​Sebagai tugas dari Sekolah Inggris yang dimentori oleh Mr. Budi Waluyo. 

Bapak Budi Waluyo menginginkan anak didiknya membuat satu motivasi. Karena menurut beliau pasti ada motivasi setiap detik dalam bernafas. 
~*~
Tadi pagi, di tempat kerja. Saat saya memasukkan botol bekas wadah air mineral ke dalam karung, yang dibeli dari pemasok botol bekas. 
Saya melihat wanita paruh baya mendekati toko tempat saya bekerja, dia berbicara dengan bahasa madura yang kental. Saya kurang mengerti karena bahasanya sangat  halus.*Keseharian saya mengucapkan bahasa Indonesia dan madura tingkatkan kasar kepada teman sebaya. 
Jika diterjemahkan kurang lebih begini, “Nak, saya mau beli minyak.” Setelah sebelumnya sempat bingung mengingat pakainya lusuh beberapa sudah robek. Saya pikir pemasok botol bekas juga. Tapi, dia hanya membawa tas tipis. 
Saya terus bertanya, dia mencari apa. Akhirnya dia mencari parfum yang sama dengan botol spray kecil yang dipegang. Dia sengaja membawa botol untuk isi ulang. Katanya lebih hemat. Saya mencoba menerka aroma parfum tersebut. Akhirnya bisa ditebak. 
Mulailah saya mengisi sesuai dengan yang diminta. Sembari saya mengajak berbincang. Ternyata dia bukan asli di tempat tinggal saya. Perempuan tua yang selalu tersenyum berasal dari kota seberang. Memang dia membeli parfum tersebut di tempat saya sebelumnya, katanya. Saya baru pertama kali berjumpa. Harusnya saya hanya bertugas via online saja. Berhubung petugasnya gak masuk. Akhirnya double role.
Katanya parfumnya baru seminggu sudah habis, ternyata digunakan oleh cucunya. Memang sengaja membelikan khusus Cucu tercinta. *Sedikit tertegun. 
Senyuman tulus dan doa yang berkali-kali diucapkan semoga laku laris katanya. Saya pun menyahuti ‘aamiin’, tanpa sungkan membalas senyuman.
Sepersekian menit, ternyata dia ingin membeli parfum (lagi) untuknya. Dia pun mengeluarkan botol kecil plastik yang berukuran 30 ml. Namun, dia membeli 5 mili saja. Saya memberikan option campuran pada parfumnya. Namun, dia setengah merajuk meminta tambahan bibit. Saya hanya diam melakukan tugas saya. Akhirnya dia setuju diberi tambahan alkohol. Tak tanggung “isi full”. Dengan anggukan kepala, saya langsung isi full.
Kemudian, kepalanya menoleh ke arah atasan saya. Dia mengambil tutup bibit parfum dan mengusap ke kerudung usangnya. Sambil tersenyum, “ini baru parfum asli.” 
Saya menerka boss saya tak ada, makanya dia tersenyum girang saat bibit parfum yang menempel di tutup botol menetes di sana. Langsung dia lap dengan kain bajunya. 
“Ibu mau ke mana?” kali ini saya antusias bertanya. 

“Kembali mengemis, Nak! Semoga laris yag tokonya!”

“Aamiin, tiap hari ke sini?”

“Enggak, saya seminggu dua kali!” Dia pergi setelah meminta kantong kresek untuk melilitkan dua botol parfum. Katanya supaya aromanya gak hilang. Tak lupa dia mengucapkan salam.
 Baru saya sadari dia melepaskan sepasang sandalnya. Padahal saya tahu lantainya masih belum dibersihkan, bekas hujan semalam. 
Kepergiannya membuat pikiran semakin kalut. Kaki besinya mampu berjalan ratusan kilo meter. Mengemis, demi keluarganya. 
“Terkadang kita menyia-nyiakan nikmat. Padahal di luar sana masih banyak yang menanti nikmat. Bersyukur dengan apa yang dimiliki. Barangkali di luar sana banyak yang membutuhkan.”
#Semogamemotivasi

Iklan