​Bedakan orang dungu dengan sabar. Dungu sudah diberi tahu, larangan, masih dilanggar. Sudah tahu bahaya masih dicoba. Hal-hal yang tidak bermanfaat masih menjadi hobi.

Seseorang yang tahu dia sendiri merasa kurang, namun berusaha bantu orang lain. Seseorang yang meredam impiannya sendiri, demi orang lain. Seseorang rela dicaci, “bodoh, tolol, bego. Masih tetap diam. Memilih mengalah.

Barangkali ada yang nyeletuk, kamu bodoh! Kamu dapat sedikit, mereka meraup banyak untung. Namun, kamu tetap menjadi kaki-tangannya.

“Sekarang itu udah gak zaman upik-abu. Freedom! Masih mau-mau aja diam tidak berkembang di sana.”

Terkadang dungu dan sabar itu relatif. Bagi mereka yang merasa mencintai pekerjaannya walaupun waktu terbuang. Omset terbilang 10 persen dari yang pernah dicapai. Masih bertahan tidak mengubah haluan. Bukan berarti tidak tahu mata uang.

Bukan.

Seseorang itu hanya menghormati, membalas jasanya. Ingin mencari kedamaian.

Taksiran 2.5 M sekalipun, jika yang didapat hanya sebuah penghinaan, penindasan. Tidak akan berarti. Dibanding 250 K yang lebih damai, tentram, tanpa beban. Siapa bilang tanpa beban.

Ini bukan zamannya satu logam masih bisa membeli beras. Nilai tukar seolah tak berharga.

Bagaimana dengan nasib mereka yang tak memiliki keluarga. Berjalan seorang diri. Membawa tas berisi udara. Mencari belas kasihan orang sekitar.

Bagi mereka yang tergerak, sudah pasti memberi. Bagi yang keras hatinya. Entahlah.

Jika rumus filsafat lebih rumit dari matematika. Aku merasa teka-teki kehidupan lebih pelik daripada terkaan nasib.

Your happiness just in your heart.

#Happyholiday

Iklan