​Membanggakan sesuatu tiba-tiba orang lain meremehkannya.


Saya pernah mengalaminya. Tepatnya setelah lulus sekolah. Ceritanya gini. Waktu itu saya ikut bantu kerja di sepupu saya. Hobi saya menulis sejak setahun sebelumnya, mencoba terjun di dunia itu. Mulai mencari link dan teman yang suka menulis di Facebook. Hingga bertemu dengan mereka yang menulis secara produktif. Ken Hanggara, Lindsay Lov dan Siti Khumairah. Mereka menekuni genre yang berbeda. Jika Ken Hanggara lebih condong ke Horor, dan bermain imajinasi. Lindsay Lov suka genre romance, thriller dan horror juga. Siti Khumairah condong ke Religi dan Romance. Namun di tahun ini dan sebelumnya, beliau (red-Siti) sudah tidak terlihat lagi di dunia literasi. Mereka adalah guru pertama yang membuat aku semangat dan senang menulis. 

Hampir setiap hari saya mentag tulisan saya untuk mereka. Meski saya tahu, mereka pasti tidak akan suka namun saya merasa senang. Beberapa cerpen saya kirim melalui inbox mereka. Mereka menilai begitu sabar. Jika kak Lindsay punya Story Club sebagai lini penerbitan kini. Kak Khumairah punya Ar-Rahman. Juga kak Ken punya pabrik cerpen–iya menamai seperti itu, produktif sekali menulis cerpen. Hampir tiap minggu kabar cerpen miliknya dimuat di koran lokal maupun Internasional. Iya! Pernah dimuat di Jakarta Post yang dikirim ke Hongkong. Salut.

Saya bertekad untuk menjadi kolaborasi ketiganya. Entah apa jadinya. Hingga saya pernah ikut event give away demi mendapatkan tanda tangannya. Tetapi gagal, karena saat mengirim foto selalu gagal. Handphone saya kurang canggih. Mungkin juga signal sudah error malam itu. Saya masih berharap untuk bisa mendapatkan tanda tangan dengan membeli novelnya. Waktu itu menjadi gratis ongkir. Menanti 3 hari. Alhamdulillah saya mendapatkan paketan dari wanita yang berdomisili Pematang Siantar, Sumut. 

Buku yang didapatkan waktu itu genre Thriller. Sampulnya penuh darah dan pisau. Judulnya “Knife”, saya menyukainya. Saya bermimpi untuk menjadi penulis. Saat ditanya oleh sepupu saya. Kemudian dia tertawa. 

“Penulis itu gak ada manfaatnya! Hobinya cuma berimajinasi,” rasanya saya ingin teriak waktu itu juga. Padahal itu salah satu profesi yang bermanfaat. Meredam emosi saat meledak-ledak. Berbagi motivasi kepada orang lain. Juga bisa banyak kenalan baru, menambah relasi. 
Saat itu entah kenapa tertanam dalam benak bahwa menulis tidak penting. Lalu saya merasa stuck setahun berikutnya. Saya sudah tinggal di Pulau Dewata. Tuntutan kerja dan rutinitas harian membuat waktu terpangkas. Jikapun masih ada kesempatan untuk menulis. Pasti lampu dimatikan oleh orangtua saya. Menyuruh saya tidur. Orangtua pun kadang membuat saya down. Dia memilihnya bekerja lebih menghasilkan uang daripada bengong atau menulis. 

Seolah bengong dengan berimajinasi itu sama. Padahal ya beda. Bengong/melamun hanya berpikir yang terjadi. Berimajinasi memikirkan yang belum ada. Berpikir kreatif. Meskipun dilarang kebiasaan itu sudah tertanam. Sehari tidak menulis rasanya gusar. Hingga setelah benar-benar bekerja. Waktu yang dimiliki kian menipis. Ditambah bekerja membantu mama. Mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga menjadi delivery dagangannya. Termasuk ke pasar setiap pagi. Di situ perjuangan menulis mulai goyang. 
Memasuki bulan ke 6 saya sudah pergi dari pulau yang menjadi destinasi dunia. Hanya satu minggu di rumah. Dilanjutkan berangkat lagi ke Malang. Memperjuangkan kuliah. Itu impian saya sejak SMA. Saat gagal SNMPTN. Saya tidak mencoba lagi. Seolah tak mendapatkan support dari keluarga. Saya diterima di kampus swasta dengan jalur undangan. Namun, saat daftar ulang. Ayah saya tidak mempunyai uang yang cukup. Kesedihan saya semakin mendalam. Berhenti menjadi anggota perpustakaan di sana. Itu mengapa saya banting tulang ke Bali. 

Kembali lagi, saya di Malang sekarang. Kota yang dingin. Berbanding terbalik dengan Bali. Sendiri di kota ini. Lebih tepatnya bersama sahabat saya. Dia baik. Dia juga pernah cerita mengenai sahabat waktu SMP-nya yang juga hobi menulis. 

Selama di Malang saya pikir saya akan lebih banyak waktu untuk menulis. Ternyata dugaan saya salah. Aktivitas kian padat. Ditambah saat Pesmaba (Ospek dari jam 5 pulang jam 5). 3 bulan berikutnya. Saat itu pula. Ibu sahabat saya tinggal di Malang. Mengingat sahabat saya kurang bisa memanajemen uang. Sedangkan saya itu ‘numpang’.

Menulis. Beberapa orang menganggap saya idiot. Ke mana-mana membawa buku dan pen. Saya tidak ingin melewatkan satu menit tanpa menulis. Awalnya saya suka foto. Setiap ada yang indah pasti difoto. Namun, ternyata handphone saya rusak lebih awal. Jadi, hanya berbekal pinjam.Gak mungkin menggunakan dengan sangat private toh. 

Entahlah saya merasa sakit. Saat menuliskan tentang ini. Tapi, saya harus bisa. Saya mendapatkan banyak masalah di pertengahan semester 1. Finansial. Padahal harus ikut ujian. Bersyukur lagi saya diberikan pinjaman sama orangtua sahabat saya. 

Oh iya, saat itu saya jualan cilok (sejenis bakso kecil) yang digoreng. Namanya cilok goreng. Juga menjual rujak petis. Tak hanya dipromosikan kepada teman-teman. Saya menitipkan di kantin kampus. Ternyata. Hal paling menyakitkan. Cilok goreng saya diremehkan. Dia bilang tidak disukai anak di sini. Usut punya usut. Ternyata ciloknya disembunyikan. Saya tahu, karena waktu itu menyamar menjadi pembeli. Dia bilang sudah habis. 

Seolah gak ada artinya. Saat itu saya harus berjalan sekitar 1 km. Mengantar Cilok, karena anak Bunda. Ya, saya memanggil orangtua sahabat saya dengan sebutan spesial. Bunda. Lebih manis. Ya, anaknya malu. Entah malu karena takut temannya melihat atau apa. Bahkan beberapa hari berikutnya. Saya menitipkan sebelum masuk kuliah. Tidak bersama dengannya, lagi. 

Kenapa jualan cilok itu malah diremehkan? Sampai saya pernah bersumpah. Akan membeli itu kantin suatu saat. 
Ada lagi selain, menulis dan tentang Cilok yang diremehkan. Tentang organisasi saya. XXX. Menurut sahabat saya dan temannya. Itu adalah organisasi radikal dan tidak memanusiakan, hanya hobi demonstrasi. Saya jadi ragu, ingin masuk tapi ya takut. Saat itu ada dua organ yang menarik saya untuk bergabung. Merah atau hijau. Saya pun meminta saran dari salah satu Humas UMM. Kebetulan saya menjadi anggota paling mudah di Rumah inspirasi Malang saat itu. Dia salah satu pengelolanya.

Benar saja saat saya sudah masuk saya memang merasakan tekanan. Kegiatan demi kegiatan. Bahkan kajian bisa sampai tengah malam. Memang aneh terdengar oleh Bunda. Ya, tapi saya di sana itu memang sedang kajian. Tidak pergi ke mana-mana. 

Kamu tahu? Setelah hampir 5 bulan bergabung. Saya justru merasa aman di organisasi merah yang kusayangi. Perangkat kerja yang bahu-membahu membantu anggota lainnya. Termasuk salah satu bantuan dari anggota yang menyumbangkan biaya kuliah yang saat itu saya masih ada tanggungan, ditambah dengan uang untuk ikut ujian Semester 1. Allah. Hanya Dia yang bisa membantu saya. Orangtua di Bali sudah tak peduli. Orangtua di Situbondo tak berpenghasilan. Saya seperti merasa dilindungi oleh organisasi saya. Saat itu pula orangtua angkat saya sudah angkat tangan. Mengingat biaya operasional kampus jurusan saya lebih tinggi dari anaknya. Katanya saya salah jurusan. Kok malah masuk jurusan favorit? 

Saya gak tahu itu jurusan favorit. Tapi saya punya minat lebih di sana. 😥 Impian saya ingin menjadi Produksi Film Islami. Entahlah, lagi-lagi impian itu pernah diremehkan oleh salah satu pengusaha sukses di Situbondo-Bali-Yogyakarta. 

Mengenai jurusan favorit. Saya pun pernah diremehkan. Impian Saya, ingin membuat serial animasi. Tetapi dia justru mengatakan ini kampus tidak ada jurusan perfilman. Saya salah kampus. Dihadapan 400 lebih mahasiswa dan beberapa dosen di sana. Dia memang punya kendali. Tetapi, dosen bagian praktikum yang berkaitan malah mendukung saya. Saat itu saya sudah tidak berminat lagi. Bahkan waktu kena kasus KTM saya bolong beliau tidak tahu. Hanya saja waktu KTM hilang saya ‘terpaksa’ menemuinya. *Anggap saya hanya bermimpi.
Haruskah kita menyerah dengan impian kita? Saat dipandang sebelah mata? TIDAK. Justru kita harus bangkit. Di sini awal saya merajut mimpi. Menulis kembali. Alhamdulillah menulis membuat saya dapat buku gratis terus. Dapat tanda tangan dari orang berkelas. Penuh inspirasi. Dapat kenalan baru. Dapat banyak perubahan. Lebih maju. 

Saya masih ingin kembali ke kampus putih. Bukan sebagai mahasiswa. Tetapi pembicara. Bisa? Harus bisa. 😊

Cause your life is never flat. Be positive. Insyaallah bisa. Dengan menulis sebagai gerbang kemajuan. 
Salam dari Baiq yang ingin pergi ke India. 😅

#harike6

#10dayswritting

Iklan