Aku bersyukur melihat dunia. Melalui perjalanan, bertemu banyak orang. Mendengar kisah mereka, melihat banyak peristiwa.
Membaca kisah pilu mereka, menerawang masa lalu mereka. Seakan aku tempat curhat paling nyaman. 
Tetapi, memori mengingatku mudah lupa. Aku tidak tahu sebutannya. Bukan amnesia. Karena saat engkau memberi kata kunci, dengan mudah ingatan itu kembali.
Aku membuka galeri, berisi gambar. Bahkan aku sendiri sudah melupakan. Aku membuka catatan yang berderet di tembok. Aku bahkan tidak ingat, kapan menulisnya. 
Siapa orang itu. Aku sudah lupa. Tapi, potongan peristiwa, demi kejadian serasa menyatu. 
Aku mungkin saja lupa nama kalian, tapi aku ingat wajahnya. Tegur aku, bila aku tak bisa memanggilmu. Barangkali kita bertemu di lain kesempatan. Namun, aku lupa. 
Aku bersyukur, bisa lupa. Kejadian menyakitkan, peristiwa memilukan, memori pahit, setidaknya tidak seperti mimpi buruk. 
Aku melihat seekor anjing yang bisa patuh kepada majikan. Hanya dengan remote chip. Aku tidak tahu siapa yang memberikan remote itu. Tahu, tahu aku memberikan lagi kepadanya.
Aku hanya bermimpi. Mungkin, aku rindu kepada semua binatang di Secret Zoo. 😢 

Tentang Kamu …

Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Alasan engkau pergi. 

Bagiku, suatu kehormatan bisa mengenal denganmu. 

Seperti guruku.

Aku pernah marah, karena engkau memilih pergi.

Tetapi, kini aku mengerti. Kepergianmu, menjadi ketentuan-Nya.
Aku yang terlalu banyak membuat dunia sendiri. Aku hanya ingin berterima kasih.
Engkau mengajarkan rasa sakit, juga penawar. 

Aku tahu, sekuat apa pun aku menarik lenganmu. Engkau juga akan kembali kepada duniamu.
Biarlah, buku itu menjadi saksi bisu. Bahwa, aku pernah membacanya dalam satu hari. Sebelum pergantian almanak.
Kini, aku kesulitan. Membaca buku lainnya. 😢
Bisakah, engkau menyingkir sejenak dalam memoriku. 
Untuk bulan ke-5 yang akan berakhir. Izinkan aku kembali membuka tumpukan buku yang masih belum dibaca. Aku rindu dengan jiwa yang haus dengan ilmu. Aku rindu dia. Bukan kamu lagi. Karena buku tentang kamu sudah ditulis Tere Liye. 
Aku hanya ingin menulis tentang dia. Wanita yang tak pernah melihat bintang. Dia yang pergi dariku.
Aku tahu, lewat Kalam-Nya. Hanya aku yang bisa merubah kondisi dia, sebelum dia semakin pergi dari dunianya. 

Membaca, sebelum mereka membakar bukumu.

Iklan