Pernah merasa kehilangan. Rasa hilang yang sebenarnya tak hilang. Hanya raga yang hilang. Namun, hati terpaut.

Pernah juga aku kehilangan barang berharga. Diambil paksa oleh seseorang yang tak dikenal. Tetapi, awalnya ikhlas. Karena setiap apa yang kita punya akan kembali kepada Sang Pemilik keabadian. Setelah berpikir ada buku dan dokumen penting yang hilang. Airmata langsung tumpah. 

Memang tak mudah kehilangan sesuatu. Lebih tepatnya, sangat menyakitkan di awal. Tetapi jika ingat kembali, hidup hanya menumpang. Pasti akan berpikir kembali. 

Kamu akan ikhlaskan, walaupun barang itu berharga. Hal ini berlaku pada seseorang. Kita bisa jadi bersama sekarang. Kelak saat maut menjemput. Kita punya jalan masing-masing.

Bisa jadi kita kurang sedekah, sehingga kita merasa kehilangan. Sebab, ada hak orang lain pada harta kita.

Alasan Rasa Kehilangan yang terkadang lebih hampa dari Vakum udara. 

  • Ketika kita merasa kehilangan kepercayaan. Sudah sulit menjaga kepercayaan. Masih saja suka hilang.
  • Ketika kita kehilangan seseorang yang sebelumnya sangat baik kita kenal. Lantas dia pergi. Kita bertemu, bertatap muka. Tapi, seolah stanger. Itu kehilangan yang menyakitkan.
  • Kita kehilangan harapan. Saat sudah berupaya lebih kerasa mencapai sebuah kesuksesan. Namun, rintangan yang menghadang tanpa disangka-sangka. Harapan langsung luruh seketika. 
  • Kita kehilangan mimpi. Sudah lama merangkai impian. Menata masa depan. Tetapi, kita lupa bahwa ada yang hanya bisa menjadi impian. Tidak untuk jadi nyata. 
  • Saat rasa kehilangan sahabat. Sosok yang biasa menemani kita. Kala suka maupun duka. Entah mengapa, sahabat itu berubah. Dia ada taoi, membuat sebuah batas dia antara kita.
  • Saat kita merasa kehilangan ingatan. Sulit diungkapkan. Bagaimana mengembalikan ingatan yang sudah pupus. Memori indah hanya terasa seperti de javu. 
  • Kehilangan moment bersama keluarga. Keluarga yang damai dan tentram. Idaman semua orang. Tapi, tak semuanya harus selalu bersama. Bahkan air dan minyak pun sulit menyatu.
  • Kehilangan waktu. Tak bisa dipungkiri. Hidup ini hanya ditemani oleh detak waktu. Waktu tak bisa diulur atau dihambat. Saat sudah kehilangan waktu. Lantaran sibuk dengan kesedihan, terlalu bahagia. Lantas waktu hanya disia-siakan. Hingga sang waktu pun menghilangkan diri.
  • Kehilangan Kesempatan. Ini sangat menyakitkan. Ada pepatah mengatakan kesempatan tidak hadir dua kali. Saat ada kesempatan, sering kali kita mengabaikan. Seolah masih ada lagi kesempatan. Ternyata. Yang diharapkan sudah pupus. Usia yang terkadang menghapus kesempatan. 
  • Kehilangan cinta. Mungkin ini terbilang jarang. Tetapi, saya merasakannya. Bagaimana mungkin cinta bisa hilang? Bisa saja. Saat cintamu terabaikan. Dan tak ada cinta selain yang kamu harapkan. 

Kehilangan terbesar yang kadang kita lupakan. Hanyalah kehilangan kesehatan. Kita terlalu abai masalah menjaga kesehatan. Seolah hidup terlalu bebas. Padahal tak ada yang tahu hadirnya rasa sakit. Terlalu sering mementingkan kebahagiaan sesaat. Tapi, lupa sebahagia apapun yang kini kamu rasakan. Bersiaplah untuk merasakan kehilangan.

Boleh saja merasa kehilangan. Namun, tidak baik hingga meratapi. Carilah yang hilang. Atau ciptakan yang baru. Hidup akan suka saat ada yang hilang. Tapi, kita bisa belajar arti sebuah memiliki. 

#baiqcynthia 

#KampusFiksi

#BasabasiStore

#WritingChallenge7Days

Iklan