​Ketika hujan mengguyur bumi. Daun yang kering merasa segar. Ketika waktu sudah kemarin, kita malah bubar. 

Masihkah tertulis namaku dalam memorimu? Sepertinya sudah tak ada lagi. Padahal aku begitu berharap bisa menjadi bagianmu. Aku tak mengerti. Apa yang terjadi pada masa depanku nanti. 

Andai saja kamu hadir di sini. Mengukir pelita saat sunyi. Ingin sekali aku mengatur mimpi. Bukan pertemuan yang tak berarti. Bukan angan yang terlupa. 

Saat satu waktu menjelma tanpa arti. Merasa semua tak peduli. Biarkan sendiri. Menatap langit tanpa mentari.

(Situbondo, 25 Januari 2017)

Terakhir menulis sebuah surat tanpa balasan itu bulan September 2016. Kini tantangannya menulis surat. Meski saya tahu tidak ada yang akan menerima. Biarkan surat ini mengudara. 


Kepada 

Sosok nan jauh di seberang mata.

Selama Pagi,

Langit masih membungkus kumpulan air. Tapi, menahan untuk tak menangis. Raut langit suram. Begitulah yang kurasakan. Bagaimana kabarnya? Berharap engkau masih selalu sehat wal afiat. Di sana pasti hujan terus-menerus. Tak dapat dibayangkan suhunya nyaris minus. Emm, bagaimana kabar Mama dan Papamu? Harapannya selalu bahagia selalu. Hari ini pasti engkau akan sibuk. Membanting tulang demi masa depanmu.

Aku tak tahu alasan yang tepat kuterima saat engkau menyatakan kita tak bisa bersama. Padahal aku sudah siap dan menerima segenap yang ingin engkau wujudkan. Maafkan aku yang pernah mendesakmu. Aku bukan bus yang bisa berhenti di halte. Pun juga aku ingin tetap melaju. 

Perjalanan masih jauh. Tapi, seolah engkau tak peduli. Aku merasakan jarum menusuk lebih dalam. Menghunus gumpalan coklat di dada. Hingga merah kental mengalir perlahan. 


Masihkah kamu berharap mengakhiri kesendirian menjadi kebersamaan? 


Tapi, cukup bulir bening ini mewakili. Separuh jiwaku pergi. Bukan aku tak ingin engkau memilih orang selain diriku. Namun, pernahkah engkau merasa? Ada hati yang terluka menanti kejelasan. Menanti jawaban. 

Setelah jawaban engkau putuskan. Engkau yang pernah merajut harapan dalam benakku. Kini pintalan rindu kau-gunting begitu cepat. Menurutmu. Aku terlalu baik? Oh tidak. 

Aku bahkan tak bisa membedakan mana hatiku mana hatimu. Setiap aku menyandarkan pikiran tentangmu. Seperti perasan jeruk nipis yang mengucur di atas luka. Perih.

Engkau yang jauh dipelupuk mata. Jika butiran waktu bisa menyesap air laut. Kurasa hanya sekejap berganti buih. 

Ah, aku terlalu puitis. Entah engkau mengerti atau tidak. Padahal intinya aku masih banyak berharap tentang kamu. 

Maafkanlah kekeliruan yang selama ini memberikan sebuah beban untukmu. 

Kau tahu tidak? Saat aku berusaha hanyut dalam kesibukan. Keponakan paling kusayang tiba-tiba duduk di pangkuan. Dan aku biarkan saja dia di sana. 

Beberapa menit kemudian, dia terlelap sangat manis. Tapi aku tahu masa depan dia ditentukan oleh orangtuanya. Kamu tahu tidak? 

Aku juga ingin masa depanku ditentukan oleh orangtuaku. Tapi, aku tak seberuntung mereka yang selalu bisa meminta kepada orangtuanya. Langsung dikabulkan. 

Sementara aku ingin mandiri. Jika aku boleh merangkai masa depanku. Aku ingin sekali engkau yang menuntunku. Membebaskan dari belenggu istana Rapunzell. 

Sayang sekali itu hanya impian yang pupus. Sudah tidak ada kesempatan lagi. Kurasa aku harus bisa berdiri teguh. Dengan harapan baru. Mungkin engkau akan menemukan apa yang selama ini menjadi misteri. Pun hal sama akan aku temukan keajaiban misalnya.

Keajaiban kita bersatu. Diam-diam, aku masih merindukan cara bercandamu. Cara senyum ranummu dan kejutamu. 

Oh ya, sekarang aku harus menidurkan si kecil di ranjang yang hangat. Dia sudah masuk dalam mimpinya. Mungkin bermimpi tentang tedy beat yang melawan dinosaurus. Karena sebelum tidur dia bermain dua boneka itu. 

Oh iya, kamu jaga kesehatan ya. Mungkin kamu suka terlambat makan dan tidur. Kuharap tak lupa juga berdoa. Semoga kamu bertemu dengan sosok yang kamu cari selama ini. 

Harapanku sederhana, melihatmu tersenyum itu lebih dari cukup. Biarkan aku menjadi sebatang lilin yang memberikan cahaya meski akan berakhir oleh jilatan api. 

Sayonara.

Ditulis oleh seseorang yang diam-diam mendoakanmu.

Situbondo, 26 Januari 2017

Semoga secarik kertas tanpa tujuan bisa mengudara bebas. Mengabarkan bahwa aku menulis surat untuknya. 

Iklan