Tak usah bicara tentang keadilan di birokrasi dan jajarannya, Pemerintah dan perangkatnya. Itu urusan hukum. 

http://answersafrica.com/wp-content/uploads/2015/07/shutterstock_Symbol-of-law-and-justice-1.jpg

Berbicara saja bisa kena pasal. Apalagi, hingga mencemarkan nama baik. 

Berbicara tentang suara nurani. Suara rakyat seolah hanya dengungan dalam ruang hampa.
Berbicara soal ketimpangan ‘adil’. Saya temui dalam sebuah forum. Di mana banyak tamu penting. Saya segani semua. 
Meskipun saya tak sempat berkenalan, mereka tidak asing bagi saya. Fotonya sering terpampang pada banner, maupun baliho. Saya simak setiap tutur katanya. Hingga sesi penyambutan selesai. 
Beralih pada acara inti. Saya pikir seorang lelaki yang memegang mikrofon seorang pembicara. Namun, setelah mendengar isi pembicaraan. Ia pemegang kendali forum tersebut. (Baca : moderator).
Meski terselip pesan jenaka, yang seolah menjatuhkan satu pihak. Saya tidak mengerti siapa gerangan yang dia maksud. Mengkritik secara simile.
Pembicara di depan hanya sesekali tersenyum. 

Bola mataku fokus pada mereka. Pemateri. Meski ada beberapa bagian yang keluar dari topik. Membuat seseorang harus berdiri, menghilangkan rasa kaku. Terlalu lama duduk. 
Aku hanya terus mengikuti sumber suara. Ide-ide gagasannya. Sumbang pikiran untuk membangun bangsa yang ‘berpikir’. Bukan hedonis. 

~*~
Tibalah detik-detik terakhir. Di mana pembicaraan tidak hanya satu arah. Butuh suara dari ‘audience’.
Seseorang yang ingin bertanya untuk mewakili suara kami. Aku pun yang terbiasa bertanya, urungmengeluarkan suara. Aku yakin dia lebih bisa mengeluarkan suaranya. 

Tahukah kamu? 
Seseorang yang sudah mengacungkan tangan lebih dulu justru diabaikan. Seseorang yang mengikuti acara demi acara dengan takzim. Justru tak dilihat oleh pembawa acaranya. 

Kesempatan itu dialihkan kepada mereka yang masih dalam cakupan sama. Padahal undangan tak hanya terdiri dari pelajar, ada dari media, perangkat-perangkat berpangkat, hingga aktivis dan komunitas. 
Pertanyaannya pun seolah pernyataan. “Sudah dibahas saat materi, masih ditanyakan lagi. Aku tak mengerti, dia sekolah atau enggak!”  Mendengar suara si pemandu acara berkata kecil. Tanpa mic, aku tatap kerut wajahnya. Mimiknya, hanya tertawa masam. 
Aku hanya diam, mendengarkan seorang pelajar yang menjelaskan panjang lebar. Namun intinya satu. Pertanyaan tersebut hanya sebuah pernyataan tak berbobot. Mengapa aku katakan seperti itu, 4 pemateri di podium sudah menjelaskan dengan detail. 

Mungkin saja beda pikiran beda masa penyerapan informasi. Itu hanya bisa menengahi pikiranku. 
Kembali ke inti. Seseorang yang memang ingin menyuarakan suara, sebagai wakil banyak suara. Meminta kepada seorang panitia, untuk meminta mic-nya. 
Dalam waktu sekian detik, si pemandu suara. Tergopoh-gopoh dari sudut ruangan, berusaha merebut mic. Jadilah konflik kecil selang 3 detik. 
Seperti, dua anak kecil yang merebut es krim. Ini bukan sebuah es krim yang bisa dibeli lagi. Lebih dari itu.
Pembawa acara yang bertampang jenaka kini berubah merah padam. Seolah, ada butir kebencian kepada seseorang yang sempat mengusulkan pertanyaan. 

Aku sebagai penonton aktif, yang mengikuti acara dari awal sampai akhir merasa kecewa. 

Aku tatap dalam-dalam wajahnya. Tiga baris guratan. Cengar-cengir, tertawa sendiri. Tak segan-segan, dia memotong pembicara utama. Yang mungkin dalam benaknya dia tak berpangkat seperti yang ketiga. 

Aku tak pandai meramal, tapi aku hanya melihat jiwanya yang bicara. Bahwa, hanya dia yang benar-benar bisa menentukan siapa yang berhak bertanya. Siapa yang berhak berbicara. Meski sebuah pencitraan. 

Esensi forum yang penuh ilmu, ternoda oleh satu oknum tak bertanggung jawab. Membiarkan salah seorang calon penanya, harus terabaikan. 
Saat aku mendengar orang yang dia pilih, rata-rata hanya tentang ‘aku’. Ke-akuan. Di mana revolusi mental yang dimaksud? 

Acara yang hanya memakan belanja negara, tak menggubris suara rakyat kecil. 

Hanya sebuah forum ketidak adilan sudah bisa terlihat. Bagaimana, dalam cakupan lebih besar? 

Indonesia … bisakah sepesat negeri Jepang yang meski sempat mati oleh ledakan bom atom. Jepang mampu bangkit secara mandiri. Meski keterbatasan SDA maupun SDM.
Indonesia negeri yang kaya. Bahkan 1/3 dikelilingi lautan yang penuh kekayaan mineral maupun tambang. 
Ingat perkataan Ir. Soekarno selalu Pahlawan Proklamator:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno).
Justice for All. Harapannya, munculkan rasa keadilan tanpa ketimpangan. Tanpa berat sebelah. Meski kita melihat banyak ketimpangan sosial. 

Jika satu individu saja mewujudkan keadilan. Banyak individu pun ikut berpartisipasi. Tumpaskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan muncul 10 keadilan. Begitu seterusnya.

Indonesia, sudahkan merdeka? Merdeka dari rezim yang bernama KKN, Hukum memiliki mata uang, krisis kepercayaan. 
Ayo pemuda bergerak! 

“Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia.” (Bung Karno)

Penulis : Baiq Cynthia 

Iklan