Lomba Puisi & Cerpen 2017 UHAMKA


🇮🇩HIMPUNAN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA🇮🇩

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UHAMKA
MEMPERSEMBAHKAN
🎉 FESTIVAL LITERASI UHAMKA 🎉

“Kecerdasan Berbahasa dan Pesona Sastra Indonesia”
Bumikan Literasiku!🌏✍📚
Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assessement (PISA) menyebut, Indonesia sangat rendah akan budaya literasi.

Lalu, ingin berdiam diri saja?

Yuk sama-sama kita sadarkan masyarakat Indonesia tentang pentingnya budaya literasi agar pengetahuan dan kreativitas dalam berfikir dan berkarya dapat meningkat dengan mengikuti berbagai macam acara di Festival Literasi UHAMKA.
Berbagai macam acara?

Memangya ada acara apa saja?

BANYAAAAAKKK!!!
📌Lomba Bahasa dan Kesusastraan (UMUM)

12 Februari – 7 Maret 2017 (ONLINE)

📝Menulis Puisi

📝Menulis Cerpen

6 – 7 Maret 2017

📖Membaca Puisi 

🎭Monolog

🎼Musikalisasi Puisi

📌Seminar Nasional (UMUM)

20 Maret 2017

-Dr. Muhadjir Effendy M. AP

-Prof. Dr. Suyatno, M. Pd

-Prof. Dr. Dadang Sunendar, M. HUM

-Berthold Damshauser

-Maman S. Mahayana, S.S,, M.HUM

💰Rp 100.000 (mahasiswa uhamka)

Rp 150.000 (umum)

📌Workshop PKM (MAHASISWA UHAMKA)

21 Maret 2017

-Hj. D. Made Dharmawati, MM

-Nur Aini Puspitasari, M. Pd

-Fifi Novianti, M. Pd

💰Rp 25.000

📌Bedah Buku (UMUM)

22 Maret 2017

-Tere liye

-Prima Gusti Yanti, Dr. M. Hum

💰Rp 40.000 (mahasiswa uhamka)

Rp 65.000 (umum)

📌Kamis Nyastra (UMUM)

23 Maret 2017

-Okky Puspa Madasari

-Ni Made Purnamasari

💰Rp 30.000 (mahasiswa uhamka)

Rp 35.000 (umum)

📌Puncak Acara (UMUM & PARA PEMENANG LOMBA)

24 Maret 2017

-Sapardi Djoko Damono

-Hasan Aspahani

💰Rp 30.000 (kecuali para pemenang lomba)

📞 narahubung :

HIMA PBSI – 0897 8153 513

VIA – 0896 5394 2694

UPI – 0819 0517 1374
🏧Pembayaran dapat melalui Transfer Bank Mandiri dengan No. Rekening *90000 17939 118* atas nama RIDA TANIA NOVIANI segera konfirmasi jika sudah transfer
Ayo segera daftarkan diri Anda karena kuota terbatas!!

Bawalah dampak positif dalam peningkatan budaya literasi di Indonesia

Iklan

Puisi “I”


Kini

Zaman transisi

Zaman lama menjadi baru lagi 

Nyatanya krisis empati
Mereka mengandalkan emosi

Apakah tak punya hati?

Hanya robot sakti 

Binatang seperti kuda dan sapi

Masih punya empati 
Oh, 

Barangkali hidup hanya ilusi

Tidak jelas mana rekaan mana asli

Padahal semua diatur Gusti
Malang sekali

Nasib balita yang tak bergizi

Tanah, laut sudah tak bernutrisi

Semua akan pergi
Ingatlah wahai hati

Kalau sudah tak berfungsi lagi 

Tak ubahnya seperti 

Zombie
Jangan tunda nanti

Masa berbakti

Tak usah berpikir dua kali

Untuk menghargai diri
Kamu tak hidup sendiri

Nanti dunia akan mati

Jiwa akan bangkit lagi

Persiapkan diri
Sampai hayat masuk peti
Situbondo, 19/2/2017

Baiq Cynthia

Opini tentang Wanita & Poligami


​Perempuan, sosok yang lembut. Ucapkan kata yang baik, dengan nada yang tepat. Dia rela berkorban demi buah hatinya. Seorang ibu yang baik, tidak akan pernah memberikan perbedaan kepada buah hatinya. Baginya sama. Meski keluar dari rahim berbeda. 
Namun, saat seseorang melukai buah hatinya. Tak perlu 1 detik untuk menghilangkan rasa lembut itu. Seperti kaca yang halus, bisa pecah. Menjadi serpihan kecil yang mematikan. 
“Hormati istrimu, seperti ibumu,” sering kali nasihat lama terdengar.
Pagi ini, pelajaran berharga untukku. Wanita memiliki hati yang lemah. Namun, jiwa yang kuat. Dia rela banting tulang, siang malam. Saat pengabaian setitik saja, bisa merobohkan menara yang dibangun. 

Perasaan. Hati mana yang tak akan luka. Jika orang yang paling dicintainya, tiba-tiba berujar hal tak lazim. Terlalu mengambil sudut pandang subjektif. 
Itu mengapa, saat kemarin ada yang berkata, “bagaimana pendapatmu tentang sebuah poligami?”
Aku tercenung sebentar, seperti de javu. Beberapa tahun lalu, jawaban yang kulontarkan. Dengan mantap berkata, “Ya! Terima.”

Hampir semua mata memandang dengan jawabanku. Tapi, kini Aku sadar. Sosok pemimpin yang adil jarang ditemui. Kalaupun ada, itu masih sulit diterapkan di zaman kini. 
Tidak semua yang pernah diterapkan zaman dahulu bisa diterima di sekarang. Seperti kereta berkuda menjadi kereta api. 
Secara harfiah, bukan berarti poligami dilarang. Di negeri ini. Bukan. 

Ada hukum syara’ yang mengatur tentang kebolehannya. Termaktub dalam Al-Quran,“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa 3-4)

Sebabnya turun bisa dibaca di sini

Wanita masih rela, hati mereka yang menerima masih sanggup menerima beban 3 periode. Remaja, Istri, Ibu. 
Apalah saya, saya hanya serpihan daun yang menjadi saksi efek buruk poligami. Sebelum berpoligami penuhi syaratnya. Seperti ulasan singkat ini .
Bagi lelaki, itu masalah kecil. Menafkahi banyak anak sekalipun. Tapi, hati lelaki tidak bisa memusatkan pada satu saja. Ada banyak hati yang merindukan kasih sayangnya. Hati manusia cenderung condong, pada salah satu. Tidak benar 100% bisa berbagi hati dengan takaran yang pas.q
Kata orang lelaki, itu makhluk visual. Hanya melihat dengan mata. Tidak mendengarkan ucapan orang. Wanita makhluk audio, selalu mendengarkan tanpa melihat secara fisik. Sedikit saja menerima suara tinggi. Sudah pupus harapannya. Seolah gelap dunia. 
Berhati-hati berbicara dengan makhluk bernama wanita. Satu kata yang engkau lontarkan akan diingat sepanjang masa. 
Saya tidak mendukung poligami, mengingat latar belakang ilmu mereka yang berbeda dengan zaman Rasul. Ilmiah saja tidak cukup, tanpa diimbangi dengan ilmu agama. 
Jika dulu, mereka berlomba menghafal Al-Quran. Mengapa sekarang berlomba menghafal lirik lagu. 
Itulah pendapat saya, mengapa saya cenderung tidak setuju. Faktor ekonomi, faktor lingkungan, keluarga, keberadaan anak. Pola pikir anak. 
Meskipun anggapan lelaki hanya sebuah perasaan yang harus terbagi. Baik material maupun non material.
Boleh saja pihak wanita itu menerima, poligami. Sebaik-baik seorang istri adalah patuh kepada suaminya. Iya, kan? Jika sudah begitu. Surga jaminannya.
Namun, perlu digaris bawahi. Menikah bukan hanya bersatunya dua insan. Tetapi dua keluarga, dua perbedaan, sudut pandang juga ‘cara’. 

Selama puluhan tahun dibesarkan dengan ‘cara’ orangtua. Kemudian beralih tangan menjadi ‘cara’ suami. 
Akan lebih baik, timbanglah dulu sebelum memutuskan. Bermusyawarah mufakat. Mencari bilik yang lebih manfaat dibandingkan mudarat. Tetap berpegang teguh dengan syariat, hukum dan tata negara. 
Ini masalah kecil memang, namun bisa berdampak besar.Seperti puntung rokok yang masih hidup, tercecer di atas kasur. Dengan sedikit oksigen. Tak perlu lama untuk membumi hanguskan sebuah rumah. 
Satu lagi, ini tulisan cuma untuk pembelajaran. Bahwa wanita tidak hanya mementingkan perasaan. Tetapi masa depan anaknya kelak. 
Berhubung saya bukan ibu, jadi coretan ini bisa jadi salah dalam pandangan kalian. Boleh diulas dengan metode ilmiah. Tidak menerima perdebatan dan lainnya. 🌻🌻🍀🍀🍀
Keep Calm 😎

Sebuah Pesta


​Hanya sebuah pesta. But why? Awalnya sih pengin. Pas tahu kondisi kantong. Mundur tiga langkah. 

Tiba-tiba saja Beliau dapat rezeki. Trus minta aku order gambar yang pernah aku tujukan. 

Hanya sebuah pesta. Satu hari usai. Tapi mengapa harus keluar dana demi sebuah topeng. Apakah kostum itu harus selalu baru, setiap pesta?

Hanya 4 jam paling lama menggunakan, apakah yang patut diapresiasi? Hingar-bingar, berdentum. Sebenarnya saya enggan glamor.

Namun, sebagian hati saya juga ingin menunjukkan jati diri saya. Katanya biar serasi, ‘pantas’ hadir. Turut kompak, senada, demi sepasang kebahagiaan.

Hanya sebuah pesta, apakah arti pesta?

Reuni, makan, saling bertemu, lantas lupa. 🍃

Hanya sebuah pesta. Ya! Gerbang menuju rumah yang paling akhir justru kegelapan, pengap dan sendiri. Tak ada glamor lagi.

Lantas apakah menyesal membuat pesta? Tidak. Itu aksesoris kehidupan.

Hanya sebuah pesta. Anak Raja bertahta permata. Semua mata memandang. Penuh antusias. Saat sebutir kesalahan fatal timbul. Banyak mulut yang bergerak.

Hanya sebuah pesta. Pesta yang tanpa butuh undangan, bagiku pesta kematian.

#selamatpagi

Nyanyian Jangkrik~Baiq Cynthia


​Dear Mantan. Hahaha. Gak cocok. GANTI.

Dear Penulis. 

Malam ini kusempatkan menulis di beranda yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Sebagai (calon) penulis, saya ingin menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur.

Alkisah, binatang kecil yang bernama Janma. Suka sekali mengerik. Membuat si Doki, tetangganya. Tak bisa terlelap. Hingga, usikannya. Membuat tanduk merah langsung menyala. Si doki langsung, ingin balas dendam.

Mengorok ala kodok. Emang doki itu seekor kodok lincah. 

Si Janma tak nerima, Doki punya suara yang mirip.

“Kamu kopas? Ya?” Mentah-mentah Janma negur doki. Dengan kaki mungilnya naik ke batu. Ala bos.

“Idihh, siapa kamu? Aku emang punya suara gini. Bagusan aku kemana-mana,” Doki semakin nyinyir. Sebetulnya Doki malam itu sedang ingin bersenandung. Mencari kekasihnya yang pergi, dibawa lari. Entah mengapa, Janma tak menerima.

“Oke kita duel malam ini!” suara serak di Janma memulai.

“Oke,” jawaban tak kalah lantang.

Mereka saling menunjukkan suara paling nyaring. Janma menggesek sayapnya dengan semangat. Doki menabu tenggorokannya tak mau kalah.

Malam, yang kabutnya mulai tebal. Awan mulai selimuti Dewi Malam. Dia bertengger, tanpa bergeser dari pangkuan langit.

Dewi Malam melihat seekor srigala yang kelaparan. Matanya merah mencari mangsa. Mulai mendongakkan kepala. “Auuuuuuuu!”

Seketika Doki dan Janma terdiam. Suara si Mister penjaga Dewi Malam, membuat bulu kuduk merinding.

Doki memilih pergi, meninggalkan Janma yang tiap malam bernyanyi tanpa nada. Mengusik siapa pun yang lewat. Janma sendiri sudah tak peduli dengan suara apa pun yang muncul di malam berikutnya.

Baginya, setiap suara punya ciri khas tersendiri. Tak perlu ada namanya mesin fotocopy di hidupnya. Janma, tak ingin menuduh Doki mengopas suaranya yang mirip.

~Goodnight

#StoryAiq

#basedtrue

#cernak

#minidoang

Mini Stand Up Comedo~Ala Bhaiii


Selamat malam, pemirsa.Tapi, di Amrik masih siang. Kalau di Mars. Enggak tahu musim apa. 

Perkenalkan, nama saya Bhaiii. Nama unik dari Senior. Yang katanya suka kucing. Asal jangan suka pacar saya. 

Ngomongin soal pacar saya punya. Dia behhh, cakep banget. Artis India lewat, aktris korea pun lewat. Lah kok demen sama yang cewe. Enggak, anu. Saya suka yang rada cantik. Hatinya!

Eh, buset. Penasaran kalian ya?

Oke, saya tunjukkan. Bim salabim jadi, apa? Pre~ke~tek.

Gak usah kaget gitu, lebay tahu gak. Tahu bulat rasa melinjo. 

Saya kemarin itu mau jadi polisi. Kalau perempuan nama latinnya, polwan. Eh, saya disuruh bikin surat ke polisi. Ribetnya, minta ammmmm … dilamar. 

Lah saya heran, gimana kalau mau jadi presiden. Minta surat sama siapa? 

Ah, lupakan. Saya mau jadi diri sendiri yang katanya orang ‘mandiri’. Manis sendiri. Gak usah pasang kecap asin. Gak mempan. Apalagi minta ramuan manis ke dukun beranak. 

Ngomongin soal manis. Pernah tuh kadang foto yang manis, di DP. Maksud hati si doi bakalan ngerayu. Trus ngasih kado di tanggal yang katanya paling so sewweet besok. Hahaha

Ternyata, dicuekin brew. Si doi malah posting sosok paling cantik. Banyak tompelnya. Padahal mulus. Putih bangettt. Kalau yang nonton behh se abrek. Apalagi kalau bukan bola. 

Tapi, saya merasa beruntung masih ada yang nge-PING! Awalnya sih udah biasa tuh yang test kontak. Sampe udah sering di-php. Olshop doang isinya. 

Eh ternyata bukan. Cewek, geulis. Kayaknya. Eh saya juga lebih cakep. Sory, dah kalau ada yang manggil aku Mas lagi. Ditendang pake sendal kuda. 

Bukannya dia ngomong. Malah ngomentari status aku. Kopas ya? Wuihhhh kebanyakan makan pelas kali ya. Sampe ngomen begitu extrem. 

Ya saya kan anak baik, jawabnya santai dan elegan. “Kopas dari hatiku.”

Nah, dia kegeeran. Trus jawab, “Maaf hatiku ada yang ngisi.” 

Ya ela, dia salah baca apa emang tukang typo. “YEeee, hatiku keles bukan hatimu!”
Stiker ketawa mulai muncul. Saya mah, biasa saja nanggepin. Toh, dia capek sendiri. 

“Hebat ya! Menang mulu kalau ada lomba menulis!”

“Saya hanya beruntung, Yang ngasih Allah.”

“Wah, kayak padi dong semakin merunduk.”

“Di atas langit masih ada langit.”

Trus ngilang dia, aslinya saya dongkol. Kayak ikan tongkol gak bisa minum alkohol. Gimana mau minum, air asin yang diminum tiap hari. 

Katanya saya mirip padi, Terus kalau aku padi, dia mau gak aku sebut bebegig?

Pan ada yang jagain si padi. Biar gak kecolongan si pipit ngepet.

Lah, dia ngirim stiker mirip benteng takeshi. Warna api. Berkobar perjuangan. 

Aku balas dengan Angel 😇. Tiba-tiba negara api menyerang.😈😈😈

Baiklah sesi stand up comedo, ala Bhaiii di-close. *Tok tok tok*

Kalau ada yang order, baru open lagi.
*)Baiq Cynthia undur diri.

Baterai tinggal seiprit, minta tolong jin iprit, dia pelit. Huh, dasar gak elit.

[Book Review] Ucapan-Ucapan Ringan yang Termasuk Dosa Besar~Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani


Alhamdulillah, Puji syukur Allah. Saya bisa menuntaskan membaca buku karangan Doktor Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterjemahkan oleh Abu Sabiq ‘Aly. 


Buku yang berjudul asli, ” Afatul Lisan Fi Dhau’il Kitab Was Sunnah”. Benar-benar menjadi penyejuk kalbu. Sebagai pengingat, betapa banyak tergelincir dalam ucapan. Padahal ucapan akan selalu dalam pengawasan Malaikat, dipertanggungjawabkan kelak. 

Buku ini menjelaskan tentang bahaya Ghibah, membicarakan keburukan orang lain. Namimah, mengadu domba. Berkata dusta, Mencela, serta perkataan ringan yang ternyata bisa menyulut api neraka. Naudzubillah.

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. (Hadis Al Bukhari & Muslim)- halaman 66.

Buku yang tipis ini penuh dengan sumber yang konkrit dan terpercaya. Di mana setiap sub bab judul akan selalu berpedoman pada Al-Quran dan Hadits Shahih. 

Meskipun minim penjelasan, tidak ada contoh. Namun, uraian singkatnya mudah dipahami. Termasuk hal-hal yang berhubungan. Maupun penyebab munculnya sifat buruk tersebut. 

Pembahasan pengobatan sifat marah misalnya, pada halaman 142 menjelaskan cara dan alternatifnya. Caranya menjaga untuk tidak mencari akar marah. Menghindari sombong, bangga terhadap diri sendiri, merasa tinggi, menyesatkan orang, semangat yang tercela, dan gurauan yang tidak sesuai, bercanda atau yang semisalnya.

Alternatifnya, meminta pertolongan Allah, memperbanyak isti’adzah. Kemudian berwuduh. Yang ketiga mengubah keadaan ketika dia marah, dengan cara duduk, berbaring, keluar, menahan diri bicara ataukah yang lainnya. Yang terakhir mengingat dalil ini. 

“Barang siapa yang menahan marah dan dia mampu menuruti keinginannya, maka Allah SWT akan mendo’akan baginya di hadapan pembesar para malaikat pada hari kiamat sampai dipilihkan baginya bidadari yang dia inginkan.” (Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan Ibnu Majah)

Meskipun terdapat beberapa redaksi yang kurang dipahami, saya membaca sampai tamat. Buku ini tidak hanya membahas tentang ucapan. Namun, kejadian yang kini sudah merebak. Yang harusnya tabu menjadi fenomenal. Salah satu tanda-tanda akhir zaman. 

Wallahu’alam. 

Semoga review mini ini membuat rekomendasi baru koleksi bacaan. 

#Reviewer

Baiq Cynthia
Seorang muslim tidak terlepas dalam kesehariannya untuk berucap. Begitu banyak ucapan yang mendatangkan ridha Allah, dan sebaliknya begitu banyak pula ucapan yang bisa mendatangkan murka Allah Seorang tidak bisa selamat dalam ucapannya, kecuali dia telah memiliki ilmu tentang masalah ini.

Buku ini adalah karya DR. Said bin Wahf Al-Qahthani yang berjudul “Afatul Lisan Fi Dhau’il Kitab Was Sunnah”, yang membahas ucapan-ucapan yang wajib untuk tidak dikeluarkan oleh seorang muslim dengan lisannya. Semua itu berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Dengan tujuan agar kaum muslimin memberikan perhatian terhadap perkara lisan, boleh jadi mereka belum mengetahui hukum dari ucapan-ucapan yang mereka keluarkan. Ternyata di antara ucapan-ucapan ringan yang sering diucapkan tersebut tingkatannya bukan hanya sebatas dosa biasa, tetapi itu merupakan dosa besar yang sangat dimurkai Allah. Walaupun apa yang dibawakan oleh penulis tidak semuanya masuk dalam kategori dosa besar, tetapi sebagian besar apa yang beliau sebutkan itu merupakan dosa besar. 
Judul: Ucapan-Ucapan Ringan Yang Termasuk Dosa Besar Dalam Tinjuan Al Quran dan Sunnah

Penerbit: DR. Said bin Ali bin Wahf al Qahthani

Isi: 220 halaman

Berat: 200 gram
Daftar isi:

Bab Pertama: 

GHIBAH DAN NAMIMAH

Pasal yang pertama: Ghibah (Mencakup 9 Pembahasan)

1. Pengertian Ghibah

2. Perbedaan Antara Ghibah dan Namimah

3. Hukum Ghibah

4. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Ghibah

5. Apa yang Seharusnya Dilakukan Apabila Seorang Muslim Mendengarkan Saudaranya Dighibahi

6. Sebab-sebab yang Akan Mendorong Perbuatan Ghibah

7. Pengobatan Ghibah

8. Jalan Untuk Bertaubat dari Perbuatan Ghibah 

9. Apa Saja yang Diperbolehkan dari Ghibah 

Pasal yang kedua: Namimah (Mencakup 8 pembahasan)

1. Pengertian Namimah 

2. Hukum Namimah

3. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Perbuatan Namimah 

4. Apa yang Hendaknya Dilakukan Bagi Siapa yang Dibawa Kepadanya Namimah 

5. Berwajah Dua 

6. Perkara yang Mendorong Untuk Terjatuh dalam Perbuatan Namimah 

7. Pengobatan Namimah 

8. Perkara yang Diperbolehkan dari Namimah 

BERBICARA ATAS ALLAH TANPA ILMU

Pasal yang pertama: Dusta Atas Allah dan Rasul-Nya (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Pengertian Dusta 

2. Ancaman dari Dusta Atas Rasulullah 

3. Perbedaan Ancaman Terhadap Seorang yang Berdusta Atas Rasulullah dan Seorang yang Berdusta Atas Selain Beliau Serta Hukum Dusta Atas Beliau 

Pasal yang kedua: Dusta Secara Umum (Mencakup 4 Pembahasan)

1. Hukum Berdusta 

2. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Dusta Secara Umum 

3. Dusta Pada Mimpi Baik atau Mimpi Buruk 

4. Dusta yang Diperbolehkan 

Pasal yang ketiga: Persaksian Palsu (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Pengertian Az-Zur 

2. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Persaksian Palsu 

3. Kejahatan yang Muncul Akibat Persaksian Palsu 

TUDUHAN, PERDEBATAN DAN LISAN YANG KOTOR

Pasal yang pertama: Tuduhan (Mencakup 2 Pembahasan)

1. Pengertian Tuduhan 

2. Ancaman Untuk Melakukan Tuduhan 

Pasal yang kedua: Pertengkaran dan Perdebatan (Mencakup 3 Pembahasan)

1. Perdebatan dengan Perkara Batil 

2. Pertengkaran dan Perselisihan 

3. Pengobatan dari Bertikai dan Marah 

Pasal yang ketiga: Lisan yang Kotor (Mencakup 25 Pembahasan)

1. Ancaman Untuk Terjatuh dalam Ucapan yang Ielek 

2. Meminta Hujan dengan Bintang 

3. Bersumpah dengan Selain Allah 

4. Bersumpah Palsu dan Mengungkit-ungkit Pemberian 

5. Memberi Nama dengan Raja dari Seluruh Raja 

6. Mencela Masa 

7. Meratapi Mayat 

8. Bersaing dalam Penawaran dengan Tujuan Memberikan Madharat

9. Pujian yang Tercela yang Akan Memitnah Orang yang Dipuji atau Ada Padanya Perkara yang Berlebihan 

10. Apa Saja yang Diperbolehkan dari Bentuk Pujian

11. Seseorang yang Membuka Aibnya Sendiri 

12. Mencela, Mencerca dan Mengolok-olok Kaum Mukmin 

13. Cercaan Seseorang Kepada Kedua Orang Tuanya Termasuk Dosa Besar 

14. Laknat 

15. Bolehnya Melaknat Pelaku Maksiat dan Orang Kafir Secara Umum, Tidak Secara Langsung Individu Mereka

16. Ucapan: “Karena Kehendak Allah dan Kehendak Fulan” atau “Kalau Bukan Allah dan Fulan” 

17. Ucapan: “Andaikata” dan Tidak Menyerahkan Taqdir Kepada Allah

18. Ucapan Seseorang: “Manusia Telah Celaka” 

19. Nyanyian dan Sya` ir yang Haram 

20. Janji Dusta 

21. Orang yang Memerintahkan ke Dalam Kebaikan Namun Dia Tidak Melaksanakannya dan Dia Melarang Dari Kejelekan Namun Dia Melakukannya 

22. Menyebarkan Rahasia Suami Istri 

23. Seseorang yang Bersumpah dengan Selain Agama Islam 

24. Menjadikan Orang Fasiq Sebagai Pemimpin

26. Murtad dengan Ucapan 

Pasal yang keempat: Wajibnya menjaga lisan
Info detail 

Bedanya Dungu & Sabar



​Bedakan orang dungu dengan sabar. Dungu sudah diberi tahu, larangan, masih dilanggar. Sudah tahu bahaya masih dicoba. Hal-hal yang tidak bermanfaat masih menjadi hobi.

Seseorang yang tahu dia sendiri merasa kurang, namun berusaha bantu orang lain. Seseorang yang meredam impiannya sendiri, demi orang lain. Seseorang rela dicaci, “bodoh, tolol, bego. Masih tetap diam. Memilih mengalah.

Barangkali ada yang nyeletuk, kamu bodoh! Kamu dapat sedikit, mereka meraup banyak untung. Namun, kamu tetap menjadi kaki-tangannya.

“Sekarang itu udah gak zaman upik-abu. Freedom! Masih mau-mau aja diam tidak berkembang di sana.”

Terkadang dungu dan sabar itu relatif. Bagi mereka yang merasa mencintai pekerjaannya walaupun waktu terbuang. Omset terbilang 10 persen dari yang pernah dicapai. Masih bertahan tidak mengubah haluan. Bukan berarti tidak tahu mata uang.

Bukan.

Seseorang itu hanya menghormati, membalas jasanya. Ingin mencari kedamaian.

Taksiran 2.5 M sekalipun, jika yang didapat hanya sebuah penghinaan, penindasan. Tidak akan berarti. Dibanding 250 K yang lebih damai, tentram, tanpa beban. Siapa bilang tanpa beban.

Ini bukan zamannya satu logam masih bisa membeli beras. Nilai tukar seolah tak berharga.

Bagaimana dengan nasib mereka yang tak memiliki keluarga. Berjalan seorang diri. Membawa tas berisi udara. Mencari belas kasihan orang sekitar.

Bagi mereka yang tergerak, sudah pasti memberi. Bagi yang keras hatinya. Entahlah.

Jika rumus filsafat lebih rumit dari matematika. Aku merasa teka-teki kehidupan lebih pelik daripada terkaan nasib.

Your happiness just in your heart.

#Happyholiday

Cinta di Pelupuk Senja (Baiq Cynthia)


​Judul     : Cinta di Pelupuk Senja

Penulis : Baiq Cynthia

Sumber gambar 
“Ayo, cepat! Entar langit akan segera gelap,” dengus wanita cantik yang membolak-balik majalah. Wajahnya seperti salah satu girls band yang digandrungi banyak lelaki. Meski matanya menatap banyak mode pakaian, sesekali mencuri pandang dengan jam yang melingkar di tangannya.

“Iya sayang, ini udah beres,” lelaki yang masih mencoba mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tergopoh-gopoh menuju asal suara. Wanita yang duduk di beranda rumah, dengan wajah tertekuk masih terus mengomel.

Dengan kunci yang ditancapkan di kepala sepeda motor, Roy langsung menstater Ninja merahnya. Derung suara dari cerobong kecil di belakang. Membuat Santi segera mengambil posisi mantap, duduk di jok belakang. Tangan indahnya melingkari perut lelaki yang datar.

Udara terasa hangat karena matahari telah bergeser 30º dari ujung kepala. Perjalanan yang menempuh jarak yang tak begitu dekat. Namun, dinikmati tanpa ada suara. Santi merebahkan kepalanya di punggung lelakinya. Membiarkan matanya menatap nyalang ke arah rumah-rumah yang berjalan mundur. 

Aroma pasir dan sejuknya angin laut memancing banyak orang untuk mengunjungi pantai Pathe’. Roy segera memarkir motornya. Santi bergegas menuju ke arah laut. Deru ombak saling mengejar. Melihat anak-anak yang bermain pasir.

Roy, menuju ke warung mungil di sekitar pantai. Tujuannya tak lain mencari es degan.

“Mbak, pesan es degan satu, sedotan dua!” sambil melempar wajah sinis melihat perempuan berusia sekitar 18 tahunan yang terkesan kampungan.

“Tunggu sebentar pak!” jawabnya ketus.

“Eh, aku masih mudah kok dipanggil Bapak.”

“Nah, terus aku manggil siapa?”

Wanita yang mulai terganggu, mengambil kelapa muda. Sangat terampil mengupas dengan golok.

“Panggil saja, Roy!” nadanya jelas sambil meletakkan Nokia Lumia 1020 di atas meja.

“Oh, aku Rahma,” timpanya, menyelipkan dua buah sedotan.

“Berapa?”

“Lima ribu rupiah saja.” 

Roy berdiri dan memberikan uangnya lantas pergi sambil membawa es degan.

“Dasar lelaki aneh datang-datang seperti monster!” 

Perempuan yang baru menerima selembar uang. Beralih komat-kamit, jengkel. Roy yang saat itu baru berjalan 3 langkah mendengar kata-kata Rahma sontak berbalik 180º dan melemparkan es degan ke arah perempuan berambut ikal itu. Serta membuat beberapa pelanggan kaku.

“Woy! saya gak mukul sampeyan, kenapa  ngelempar gak jelas!”

“Nah, ‘kan elo yang cari gara-gara sama cowok ganteng sepertiku.”

“Lebih ganteng monyet.”

“Sialan!” Hampir saja tangan Roy mendarat di pipi Rahma yang eksotis. Sebuah tangan menahannya.

“Santi!”

“Iya, lebih baik kita cabut dari tempat kumuh seperti ini,” sorot mata yang tajam menarik lengan kekasihnya. Sementara Rahma sibuk membereskan lantai dan acuhkan mereka. Lemparan tadi meleset, namun membuat lantai becek. Alas yang hanya sebuah gundukan tanah. 

“Aku mencarimu, ternyata di situ bersama cewek kampungan.

“Maaf Say. Tadinya aku memesan es degan buat kita berdua. Eh, dia cari masalah denganku. Awas saja dia muncul lagi!” 

Roy sudah sangat jengkel, bahkan baru yang tak berdosa pun dianiaya. Di tendang. Gumpalan kesalnya membuat moodnya ingin pulang saja. Padahal moment di pantai masih sebentar. Santi pun setuju dengan rayuan Roy yang begitu dasyat. Merangkul menuju parkiran.

~*~

“Huh, capek banget! Nemani Santi, sekarang waktunya istirahat. Entar malam time for Eka,” ujar Roy dalam hati sambil merebahkan badannya. Seringai kecil terselip di antara dua rahang yang keras.

Di tempat yang berbeda, Rahma masih kesal dengan perlakuan Roy. Dia memilih tempat yang sama, saat Roy duduk. Ketika akan menjatuhkan diri ke kursi. Santi melihat ponsel mewah di atas meja.

“Rahma, itu ponsel siapa?” Suara ibunya tiba-tiba mengagetkan Rahma.

“Anu, mungkin punya Roy.”

“Roy? Pacar kamu?”

“Hah, Aku punya pacar seperti monster?” 

Kemudian ponselnya berdering, incoming call dari Eka. Tanpa sedikit ragu. Tangannya sudah menempelkan pada telinga.

“Halo? Ini siapa?” 

“Ini siapa!” Suaranya terdengar menggelegar ke telinga Rahma. 

“Ini Eka ya?”

“Lah, kamu kok tahu namaku? Ponsel Roy kok sama kamu?”

“Anu, ketinggalan!” Tut … tut … tut …. Tiba-tiba sambungan putus, ponselnya mati.

“Huh, ponsel kampungan!” seraya meletakkan kembali. 

Ibunya tercenung, melihat ekspresi Rahma. Wanita dengan bibir tipis terlihat tegang. Rahma berusaha meyakinkan ibunya, bahwa Roy akan menjemput ponselnya. 

Bagi seseorang yang memiliki waktu padat, melayani pembeli. Selalu memikirkan waktu di hemat. Membiarkan Rahma kini hanyut dalam lamunan.

Pengunjung mulai sepi, malam telah merenggut siang. Ombak seakan teriak, memanggil temannya. Rumah Rahma berdekatan dengan warung mungilnya. Seakan bisa tidur dengan melodi laut. 

Andai saja engkau masih ada. Mungkin aku masih bisa tertawa denganmu. Mencari kerang bersama. Membuat hari-hariku menjadi hangat. Juga menemani ibu. 

Hari telah berganti. Rahma pergi ke tengah laut yang surut. Kerang-kerang dimasukkan ke ember kecil. Ember berdiameter 30 cm. Mengambang di laut. Meski diberi beban.

Baru saja, mengangkat ember. Terdengar  sahutan keras, samar-samar. Rahma mendongakkan kepala. Dilihatnya lelaki berpostur tinggi. Dengan dada datar. Wajah oriental. Sedikit menjengkelkan. Diam-diam Rahma kagum. 

“Iya, kembalikan HP-ku, pencuri!” 

“Hei, jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas kamu yang pikun sama ponsel!”

Rahma mulai menuju asal suara. Membawa beban kerang yang tidak terasa berat.

“Hei, gara-gara kamu Aku putus dengan Eka. Semalam dia nyamperin rumah, menampar pipi mulusku ini. Lucunya, Santi juga datang mengambil majalah yang ketinggalan. Rekor muri sepanjang sejarah playboy, sudah diraih. 2 kali cap 5 jari. Puas!”

Rahma hanya memegang perutnya. Mulai tertawa mirip nenek sihir. Dilepasnya kerang yang banyak. Sebagai ucapan maaf. Rahma siap menemani sang Play Boy.

“Sini, mendekat lihatlah kepiting itu. Aku akan menangkapnya untukmu,” ada sorot binar dari wanita yang berbulu mata lentik.

“Coba saja kalau berani,” Roy melipat kedua tangan di depan dada. Roy melihat tangan cekatan gadis yang menurutnya juga manis.

“Yeah, ini buat kamu!” Rahma melemparkan ke arah Roy. Tepat di bahunya sang kepiting ukuran sedang mencapit bajunya. Alhasil dia menjerit, lari pontang-panting mengejar Rahma. 

“Hei, cewek aneh ini ambil saudaramu!” Melihat Roy yang ketakutan, Rahma menghampiri. Lagi-lagi senyum lepas hadir di antara mereka.

“Oke, kita akan panggang nanti sore! Gimana kalau sekarang kita beradu mendayung ke tengah laut?” 

“Siapa takut,” kata Roy sambil meletakkan barang-barang yang melekat di saku ke atas pasir.

“Itu perahuku, dan ini perahumu,” tangan Rahma menunjuk ke arah Perahu yang ditambatkan di bibir pantai. 

“Are you ready?” tantang Roy. 

“Ready,” jawabnya mantap.

Mereka mendayung di lokasi sedikit jauh dari objek wisata. Sunyi yang terasa, deburan ombak menghantam karang. Semakin menantang adrenalin mereka. Matahari mulai menyengat. Seolah tak ada. Tiba-tiba perahu milik Roy oleng, dan Roy terjebur ke dalam air yang mulai pasang. 

“Tolong … tolong ….” Rahma segera mungkin mendayung ke arah Roy dan berusaha menaikkan ke perahu. Namun, sayang Roy malah mengguncang perahu Rahma dan gadis berkulit coklat ikut terjebur juga. 

Roy tertawa kencang. Ini hanya rencana balas dendam. Saat kepiting keras mencapit. Lelaki yang memiliki alis tebal, diam-diam kagum dengan sosok sederhana Rahma. Tidak marah meski dikerjai.
“Haha, wajahmu pucat. Takut kehilanganku?”

“Jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayo bantu aku menarik dua perahu itu,” bibirnya mengerucut, kesal. Rahma menarik perahu-perahu kayu, mengamankan kembali.

“Au, sakit.”

“Kenapa?” Roy berhenti  tertawa.

“Lihat, sesuatu menancap di kakiku.” 

Darah mulai mengalir dari telapak kaki Rahma, sebuah duri. Bekas babi laut, telah menancap cukup dalam, hingga tak mampu berdiri. Roy tak tega melihat temannya. Menggendong ke rumah Rahma. 
“Lukamu parah! Sini Aku obati, rumahmu tampak sepi.” 

“Au, iya ibu jualan di warung, sakit tahu!”

Kaki Rahma terbalut dengan perban dan masih berjalan pincang.

 “Aku boleh, gak ngomong sesuatu?” Roy mendekati Rahma di beranda rumah.

“Apa? Katakan cepat! Janjiku masih belum lunas kepadamu.” Janji Rahma untuk menemani seharian. 
“Iya, sebenarnya aku lupa kalau sekarang ada janji sama teman.”
“Aku pikir ada apa,” diam-diam Rahma telah berharap. Lelaki ganteng akan menyatakan cinta. Debar-debar kecil mulai menyeruak. Ada rasa ingin mendekapnya.

“Aku pulang ya, aku janji sore nanti aku kembali.” 

“Oke,” balas Rahmah sambil menahan sakit.

Suara Ninjanya meraung, melesat. Tak terdengar lagi. Rahma hanya menatap matahari. Perlahan membuat air laut kembali menyusut. Ia menanti kedatangan Roy. 

“Aku jatuh cinta? Entahlah.” Kakinya yang diperban tidak terasa sakit lagi. Duduk di bawah pohon kelapa dan melempar batu ke arah laut. Beberapa jam kemudian menanti, namun tak ada kabar. 

~*~

Suara benturan keras yang membuat orang-orang berkumpul Rahma yang penasaran juga bergabung. Ternyata seorang lelaki sepeda Ninja. Berlumuran darah. Di tangannya ada kantong plastik bermotif bunga. 

Rahma memungutnya, sebuah kado, seperti bungkusan kecil. Ada kertas terselip di antara pita. Orang-orang sudah mengeksekusi Roy. Mata Rahma menatap nanar. Hatinya lebam. Tadi, pagi masih bersama. Kini tergeletak. Dengan darah mengucur. Tidak tahu pasti keadaanya. Rahma tak bisa mendekat. Beberapa saat, petugas sudah menutup dengan koran. 

Tangis Rahma pecah. Kini Rahma merasa seorang diri. Di tengah keramaian. Tangannya masih meremas kertas. 

“Aku telah jatuh cinta kepada sosok gadis yang menyebalkan namun membuatku rindu. Cinta itu begitu cepat, aku telah yakin dan tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang lalu. Maafkan aku, sebenarnya aku telah jatuh cinta sejak kita masih berusia 8 tahun. Namaku Rangga Roy, aku baru sadar kalau kau adalah Diana Rahma yang aku cari. Diana, maukah kau menjadi kekasihku dan menemani hari-hariku bersama mentari? Anggukan kepalamu, jika kau setuju. Ini, aku belikan ponsel yang kau impikan. Dan itu cincin pertunanganku. Tetaplah di sini bersamaku. Karena kau matahariku dan aku bunga matahari. Cintaku seperti bunga matahari yang tak pernah berpaling dari cahayamu. Aku mencintaimu, Diana Rahma. Salam cinta, Rangga Roy.” 

Seketika, Rahma meletakkan sepucuk surat itu. Dirinya berlari menuju lelaki yang tak bernyawa. Memeluk jasad Roy.

“Tidak, jangan pergi Roy!” Polisi mulai datang dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Menarik Rahma untuk tak mendekati Roy.

Meski berat, Rahma meninggalkan Roy. Menatap mentari yang perlahan hilang ditelan laut.
~TAMAT~

*Cerita ini ditulis karena ada lomba di SC. Sebagai cerpen romans perdana yang saya buat 3 tahun silam. Terlepas dari ide yang terlalu aneh. Saya tetap cinta sama cerpen ini. Semoga terhibur. 🙂