​Judul     : Cinta di Pelupuk Senja

Penulis : Baiq Cynthia

Sumber gambar 
“Ayo, cepat! Entar langit akan segera gelap,” dengus wanita cantik yang membolak-balik majalah. Wajahnya seperti salah satu girls band yang digandrungi banyak lelaki. Meski matanya menatap banyak mode pakaian, sesekali mencuri pandang dengan jam yang melingkar di tangannya.

“Iya sayang, ini udah beres,” lelaki yang masih mencoba mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tergopoh-gopoh menuju asal suara. Wanita yang duduk di beranda rumah, dengan wajah tertekuk masih terus mengomel.

Dengan kunci yang ditancapkan di kepala sepeda motor, Roy langsung menstater Ninja merahnya. Derung suara dari cerobong kecil di belakang. Membuat Santi segera mengambil posisi mantap, duduk di jok belakang. Tangan indahnya melingkari perut lelaki yang datar.

Udara terasa hangat karena matahari telah bergeser 30º dari ujung kepala. Perjalanan yang menempuh jarak yang tak begitu dekat. Namun, dinikmati tanpa ada suara. Santi merebahkan kepalanya di punggung lelakinya. Membiarkan matanya menatap nyalang ke arah rumah-rumah yang berjalan mundur. 

Aroma pasir dan sejuknya angin laut memancing banyak orang untuk mengunjungi pantai Pathe’. Roy segera memarkir motornya. Santi bergegas menuju ke arah laut. Deru ombak saling mengejar. Melihat anak-anak yang bermain pasir.

Roy, menuju ke warung mungil di sekitar pantai. Tujuannya tak lain mencari es degan.

“Mbak, pesan es degan satu, sedotan dua!” sambil melempar wajah sinis melihat perempuan berusia sekitar 18 tahunan yang terkesan kampungan.

“Tunggu sebentar pak!” jawabnya ketus.

“Eh, aku masih mudah kok dipanggil Bapak.”

“Nah, terus aku manggil siapa?”

Wanita yang mulai terganggu, mengambil kelapa muda. Sangat terampil mengupas dengan golok.

“Panggil saja, Roy!” nadanya jelas sambil meletakkan Nokia Lumia 1020 di atas meja.

“Oh, aku Rahma,” timpanya, menyelipkan dua buah sedotan.

“Berapa?”

“Lima ribu rupiah saja.” 

Roy berdiri dan memberikan uangnya lantas pergi sambil membawa es degan.

“Dasar lelaki aneh datang-datang seperti monster!” 

Perempuan yang baru menerima selembar uang. Beralih komat-kamit, jengkel. Roy yang saat itu baru berjalan 3 langkah mendengar kata-kata Rahma sontak berbalik 180º dan melemparkan es degan ke arah perempuan berambut ikal itu. Serta membuat beberapa pelanggan kaku.

“Woy! saya gak mukul sampeyan, kenapa  ngelempar gak jelas!”

“Nah, ‘kan elo yang cari gara-gara sama cowok ganteng sepertiku.”

“Lebih ganteng monyet.”

“Sialan!” Hampir saja tangan Roy mendarat di pipi Rahma yang eksotis. Sebuah tangan menahannya.

“Santi!”

“Iya, lebih baik kita cabut dari tempat kumuh seperti ini,” sorot mata yang tajam menarik lengan kekasihnya. Sementara Rahma sibuk membereskan lantai dan acuhkan mereka. Lemparan tadi meleset, namun membuat lantai becek. Alas yang hanya sebuah gundukan tanah. 

“Aku mencarimu, ternyata di situ bersama cewek kampungan.

“Maaf Say. Tadinya aku memesan es degan buat kita berdua. Eh, dia cari masalah denganku. Awas saja dia muncul lagi!” 

Roy sudah sangat jengkel, bahkan baru yang tak berdosa pun dianiaya. Di tendang. Gumpalan kesalnya membuat moodnya ingin pulang saja. Padahal moment di pantai masih sebentar. Santi pun setuju dengan rayuan Roy yang begitu dasyat. Merangkul menuju parkiran.

~*~

“Huh, capek banget! Nemani Santi, sekarang waktunya istirahat. Entar malam time for Eka,” ujar Roy dalam hati sambil merebahkan badannya. Seringai kecil terselip di antara dua rahang yang keras.

Di tempat yang berbeda, Rahma masih kesal dengan perlakuan Roy. Dia memilih tempat yang sama, saat Roy duduk. Ketika akan menjatuhkan diri ke kursi. Santi melihat ponsel mewah di atas meja.

“Rahma, itu ponsel siapa?” Suara ibunya tiba-tiba mengagetkan Rahma.

“Anu, mungkin punya Roy.”

“Roy? Pacar kamu?”

“Hah, Aku punya pacar seperti monster?” 

Kemudian ponselnya berdering, incoming call dari Eka. Tanpa sedikit ragu. Tangannya sudah menempelkan pada telinga.

“Halo? Ini siapa?” 

“Ini siapa!” Suaranya terdengar menggelegar ke telinga Rahma. 

“Ini Eka ya?”

“Lah, kamu kok tahu namaku? Ponsel Roy kok sama kamu?”

“Anu, ketinggalan!” Tut … tut … tut …. Tiba-tiba sambungan putus, ponselnya mati.

“Huh, ponsel kampungan!” seraya meletakkan kembali. 

Ibunya tercenung, melihat ekspresi Rahma. Wanita dengan bibir tipis terlihat tegang. Rahma berusaha meyakinkan ibunya, bahwa Roy akan menjemput ponselnya. 

Bagi seseorang yang memiliki waktu padat, melayani pembeli. Selalu memikirkan waktu di hemat. Membiarkan Rahma kini hanyut dalam lamunan.

Pengunjung mulai sepi, malam telah merenggut siang. Ombak seakan teriak, memanggil temannya. Rumah Rahma berdekatan dengan warung mungilnya. Seakan bisa tidur dengan melodi laut. 

Andai saja engkau masih ada. Mungkin aku masih bisa tertawa denganmu. Mencari kerang bersama. Membuat hari-hariku menjadi hangat. Juga menemani ibu. 

Hari telah berganti. Rahma pergi ke tengah laut yang surut. Kerang-kerang dimasukkan ke ember kecil. Ember berdiameter 30 cm. Mengambang di laut. Meski diberi beban.

Baru saja, mengangkat ember. Terdengar  sahutan keras, samar-samar. Rahma mendongakkan kepala. Dilihatnya lelaki berpostur tinggi. Dengan dada datar. Wajah oriental. Sedikit menjengkelkan. Diam-diam Rahma kagum. 

“Iya, kembalikan HP-ku, pencuri!” 

“Hei, jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas kamu yang pikun sama ponsel!”

Rahma mulai menuju asal suara. Membawa beban kerang yang tidak terasa berat.

“Hei, gara-gara kamu Aku putus dengan Eka. Semalam dia nyamperin rumah, menampar pipi mulusku ini. Lucunya, Santi juga datang mengambil majalah yang ketinggalan. Rekor muri sepanjang sejarah playboy, sudah diraih. 2 kali cap 5 jari. Puas!”

Rahma hanya memegang perutnya. Mulai tertawa mirip nenek sihir. Dilepasnya kerang yang banyak. Sebagai ucapan maaf. Rahma siap menemani sang Play Boy.

“Sini, mendekat lihatlah kepiting itu. Aku akan menangkapnya untukmu,” ada sorot binar dari wanita yang berbulu mata lentik.

“Coba saja kalau berani,” Roy melipat kedua tangan di depan dada. Roy melihat tangan cekatan gadis yang menurutnya juga manis.

“Yeah, ini buat kamu!” Rahma melemparkan ke arah Roy. Tepat di bahunya sang kepiting ukuran sedang mencapit bajunya. Alhasil dia menjerit, lari pontang-panting mengejar Rahma. 

“Hei, cewek aneh ini ambil saudaramu!” Melihat Roy yang ketakutan, Rahma menghampiri. Lagi-lagi senyum lepas hadir di antara mereka.

“Oke, kita akan panggang nanti sore! Gimana kalau sekarang kita beradu mendayung ke tengah laut?” 

“Siapa takut,” kata Roy sambil meletakkan barang-barang yang melekat di saku ke atas pasir.

“Itu perahuku, dan ini perahumu,” tangan Rahma menunjuk ke arah Perahu yang ditambatkan di bibir pantai. 

“Are you ready?” tantang Roy. 

“Ready,” jawabnya mantap.

Mereka mendayung di lokasi sedikit jauh dari objek wisata. Sunyi yang terasa, deburan ombak menghantam karang. Semakin menantang adrenalin mereka. Matahari mulai menyengat. Seolah tak ada. Tiba-tiba perahu milik Roy oleng, dan Roy terjebur ke dalam air yang mulai pasang. 

“Tolong … tolong ….” Rahma segera mungkin mendayung ke arah Roy dan berusaha menaikkan ke perahu. Namun, sayang Roy malah mengguncang perahu Rahma dan gadis berkulit coklat ikut terjebur juga. 

Roy tertawa kencang. Ini hanya rencana balas dendam. Saat kepiting keras mencapit. Lelaki yang memiliki alis tebal, diam-diam kagum dengan sosok sederhana Rahma. Tidak marah meski dikerjai.
“Haha, wajahmu pucat. Takut kehilanganku?”

“Jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayo bantu aku menarik dua perahu itu,” bibirnya mengerucut, kesal. Rahma menarik perahu-perahu kayu, mengamankan kembali.

“Au, sakit.”

“Kenapa?” Roy berhenti  tertawa.

“Lihat, sesuatu menancap di kakiku.” 

Darah mulai mengalir dari telapak kaki Rahma, sebuah duri. Bekas babi laut, telah menancap cukup dalam, hingga tak mampu berdiri. Roy tak tega melihat temannya. Menggendong ke rumah Rahma. 
“Lukamu parah! Sini Aku obati, rumahmu tampak sepi.” 

“Au, iya ibu jualan di warung, sakit tahu!”

Kaki Rahma terbalut dengan perban dan masih berjalan pincang.

 “Aku boleh, gak ngomong sesuatu?” Roy mendekati Rahma di beranda rumah.

“Apa? Katakan cepat! Janjiku masih belum lunas kepadamu.” Janji Rahma untuk menemani seharian. 
“Iya, sebenarnya aku lupa kalau sekarang ada janji sama teman.”
“Aku pikir ada apa,” diam-diam Rahma telah berharap. Lelaki ganteng akan menyatakan cinta. Debar-debar kecil mulai menyeruak. Ada rasa ingin mendekapnya.

“Aku pulang ya, aku janji sore nanti aku kembali.” 

“Oke,” balas Rahmah sambil menahan sakit.

Suara Ninjanya meraung, melesat. Tak terdengar lagi. Rahma hanya menatap matahari. Perlahan membuat air laut kembali menyusut. Ia menanti kedatangan Roy. 

“Aku jatuh cinta? Entahlah.” Kakinya yang diperban tidak terasa sakit lagi. Duduk di bawah pohon kelapa dan melempar batu ke arah laut. Beberapa jam kemudian menanti, namun tak ada kabar. 

~*~

Suara benturan keras yang membuat orang-orang berkumpul Rahma yang penasaran juga bergabung. Ternyata seorang lelaki sepeda Ninja. Berlumuran darah. Di tangannya ada kantong plastik bermotif bunga. 

Rahma memungutnya, sebuah kado, seperti bungkusan kecil. Ada kertas terselip di antara pita. Orang-orang sudah mengeksekusi Roy. Mata Rahma menatap nanar. Hatinya lebam. Tadi, pagi masih bersama. Kini tergeletak. Dengan darah mengucur. Tidak tahu pasti keadaanya. Rahma tak bisa mendekat. Beberapa saat, petugas sudah menutup dengan koran. 

Tangis Rahma pecah. Kini Rahma merasa seorang diri. Di tengah keramaian. Tangannya masih meremas kertas. 

“Aku telah jatuh cinta kepada sosok gadis yang menyebalkan namun membuatku rindu. Cinta itu begitu cepat, aku telah yakin dan tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang lalu. Maafkan aku, sebenarnya aku telah jatuh cinta sejak kita masih berusia 8 tahun. Namaku Rangga Roy, aku baru sadar kalau kau adalah Diana Rahma yang aku cari. Diana, maukah kau menjadi kekasihku dan menemani hari-hariku bersama mentari? Anggukan kepalamu, jika kau setuju. Ini, aku belikan ponsel yang kau impikan. Dan itu cincin pertunanganku. Tetaplah di sini bersamaku. Karena kau matahariku dan aku bunga matahari. Cintaku seperti bunga matahari yang tak pernah berpaling dari cahayamu. Aku mencintaimu, Diana Rahma. Salam cinta, Rangga Roy.” 

Seketika, Rahma meletakkan sepucuk surat itu. Dirinya berlari menuju lelaki yang tak bernyawa. Memeluk jasad Roy.

“Tidak, jangan pergi Roy!” Polisi mulai datang dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Menarik Rahma untuk tak mendekati Roy.

Meski berat, Rahma meninggalkan Roy. Menatap mentari yang perlahan hilang ditelan laut.
~TAMAT~

*Cerita ini ditulis karena ada lomba di SC. Sebagai cerpen romans perdana yang saya buat 3 tahun silam. Terlepas dari ide yang terlalu aneh. Saya tetap cinta sama cerpen ini. Semoga terhibur. 🙂

Iklan