Alhamdulillah … menulis membuat tanganmu akan lincah… menari di atas kertas… Meski tak terasa kulit melepuh. 

Berkat rasa cinta. Pasti dikejar. Walau jarak yang lumayan jauh. Walau terik panas dan debu. Meski harus duduk berlama-lama di atas dua roda. 😎

Terima kasih, kak. Setidaknya bisa membunuh rasa jenuh.

Bonusnya melihat keindahan kota Santri di pagi hari dan sore hari. Melihat satu petak sawah yang disulap jadi bangunan. Entah sisa berapa lagi yang dibajak oleh petani yang baik hatinya. Melihat debur ombak di utara jalan pantura. Tambak-tambak udang.

Berharap, anak-cucuku kelak masih bisa melihat bangau yang mencari ikan kecil. Melihat sunset dibalik tirai tebu. Juga gundukan berbentuk putri tidur.

Ah! Indahnya kota mungilku. Meski banyak yang bilang kota panas dengan suhu 31°. Ada yang mengatakan kota terbelakang. Bahkan beberapa mengejek aku, “Ngapain tinggal di kota ini, bodohnya!” Kenapa gak tinggal di sana. Kan enak bisa lihat Kuta dan jalan-jalan tiap hari.

Aku hanya bilang, “Mungkin saja di sana mudah untuk mencapai apa pun dengan mudah. Seperti toko buku, akses mudah ke mana pun. Jalur Internasional. Dan hal lainnya yang tak ada di kota saya.

Tapi, apalah artinya jika saya di sana sendiri. Menatap hingar-bingar kendaraan. Berjalan seorang diri, hingga diikuti oleh anjing liar.

Life is choice. Ini pilihanku. Lagi pula, tanggung jawab masih belum selesai.

Kota Santri masih butuh pemuda yang mau membangun nama Sehat Aman Nyaman Tertib Rapi dan Indah.

Siapa lagi yang akan membangun, kalau bukan generasi muda. 

Iklan