Cinta sebuah kata yang gak ada matinya saat menjadi buah bibir. Paling asyik bahas tema ini. Bahkan baru kenal pun di Bus. Kalau merembet masalah cinta, akan ada bumbu-bumbu manis dan pedas. Seperti rujak. Manis tapi pedas.

Berbicara tentang cinta, semua orang pasti mengenal jatuh cinta. Cinta yang alami, murni sampai cinta jadi-jadian. Jatuh cinta pada teman karib, hingga di jodohin. Cinta yang tumbuh sendiri, hingga tak disangka ada cinta. 

Oh cinta, virus merah jambu. Terkadang jika diingat-ingat tentang cinta monyet. Itu menggelikan. Cinta yang diidentikkan dengan monyet jatuh cinta. Asal cinta aja. Gak tahu itu cinta murni atau mainan. Yang penting ada kara, ” Aku sayang Kamu!”. 

Ah, baper! Cinta dengan mudahnya datang dan cepat sekali pulang. Cinta monyet, kata orang cinta anak abg. Cinta labil. Ahahaha. Hampir setiap orang mengalami cinta monyet. Lumrah ya! Kalau gak punya feeling kepada lawan jenis itu perlu diwaspadai. 

Jangan-jangan. Oh tidak hanya sebuah dugaan. Cinta monyet yang pernah terjalin saat kecil itu suka sama teman sendiri. Ya walaupun masih kecil labil banget. Tapi, bila diingat-ingat. Lucu. 

Dimulai dari persahabatan, sejak kelas 2 SD. Sudah punya sahabat karib. Teman main masa kecil. Ke mana pun bersama. Bermain pun bersama. Tak ayal tetangga sudah paham. Jika aku tak ada di rumah pasti ada di rumah sahabat. 

Cinta monyet yang kurasakan dimulai awal tahun 2003. Sejak kelas 1, setiap ujian atau ulangan semester akhir selalu duduk menurut absensi. 

Kebetulan aku selalu duduk dengan seorang lelaki. Meskipun model bangku zaman dahulu memanjang. Kami duduk sama-sama di ujung kursi. Dengan tas sekolah menjadi batas. Pribadi sejak kecil hanyalah pendiam. Meski banyak teman-teman yang sering mengajak bermain saat jam istirahat.

Lelaki yang kukenal itu, jarang berbicara. Dia selalu mendapatkan rangking pertama. Sampai kelas 3.  Hampir setiap tahun posisi tempat duduk kami selalu sama saat ujian. 

Nomor absen 2 selalu bertemu dengan 7. Jika diurut bangku dari depan ke belakang. Dia jenius, tapi sayang pelit. Aku selalu tolah-toleh saat ujian. Namun, dia tak pernah memberi. Ah! Dia memang tampan. 

Banyak gadis kecil yang suka dengannya. Meski sering terjadi kasus sorak ‘cie’ … ‘cie’. Antara sahabat karibku dengannya. Tapi, dia tak pernah mengakui, pun mengelak. Sosoknya misterius. Teman satu kelas akan menulis di papa tulis dua nama, dia dan sahabatku. Tulisan nama yang digambar panah cinta. 

Aku tidak merasa kecewa atau sedih, malah ikut-ikutan membully mereka. Ah, anak ingusan tidak pernah serius jatuh cinta.

Suatu ketika, di kelas 4 di jam istirahat ke-dua. Sudah mulai ada les tambahan dari sekolah. Siang itu aku dan beberapa teman kelas kompak membeli mie instans. Milik pak Pardi, kantin sekolah. Sekalipun cara pengolahan mie dengan cara diseduh. Kami rela mengantri demi makan mie seharga 1.200 untuk mie kuah, dan 1.500 untuk mie goreng. 

Dia juga memesan, namun mie goreng. Saya memiliki uang pas-pasan. Hanya mampu membeli mie kuah. Zaman kecil, uang saku hanya 1000. Tapi, sudah bahagia. 

Saat itu kami beserta anak lainnya inisiasi lomba makan. Dengan aba-aba hitungan mundur. Aku begitu lahap memakan mie kuah. Bukannya dia juga ikutan makan. Namun, memperhatikan saya. Seraya berkata, ” Emang gak panas?” 

Aku hanya tersenyum dan terus melahap mie. Konon saya suka sekali mie instans. Jadi, terbiasa makan tanpa dikunyah. Padahal sekarang sudah tahu, itu tidak baik bagi kesehatan. 

Tentu saja, saya abaikan. Dia melongo bagai, kelinci bingung melihat kawannya loncat-loncat. 

Di rumah, sering cerita kepada Umi’. Dia orang terkasih yang paling suka mendengar cerita sekolah saya. Terus terang, saya cerita. Saya menyukainya. Tetapi, dia dijodohkan sama teman-teman dengan sahabat saya. 

Umi’ hanya tersenyum, “belajar yang rajin, jangan main pacaran.” Saya hanya nyengir. Siapa juga yang mau pacaran. Hanya bilang suka. Orang tuanya salah satu orang terpandang. Rumah bercat putih dengan dua lantai. 

Ah, saya hanya bisa berandai. Perasaan itu terus redup. Seiring waktu. Cinta monyet itu aneh. Saat ada yang mengolok-olok dengan murid baru. Aku jadi salah tingkah. Dan malah naksir sama sosok yang menjadi bahan bullyan. 

Cinta monyet ya hanya rasa suka, cinta main-mainan. Dan tidak lain cinta semu. Jika diingat, saat kini. Justru membuatku ingin tertawa. Kok bisa aku jatuh cinta.

Ah, cinta monyet berjuta rahasia dari bilik cinta. Sampai sekarang, aku tak tahu siapa tempat pelabuhan cinta. 

#kampusfiksi

#basabasistore

#baiqcynthia

Iklan