​Perempuan, sosok yang lembut. Ucapkan kata yang baik, dengan nada yang tepat. Dia rela berkorban demi buah hatinya. Seorang ibu yang baik, tidak akan pernah memberikan perbedaan kepada buah hatinya. Baginya sama. Meski keluar dari rahim berbeda. 
Namun, saat seseorang melukai buah hatinya. Tak perlu 1 detik untuk menghilangkan rasa lembut itu. Seperti kaca yang halus, bisa pecah. Menjadi serpihan kecil yang mematikan. 
“Hormati istrimu, seperti ibumu,” sering kali nasihat lama terdengar.
Pagi ini, pelajaran berharga untukku. Wanita memiliki hati yang lemah. Namun, jiwa yang kuat. Dia rela banting tulang, siang malam. Saat pengabaian setitik saja, bisa merobohkan menara yang dibangun. 

Perasaan. Hati mana yang tak akan luka. Jika orang yang paling dicintainya, tiba-tiba berujar hal tak lazim. Terlalu mengambil sudut pandang subjektif. 
Itu mengapa, saat kemarin ada yang berkata, “bagaimana pendapatmu tentang sebuah poligami?”
Aku tercenung sebentar, seperti de javu. Beberapa tahun lalu, jawaban yang kulontarkan. Dengan mantap berkata, “Ya! Terima.”

Hampir semua mata memandang dengan jawabanku. Tapi, kini Aku sadar. Sosok pemimpin yang adil jarang ditemui. Kalaupun ada, itu masih sulit diterapkan di zaman kini. 
Tidak semua yang pernah diterapkan zaman dahulu bisa diterima di sekarang. Seperti kereta berkuda menjadi kereta api. 
Secara harfiah, bukan berarti poligami dilarang. Di negeri ini. Bukan. 

Ada hukum syara’ yang mengatur tentang kebolehannya. Termaktub dalam Al-Quran,“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa 3-4)

Sebabnya turun bisa dibaca di sini

Wanita masih rela, hati mereka yang menerima masih sanggup menerima beban 3 periode. Remaja, Istri, Ibu. 
Apalah saya, saya hanya serpihan daun yang menjadi saksi efek buruk poligami. Sebelum berpoligami penuhi syaratnya. Seperti ulasan singkat ini .
Bagi lelaki, itu masalah kecil. Menafkahi banyak anak sekalipun. Tapi, hati lelaki tidak bisa memusatkan pada satu saja. Ada banyak hati yang merindukan kasih sayangnya. Hati manusia cenderung condong, pada salah satu. Tidak benar 100% bisa berbagi hati dengan takaran yang pas.q
Kata orang lelaki, itu makhluk visual. Hanya melihat dengan mata. Tidak mendengarkan ucapan orang. Wanita makhluk audio, selalu mendengarkan tanpa melihat secara fisik. Sedikit saja menerima suara tinggi. Sudah pupus harapannya. Seolah gelap dunia. 
Berhati-hati berbicara dengan makhluk bernama wanita. Satu kata yang engkau lontarkan akan diingat sepanjang masa. 
Saya tidak mendukung poligami, mengingat latar belakang ilmu mereka yang berbeda dengan zaman Rasul. Ilmiah saja tidak cukup, tanpa diimbangi dengan ilmu agama. 
Jika dulu, mereka berlomba menghafal Al-Quran. Mengapa sekarang berlomba menghafal lirik lagu. 
Itulah pendapat saya, mengapa saya cenderung tidak setuju. Faktor ekonomi, faktor lingkungan, keluarga, keberadaan anak. Pola pikir anak. 
Meskipun anggapan lelaki hanya sebuah perasaan yang harus terbagi. Baik material maupun non material.
Boleh saja pihak wanita itu menerima, poligami. Sebaik-baik seorang istri adalah patuh kepada suaminya. Iya, kan? Jika sudah begitu. Surga jaminannya.
Namun, perlu digaris bawahi. Menikah bukan hanya bersatunya dua insan. Tetapi dua keluarga, dua perbedaan, sudut pandang juga ‘cara’. 

Selama puluhan tahun dibesarkan dengan ‘cara’ orangtua. Kemudian beralih tangan menjadi ‘cara’ suami. 
Akan lebih baik, timbanglah dulu sebelum memutuskan. Bermusyawarah mufakat. Mencari bilik yang lebih manfaat dibandingkan mudarat. Tetap berpegang teguh dengan syariat, hukum dan tata negara. 
Ini masalah kecil memang, namun bisa berdampak besar.Seperti puntung rokok yang masih hidup, tercecer di atas kasur. Dengan sedikit oksigen. Tak perlu lama untuk membumi hanguskan sebuah rumah. 
Satu lagi, ini tulisan cuma untuk pembelajaran. Bahwa wanita tidak hanya mementingkan perasaan. Tetapi masa depan anaknya kelak. 
Berhubung saya bukan ibu, jadi coretan ini bisa jadi salah dalam pandangan kalian. Boleh diulas dengan metode ilmiah. Tidak menerima perdebatan dan lainnya. 🌻🌻🍀🍀🍀
Keep Calm 😎

Iklan