Hari ini saya sengaja share tulisan Bang Gere Liye Fans Page Tere Liye. 

Zaman sekarang sudah krisis dengan simpati dan empati. Hal kecil terkadang dibuat lelucon. Seperti yang viral beberapa hari ini. 

Berikut Pesan Bang Tere yang meminta untuk share. Saya copykan di sini. 

Jangan tertawakan mereka. Tertawakan diri sendiri.

YESTERDAY · PUBLIC

Lima-enam tahun silam, saat page ini punya like di bawah 50.000, saya pernah melakukan kesalahan fatal. Dalam sebuah tulisan, saya menulis, “anak muda sekarang, main gagdet, asyik betul, sampai lupa sekitar, menjadi autis.” Sungguh saya menulis kalimat tsb tanpa ada maksud apapun. Tapi tidak perlu satu jam, beberapa sudah menulis komentar keberatan. Ada yang marah2, ada yang ngamuk, dan ada yang mengirim email penuh kasih sayang, “Bang Tere, jangan menggunakan istilah autis. Karena itu bukan buat olok2, perumpamaan, lucu2an, atau apalah. Bang Tere itu penulis, nanti dicontoh orang lain. Bersimpatilah dengan ibu2 yang punya anak autis, autis itu bukan mau mereka.”

Saya terdiam lama sekali membaca email salah-satu pembaca. Ini betul sekali. Kalimat saya, meskipun tidak ada maksud apapun, itu boleh jadi menyakiti orang lain. Saya bergegas, memposting minta maaf karena telah menyakiti banyak pihak. Tapi itu tidak cukup. 4-5 tahun berlalu, setiap tahun sy menebus kesalahan ini dengan memposting postingan khusus setiap tanggal 2 April, Hari Autis Sedunia (bahkan hari ulang tahun saja sy kadang lupa, tapi khusus hari ini, rutin sy rayakan), agar kita bisa lebih memahami, menghargai dan menyayangi orang2 lain yang ditakdirkan demikian. ‘Mahal’ sekali harga penebusan dosa itu, dek, bertahun2. 

Dan bukan cuma soal autis, juga ada disleksia. 

Apa itu disleksia, kesulitan membaca, mengeja, menulis. Bagi mereka, menyebut kata “ibu”, bisa sangat susah sekali, menjadi “ubi”. Susah payah. Itu bukan mau mereka, itu adalah bawaan lahir. Dia sungguh mau bilang “ibu”, tapi yang keluar, “ubi”. Mau bagaimana? Juga saat membaca, posisi huruf terbalik2. Itu tidak mudah. Maka jangan dijadikan tontonan soal disleksia ini, dijadikan bahan lucu2an. Bahkan jika bagi penderitanya dia enjoy, tidak masalah, ikut tertawa. Tapi kita tidak tahu, mungkin bagi orang lain, itu menyakitkan. Jika itu tetap kita lakukan, kita justeru menikmati tertawanya, kita sungguh menyedihkan. Jangan tertawakan mereka, tertawakanlah diri sendiri, yang sangat memalukan hidup di dunia. 

Adik-adik sekalian, dunia ini semakin rusak, bukan karena orang2 jahatnya tambah banyak, tapi simpati dan empati kita semakin berkurang banyak. Saya tahu, banyak yg melakukannya karena tidak memahami, seperti saya dulu. Tapi lebih banyak lagi yg tidak peduli. Bahkan minta maaf-pun tidak telah menjadikannya tontonan–bahkan setelah dia tahu. Merasa baik2 saja. Semoga kita dijauhkan dari sifat: mudah sekali menilai fisik orang lain, hitam, pendek, pesek, keriting, sipit, dll. Dijauhkan dari tabiat: mudah sekali menghina kekurangan orang lain–merasa kita lebih baik. Karena kita tidak tahu, dek. Hari ini kita tertawa, besok2, boleh jadi giliran kita, keturunan kita yang ditertawakan. Saat itulah kita baru tahu betapa itu menyakitkan, bukan bahan lelucon.

*Tere Liye

Iklan