​Dear Mantan. Hahaha. Gak cocok. GANTI.

Dear Penulis. 

Malam ini kusempatkan menulis di beranda yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Sebagai (calon) penulis, saya ingin menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur.

Alkisah, binatang kecil yang bernama Janma. Suka sekali mengerik. Membuat si Doki, tetangganya. Tak bisa terlelap. Hingga, usikannya. Membuat tanduk merah langsung menyala. Si doki langsung, ingin balas dendam.

Mengorok ala kodok. Emang doki itu seekor kodok lincah. 

Si Janma tak nerima, Doki punya suara yang mirip.

“Kamu kopas? Ya?” Mentah-mentah Janma negur doki. Dengan kaki mungilnya naik ke batu. Ala bos.

“Idihh, siapa kamu? Aku emang punya suara gini. Bagusan aku kemana-mana,” Doki semakin nyinyir. Sebetulnya Doki malam itu sedang ingin bersenandung. Mencari kekasihnya yang pergi, dibawa lari. Entah mengapa, Janma tak menerima.

“Oke kita duel malam ini!” suara serak di Janma memulai.

“Oke,” jawaban tak kalah lantang.

Mereka saling menunjukkan suara paling nyaring. Janma menggesek sayapnya dengan semangat. Doki menabu tenggorokannya tak mau kalah.

Malam, yang kabutnya mulai tebal. Awan mulai selimuti Dewi Malam. Dia bertengger, tanpa bergeser dari pangkuan langit.

Dewi Malam melihat seekor srigala yang kelaparan. Matanya merah mencari mangsa. Mulai mendongakkan kepala. “Auuuuuuuu!”

Seketika Doki dan Janma terdiam. Suara si Mister penjaga Dewi Malam, membuat bulu kuduk merinding.

Doki memilih pergi, meninggalkan Janma yang tiap malam bernyanyi tanpa nada. Mengusik siapa pun yang lewat. Janma sendiri sudah tak peduli dengan suara apa pun yang muncul di malam berikutnya.

Baginya, setiap suara punya ciri khas tersendiri. Tak perlu ada namanya mesin fotocopy di hidupnya. Janma, tak ingin menuduh Doki mengopas suaranya yang mirip.

~Goodnight

#StoryAiq

#basedtrue

#cernak

#minidoang

Iklan