Saya tak ingin ketinggalan lagi, atau lupa atau nulis tergesa-gesa. Jadi, untuk tantangan hari ini, saya tulis lebih awal. Saya tahu ini weekend. Hari untuk bersantai. Namun, saya lebih sibuk. Hari ini harus nyuci tumpukan gunung setelah trip on Sumenep kemarin. Insyaallah perjalanan saya, akan di-posting pada Daily’s Baiq. Dilanjut bantu persiapan acara selamatan Nikah. Dari pagi sampai sore nanti. Malamnya datang ke acara resepsi pernikahan teman. Astaga banyak sekali orang nikah. Saya tak ingin menulis tidak fokus seperti yang kemarin hari. Ah, sudahlah. Lah, kok malah curhat. Ya udah demi meramaikan event menulis, sekaligus latihan nulis saya ingin menulis tantangan dari nomor tiga. 

“Jelaskan tentang keinginan atau cita-cita yang belum tercapai hingga hari ini, dan seberapa keras usahanya!” 

Impian. Semua orang memiliki, tentang target usaha. Seperti update status di FB Baiq Cynthia;

“Semua orang punya harapan, mimpi, cita-cita dan target. Tapi, ada kalanya terpending, terkirim atau gagal. “NO CONNECTION”. Itu tidak jadi masalah. Ada saatnya, ketika ‘terhubung’. Semua daftar yang “centang” akan “delivery” dan di “Read” oleh Allah. 😇
#StatusHiburDiri

28 Februari 2017

Waktu begitu cepat bergulir tanpa terasa semua akan kembali kepada Sang Pemilik Waktu. Yang muda akan menua, yang tua akan kembali ke dalam tanah. Begitu seterusnya siklus hidup. 

Sejak dulu saya ingin sekali kuliah. Itu impian saya. Kuliah bagi masyarakat dinilai tinggi pikirannya. Tetapi, saya hanya ‘haus’ pengalaman. Supaya nambah teman. Pengetahuan terupgrate. Kalau dibilang usaha, itu wajib. Sudah sangat keras usaha saya jika dibilang. Namun, kesuksesan saya hanyalah karena Allah. Mungkin saja kelak saya akan lebih sukses lagi. 

Awalnya saya ingin kuliah, jurusan Kimia atau Fisika. Dua mata pelajaran yang paling saya suka. Ternyata saya gagal masuk SNMPTN jalur undangan. Tetapi, saat mendengar salah satu teman saya. Dia bisa lulus dengan nilai pas-pasan. 

Luka di palung hati membekas. Sejak masuk SMA saya selalu prioritaskan belajar. Tak heran, jika bisa mempertahankan rangking paralel utama berturut-turut. Tetapi, yang paling saya sedihkan justru di semester akhir. Pas menjelang kelulusan. Malah anjlok. Kalah sama teman bangku. Dia yang rangking 11 bisa menjadi rangking 1. Mengalahkan saya. Saya menjadi nomor 2. 
Saat dipanggil untuk diberikan penghargaan, saya malu. Tiga kali dipanggil oleh pembawa acara. Saya baru berani naik podium. Ayah saya terlihat kecewa. Kok bisa turun? Karena kelalaian. Tahun di mana saya lebih senang main FB daripada belajar. Akhirnya begitu deh. 

Ternyata kejadian sepele itu merenggut masa depan saya. Sejak kegagalan SNMPTN, saya down. Tidak ingin ikut SBMPTN atau jalur Mandiri lagi. Apalagi ditambah dengan tak dapat daftar ulang di PTS swasta yang saya diterima jalur undangan. Double patah hati. 

Saya alihkan pada pekerjaan. Membantu saudara, mengelola parfum dan kebutuhan laundry. Hanya 3 bulan. Saya bosan dengan bayarannya. Tidak memadai dengan rasa remuk saat malam Berurusan dengan liter-an metanol. Membuat puluhan trika, molto, dsg. Memang saya suka kimia. Tetapi, saya tidak bisa kuliah. Jika penghasilan minim. Kota kecil saya, minim UMK.

Bertolak dari Situbondo menuju Denpasar-Bali. Mengadu nasib. Orangtua saya tinggal di sini (Bali). Sejak kecil saya tinggal dengan Nenek dan Paman. Tetapi, soal tugas sekolah. Saya tidak bisa meminta bantuan Nenek. Beliau buta aksara. Itu yang membuat saya suka membacakan kisah Nabi sejak SD. Semangat belajar dipacu lebih tinggi. Agar keluarga saya tidak dipandang sebelah mata. Agar saya bisa membuktikan kepada Mama. Saya bisa menjadi anak sukses kelak.

Tinggal dengan lingkungan baru. Saya sebelumnya sudah cari informasi kuliah D1 bergengsi. Notabene bisa langsung kerja atau lanjut S1. Ternyata sampai di kota tujuan. Sebagai lulusan tahun lalu, tidak bisa mendapatkan potongan harga, yang dijanjikan. Khusus Fresh Graduate saja. 

Padahal waktu ada Expo kampus di Situbondo, saya selalu hadir mencari peluang kuliah. Tetapi, tidak bisa. Dana saya kurang. Alternatifnya, berkerja. Dengan gaji UMK menggiurkan. 

Sudah training 3 bulan. Non stop. Tidak ada libur. Selama 90 hari. Saat itu benar-benar kerja total. Bahkan sering dapat jatah lembur. Senior sering absen. 

Di tengah Februari 2015 saya mendengar kabar, bahwa Kampus Swasta Malang memiliki banyak koneksi beasiswa. Termasuk beasiswa Exchange ke Eropa. Januari saya pernah ikut Expo kampus luar negeri di Denpasar juga. Menggali informasi. Tidak mudah untuk masuk daftar penerima Beasiswa Luar Negeri. tu impian saya. S2 Ke German. 

Sudah matang dengan pilihan, ditambah di PTS tujuan bisa sambil kerja part time. Saya resign setelah 6 bulan kerja. Dengan pilihan yang matang. Mama saya, menolak untuk kuliah. Baginya cukup investasi hasil kerja. Saya memilih kabur.

Sendiri, pulang ke Situbondo. Sebelumnya sudah bicara juga dengan Paman. Mengenai impian kuliah di kota Apel. Uang tabungan memadai, untuk bisa kuliah. Saya pun tak segan berangkat seminggu setelahnya. Demi ikut test masuk. 

Berbulan-bulan menunggu peresmian menjadi Mahasiswa, setelah dinyatakan lulus tahap 1. Ada tes wawancara juga daftar ulang. Bukan hal mudah. Mengingat uang saya hasil tabungan yang disisihkan selama 6 bulan merantau. Masih kurang. Setelah kursi ruang tamu dijual. Untuk menambah kekurangan biaya. Pun masih kurang. 

Akhirnya saya meminjam uang kepada orangtua sahabat yang merekomendasikan kampus tujuan saya, menurutnya sangat bagus untuk saya. Saya yang suka menulis bisa diasah di jurusan ini. 

Alhamdulillah, dengan harapan yang menipis untuk bisa kuliah. Akhirnya ditransfer sejumlah harga laptop bekas. Besar nominalnya. Saat beda transfer bank. Dikenakan potongan admin. Uang 100 rb malah nyangkut dalam rekening. Saya bingung untuk bayar DPP butuh seratus ribu. Dari mana lagi. Akhirnya saya hubungi sahabat lama yang juga kuliah di kampus yang sama. Alhamdulillah. Setiap kegagalan, pasti ada jalan menuju kemenangan. 

September 2015 resmi menjadi Mahasiswa Baru. Tak masalah meskipun lulusan tahun lalu. Saya lebih PD (percaya diri). Ditambah pengalaman kerja Pramuniaga, lebih sering bercakap dengan orang. Saya terlihat unggul. Sehingga teman memilih saya sebagai Ketua Tingkat.

Bagi saya, kuliah itu menyenangkan. Bisa bertemu dengan banyak orang sukses. Menambah ilmu dari Dosen, ketemu orang dari latar belakang beda. Mengingat kampus saya akreditasi A. Diincar banyak mahasiswa seluruh nusantara, termasuk mahasiswa Asing. 

Kenyataannya, jalan penuh lubang. Untuk biaya ujian UTS. Harus memenuhi administrasi. Lagi-lagi saya harus pinjam. Saat itu ibunda sahabat yang pernah memberikan bantuan. Pindah Malang juga. Saya yang ditugaskan mencari rumah kontrakan. Sahabat saya meski sudah kuliah lebih awal. Masih sering minder ketemu orang, jadi saya menjadi kepercayaan Ibunda, sekaligus kaki tangannya. 

Life is adventure. Di kampus saya sempat jualan cilok dan rujak petis. Semester pertama. 24 SKS harus ditempuh dengan tambahan kuliah pagi–pada hari minggu. Juga, kuliah Bahasa Inggris wajib D1. Membuat saya memilih menitipkan jualan di kantin. Ternyata saingan seperti monster. Milik saya ditelantarkan. Tidak dijual. 

Masih lekat dalam ingatan, dengan pakaian wajib ujian. Menggendong box berisi rujak dan cilok yang tak laku. Saya malu, karena pakaian resmi. Sehingga pilih pulang dengan puluhan bungkus yang tersisa. Kenapa saya tahu, milik saya ditelantarkan. 

Saat dipantau, jualan saya dibiarkan di kotak. Saat saya verifikasi, alasanya etalase penuh. Pun lain hari, saat membawa berkantong kresek. Lebih sedikit. Saya pajang di etalase sendiri. Saat sore berpura-pura jadi konsumen. Si penjaga kantin bilang milik saya sudah habis. Senangnya minta ampun. Setelah saya ambil uangnya. Ternyata ada sisa 9 buah. Dari 12 yang saya titipkan. 

Demi ingin kuliah saya usaha. Nyambung hidup, ngampung dengan bunda Sahabat yang punya anak kecil banyak. 

Kerjaan saya jadi banyak peran, Kuliah-Kerja-Organisasi-Rumah Tangga. Membantu mengasuh 2 bayi kecil. Usia 2 tahun dan 1 tahun. Gak usah bayangin deh, bagaimana keadaan rumah tiap hari. Hehe. Meski tidak menyewa pembantu atau baby sister. Alhamdulillah saya masih bisa membagi waktu. Waktu bersih-bersih, kuliah, jaga adik-organisasi. Sama sekali saya tidak pernah kewalahan. Kecuali saat membayar uang untuk ujian. Sambil gendong bayi. Akhirnya, bisa dapat dispensasi. Bayar 50 persen. Sisanya dibayar bulan depan. 

~*~

Beruntung saya punya teman organisasi. Walaupun pernah diremehkan teman dekat saya. Menurutnya ikut organisasi itu radikal. Pemikirannya terlalu keras. 

Tetapi, jujur saat ujian Akhir Semester 1. Saya dibantu dari segi dana. Masyaallah. 

Sudah banyak pengorbanan, minta bantuan kepada Dekan, Kajur, hingga bagian Kemahasiswaan. Mereka tidak bisa bantu. Sempat terpikir untuk minta bantuan rektor. Tetapi, saya malu. Saya memutuskan untuk jalur terminal. KTP sempat diplong. Tidak tercatat sebagai mahasiswa. Ya seperti yang saya jelaskan tadi. Organisasi saya yang justru membantu, memulihkan status mahasiwa yang (sempat) hilang. Juga bantuan dana. Sepertinya saya ingin menangis sekarang. Bagaimana tidak. 

Sejak peristiwa kabur dari Bali. Orangtua saya lepas tangan. Tak ada yang bisa bantu lagi. Ibu angkat saya juga tidak bisa membantu. 

Saya juga dicemooh, saat bicara ingin minta beasiswa. “Kamu itu salah jurusan, harusnya tidak masuk jurusan notabene favorit.” 
Memang benar jurusan yang saya tempuh notabene, jurusan artis. Sering kali dikaitkan mahasiswanya artis. Karena jurusannya masih berhubungan dengan jurnalistik, humas, dan pertelevisian. 

Saya lulus Semester 1 dengan IPK baik. Meski saya merasa sedih. 2 mata kuliah kurang memuaskan. Saya tidak ikut kuliah saat sedang ngurusi berkas terminal, maupun berkas aktif kembali. 

IP saya 3.6 😭 

Alhamdulillah, bersyukur. Ternyata di kelas saya yang paling tinggi. 🙌 Semangat kuliah naik drastis. 
Orang tua angkat saya, kena problem besar. Saya tidak tahu bagaimana untuk Semester 2. Akhirnya saya mencari lowongan kerja. Beberapa interview dilewati. Tetapi, status mahasiswa baru. Membuat saya sulit diterima. 

Dengan izin Allah, istri sepupu saya punya keluarga di Malang. Mereka bersedia membantu dengan syarat saya harus tinggal bersama. Menjaga Eyang kakung dan Uti. Fasilitas makan terjamin. Dengan gaji perbulan setara dengan kerjaan. Asisten rumah tangga. Ya! 

Demi kuliah, akan saya lakukan. Asal Halal. Ternyata, kabar saya kuliah terdengar di telinga orangtua saya. Mereka nelp bicara. Setelah 365 hari tidak bicara. Saya hanya menghargai. Menjawab pertanyaan. Meski rasa dongkol masih tertanam. Dia bilang janji, akan biayai ujian tengah Semester nanti. 

Sudah semangat kuliah, karena sudah bakalan ada yang tanggung. Hanya minimal Semester 2 baru bisa ajukan beasiswa. Setelah memegang IPK. 

Ternyata, dia ingkar. Saya tak bisa ujian. Semuanya terlihat gelap. Hari itu saya pulang. Rindu nenek yang sudah tua. Harusnya saya tinggal bersamanya. Akhirnya impian kuliah S2 German luruh. 

Impian terbesar kedua adalah menulis. Selama kesibukan yang menyita waktu tidur hanya 2 jam tiap hari. Membuat diri saya berdosa. Beberapa naskah berhasil dilayangkan ke koran. Namun gagal. 

Sejak di Situbondo. Saya merasa seperti orang gila. Tidak punya masa depan. Sekarang S1 sudah biasa. Untuk kerja rata2 harus berpendidikan. Apa daya tangan tak sampai memeluk gunung. 

Setelah vakum, saya bekerja ikut proyek. Sebagai admin. Proyek pembangunan. Mimpi yang meletup seperti kembang api. Malah semakin besar. Saya harus konsern ke kerja ini. Ternyata 3 bulan saja. Setelah mendapat kabar burung yang membuat saya harus resign kembali. 😥 

Tahun 2016 tahun intropeksi diri. Saya sendiri sudah hafal dengan beasiswa PTN. Sudah tahun ketiga. Tidak bisa kuliah masuk jalur beasiswa. Tangan meski berpangku. Sering sekali saya menulis pada buku. 

Impian punya laptop sejak lulus SMA, tak kesampaian. Padahal saya kerja banting tulang. Allah.Terkadang saat waktu luang di tempat proyek saya menulis. Sempat ditanya bos. Ngapain? Nulis. Pake kertas HVS bekas. Hehehe. 
Ingin sekali saya bersandar. Saya pernah menulis resolusi 2017 menikah. Agar bisa menyalurkan impian kuliah pada anak saya kelak saja. Benar hampir menikah, gagal. Kemudian saya berpikir fokus kerja. Kamu tahu saya kerja di mana? Parfum lagi. Tetapi dengan posisi marketing internet. Tetap saja gaji seperti dua tahun silam. Bersyukur setidaknya bisa buat beli pulsa internet. 
Banyak sekali event menulis. Draft sudah selesai. Namun, keterbatasan menulis itu membuat saya gundah. Harusnya saya bisa merampungkan tulisan 100 lembar 10 hari. Harusnya. 😒

Kebanyakan berpikir atau aktivitas lain yang saya enggak tahu gimana masa depan tulisan saya.

Maret ini saya dilamar orang. Tetapi saya belum yakin. Karena terlanjur continuous.

Mengejar kuliah

Saya sudah daftar BLK (Balai Latihan Kerja), tinggal test saja. Kemarin ditawari kuliah sama mama saya. Semoga tidak PHP. Sembari saya ingin ikut kursus menjahit. Sebagai tunggangan awal, bekal kuliah kelak. 

Harapan saya satu, Kuliah, Entrepreneur, Penulis. Yang pasti bisa menginspirasi bersama. 

Situbondo. 

#KF3Days 

 Yakin Usaha dan Berdoa ~Baiq Cynthia

Iklan