Ada kalanya hidup butuh untuk sendiri di saat kita merasa tak mampu lagi. Karena tak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. 


Cinta 

Datang dan pergi tanpa pamit, kembali pun tanpa mengetuk pintu hati terlebih dahulu. Dulu sempat berpikir akan aneh jadinya. Tapi saat engkau sudah mengerti hakikat cinta, engkau tak akan lagi menangis. Untuk apa?
Menangis saat ditinggalkan oleh kekasih? Menangis ditinggal suami? Tidak ada yang lebih menyakitkan jika kita ditinggal oleh Allah. 
Saat tak ada lindungan lagi, saat tak tersisa kesempatan untuk bernaung dibalik sajadah cinta. 
Terkadang hati merasa seperti ditikam panah panas yang menjejal dalam sanubari. Batin merontah kekosongan. Tak ada lagi yang tersisa selain hampa. Semua orang terasa tak peduli. Saat peduli pun hanya berkata, “Sabar, ya! Akan datang keindahan yang lebih sempurna dari apa pun. Kehidupan bahagia dunia akhirat.”
Di dunia yang sementara, tak bisa ditukar dengan kebahagiaan di akhirat. Keabadian di dalamnya. Hanya dua tempat, Surga dan Neraka. Sudah siapkah?
Sendiri, pada akhirnya kita akan bermimpi dalam ruangan gelap. Tanpa lampu, tanpa keindahan, tanpa pujian. Ditemani amal yang selama ini menjadi tempat kita berpijak.
Tak bisa pongah, segalanya yang kita miliki akan kembali kepada Sang pemilik. Kita hanya diberi kesempatan untuk selalu memperbaiki kualitas.
Berbicara sangat mudah, akan lebih mudah jika sambil dipraktikkan. Saya bukan motivator yang handal. Menulis seperti obat, saat benar-benar sendiri. Semua pergi. Hanya pena dan kertas yang selalu setia. Hanya ranting dan tanah yang selalu sedia. Hanya pohon bisu tak pernah mengeluh, saat aku guratkan paku untuk menulis. 
Ya! Mereka sudah pergi. Selamat malam mimpi. 

Iklan