​Sebenarnya ini uneg-uneg yang ingin saya tuangkan. Sejak semalam saya tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia. Tetapi karena pikiran dan sakit. Saya sakit malah semakin ‘gila’ dalam berpikir. 

Diawali dengan salah satu grup WA yang mengirimkan informasi berkenaan beasiswa Unggulan dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan. Saya senang saat melihat persyaratan, bisa masuk kategori tersebut. Setelah mencerna dan kembali membaca halaman selanjutnya. Halaman yang ternyata adalah page 1. Nyali saya ciut. Impian untuk melanjutkan pendidikan seperti berhenti begitu saja. Padahal saya sangat memimpikan untuk bisa lanjut ke tahap yang lebih tinggi. 

Saya tidak pesimis. Membaca kesempatan lainnya bisa menjadi alternatif. Beasiswa Non Degree yang dikhususkan untuk mereka yang berprestasi selain mahasiswa dan Dosen yang masih memiliki relevansi dengan Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti guru, seniman, pendidik dari PAUD-SMK, dsg. 

Kembali mengevaluasi diri. Selama 2016 saya berhenti kuliah. Sejak saya tahu tidak ada yang akan memberikan bantuan dana. Biaya pendidikan yang begitu tinggi nyatanya tak sanggup orangtua menanggung. Sebelum saya memberanikan diri terjun ke salah satu fakultas paling diminati karena Ayah saya pernah berjanji bisa mengusahakan. Dengan jalan menjual sepetak tanah yang dimiliki. Juga saran dari teman saya, bahwa di kampus yang akan saya jalani banyak bantuan dan subsidi. Seperti bisa kerja paruh waktu, menulis artikel atau gagasan yang dimuat di media. Dan lain sebagainya. Jujur sebagai anak baru kemarin saya kelimpungan. Tidak hanya berkecimpung dalam tugas kampus baik individual maupun kelompok. Saya masuk dalam organisasi dan kegiatan komunitas lainnya. Seperti Rumah Inspirasi Malang. Dari sana saya banyak mengenal hal baru, seputar kampus dan lingkungan Malang. Saya sudah mulai menargetkan impian tiap bulan dan tahunnya. 

Ternyata kehidupan tak sesuai yang saya persepsi. Saya harus bisa bagi waktu antara kampus, organisasi, dan tugas rumah. Juga informasi kerja paruh waktu untuk semester atas.

Berhubung saya tinggal bersama orangtua angkat tugas saya menjadi bertambah termasuk menjaga dua adik yang belum balita. Tapi, saya merasakan itu mengalir seperti air. Meski kadang saya harus memulai rutinitas dari dini hari agar tak terlambat kuliah maupun pulang organisasi tengah malam. 

Life is a procces. Banyak yang menganggap saya hidup aman, damai dan tentram di Malang. Nyatanya memang seperti itu. Saya tak pernah terbebani kuliah ke rumah dengan jalan kaki 800 meter lebih. Belum dari Gerbang kampus menuju kelas yang ditempuh 5-10 menit jika berjalan dengan cepat. 

Pun saya belajar marketing dengan menjual rujak buah dan pentol goreng. Ibu angkat saya yang membuat. Tetapi saya tidak merasa malu menjual sebelum kelas dimulai. Juga menitipkan ke kantin. Meskipun persaingan ketat. Banyak yang berbondong-bondong nitip di kantin. 

Buktinya, saya harus memikul kembali saat sore datang. Box berukuran 60x50x40 cm3. Aslinya bisa di dorong. Namun saya tak ingin banyak yang melihat. Jadi saya dekap saja. 

Hingga suatu hari saat saya ingin menjemput pentol goreng. Si petugas kantin tiba-tiba mengatakan sudah habis. Mereka pikir saya costumer. Saat saya jelaskan bahwa ingin mengambil uangnya. Nyatanya, sisa dagangan masih ada dalam kantong hitam sebagai jualan yang belum laku. Dari situ saya paham mengapa jualan saya selalu tidak laku. 

Sebagai mahasiswi semester 1, SKS yang wajib ditempuh 24. Ditambah kegiatan ESP dan keagamaan (Ahad Pagi). 

Awalnya saya tidak merasa terbebani, namun saat menjelang UTS ada syarat yang harus ditanggung salah satunya administrasi. Saya down. Saya tidak tahu harus membayar dengan apa. Orangtua saya angkat tangan.

Pikiran kalut hingga kebaikan dari orangtua angkat yang bersedia membantu mengantar separuh. Memang segitu bisa membantunya. Akhirnya saya merengek kepada bidang Keuangan untuk permintaan dispensasi. Saat itu pula saya menggendong adik angkat saya. Ibu angkat kebetulan pergi ke suatu tempat.

Saya tidak mungkin lupa. Bagaimana saya mengambil uang di bank saat si kecil kehausan tidak ingin minum susu instan. Juga hari terakhir pembayaran. 

Ternyata saya bisa mendapatkan dispensasi. Senang sekali. Semua berjalan lancar tak sebentar. 2 bulan berikutnya saya kembali pusing dengan tagihan dispensasi juga kewajiban administrasi UAS. Berarti ganda yang harus dibayar. Kembali saya menelpon rumah berharap masih bisa mendapatkan uang. Ternyata nihil. 

Siapa bilang saya gak depresi. Hampir 3 kali masuk rumah sakit karena beban pikiran yang ditanggung sendiri. Saya bingung, saya mencoba datang ke salah satu senior saya di RIM yang juga sebagai Humas di kampus saya. Dia memberikan banyak alternatif. Namun, harus berujung dengan biaya juga.

Seperti seonggok kertas yang kehilangan tinta. Tak ada kisah. Kosong melompong. 

Saat itu saya gusar. Tidak bisa bekerja paruh waktu. Mengingat hampir 20 jam saya sibuk dengan tugas rumah dan kegiatan lainnya. Akhirnya saya putuskan sendiri. 

Drop out! Jalur terminal. Sebelumnya saya rela membolos kelas demi bisa menemui Kepala Biro Mahasiswa, mencari saran atau alternatif. Setelah saya menemui 3 orang penting juga. Dan tahu apa yang dikatakan. 

Sesuatu yang menyakitkan. Entahlah saya tak ingin luka lama bersemi kembali. 

Sudah banyak yang saya pertimbangkan, dari segi finansial dan kesempatan ikut ujian. Hanya hitungan hari namun tak bisa. Sebelumnya saya juga melamar kerja, namun satupun tak ada yang menerima lamaran kerja saya. Mungkin mereka berpikir anak kuliah tidak bisa membagi waktu kerja. Padahal saya sudah siap dengan segala konsekuensinya. 

Hujan rintik mengelus puncak kepalaku. Saat itu aku menoleh ke lantai 5 di sana tampak teman kelas yang akan masuk kelas. Sebagai wakil kating saya merasa rindu. Jika harus meninggalkan kelas. Saat-saat mengambil kunci kelas atau menemui dosen bertanya jam mengajar. 

Langkah kaki sudah pasti, menuju BAA. Tempat mahasiswa mengajukan non aktif atau cuti, maupun aktif kembali, atau membuat KTM baru, juga yang ingin mendaftar kampus.

Namun, tujuanku beda. Aku hanya ingin berhenti. Aku berpikir jika tak berhenti suatu saat ditagih biaya administrasi yang nyatanya saya tak mengikuti. Mungkin pikiranku terlalu singkat. Siapa lagi yang mau mewakili. Orangtua tak mengayomi putrinya. Menyebutkan kata itu hanya membuat bulir bening mendarat tanpa halangan. 

Beberapa hari lalu saya menemuinya, saya sudah diberi waktu untuk berpikir juga konsultasikan ke atasan. Saya tak ragu pun menggandeng Gubma (Gubenur Mahasiswa), saya sangat bersyukur sudah dibantu selama ini. Tanpa menyebutkan nama. Saya ucapkan terima kasih. 

Berhadapan dengan sosok yang sabar, mengurusi mahasiswa yang cuti maupun yang ingin aktif kembali. Saya sudah siap meski menggigit bibir mendengar pernyataannya. Satu kali dihapus dari sistem. Sulit untuk mengembalikan data mahasiswa yang bersangkutan.

Hanya anggukan dan mata yang sayu. Namun, saya masih duduk dengan tenang. Mendengarkan nasihat yang sangat indah. Namun, hati saya tetap menolak untuk tinggal. Saat itu saya pun menyerahkan KTM. Staf yang bertugas bertanya satu kali lagi. Saat dia menerima surat pernyataan yang saya buat dengan tanda tangan seseorang yang paling saya hormati diatas materai. Sah secara hukum. 

“Klek!” suara pelubang kertas yang memahat ukiran di atas ATM saya. 

Airmata menyeruak ingin keluar masih kuat bertahan di sana. Aku masih tersenyum, berterima kasih dan undur diri. Hujan mulai deras. Namun, sekali lagi kuabaikan. 

Pepatah bilang, “Kegagalan adalah awal kesuksesan”. 

Selamat Baiq kamu pulang dengan tangan hampa. Tanpa ijazah pun. Suara kecil yang terus berdengung dalam hati. 

Saya berjalan di trotoar menuju depan kampus, tempat menongkrong kami. Mencari ide-ide segar. Dengan pembahasan aktual.

Saat itu niat saya hanya ingin berpamitan kepada organisasi tempat saya ditempah tidak kurang dari 4 bulan. Tetapi, salah satu demisioner yang aktif membagi apa yang beliau punya. Mengatakan. 

“Cara berpikir kamu itu normatif, kamu lupa saat mempunyai kami. Berpikirlah yang tidak kaku.” 

“KTM saya juga bolong!” tiba-tiba membuatku kaget. 
Aku tak mengerti maksud ucapannya, tapi ada benarnya juga. Jika KTM bolong otomatis tidak ada nama mahasiswa lagi. Luntur sudah. Masa mau dianggap lulusan SMA? Sebuah pertanyaan yang membuatku diam seribu bahasa. Kamu tidak papa menjadi mahasiswa non aktif. Yang terpenting kamu masih status mahasiswa. 

Akhirnya kami mengadakan rapat dadakan, yang intinya harus mengembalikan status mahasiswa saya. 

Proses demi proses dibantu oleh Ketua Pimpinan organisasi saya. Hingga suatu masa di tanggal yang semestinya saya sudah hengkang dari tugas kelompok tenyata harus kembali lagi. Akhirnya opsi tugas kuliah menjadi individu semua. 

Masalah yang saya hadapi bukan semakin mudah, semakin runyam dan tidak jelas. Masih ingat dalam pikiran, terbetik rasa untuk menegak beberapa kapsul kadaluarsa. Beruntung segera dicegat teman seperjuangan saya. 

“Man Jadda Wa Jadda,” Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Alhamdulillah saat menjelang ujian, saya diajak oleh salah satu teman organisasi yang usianya bisa dibilang lebih tua dari saya. 

Saat itu mengajak berbincang 4 mata. Sejauh mana saya bisa memperbaiki, dan mempertahankan semangat jika diberi pilihan untuk masuk. Saya menjelaskan tekad baja yang selama ini malah disia-siakan dua orang yang harusnya menjadi tiang penyangga kesuksesan. 

Saya menjelaskan alasan saya memilih kampus dan jurusan tersebut. Latar belakang nekat. Hingga tak sadar bulir bening itu kembali menetes. 

Lelaki yang duduk di sampingku. Kami terpisah oleh ruang kosong dan suasana taman penuh dengan aktivitas mahasiswa yang mengerjakan tugas maupun kelas outdoor. Tak memecah konsentrasiku mendengarkan kisah ayahnya. Dulu pun pernah menjadi di posisiku. 

Saat finansial tak bisa dipungkiri menjadi hal yang “influence”. Pengaruh yang sangat besar. Menyebabkan dia mundur mengalah, mencari jalan lain. Berwirausaha hingga sukses. Berjanji ingin membuat anaknya sukses seperti yang tak kesampaian. Aku terharu, sekaligus iri. Beruntung orang di depanku memiliki ayah yang hebat. Berjuang keras demi masa depan yang tertunda. 

Jujur saat saya menulis di bagian ini, rasanya cairan panas mulai meleleh dari kelopak mata. Tak terbendung lagi. Sejak dulu impianku adalah bisa kuliah. Bersyukur masih ada tangan-tangan Allah yang membantu untuk bisa mewujudkan meski sesaat. 

Alangkah kagetnya saat tangannya menyerahkan sebuah amplop coklat dan menyeru agar aku menyimpan dalam tas. Aku tak tahu berapa jumlahnya. Menurutnya, itu sesuai dengan angka yang aku butuhkan. Jika ditaksir mirip dengan harga laptop yang saya idamkan selama ini. Alhamdulillah. 

Nikmat yang mana lagi yang Engkau dustakan (QS. AR Rahman)

Itu salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun saya ingat 3 kali ditolak beasiswa. Beasiswa dari kampung halaman, kampus sendiri dan organisasi cabang kampung halaman. Kurangnya prosedur yang relevan. Padahal menurut guru BK saya, saya tergolong anak yang cerdas. Selalu menyabet Rangking Paralel. 

Bulan berikutnya saya tak bersama dengan orangtua angkat, saya tinggal dengan nenek angkat. Berkerja untuknya demi bisa lanjut kuliah. Menjaga sepasang lansia. Mengurus dan tugas membereskan rumah. Tak masalah meski jarak tempuh menjadi 10 kali lipat sebelumnya. Namun, kali ini saya menggunakan sepeda kayuh. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di kampus. Atau 40 menit jika memotong jalan. 

Tenyata tak sesuai yang saya harapkan. Mereka hanya mampu membiayai uang persemester. Awalnya Mama saya yang tinggal di Pulau Dewata berjanji akan mengirim. Ternyata. Diluar ekspektasi saya. Justru uangnya untuk adik saya. Katanya ada biaya program rekreasi Bali-Malang-Yogya. 

Hatiku remuk. Sakit sekali. Percuma selama ini saya berjuang jika ujung-ujungnya menjadi sebuah ‘omongan’ saja. Banyak yang mengatakan saya itu kuat. Teguh, meski banyak pengorbanan yang selama ini ditolerir. Saya selalu mengalah demi kebahagiaan orang lain. 

Ternyata salah, ibarat sudah jatuh tertimpah tangga. Double sakit. Hari di mana seharusnya saya menggunakan kemeja hitam putih harus lusuh begitu saja. Saya dilarang meminta bantuan lagi kepada organisasi saya kata Ayah saya. 
Akhirnya mimpi saya pudar, seperti dicuri orang. Kejadian setahun silam yang masih berbekas dalam dada. Banyak teman yang bertanya kapan kembali? Bahkan saat waktu menyulap menjadi 2017 saya tidak mempunyai kekuatan lagi. 

Sempat saya banting stir. Saya bekerja di salah satu CV Konsultan. Bidang yang dijalani cukup berat berkenaan dengan rancangan pembangunan. Sayangnya hanya bertahan 3 bulan. Saya berhenti saat mendengar bujukan seseorang. Entah dapat bisikan setan dari mana. Saya berhenti.

Hampir 6 bulan menganggur, karena kota tempat saya tinggal minim lapangan kerja. Saya memutuskan pulang. Merasa iba dengan Nenek saya. Selama ini beliau yang membesarkan saya. 

Masih belum kering airmata kesedihan. Atas saran keluarga angkat di kota Apel. Saya katanya akan dijodohkan dengan salah seorang pengusaha. Dengan harapan saya bisa kuliah lagi. Menurutnya saya punya potensi. Sayang sekali jika dibuang sia-sia. 

Kembali merajut mimpi. Ternyata Allah tidak menghendaki. Buktinya proses itu berhenti secara perlahan. Seperti kapas yang jatuh di atas gundukan jerami. 

Hati mana tidak menangis, di saat ingin impiannya tersalurkan kemudian menemui jalan buntu lebih dari sekali. Saya sendiri bingung tidak bisa bekerja dengan omset katakanlah UMR. Untuk bisa kembali ke kampus putih. 

Seperti sembilu yang mengganjal paru-paru. Susah menambat udara, tak bisa bersua. Rasanya sudah tak ada lagi yang tersisa. Lantas apa yang harus saya lakukan? 

Lebih baik tak memiliki orangtua, daripada memiliki tapi seolah mati rasa. 

Mungkin aku anak durhaka mengatakan hal demikian. Lantas bagaimana peran dan tanggung jawab orangtua? 

Saya rasa itu cukup. Tak ada maksud menjelekkan pihak manapun. Dalam hal ini aku hanya butuh cahaya. Seperti kunang-kunang tanpa cahaya. Mengarungi dunia tanpa mata. 

Bersyukurlah kawan yang masih bisa kuliah. Karena di luar sana ada yang tidak beruntung mencapai impiannya. Meski kadang engkau memilih bolos demi kesenangan fanah. 


Salam dari Baiq yang ingin berjuang mempertahankan impian. 

Iklan