“​Satu berarti penderitaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. Aku tertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkan lagi. Kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah.” (Halaman 1)

Salah satu paragraf pembuka yang benar-benar menyita perhatian. Membuat darah berdesir tak karuan. Sekaligus banyak tanda tanya yang belum tersingkap di dalam cabang neuron. Sesekali menerka-nerka sendiri. 

Halaman kedua justru bukan lanjutannya. Ah! ini termasuk prolog. Kurang lebih begitu. Novel “The Girl On The Train” menyuguhkan cover yang cukup mencekam. Membuat bulu kuduk akan berdiri. Ini berbeda dengan ekspektasi yang saya karang. Bukan cerita tentang darah-darah di dalam kereta. Bukan. 

Pembaca diajak berkelana lewat gerbong kereta yang usang. Mengikuti jejak Rachel mencari misteri yang hilang. 

Wanita pecandu minuman keras setiap hari menggunakan kereta dengan rute yang sama menuju kantor khayalannya. Semenjak dipecat dari tempat bekerja sebelumnya juga bercerai dengan suami yang dicintainya. Membuat Alkohol menjadi sahabat karibnya setiap hari. 

Ide konyol itu tercetus saja, malu untuk mengatakan kepada Cathy bahwa dia tak bekerja di firma lagi. Teman karibnya yang berbaik hati memberi tumpangan tempat tinggal. Berpura-pura berangkat kerja tiap hari dengan kereta. Pulang larut dengan mata hitam.

Misteri hilangnya Megah Hipwell menarik namanya yang diduga mabuk di lokasi yang sama dan waktu yang sama. Siapa lagi yang melaporkan jika bukan istri baru Tom Watson. 

Rachel Watson masih belum bisa move on dari lelaki yang pernah hadir dalam hatinya. Setiap hari dibalik bilik gerbon Rachel menyaksikan rumahnya yang ditempati (mantan) suaminya beserta istri dan anaknya. 

Kadang Rachel cemburu melihat kemesraan Jass dan Jasson. Pasangan yang tinggal di dekat rel tak jauh dari rumah lamanya, setiap kereta berhenti Rachel selalu melihatnya. Jelas mereka menebar kasih sayang di sana. 
“Darah berdenyut-denyut di kepalaku, jantungku berdentam-dentam. Aku tidak tahu apakah apa yang kulihat, apa yang kurasakan nyata atau tidak, khayalan atau ingatan. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan berupaya merasakannya kembali, melihatnya kembali, tapi semuanya menghilang.”

Cerita yang ditulis oleh Paula Hawkins benar-benar membuat pembaca akan sulit bernapas. Debar-debar tanpa irama. Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menusuk setiap inchi nadi yang bergetar. 

Noura Books, salah satu penerbit yang menerjemahkan kisah setebal 450 halaman nyaris tanpa typo. Pembawaan diksi sesuai dengan selera orang Indonesia. Beberapa tetap menggunakan bahasa aslinya, disertai catatan kaki, seperti penjelasan bayi tabung. 

Tak ada gading yang tak retak. Secara teknis kesalahan hanya di beberapa kata. Tapi khusus penulis. Pembaca bingung dengan munculnya karakter pembantu yang tidak ada kaitannya dengan tokoh. Atau memang sengaja mengecoh pembaca? Bravo. Ide yang dahsyat. 
Keseluruhan cerita dibungkus dengan misteri, psikologis, benar kata Stephen King—penulis bestseller 54 novel kontemporer, supernatural, sci-fi, suspense, dan fantasi bahwa “Membuatku hampir tak bisa tidur sepanjang malam”.

Pembaca diajak memecahkan misteri yang menegangkan. Seperti yang ditulis Rachel dalam secarik kertas. 

Aku menulis daftar penjelasan yang paling masuk akal atas hilangnya Megan Hipwell:

1. Dia kabur bersama kekasihnya, yang selanjutnya kusebut B.

2. B telah mencelakakannya.

3. Scott telah mencelakakannya.

4. Dia meninggalkan suaminya begitu saja untuk tinggal di tempat lain.

5. Seseorang selain B/Scott, telah mencelakakannya.” (Halaman 84)

Siapa kira-kira dalang dibalik misteri hilangnya istri Scott Hipwell? Rachel sendiri alkoholik yang nyaris seperti orang idiot berbicara di depan detektif Riley dan Inspektur Detektif Gaskill. 

Novel ini cukup rumit, karena ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Melalui Rachel, Anna dan Megan. Kisah mereka diungkap dengan penuh twist.

Aku bisa mendengar burung-burung Magpie itu—mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar. Kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari.” (Halaman 403)

Kisah ini ditulis dengan alur maju sesekali ada flashback. Membuat pembaca semakin penasaran dengan nasib Rachel–si pemabuk yang nyawanya menjadi lelangan. 

Setiap kali aku merasa hendak meraih moment itu, ingatan itu melayang kembali ke dalam bayang-bayang, persis di luar jangkauan.”(Hal 57)

Membaca dengan menggunakan aplikasi digital Ijakarta tak harus memangku buku setebal 450 halaman—jelas lebih ringan dan praktis dengan Ijakarta. Ijakarta kini koleksi e-pustaka semakin beragam. Harapan pembaca semoga aplikasi semakin ditingkatkan. 
Merasa tertantang? Baca novel Thriller ini, segmentasi hanya khusus 18+ (kategori Dewasa).

Reviewer : Baiq Cynthia

Iklan