. Kurasa aku harus bisa berdiri teguh. Dengan harapan baru. Mungkin engkau akan menemukan apa yang selama ini menjadi misteri. Pun hal sama akan aku temukan keajaiban misalnya.

Keajaiban kita bersatu. Diam-diam, aku masih merindukan cara bercandamu. Cara senyum ranummu dan kejutamu. 

Oh ya, sekarang aku harus menidurkan si kecil di ranjang yang hangat. Dia sudah masuk dalam mimpinya. Mungkin bermimpi tentang tedy beat yang melawan dinosaurus. Karena sebelum tidur dia bermain dua boneka itu. 

Oh iya, kamu jaga kesehatan ya. Mungkin kamu suka terlambat makan dan tidur. Kuharap tak lupa juga berdoa. Semoga kamu bertemu dengan sosok yang kamu cari selama ini. 

Harapanku sederhana, melihatmu tersenyum itu lebih dari cukup. Biarkan aku menjadi sebatang lilin yang memberikan cahaya meski akan berakhir oleh jilatan api. 

Sayonara.

Ditulis oleh seseorang yang diam-diam mendoakanmu.

Situbondo, 26 Januari 2017

Semoga secarik kertas tanpa tujuan bisa mengudara bebas. Mengabarkan bahwa aku menulis surat untuknya. 

5 Fakta Ambivert yang berlawanan dengan Opini orang lain.


​5 Fakta tentangku yang berlawanan dengan opini orang lain.

1. Ramah itu adalah sikap asliku, sama sekali tak ada niatan menjadi orang jahat. Bagi beberapa orang yang masih belum kenal denganku. Aku adalah tipe yang jutek dan selalu cuek. Karena mereka belum mengenal. Kalau sudah mengenal pasti dia bakalan malu sendiri dan berkata, “Wah, kamu ramah ya! Tidak seperti yang saya pikir. Sebelumnya saya pikir kamu orangnya jutek dan sedikit cuek.”

2. Aku masih muda, usiaku 20 menuju ke-21 tahun. Banyak yang menduga saya masih sekolah SMP dan SMA. Karena postur tubuh yang tinggi dan wajah baby face. Jika bertemu secara langsung anggapan anak sekolah sering kali dilontarkan kepada saya. “Kamu kok gak sekolah, ini kan hari Rabu?” Dalam hati aku mulai kesal. Wong aku sudah kerja. Masih sering dianggap bolos. “Maaf bu, saya mau beli pulsa dan kembali bekerja.” 

Tetapi, jika di kampus saya akan terlihat lebih tua. Mungkin dari penampilan yang sering saya gunakan. Juga di dunia maya. Seringkali sebutan mbak dan kakak itu dilontarkan. Padahal saya masih muda dan gak muda-muda amat. Mereka pikir saya berusia 27 tahun. Oh My God.

3. Jika jalan bareng sama adikku, mereka berpikir aku adalah adiknya. Padahal aku anak sulung. Loh ini kakaknya? Kok lebih besar adiknya. Sejak kecil hampir semua orang menduga saya adalah adik saudara saya. Padahal saya ya begini. Gak bisa gemuk. Kurus kayak tiang listrik. Terkadang juga saya sering dianggap saudara kembarnya adik saya. Padahal kami lahir selisih 1 tahun 7 bulan. Usia kami terpaut 2 tahun. Sering orang salah sebut nama. 

4. Ambivert. Beberapa orang beropini saya orangnya pendiam dan tidak asyik diajak berbicara. Padahal kalau sudah bisa ngomong. Boro-boro diam. Kereta api yang gak punya titik dan koma. Ya itu saya. Dalam satu sisi saya diam. Lebih suka sendiri walaupun di keramaian. Saat sudah punya kesempatan, saya mulai aktif. 

5. Hemat. Sering sekali saya berantem dengan adik saya. Dia pikir saya tidak memberi itu karena pelit. Padahal saya sedang hemat. Guna masa depan dia juga. Selain itu, saat ujian saya akan menjadi individualis. Biarkan saja mereka memanggil. Jawaban saya adalah ‘tidak tahu’ memang kenyataannya tidak tahu. Karena saya menjawab soal dengan nalar yang dimiliki.
Jangan melihat sesuatu hanya dari covernya. Ada lagi yang tidak tahu mengenai saya sok-sokan dekat dan sampai mengecap saya sombong lah. Apa lah. Mereka yang begitu tuh. Sok tahu. Biasanya yang mengecap orang sombong, karena keseringan berbuat demikian. Makanya dia tahu mana yang sombong dan enggak. Hahaha

Embun Menangis Bahagia


​Tulisan yang membuatku merasa kuat. Ketika aku rapuh aku ingat masih ada orang yang menyayangi. Membuatku bangkit dari kegagalan, kesedihan yang berkepanjangan. Kepiluan tanpa keringanan.

Saat tak ada seorang pun yang membantu. Aku pun merasa dunia sudah akan benar-benar berakhir. Aku tak memiliki, apa yang mereka miliki. Tak sebahagia seperti tawa yang mereka buat. 

Aku sadar aku sudah rapuh. Aku butuh sosok pelindung yang selalu menghibur. Selalu hadir saat kesedihan datang. Mengajak bercanda dengan angin. Menggapai impian yang tak pasti.

Mungkin saja aku lemah dalam bidang mencintai. Hingga tak satu pun orang benar-benar sayang seperti kasih sayang Umi dan Babe.

Apalah arti mencintai jika masih menyakiti? Apakah aku tak pantas dicintai? Apa kurangnya? Aku selalu mencoba menjadi bagianmu. Tetapi, selalu diabaikan. 

Memang aku tak secantik barbie, aku tak sesholeha Fatimah binti Az-Zahra. Aku juga tak sepandai wanita karier lainnya.

Sesungguhnya aku lemah karena tak ada dukungan dari wanita yang membuatku hadir di muka bumi yang ganas ini.

Apakah kamu takut hanya karena itu? Hingga abaikanku? Aku minta maaf jika selama ini engkau merasa lemah. Namun, aku tak mensupport. 

Aku tahu, aku wanita lemah. Bukan berarti aku lemah dalam segalanya. Aku masih kuat berjalan kilo-an meter. Mengayuh sepeda puluhan kilometer. Berteriak memanggil masa depan. Agar turut menemani.

Aku tahu aku bukan kekasih yang baik. Selalu membuatmu khawatir. Aku tahu. Tapi aku sama sekali tak bermaksud. Selamat jalan.

Semoga di jalanmu yang baru engkau menemukan kepingan hati yang merindu tentangmu.

Tulisan yang membuatku kuat 

1. Setiap masalah akan menemukan titik temu akhir.

2. Saat engkau merasa lelah dengan perjuangan yang tak pernah berhasil. Tuhan selalu hadir. Mengusap kepalamu. “Jangan bersedih.”

3. Ketika waktu membuatmu lupa. Pernah melewati bersama kekuatan. Kini berganti lemah. Tak masalah. Bahkan semakin tinggi pohon semakin kencang angin berembus.

4. Pejamkan mata saat kamu merasa lemah. Bangunlah dengan kekuatan yang lebih menguatkan.

5. Ketika kamu tahu kamu naif, tak adakah upaya untuk tegar?


Itulah salah satu mengapa aku lebih sering menulis kalimat inspirasi daripada mengeluh. Aku ingin menjadi orang yang kuat dan selalu tahan banting oleh zaman yang berputar.

Saat Engkau Memandang Sebelah Mata


​Membanggakan sesuatu tiba-tiba orang lain meremehkannya.


Saya pernah mengalaminya. Tepatnya setelah lulus sekolah. Ceritanya gini. Waktu itu saya ikut bantu kerja di sepupu saya. Hobi saya menulis sejak setahun sebelumnya, mencoba terjun di dunia itu. Mulai mencari link dan teman yang suka menulis di Facebook. Hingga bertemu dengan mereka yang menulis secara produktif. Ken Hanggara, Lindsay Lov dan Siti Khumairah. Mereka menekuni genre yang berbeda. Jika Ken Hanggara lebih condong ke Horor, dan bermain imajinasi. Lindsay Lov suka genre romance, thriller dan horror juga. Siti Khumairah condong ke Religi dan Romance. Namun di tahun ini dan sebelumnya, beliau (red-Siti) sudah tidak terlihat lagi di dunia literasi. Mereka adalah guru pertama yang membuat aku semangat dan senang menulis. 

Hampir setiap hari saya mentag tulisan saya untuk mereka. Meski saya tahu, mereka pasti tidak akan suka namun saya merasa senang. Beberapa cerpen saya kirim melalui inbox mereka. Mereka menilai begitu sabar. Jika kak Lindsay punya Story Club sebagai lini penerbitan kini. Kak Khumairah punya Ar-Rahman. Juga kak Ken punya pabrik cerpen–iya menamai seperti itu, produktif sekali menulis cerpen. Hampir tiap minggu kabar cerpen miliknya dimuat di koran lokal maupun Internasional. Iya! Pernah dimuat di Jakarta Post yang dikirim ke Hongkong. Salut.

Saya bertekad untuk menjadi kolaborasi ketiganya. Entah apa jadinya. Hingga saya pernah ikut event give away demi mendapatkan tanda tangannya. Tetapi gagal, karena saat mengirim foto selalu gagal. Handphone saya kurang canggih. Mungkin juga signal sudah error malam itu. Saya masih berharap untuk bisa mendapatkan tanda tangan dengan membeli novelnya. Waktu itu menjadi gratis ongkir. Menanti 3 hari. Alhamdulillah saya mendapatkan paketan dari wanita yang berdomisili Pematang Siantar, Sumut. 

Buku yang didapatkan waktu itu genre Thriller. Sampulnya penuh darah dan pisau. Judulnya “Knife”, saya menyukainya. Saya bermimpi untuk menjadi penulis. Saat ditanya oleh sepupu saya. Kemudian dia tertawa. 

“Penulis itu gak ada manfaatnya! Hobinya cuma berimajinasi,” rasanya saya ingin teriak waktu itu juga. Padahal itu salah satu profesi yang bermanfaat. Meredam emosi saat meledak-ledak. Berbagi motivasi kepada orang lain. Juga bisa banyak kenalan baru, menambah relasi. 
Saat itu entah kenapa tertanam dalam benak bahwa menulis tidak penting. Lalu saya merasa stuck setahun berikutnya. Saya sudah tinggal di Pulau Dewata. Tuntutan kerja dan rutinitas harian membuat waktu terpangkas. Jikapun masih ada kesempatan untuk menulis. Pasti lampu dimatikan oleh orangtua saya. Menyuruh saya tidur. Orangtua pun kadang membuat saya down. Dia memilihnya bekerja lebih menghasilkan uang daripada bengong atau menulis. 

Seolah bengong dengan berimajinasi itu sama. Padahal ya beda. Bengong/melamun hanya berpikir yang terjadi. Berimajinasi memikirkan yang belum ada. Berpikir kreatif. Meskipun dilarang kebiasaan itu sudah tertanam. Sehari tidak menulis rasanya gusar. Hingga setelah benar-benar bekerja. Waktu yang dimiliki kian menipis. Ditambah bekerja membantu mama. Mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga menjadi delivery dagangannya. Termasuk ke pasar setiap pagi. Di situ perjuangan menulis mulai goyang. 
Memasuki bulan ke 6 saya sudah pergi dari pulau yang menjadi destinasi dunia. Hanya satu minggu di rumah. Dilanjutkan berangkat lagi ke Malang. Memperjuangkan kuliah. Itu impian saya sejak SMA. Saat gagal SNMPTN. Saya tidak mencoba lagi. Seolah tak mendapatkan support dari keluarga. Saya diterima di kampus swasta dengan jalur undangan. Namun, saat daftar ulang. Ayah saya tidak mempunyai uang yang cukup. Kesedihan saya semakin mendalam. Berhenti menjadi anggota perpustakaan di sana. Itu mengapa saya banting tulang ke Bali. 

Kembali lagi, saya di Malang sekarang. Kota yang dingin. Berbanding terbalik dengan Bali. Sendiri di kota ini. Lebih tepatnya bersama sahabat saya. Dia baik. Dia juga pernah cerita mengenai sahabat waktu SMP-nya yang juga hobi menulis. 

Selama di Malang saya pikir saya akan lebih banyak waktu untuk menulis. Ternyata dugaan saya salah. Aktivitas kian padat. Ditambah saat Pesmaba (Ospek dari jam 5 pulang jam 5). 3 bulan berikutnya. Saat itu pula. Ibu sahabat saya tinggal di Malang. Mengingat sahabat saya kurang bisa memanajemen uang. Sedangkan saya itu ‘numpang’.

Menulis. Beberapa orang menganggap saya idiot. Ke mana-mana membawa buku dan pen. Saya tidak ingin melewatkan satu menit tanpa menulis. Awalnya saya suka foto. Setiap ada yang indah pasti difoto. Namun, ternyata handphone saya rusak lebih awal. Jadi, hanya berbekal pinjam.Gak mungkin menggunakan dengan sangat private toh. 

Entahlah saya merasa sakit. Saat menuliskan tentang ini. Tapi, saya harus bisa. Saya mendapatkan banyak masalah di pertengahan semester 1. Finansial. Padahal harus ikut ujian. Bersyukur lagi saya diberikan pinjaman sama orangtua sahabat saya. 

Oh iya, saat itu saya jualan cilok (sejenis bakso kecil) yang digoreng. Namanya cilok goreng. Juga menjual rujak petis. Tak hanya dipromosikan kepada teman-teman. Saya menitipkan di kantin kampus. Ternyata. Hal paling menyakitkan. Cilok goreng saya diremehkan. Dia bilang tidak disukai anak di sini. Usut punya usut. Ternyata ciloknya disembunyikan. Saya tahu, karena waktu itu menyamar menjadi pembeli. Dia bilang sudah habis. 

Seolah gak ada artinya. Saat itu saya harus berjalan sekitar 1 km. Mengantar Cilok, karena anak Bunda. Ya, saya memanggil orangtua sahabat saya dengan sebutan spesial. Bunda. Lebih manis. Ya, anaknya malu. Entah malu karena takut temannya melihat atau apa. Bahkan beberapa hari berikutnya. Saya menitipkan sebelum masuk kuliah. Tidak bersama dengannya, lagi. 

Kenapa jualan cilok itu malah diremehkan? Sampai saya pernah bersumpah. Akan membeli itu kantin suatu saat. 
Ada lagi selain, menulis dan tentang Cilok yang diremehkan. Tentang organisasi saya. XXX. Menurut sahabat saya dan temannya. Itu adalah organisasi radikal dan tidak memanusiakan, hanya hobi demonstrasi. Saya jadi ragu, ingin masuk tapi ya takut. Saat itu ada dua organ yang menarik saya untuk bergabung. Merah atau hijau. Saya pun meminta saran dari salah satu Humas UMM. Kebetulan saya menjadi anggota paling mudah di Rumah inspirasi Malang saat itu. Dia salah satu pengelolanya.

Benar saja saat saya sudah masuk saya memang merasakan tekanan. Kegiatan demi kegiatan. Bahkan kajian bisa sampai tengah malam. Memang aneh terdengar oleh Bunda. Ya, tapi saya di sana itu memang sedang kajian. Tidak pergi ke mana-mana. 

Kamu tahu? Setelah hampir 5 bulan bergabung. Saya justru merasa aman di organisasi merah yang kusayangi. Perangkat kerja yang bahu-membahu membantu anggota lainnya. Termasuk salah satu bantuan dari anggota yang menyumbangkan biaya kuliah yang saat itu saya masih ada tanggungan, ditambah dengan uang untuk ikut ujian Semester 1. Allah. Hanya Dia yang bisa membantu saya. Orangtua di Bali sudah tak peduli. Orangtua di Situbondo tak berpenghasilan. Saya seperti merasa dilindungi oleh organisasi saya. Saat itu pula orangtua angkat saya sudah angkat tangan. Mengingat biaya operasional kampus jurusan saya lebih tinggi dari anaknya. Katanya saya salah jurusan. Kok malah masuk jurusan favorit? 

Saya gak tahu itu jurusan favorit. Tapi saya punya minat lebih di sana. 😥 Impian saya ingin menjadi Produksi Film Islami. Entahlah, lagi-lagi impian itu pernah diremehkan oleh salah satu pengusaha sukses di Situbondo-Bali-Yogyakarta. 

Mengenai jurusan favorit. Saya pun pernah diremehkan. Impian Saya, ingin membuat serial animasi. Tetapi dia justru mengatakan ini kampus tidak ada jurusan perfilman. Saya salah kampus. Dihadapan 400 lebih mahasiswa dan beberapa dosen di sana. Dia memang punya kendali. Tetapi, dosen bagian praktikum yang berkaitan malah mendukung saya. Saat itu saya sudah tidak berminat lagi. Bahkan waktu kena kasus KTM saya bolong beliau tidak tahu. Hanya saja waktu KTM hilang saya ‘terpaksa’ menemuinya. *Anggap saya hanya bermimpi.
Haruskah kita menyerah dengan impian kita? Saat dipandang sebelah mata? TIDAK. Justru kita harus bangkit. Di sini awal saya merajut mimpi. Menulis kembali. Alhamdulillah menulis membuat saya dapat buku gratis terus. Dapat tanda tangan dari orang berkelas. Penuh inspirasi. Dapat kenalan baru. Dapat banyak perubahan. Lebih maju. 

Saya masih ingin kembali ke kampus putih. Bukan sebagai mahasiswa. Tetapi pembicara. Bisa? Harus bisa. 😊

Cause your life is never flat. Be positive. Insyaallah bisa. Dengan menulis sebagai gerbang kemajuan. 
Salam dari Baiq yang ingin pergi ke India. 😅

#harike6

#10dayswritting

~3 Film yang Berkesan ala Baiq~


​Selamat Pagi, semoga pagi ini selalu diberikan kemudahan dalam beraktivitas. Have a nice day!


Hari ini memasuki hari ke-5 tantangan menulis. Pertanyaannya adalah  ….

Tulis 3 film yang membuatmu berkesan jelaskan kenapa? 

Wah, berhubung saya pencinta film Bollywood ada banyak yang berkesan di tahun 2016 ini. Kalau dijelasin semoga gak ngantuk ya? 

Memang sih rata-rata orang menganggap saya terlalu mainextreme. Hanya mentok pada film satu saja. Sebenarnya saya juga pecinta horor, thriller, biografi, animasi, action, comedi dan romance. Jadi, gak semuanya film Bolly identik dengan cuma nari-nari saja. Banyak ide yang bagus dan sangat menginspirasi kehidupan. 

Seperti My Name is Khan, Rab ne Banna Di Jodi, Don (1,2,3), Sarbjit, dsg. 

Berangkat dari mindset (pola pikir) orang awam terlalu terhipnosis oleh sinetron. Jadi, daya tarik film seakan mulai pudar. Sinetron-sinetron India yang tahun belakangan menggoncang Indonesia mulai dari Joda Akbar hingga yang sekarang yang ngehits banget di salah satu channel. Entah apa judulnya. Saya bukan tipikal pecinta Sinetron. Lebih suka film sekali duduk selesai. Terlalu banyak waktu yang akan dikuras dengan jam tayang televisi yang semakin hari kurang ‘mendidik’. Terutama yang bercerita remaja jadi siluman, entahlah. Tidak masuk di nalar. Kecuali mau bikin serial Fan Fiction harusnya memadai perlengkapan setting dan sebagainya. Ini malah cerita tentang percintaan, putus nyambung dan tidak bermakna bagi anak-anak yang belum memasuki usia tersebut ikutan gak jelas. Jujur saja saya jengkel melihat adik saya yang baru lulus SD sudah suka dengan sinetron jadi-jadian.

Kembali ke topik. Nominasi film yang paling berkesan di tahun 2016 lalu adalah …

1. Teraa Surroor

2. Hamari Adhuri Kahani

3. Sanam Teri Kasam 

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Teraa Surror

Pemain utama adalah Raghu (Himesh Reshammiya) yang merupakan pacar Tara Wadhia (Farah Karimaee) juga penyanyi. Masa lalu Raghu yang kelam membuat dia menjadi Seorang Gangster.

Dengan panggilan internet dan akun FB palsu Amirudh Brahmana menjebak Tara dengan obat-obatan terlarang, yang diselipkan pada buku. Ternyata buku itu sudah ada di tas Tara. Tidak tahu pasti kapan dan siapa yang menaruh.

Tara dijebloskan ke penjara di Irlandia, tertuduh membawa obat-obatan terlarang. Raghu sang pacar langsung ‘terbang’ dari Meerut ke Dublin Prison (Irlandia). Dibantu oleh pengacara ahli Monica Dogra. 

Ternyata tidak bisa melepaskan Tara, karena sistem ketat. Tara harus mendekam selama 7 tahun. Masalahnya Raghu tak bisa melihat kekasihnya yang akan dinikahi akan terus di sana. 

Memang sebelumnya terjadi pertengkaran hebat, kecemburuan Tara kepada Raghu. Raghu menyesali perbuatannya. Tapi Tara tidak terima hingga pergi ke Irlandia. Maksud Tara menghindari Raghu ternyata terjebak di penjara.

Raghu tahu pacarnya tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada orang ‘asing’ yang sengaja menjebak. Raghu pun bertandang ke Eropa. Mempelajari seluk beluk kota dan lalu-lintas di sana. Dia pun bertemu dengan seorang narapidana yang memang ahli dalam kejahatan. Mengutarakan maksud dan tujuannya. Meskipun Naseeruddin Shah tidak mau ditemui oleh siapa pun. Raghu terus berusaha. Mendapatkan jawaban dan usulan cara membebaskan Tara dengan ‘ilegal’. Karena jalur hukum tidak kuat. Menteri Luar Negeri India pun tak ingin membantu. 

Eksekusi membangun tara sangat membuatku merinding. Karena Raghu sangat berani, memperhitungkan detail saat meloloskan diri dari Polisi. Pun Tara juga memiliki semangat yang tangguh untuk lepas dari sel. 

Sebenarnya Raghu punya alasan kenapa harus tidur dengan wanita lain. Dia menjelaskan di pelabuhan kepada Tara. Misi besar negara untuk membunuh Amirudh Brahman. Seorang lelaki licik dan punya banyak anak buah dalam meloloskan ‘barang haram’ masuk ke India. Entah kenapa sekarang malah bisa ada di tangan Tara. 
Ending sangat twist! Duh pokoknya aku itu gak menyangka siapa yang sebenarnya menjebak Tara. Ini film action kental banget. Sudah main pistol-pistol dan membuat mata melotot. Tapi, saya bukan merasa takut. Malah menangis. Karena terharu dengan perjuangannya. Demi gadis yang dicintainya. Bercerita tentang sosok pria sejati yang menepati janji & tak hianati cinta. 

Well, Aku harap di dunia nyata ada yang tipe gini. Bukan karena dia Gangster lantas dibilang berani. Bukan kamu nonton saja deh biar tahu jawabannya.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Hamari Adhuri Kahani.


Ini film bikin aku jadi menumpahkan darah saat melihat. Padahal diulang-ulang pun bikin ‘nyessek’. Duh gimana jelasinnya. Film ini sangat rekomendasi bagi yang cinta romance. Berkisah tentang seorang wanita yang masih setia menjaga pernikahannya. Demi menunggu seorang Ayah dari anaknya yang tak pulang lebih dari 5 tahun. Bayangkan! Bersusah payah menafkahi anaknya, seorang diri. Meski pernah dicibir oleh orangtuanya. 

Ini film rilis 2015 tapi aku baru nonton, karena tahun itu benar-benar sibuk dengan aktivitas.

Vasudha yang merasa sendiri ternyata menemukan cintanya. Aarav. Entah mengapa kisah yang menceritakan “Cinta yang tak sempurna”, justru membuatku terasa haus akan cinta. Bagaimana mungkin kita bisa hidup dengan cinta tanpa bisa merasakan hadirnya cinta. 
Engkau akan merasa, cinta itu saling menghargai bukan melukai. Justru cinta itu terus bersemi tiap tahun. Hingga pemilik cinta sadar. Cinta mereka harus dilengkapi. Dengan abu kematian yang dirajut di atas tebaran bunga Lily. 

Perfect story. Meskipun aku tidak masuk dalam film itu. Oh iya, ini film khusus 17+ So, bukan adegan panas yang membuat film ini menarik. Justru saya skip aja. Tapi, keteguhan cinta Vasudha. 

Well rating film ini tergolong tinggi. Sebab sampai sekarang masih banyak yang mendengungkan sondtrack musiknya. Aku sampe hafal semuanya. Sejak di tahun 2015 itu. :’) 

Tuh kan baper. Aku suka film ini ceritanya ada di Dubai. Emang gak pernah nanggung produksi film India mengambil setting di luar Negeri. Semoga bisa pergi ke sana juga. Ahhhhhh.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Nah yang ini juga, Sanam Teri Kasam. Bikin airmata membuncah. Bukan aku melow. Bukan tapi banyak arti dari film ini. Aku malah belajar banyak dari kisah ini. Meskipun tidak diceritakan. Tapi karena lebih banyak show daripada tell. Mirip-mirip kisah sendiri. Tapi, jauh kok. Masih.  Aku gak mau review, bikin nyessek. Sudah lebih 5 kali nonton bukan malah bosan. Malah tambah nangis.Maka, biarkan kutipan ini mewakili.

Orang-orang yang tidak tinggal bersama karena mereka lupa. Namun, mereka yang masih bersama karena saling memaafkan.
~Sanam Teri Kasam

#MawraHocane as Saru

See you, have a nice day! T︵T

By : Baiqcynthia