Penyesalan adalah hal yang tidak bisa ditarik kembali. Hal yang sudah terjadi kemarin tidak bisa diulang. Apalagi diubah. Masa kini tetaplah hari ini. 

Jika kemarin itu menjadi hal paling menyenangkan. Mungkin hari ini menyedihkan. Juga sebaliknya. Hidup selalu berada dalam ketidak pastian. Hidup hanyalah sebuah misteri yang sulit dipecahkan. 

Jujur, terkadang saya ingin kembali ke masa lalu. Ingin memperbaiki hal yang pernah rusak.Impian yang tertunda. Kehidupan hanyalah pilihan. Jika salah satu pilihan itu salah, bisa menimbulkan kesalahan yang berkepanjangan. 

Sampai saat ini saya sering melamun, ingin memperbaiki masa lalu. Masa SMA lebih tepatnya. GOLDEN TIME. Masa yang menentukan jalan yang lebih dewasa. 

Seharusnya dulu saya lebih berfokus dengan Ujian Nasional. Bukan sibuk merindukan anak orang. Memikirkan hal yang belum pasti. Akibat kelalaian saya dalam mengerjakan ujian. Nilai Ujian amblas. Biasanya rangking 1 yang selama ini disabet berturut-turut dari semester 1 hingga semester 6. Menjadi rangking 2. Rasanya luka itu kian mendalam. Ditambah saya tidak bisa lulus ujian masuk PTN. Ketika saya diterima jalur undangan PTS. Justerus orangtua saya tidak memiliki dana. Histeris. Menangis. Seolah masa depan suram. Benar saja. Saya tidak kuliah. Saya pergi ke Bali. Demi peruntungan. Mencari bekal untuk kuliah tahun depan. Usaha saya untuk mendapatkan beasiswa pemerintahan dinilai gagal. 

Enam bulan berlalu, saya tidak ingin melewati moment hidup terlalu lama. Khawatir rasa ingin belajar pupus. Saya pun terbang ke Malang. Demi masuk Perguruan Tinggi yang diidamkan. Ternyata hanya bertahan satu semester 2 bulan. Bukan tanpa liku. Hingga KTM saya pernah plong. Karena saya frustasi. Tidak ada yang membatu. 

Saya menyesal. Mengapa saya pergi ke Malang. Meninggalkan kerjaan tetap. Harusnya saya lebih bersabar. Menunggu uang lebih banyak terkumpul. Demi impian. Penyesalan hanyalah penyesalan.
Kini memasuki tahun ke-4 saya sudah satu tahun vakum, hanya ingin menjaga Nenek saya. Tetapi, mendapatkan tawaran kuliah lagi. Itu benar-benar membuat saya bingung. Di sisi lain saya ingin ikut kursus menjahit. Pilihan ini terkadang berat. Entahlah. 
Mesin waktu tidak bisa diubah, kalaupun saya bisa kembali. Saya ingin tidak gegabah mengambil keputusan. Selama ini saya hanya memikirkan diri sendiri. Ternyata saya malah gagal. Bertubi-tubi. 
Seharusnya saya mendengarkan, nasihat orantua. Tidak ada nasihat yang menyesatkan. Sekalipun, sifat orangtua tidak baik. 

Saya ingin menjadi sesorang yang lebih dewasa, tidak menyia-nyiakan waktu. Kesempatan. Karena awal kehancuran kita, karena rasa percaya diri yang tinggi. Menganggap semua akan mudah. Padahal hidup ibarat lomba. Jika tidak berkerja keras, maka akan kalah. 
Jika saya bisa memperbaiki, saya tidak aka percaya kata orang. Lebih punya prinsip. Saya tidak akan menyia-nyiakan waktu. Saya akan benar-benar berusaha. Demi masa depan saya. 
Masa depan yang tertunda sampai saat ini adalah kuliah. Banyak aral melintang demi kuliah. 

Selain itu, saya ingin meminta sebuah kesempatan. Kepada mesin waktu. Jika ada. Saya ingin kembali belajar tekun menulis. 2013 saya lebih semangat menulis. Tetapi 2014 saat tuntutan kerja yang keras di Bali. Saya enggan menulis. Saya merasa tidak cakap menulis. 

Ada penulis senior, berkata kepada saya. Menulis tidak harus menunggu waktu tidak sibuk. Semua orang itu sibuk. Mereka yang memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka yang beruntung. 
Seperti dalam Janji Allah pada surat Al-Ars. Pada surat ke-103. Allah berjanji pada waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (3)

Intinya, jika ada mesin waktu aku hanya ingin memperbaiki waktu yang aku sia-siakan. Waktu 24 jam yang kita miliki bersama harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin. Juga patuh kepada nasihat orangtua. Selain itu tetap menulis. Berkarya tanpa pamrih. Menulis sebuah hobi. Yang jika ditulis dengan hati akan membuat si penulis selalu terinspirasi. 

Sejatinya hidup pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kelak. Saya ingin kedepannya lebih pandai memanage waktu. Karena waktu tak ada mesinnya. Tak ada yang bisa mengendalikan waktu untuk berhenti. Atau diulang lagi.
#KF3Days

Iklan