Memasuki hari kelima. Pertanyaannya mudah. Jawabannya sedikit rumit. Pasalnya sejak hampir 2 bulan tidak ada buku yang benar-benar tuntas dibaca. Terkadang hanya baca satu bab kemudian ditinggal. Sebelumnya, saya ingin punya banyak buku. Saat banyak buku kenapa saya jadi merasa stuck. 


Ternyata tidak hanya menulis yang membuat stuck membaca pun juga. Namun, bacaan yang membuat saya enggan membaca adalah fiksi. Untuk asupan non fiksi masih lancar jaya. 

Baiklah saya ingin menjawab pertanyaan no. 5 

Ambil sebuah buku terdekatmu. Carilah sebuah paragraf di dalam buku yang ingin kamu tuliskan dan kenapa memilih paragraf tersebut?

Sudah mengambil buku paling dekat. Awalnya mau mengambil buku yang tebal. Saat melihat buku terdekat terambil sebuah buku berjudul “Uhibbuka Fillah, Aku Mencintaimu karena Allah” karya Ririn Rahayu Astuti Ningrum. Sudah pernah saya review buku ini di sini

Kisah yang mengharukan, sekaligus memberi motivasi. Banyak belajar dari buku ini, meskipun sebuah buku fiksi. 

“Cerita ustad Hasyim malam itu seolah sekarang terjadi. Beliau bercerita tentang Salman al Farishi dan Abu Darda. Salman mencintai seorang gadis, namun ternyata hadir itu tidak menyukainya.Gadis itu malah menerima jika Abu Farza yang melamarnya. Salman dengan lantang berseru ‘Allahu Akbar! Kuserahkan mahar dan nafkah yang telah kubawa untuk saudaraku Abu Darda. Aku akan mempersaksikan pernikahan kalian!’ Begitulah cinta sejati. Ia cukup dengan mencintai, dan tak berharap balas untuk dicintai. Bayangkan bagaimana perasaan Salman saat itu, namun dia begitu tangguh untuk melihat gadis dan saudara yang dicintainya bahagia. Lalu, salahkah jika aku meneladaninya?’ Begitu, Rin.”  (Halaman 125-126) 

Alasannya sederhana. Cinta tak harus memiliki. Jika memang benar itu cinta. Meskipun cinta hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta akan membahagiakan pasangannya. 

Dalam paragraf tersebut Salman Al Farishi real memberikan mahar kepada Abu Darda. Memang benar, cinta tidak hanya ucapan. Namun, berupa perbuatan. Meski cintanya tidak diterima oleh si Gadis. Pengorbanan cinta Salman tetap ada. 

Bahkan Salman pun menghadiri pernikahan tersebut. Luar biasa. Hatinya begitu berkilau. Sungguh jarang zaman sekarang. Mereka lebih memilih menghindari. Bahkan tak jarang bermusuhan. 

Apakah esensi cinta hanya berkenalan, jadian, kemudian berpisah dan tak saling kenal? 

TIDAK. Cinta tak bisa disalahkan. Emosi yang meletup saat tak memiliki, meretas akal. Menerawang perasaan yang terabai. 

Alasan yang khusus paragraf pada bagian ini tidak ada kesan menggurui, malah super menginspirasi. Sejatinya, harapan dan cinta akan tersampaikan pada cinta. Jika kita hantarkan pada Sang Pemilik Cinta. 

Tak ada cinta yang bersatu tanpa restuNya. Bisakah kita mengubah pola pikir tentang cinta. Menjadi. Aku Mencintaimu karena Dia. 

*)Hari ini ada Event Literasi. Hadir ya!


#Situbondo

#KampusFiksi 

#BasaBasiStore 

#KampusFiksiWritingChallenge 

Iklan