#FirstGiveAway Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan

Alhamdulillah sudah masuk di tahun. 2017 Masehi tepat di Rabiul Akhir 1438 H. Hal yang sangat disyukuri masih dalam keadaan sehat wal Afiat. Biasanya semua insan akan gencar-gencarnya melakukan yang namanya Resolusi. Berkaitan dengan memperbaiki kualitas hidup. Agar lebih menjadi pribadi yang mantap dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sehubungan dengan itu saya punya impian yang ingin diwujudkan di tahun ini. Entahlah saya pikir semuanya akan memimpikan ini. Tapi saya ‘ngebet’ banget ingin direalisasikan tahun ini.

Dambaan setiap gadis yang selalu memimpikannya. Resolusi Tahun 2017 yang Paling Ingin Saya Wujudkan adalah M.E.N.I.K.A.H. Setiap makhluk di muka bumi berpasangan. Termasuk manusia. Saya juga ingin dipertemukan dengan belahan jiwa saya di tahun ini. Ada beberapa sebab mengapa saya harus bisa menikah tahun ini.

Pertama, usia saya secara psikis maupun mental sudah matang. Bahkan dalam peraturan pernikahan usia minimal ditetapkan menjadi 21. Tahun 2017 saya berusia cocok seperti yang diharapkan. Selain itu, saya sangat prihatin dengan kondisi orangtua saya yang semakin tua. Saya ingin sekali dia masih sempat melihat cucunya kelak. Selain orangtua yang semakin rapuh, tuntutan untuk mandiri semakin diharuskan. Saya sebagai wanita masih belum bebas mengekspor rutinitas harian. Ayah saya cukup ketat. Melarang saya bekerja di luar. Bahkan saya tak pernah berkesempatan Malming atau acara hang out bersama teman-teman. Dia termasuk orangtua yang mawas diri. Khawatir saya terjerembab dalam kesalahan besar. Apalagi wanita rawan ‘kecelakaan’. Mereka gak mau menanggung malu.
Kedua, hampir semua teman saya yang di desa sudah menikah semua. Bahkan keponakan yang baru lulus SMA setahun lalu udah langsung nikah. Sebentar lagi saya punya cucu sepupu. Oh My Allah. Masa masih mudah dipanggil Eyang. APA KATA DUNIA? Rekan kerja seperjuangan di Bali juga semuanya menikah, dan sudah punya baby yang cute-cute. Saya agak risih dengan statement mereka (orang kampung yang suka gosip) dikira saya anti nikah atau perawan tua. Naudzubillah.
Ketiga, hanya dengan menikah saya bisa bebas berkarier. Bisa jalan-jalan sama pasangan, bisa berlibur ke sana. Ke banyak tempat tanpa ada khawatir. Yang jelas bisa mewujudkan impian Rapunzell selama ini yang hanya terkungkung dalam sel rumah tanpa menara. Saya juga ingin memberikan momongan kepada Umi—Nenek saya yang merawat sejak kecil. Juga ingin membalas budi dengan mengasuh beliau bersama suami kelak. Insyaallah.
Tiga sebab mendasar itu yang membuat saya harus menikah. Kalau ditanya soal calon? Alhamdulillah. GAK ADA. Bagaimanapun saya akan berusaha untuk ada. Sebelumnya pernah dijodohkan juga. Ternyata tidak ada jodoh. Sebelumnya saya berusaha komitment dengan beberapa laki-laki. Justru dihianati. Walhasil saya tak ingin dekat dengan siapapun.
Ada petuah lama yang mengatakan, “Mereka yang pergi meninggalkanmu bukan karena engkau buruk. Bisa jadi dia tidak baik untukmu atau dia terlalu baik untukmu.” Dari sana saya harus berputar pikiran. Sebenarnya katanya jodoh itu cerminan hati. Kenapa saya harus pusing mencari cermin? Lebih baik saya memperbaiki diri dari sekarang.

Hanya dengan memperbaiki dan berusaha meminta agar dikabulkan doa saya. Bertemu dengan pangeran tak berkuda putih. Berikut beberapa ikhtiar yang saya akan coba tempuh. Setelah saya intropeksi diri

1. Saya akan lebih rajin mempelajari hal paling dasar di dapur. Sebenarnya itu hal paling sepele. Namun jika disepelekan malah kaku. Lambat. Memalukan di depan mertua. Kalau gak bisa masak. Gak luwes cuci piring.

2. Saya akan lebih rajin membaca artikel dan buku tentang parenting, biduk rumah tangga, tentang anak dan seluruh tentang wanita dalam rumah tangga.

3. Saya sudah punya resolusi untuk menghafal Al-Quran. Muroja’ah hafalan tahun lalu yang rada-rada hilang. Setiap hari minimal hafal satu baris.

4. Saya akan menulis, hanya dengan menulis cara meredam kekecewaan. Menanti waktu dijemput pangeran.Impian saya juga ingin menginspirasi lewat tulisan.

5. Bacaan saya akan lebih diperbanyak. Mengingat ilmu itu sangat berguna bagi kehidupan berumah tangga kelak.

6. Konsisten menulis list harian. Agar lebih teratur dan pandai memanajemen waktu.

7. Banyak bersedekah. Sambil menjalankan bisnis.
Hanya tujuh itu yang harus banyak diterapkan dalam hari-hari saya menunggu belahan jiwa saya. Saya memprioritaskan lelaki yang matang secara usia dan psikis minimal 2 tahun lebih tua dari saya. Memiliki visi dan misi yang sama, serta berkomunikasi terbuka. Komitmen setiap langkah yang kita jalani. Lelaki bekerja keras dan bertanggung jawab. Siap membimbing saya dan anak saya kelak di jalan yang diridhai Allah. Gak muluk-muluk kan? Yang pasti dia menerima saya dan Umi.
Wanita memang hakikatnya menunggu. Tetapi, menunggu bukan berarti berpangku tangan. Menunggu sambil menjadi pribadi yang baik dan elegan. *asyik.
Kira-kira Resolusi kamu apa?

Oh iya saya menulis tanggalnya pula. 7/7/17 Harus Menikah . Bismillah. 😊

Hidayah-Art First Give away ” Resolusi Tahun 2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan.”

1stGiveaway.jpg

Iklan