Mata sembab, dibalik kilas kornea terlukis sketsa bunga kecil. Mahkota ungu yang mengantung, dengan tangkai mungil. Anggunnya bunga anggrek, tak bosan mata memandang. Duduk di beranda belakang rumah. Sendiri, menemani semut berbaris rapi mengangkat makanan. Meski sedih, setidaknya aku merasa tidak begitu banyak beban. Tiba-tiba sosok sepuh yang menggunakan syal abu-abu menepuk pundakku.

“Nduk, pokoknya apa pun yang terjadi. Nenek janji bakalan mencarikan jodoh untukmu. Kamu yang sabar, ya!” suara wanita sepuh yang sangat lembut terus menghiburku. Seakan masa depanku sudah runtuh. Memang kuakui, semenjak orangtua tak sanggup membayar biaya perkuliahan. Aku tinggal bersama Nenek. Tepatnya di Malang, di kota yang notabene pendidikan. 

Sebagai wanita dewasa, karir menjadi tujuan. Namun, sayang sekali pekerjaan rata-rata meminta kualifikasi yang tinggi. Hatiku gundah, bukan karena merindukan seseorang. Aku merasa bingung dengan masa depan. 

“Nduk, melamun lagi? Sudahlah kamu akan Nenek jodohkan dengan seseorang yang baik. Dia punya perusahaan sendiri, Alhamdulillah sukses. Usianya sudah matang. Cocok kayaknya sama kamu!”

Mendengar hal demikian, rasanya tenggorokan tercekat. Ini seperti zaman Siti Nurbaya. Padahal aku sendiri sudah memiliki bayangan pangeran. Seseorang yang baik dan aku kenal. Berdiri tegap dengan bahu siap membantu. Entah, sepertinya dia sudah pergi. Empat tahun lamanya kami tak bersua. Meski komunikasi begitu gencar-gencarnya. Untuk pertama kali aku jatuh cinta, tetapi tak terbalaskan. Dia memilih untuk pergi. Demi wanita lain, padahal janjinya masih terpahat dalam palung hati. Janji sakral katanya ingin bersama sehidup-semati. Sedikit menyeka airmata. Aku tersenyum menganggukkan kepala. 

Wanita tua yang sering merajut baju hangat, baik sekali. Cucunya hampir selusin. Tetapi, beliau begitu sayang denganku. Tuntutan kuliah menyebabkan harus tinggal bersama. Rumah asalku di Situbondo. Kota terpencil yang ikonik dengan pantai Pasir Putih dan Baluran. Perbedaan suhu dan bentang alam, membuatku betah. 

Nenek sudah mengabarkan akan memberikan calon pendamping. Ada rasa penasaran dengan sosok yang akan dikenalkan denganku. Tak sedikit pun terbetik dalam sanubari. Bagaimana rupa, perangai, tutur bicara. Hingga satu kalimat mendarat dengan mudahnya.

“Nek, kenapa aku dijodohkan?”

Bukannya menjawab, justru Nenek bercerita tentang masa lalunya. Anak-anaknya. Sangkut-paut dengan pasangan hidup. Alasan realistis, mengapa menikah dan dijodohkan penting. Petuah kuno yang penuh nilai.

Aku memahami tiap kata yang terlontar. Meski zaman digital sudah tidak menganggap perjodohan identik dengan jadul. Perempuan dengan garis tegas di kening. Usia mencapai 70 tahun. Tubuhnya masih kuat untuk menghadiri kegiatan rutin bulanan. Arisan  sekitar kompleks di rumah lama, tepatnya Batu. 

Sekelibat bayangan muncul tentang kota dingin yang pernah kusinggahi. Dalam acara yang sama. Saat acara arisan bertempat di rumah tanteku. Sebuah rumah kediaman yang begaya minimalis. Dengan tatanan taman penuh tumbuhan perdu juga bonsai.

Matahari sudah bersemangat menyiram kami. Aku hanya membantu menyiapkan beberapa makanan, menu favorit. Kare, nasi kuning, ayam krispi dan aneka kue. Beberapa minuman dingin tersuguhkan di meja kaca.

 Kota Batu berbeda dengan Malang. Lantai keramik, terasa dingin. Brrr. Tak sanggup jika tidak memakai kaos kaki. Apalagi air dari shower yang mengucur. Rasanya tidak ingin mandi. Sedikit berkeringat di kota dingin. Cukup gunakan parfum, tidak kentara jika tidak mandi. 

Acara arisan dimulai, aku berkumpul dengan sepupu, rapat juga di lantai dua. Arisan anak muda. Kami membicarakan tentang aplikasi anak muda terbaru, tentang selfi. Sesekali menyomot pisang goreng yang masih hangat. Obrolan kami seputar kuliah, kuliner sampai hal paling konyol.

“Maharani, kamu sudah punya pacar?” sapa sepupu yang memiliki rambut lurus dengan bibir polesan lipstik. 

“Oh, enggak Kak! Saya dilarang pacaran!” Aku hanya tersenyum tipis. Meski melihat mereka sedikit melengos. 

Sepupu lainnya tak mengomentari, mereka berdua sibuk dengan gadget masing-masing. Sesekali tertawa. Aku hanya diam melihat handphone tanpa kamera. Melihat jam, sesekali menulis catatan di aplikasi kalender. 

“Kak Maharani, dipanggil Mama!” keponakan cantik yang polos membuatku menoleh. 

Ternyata kami disuruh makan siang, satu persatu turun tangga. Rasanya hanya diriku yang kesulitan. Mengingat menggunakan Khimar panjang. Sedikit menjinjing rok panjang tanpa memperlihatkan kaos kaki berwarna coklat.

Saat kami mengambil makanan, beberapa wanita paruh baya menyapa kami. Lebih tepatnya, kami bersalaman dengan mereka. Mereka begitu memuji sepupuku, yang kuliah jurusan kebidanan dan apoteker. Aku sedikit mengutuk diri, mengapa tidak seperti mereka. 

Ya Allah, Kuatkan hamba-Mu. Menahan rasa ini, membuatku tak berdaya. 

***

Hanya itu bayangan yang kumiliki tentang acara arisan yang digelar sederhana. Hari ini, aku sudah siap berkemas pulang kampung. Mengingat tak ada lagi yang bisa dilakukan di rumah Nenek. Akses ke kampus pun ditempuh dengan sepeda ontel. Meskipun ada mobil dan sepeda motor. Apa daya itu bukan milikku. Hanya menumpang di rumah Nenek. 

Saat embun sore tak kunjung datang, rona hati menyemai rindu. Rindu kepada sosok yang bahkan belum pernah bersua. Menantikan momen yang tak pasti seperti merajut tulisan di atas air. Hati selalu bertanya, apakah cinta itu ada?

Sudah pulang kampung, malah menganggur tidak menemukan pekerjaan yang tepat. Kota kecil jarang dengan lapangan kerja. Jika pun ada tidak banyak yang bisa dilakukan dengan perempuan berhijab. Diam sendiri memangku tangan. Berharap Romeo menjemput Juliet. Dengan setangkai mawar segar, seraya mengatakan cinta. Sering mendengarkan dua nama yang melegenda. Seperti kisah Qais dan Laila cinta yang terhalang untuk bersatu. Cinta laksana aksara yang menetap dalam kertas. Sekali ditulis sulit untuk dihapus. Diam-diam kusebut namanya dalam doa, berharap bisa bertemu dengan sosok yang menurut Nenek akan menjadi pasanganku. Tak banyak harapan, selain berdoa dan menanti kehadirannya.

Doaku terijabah, delapan bulan menunggu tanpa tahu siapa namanya, tidak tahu rupanya. Selama itu pula aku menjaga perasaan. Menutup hati rapat-rapat untuk lelaki lain. 

Pernah suatu ketika di bulan lima menanti kabarnya. Tiba-tiba lelaki semasa sekolah dulu datang ke rumah dengan tujuan untuk meminangku. Entah setan dari mana, aku menolak. Aku berdalih telah ada calon yang siap menikahiku. Kusampaikan bahwa perjodohan itu pasti berhasil. Mungkin celotehan kecil, menyakiti hatinya. Dia pergi tanpa kabar setelah itu. Bagaimana pula, tak ingin melukai hati Nenek. Dia peduli dengan masa depan, impian menjadi seorang yang bahagia.

Benih-benih cinta mati-matian kutanam, masa bertemu telah datang. Itu menjadi sebuah jawaban sekaligus pertanyaan. Sore setelah seharian lelah dengan acara keluarga kecil. Bermain dengan satwa juga melepas penat di salah satu wahana wisata. Tidak jauh dengan rumah tanteku di Batu. 

Punggung dan telapak kaki terasa encok. Berkeliling luasnya Secret Zoo. Tidak peduli saat ada tamu berkunjung ke rumah tanteku. Kaki yang diluruskan di atas karpet. Kutatap wajahnya, merasa sangat familiar. Ternyata tetangga, rumah yang berdiri tegap di depan rumah yang kutempati. Gaya bangunan minimalis modern, dengan lantai dua yang begitu stylish. Pernah terketuk dalam hati, bisa mempunyai rumah elegan.

Batu benar-benar seperti es batu. Air yang keluar dari pancuran, di bak mandi sangat dingin. Rasanya seperti mengambil tumpukan es yang cair. Aku pikir dunia sedang bercanda dengan air es, gemeletuk gigi seperti ikut tantangan Ice Berg. 

Baru saja duduk di kursi kayu. Tetangga Tente–perempuan yang sempat berbincang dengan kerabatku. Kini menghampiri dan ikut duduk di sampingku. 

“Sekolah di mana?” raut wajah penuh antusias.

“Euu … Saya sudah kuliah aslinya. Harusnya semester 6 hanya saja ambil cuti.”

Jujur ini pertanyaan mudah, namun sulit kuungkapkan. Banyak sekali orang menyebut saya masih SMA, lebih parahnya mengira masih SMP. Wajah babyface, dengan perawakan tubuh kurus tidak terlalu pendek. Masih cocok jika masuk SMA. 

“Maaf, Habis wajahnya masih imut! Oh, iya kenalkan tante ini Mamanya Varid. Kamu Maharani, ya? Manis sekali,” tandasnya. 

Sedikit menelan ludah, pipiku bersemu. Astaga, dalam keadaan tidak siap. Baju masih berupa baju santai, pinjaman tante. Sekarang bertemu dengan calon mertua. Lagi- lagi, lebih tidak percaya. Usai Margrib akan dipertemukan dengan lelaki yang selama ini aku nantikan. Padahal make-up dan pakaian yang anggun. Seharusnya dikenakan saat bertemu. Rencana berantakan. Tidak sesuai ekspektasi, tidak bertemu di rumah Nenek. Tetapi di rumah tante.

Kuhirup napas dalam-dalam, sesekali mengangguk mendengarkan perempuan berkerudung bunga. Wajahnya masih cantik, meski ada kerutan kecil di sudut mata. Aku menduga Varid memiliki wajah yang serupa dengan Mamanya. 

Sedikit memiliki ruang gerak, saat Mama Varid bergegas. Setengah berlari ke arah rumah berjarak jalan lebar di kompleks ini. Setidaknya ada waktu untuk memperbaiki sendi yang kaku. Bekas berjalan jauh di kebun binatang. Perasaan tegang bertemu Mamanya, yang kelak menjadi orangtuaku juga. 

Sudah terbayang sosok tegap, wajah oriental khas Arab. Mengingat masih ada keturunan arab. Aku berdoa dalam hati, meski sudah tak sempat memoles diri dengan bedak lagi. Berharap pujaan hati tidak shock  melihat penampakan diriku yang ala kadarnya.

“Assalamualaikum!” 

Degup jantung kian tidak keruan. Sedari tadi aku duduk di kursi kayu ruang tamu, sekaligus terhubung ke ruang makan. Persis dekat pintu dapur suara itu terdengar. Sebuah kepala muncul dari pintu dapur. Dia melihat banyak orang berkumpul di meja makan.

Bagai hujan membasahi bunga mawar, hatiku terasa kuncup. Harapan yang tidak sesuai kenyataan. Lelaki yang berjalan menuju ruang tamu bertolak belakang dari segi bayanganku. Wajahnya bulat, dengan rambut sedikit keriting. Bola mata bulat dan senyum khas.

Saat bersamaan itu pula, 5 anggota keluarga yang tadi sibuk mengobrol, dan berceloteh panjang lebar kini sibuk dadakan. Kakak iparku, tiba-tiba pergi keluar urusan belanja. Tanteku sibuk membuatkan teh, menyuguhkan tahu petis. Sisanya naik ke lantai dua.

Hanya nyanyian jangkrik yang memecah kesunyian. Selama 3 menit kami hanya diam. Lelaki bertubuh gempal itu duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu ruang tamu. Kami berjarak satu bangku panjang, sekaligus menjadi meja tempat tahu petis dan teh kami.

Aku hanya menatap kedua kaki yang terbalut kaos. Varid pun seakan menatapku. Seperti melihat hal yang aneh. Meski mata tak bertaut, aku merasa dia melihat ke arahku. Mengingat sebelah kanannya hanya jendela tertutup tirai. Hatiku semakin berdebar tak keruan. Malu dengan keadaan tidak rapi, harusnya tersapu bedak sedikit. Satu hari penuh dibakar dibawah sorot matahari. Ah, lupakan.

Kini suara beratnya mulai mengambil bagian. Mengajukan pertanyaan ringan seputar nama, umur dan hobi. Aku jawab meski ada keraguan untuk menatapnya. Kutatap sebuah bunga segar. Teronggok di sudut ruangan dekat pintu, menjadi saksi pertemuan dua insan yang selama ini hanya diam membisu. 

Meski bibirku kelu, sebisa mungkin untuk balik bertanya. Rasanya tak sopan jika pasif. Kutanyakan kegiatanya. Seperti pekerjaannya. 

“Aku hanya bantu-bantu di bengkel,” jawabnya sambil tertawa kecil. Dalam hati menolak, berlawanan dengan ucapan Eyangku. 

“Jadi, suka bersih-bersih di tempat kerja?” suara lirihku tanpa ragu.

Dia hanya mengangguk, sedikit menyeringai. Ada kagum, meskipun dia pengelola perusahaan Ayahnya. Kelihatannya pribadi yang rendah hati. Ternyata dia anak pertama, menjadi panutan adik tirinya. What? Pantas saja tidak mirip dengan wanita cantik yang tadi. Mamanya sudah lebih dahulu dipanggil Ilahi Rabbi. Ada kerut di keningku, mengapa usia yang sangat matang namun enggan menikah. Kubiarkan saja rasa penasaran menjadi besar. Toh, yang penting kami dijodohkan. 

Lelaki dengan kumis tipis yang sering tersenyum, memiliki kegemaran yang sama denganku. Membaca buku, menonton film, lebih jarang bersosialisasi. Dari segi penampilan, dia lebih suka pakaian casual. Musik kesukaannya adalah jazz. 

Menurut buku yang pernah kuingat, mengenai tipe pribadi sesuai dengan musik kesukaan. Salah satu alunan jazz yang santai, memiliki arti sosok yang lembut dan easy going. Terkesan melow, pribadi yang perasa juga sedikit sensitif. Bagiku Varid sosok humoris. Wajahnya juga manis. Setiap melihat gaya bicaranya, entah mengapa aku merasa nyaman dan aman.

Kedatipun bibirnya menghitam, efek rokok. Tak menjadi masalah besar. Sisi paling lucu tentang dirinya, dia takut dengan hewan yang cepat dan terbang. Kepalaku langsung menangkap signal bahwa hewan yang maksud ialah si kecoa. Binatang mungil suka sekali terbang dan datang semau gue. Tak terbayangkan jika sama-sama takut kecoa. Pasti saling teriak kali, ya? 

Dering ponsel menggugurkan lamunanku. Sepertinya, seseorang menelpon dia. Sudah berapa lama aku bermain dengan khayalanku. Wajahnya tampak serius, aku hanya diam menatap semut yang berbaris di dinding. 

“Okey, Ma! Saya segera ke sana,” suara Varid menatap tembok dengan serius. Aku hanya menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya. Tak ayal dia menutup panggilan dengan seulas senyum. 

“Maaf ya! Sepertinya saya harus akhiri bincang singkat ini. Setidaknya, kita sudah saling kenal,” ujarnya setelah meletakkan telepon pintar di sakunya.

“Oh, tentu! Saya bersyukur bisa bertemu. Lain kali kita sambung kembali,” jawabku singkat. Ada rasa getir, mengapa hanya sesaat. Padahal aku belum sempat bercerita tentang Eyang yang sering menggoda namanya. Tentang foto selfi dengan Unta. Keseruan mengelilingi rumah hantu, juga asyiknya dengan tornado.

 Dia pergi malam itu juga, tanpa ada rasa atau ungkapan lainnya. Beberapa menit setelah pamit dengan Linda—tanteku. Bayang punggungnya sudah menghilang dibalik pintu. Aku hanya bisa menatap jendela dengan berkas cahaya yang memantulkan tubuhnya. Perempuan yang berprofesi sebagai guru kini menarik kedua bibir manisnya, seolah ingin tahu perbincangan singkat kami. Aku hanya menunduk dengan semburat ranum di wajah. 

“Kamu tahu tidak? Varid sebenarnya mencuri pandang waktu di acara arisan Nenek. Awalnya dia mau bermain dengan Keyzila. Dia suka membelikan es krim untuk Key. Ternyata saat mendengar hentakan kaki dari tangga. Bukan Key yang muncul. Tetapi kamu. Mangkanya dia ingin bertemu denganmu!” tangan tante Linda mulai mencuil pipiku. Kali ini aku sedikit tersipu. 

“Oh iya tante, masa benar dia kerja di bengkel?” selidik rasa penasaran.

“Hehehe … Dia emang gitu anaknya. Suka sekali ngibul. Aslinya dia manager, juga mengelolah event organiser ada lagi dia ngurusi resto yang dekat kota itu loh!” 

Aku hanya mematut diri dalam cermin jendela. Pantaskah, seorang wanita yang tidak selesai kuliah bersanding dengan sosok hartawan. Sedikit terseyum, semoga ini jalan yang terbaik. Setelah gagal kuliah. 

Sepotong malam, seperti bentuk puzzle yang tak lengkap. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak. Apakah dia akan menelponku? Masihkah ada waktu untuk bertemu kembali. Desiran halus kini terasa, setiap melihat rumah yang dihuninya. Malam itu malam pertama berjumpa dan terakhir pula. Aku harus kembali pulang. 

Bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaikan bayangan merindukan pemiliknya. Setiap kali berusaha menghubungi, selalu saja sibuk. Bahkan dalam pesan singkat pun tak terbalas. Jiwa yang tak hanya haus pada sukma, rindu yang kusematkan dalam setiap do’a. Tak sampai tangan untuk merangkul impian, kutulis sebaris surat untuknya. Sebagai butir rindu yang mengapung di udara.
Teruntuk seseorang yang dinanti

Assalamualaikum….

Percikan air dari langit membuat atap rumah berisik. Ini hujan pertama di kotaku. Setelah sekian lama pengap tanpa awan yang biasanya beradu pandang denganku. Mungkin di tempatmu hujan akan lebih sering menyelimuti. Pun rasa dingin yang tak bisa dibayangkan. Bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dalam Lindungan Allah. Aku pun masih dalam tahap pemulihan. Mohon do’anya, tapi… mungkin setiap hari engkau pasti berdo’a. Ya Aku yakin! Karena setiap menangkupkan tangan aku merasa kauhadir.

Sejak hari itu–hari kita dipertemukan untuk saling bersua. Tidurku tak lagi nyenyak. Rutinitas tak seperti biasa. Makan pun terasa hambar. Terasa sepotong hatiku tertinggal di sana.

Ada rasa membuncah untuk pertama kali melihat sosokmu. Pernah terlintas sebelum hari pertemuan tentang sosok agamis, atletis, modis dan humoris. Namun, semua itu hanya dalam negeri dongengku. Bagiku engkau cukup menggemaskan, tampang yang selalu tersenyum. Hingga kerut di pelipis menenggelamkan bola mata saat engkau tertawa. Aku tak mempermasalahkan perutmu yang mirip pemeran di Teletubbies. Kulit sawo matang khas Arab. Juga hidung yang tak semancung Ranveer. 

Aku menerima dengan lapang meski kita terpaut satu dekade. Batinku .. .engkau segalanya. Aku merasa kedamaian saat waktu mempertemukan kita di tempat yang memiliki jarak. Bukan seberapa lama kita beradu pendapat. Tapi, seberapa sabar engkau mengiyakan pendapatku.

Aku suka kamu. Bukan karena sejumlah aset Abahmu, sejuta teman di komunitasmu atau sedekat engkau dengan anak kecil. Meskipun jujur aku akui engkau HEBAT. Begitu sederhana menampik kalau engkau memiliki segalanya.

Aku kadang iri, mengingat aku hanyalah gadis desa yang gagal mendapatkan impianku. Harusnya aku bisa seperti teman seperjuangan yang akan menyabet ‘title’. 

Tapi, lagi-lagi disadarkan oleh ucapanmu, tentang selembar kertas tak akan ada gunanya. Jika tak memiliki kemampuan. Saat rindu menyapa, aku ingin kauhadir walau hanya sebuah kata, “Hai!”.

Nyatanya pesanku terabai. Aku tak tahu keadaanmu. Aku harap engkau menyempatkan membaca secarik surat ini. 

Ini bukan sebuah kata-kata manis merayu. Lebih dari itu. Ini tentang ungkapan hati yang merindu. 

Hanya dengan menulis aku bisa tenangkan diri. Lebih menguasai emosi. Agar tak menjual hormat diri. 

Maafkan aku jika selama ini tak mampu mengendalikan diri. Aku selalu berpikir kau-acuh. Padahal engkau bersusah payah ‘tuk perjuangkan hidup seseorang.

“Semoga ada jodoh dan bisa bertemu di tempat yang lebih baik,” ucapan itu terus terngiang. Walau hanya dalam bentuk kalimat singkat dan padat. 

Insyaallah, jika kita ditakdirkan bertemu kembali dalam sebuah mahligai suci. Aku sangat bersyukur. Hanya soal waktu yang memisahkan jarak kita.

Aku akhiri lebih awal, karena sepanjang rel kereta pun pasti ada ujungnya. Kita saling memantaskan diri dalam menuju jenjang lebih tinggi. Aku tahu engkau sosok yang tak mungkin mendua. 

Terima kasih, telah membaca hingga akhir. Semoga kita sama-sama diberikan jalan untuk menggapai tujuan yang sama.

Akhir kata …. Sampai bertemu di tempat yang lebih indah. 

Jaga diri, jaga hati dan mantapkan kepada Ilahi. 

Wassalamu’alaikum.

Situbondo, 24 September 2016

~Sabtu, ketika hujan menyemai~
***

Suara petasan hiasi malam pergantian tahun, aku hanya mendengarkan saja. Dentuman demi dentuman meramaikan. Seolah penghuni bumi tak tidur. Sudah tiga purnama terlampaui, tak ada kabar. Pesan yang pernah kulayangkan tak terbalas. Sepi di antara hingar-bingar gemerlap malam. Menyendiri dalam kamar, pasrah dengan waktu yang terus bergulir. 

Katanya jarak bukan masalah, hanya ratusan kilometer. Komunikasi sudah canggih, tapi apa salahku? Mengapa hanya seperti pita dalam bungkus kado. Cantik tapi tak berguna, seolah komunikasi hanya sebuah riasan saja. 

Saat ulat kecil bermimpi menjadi kupu-kupu, cantik rupawan. Saat itu aku pun ingin menjadi ulat. Bisa terbang dengan hebatnya. Sebenarnya aku sendiri bingung dengan tujuan hidup. Aku menangis bukan karena tak mempunyai impian. Tetapi, impian kecilku seolah runtuh. Saat impian yang kurajut, sudah berakhir. Kuliah sudah berakhir, impian menikah pun hanya tinggal cerita. Apakah aku tak pantas untuk bahagia? 

Hasrat untuk menjadi sosok yang menginspirasi pun seakan pudar. Jika saja hatiku terbuat dari besi. Mungkin saja berkarat seiring banyaknya airmata yang merembes. Terlalu banyak lebam. Luka yang masih menganga. Impian harapan merajut cinta. Tersenyum bahagia, menari dengan malaikat kecil. Seolah gelap. Sudah pupus. 

Hal paling menyakitkan, saat mendengar Varid menikah. Terlebih kini aku memegang undangan berwarna maroon. Sebuah ukiran nama yang begitu jelas. Itu nama Varid dia memilih bersanding dengan orang lain. Wanita yang entah siapa. Sepertinya rinduku selama ini percuma. Doa-doa yang kulayangkan ke langit. Pudar bersama hujan. Harapan-harapan kecil. Pecah tanpa sisa. Sudah tak ada lagi. Hanya tetesan bening yang membentuk lingkaran kecil di atas undangan pernikahan. 

Ini kabar menyenangkan sekaligus memilukan. Kabar menyenangkan, sepasang insan yang berjumpa dalam mahligai rumah tangga. Terasa pilu pengantinnya bukan aku. Bahkan aku tak tahu alasan dia memilih orang lain. Untuk apa kita berjumpa jika ada perpisahan. 

Separuh jiwaku, seakan terlepas dari raga. Serpihan hatiku luka, saat sosok yang kumimpikan menjadi pelindung. Sudah tak ada lagi. Impian sholat berjamaah setiap sepertiga malam pun pudar. Ini takdir atau kutukan? 

Wahai yang maha membolak-balikan hati, sesungguhnya hati ini milikmu. Jiwa ini dalam lindunganmu. Aku hanya menahan bulir bening itu untuk. Tak terlepas. Sesegukan kecil sudah tak terbendung lagi. Astaugfirullah. Mungkin ini sudah garis jalanku. Aku harusnya lebih sadar diri. Aku siapa, dia siapa. Jika jodoh tak harus berakhir dengan menikah. Kuikhlaskan. Kubiarkan sembilu menancap dalam segumpal daging. Kubiarkan denyut perlahan menipis. 

Menatap langit yang terang, melihat kenari dalam sangkar. Matanya seolah berkata kepadaku. Dia sedang rindu dengan kekasihnya. Terjerembab dalam sangkar emas pun, bukan pilihannya. Kenari tak bisa menangis. Baginya diberi makan oleh empuhnya sudah cukup. Tersadar di dalam sepiku. Bahkan jodoh tak bisa disalahkan. 

  Setiap cinta yang datang pasti akan pergi. Kala cinta tak tergenggam, boleh terlepas. Cinta yang indah akan melengkapi benak yang hampa. Begitu pula dengan takdirku. Jika Varid memilih pergi, hatiku tidak bisa. Cinta itu sudah bersemayam terlalu dalam. Butuh waktu untuk menghapusnya. Perlahan cinta semakin meredup, hingga aku mengusap bulir bening. Aku harus ridha, kehidupan, kematian, rizki dan jodoh Allah yang mengatur. Ini isyarat dari-Nya. Allah cemburu kepada hamba-Nya. Maafkan hamba-Mu yang dhoif. Ingin kudekap selalu. Cinta sejati tak harus diucapkan, biarkan saja mencari cinta yang lain. Biarkan cinta bertepuk sebelah tangan. Jika cinta, dia datang bersama wali. Tidak membiarkan menunggu, seperti a

#BaiqCynthia 

Februari, 27 2017

Biodata Penulis
Nama Lengkap : Baiq Synithia Maulidia Rose Mitha

Nama Pena : Baiq Cynthia

Aku Medsos

FB : Baiq Cynthia

Twitter : @BaiqVerma

Instagram : BaiqCynthia

Blog : Baiqcynthia.wordpress.com

E-mail : Baiqcynthia@gmail.com

Iklan