Hal paling menyenangkan dalam dunia kata-kata. Bisa membaca banyak buku. Sekaligus menuliskannya. Tapi, terkadang perasaan dinamis seperti langkah sepatu yang bersisian. Pasang surut. Tak jarang muncul rasa bosan.

Alangkah menyenangkan I-Jakarta dan Noura Books Publishing kembali mengadakan Reading Challenge. Hastag #MembacaLuka menjadi syarat mutlak. Setelah selesai melalui berbagai syarat lainnya. 

Membaca, bukan hal mustahil dilakukan di mana pun. Termasuk dalam perjalanan. Yang notabene akan sibuk dengan bawaan yang berat. 

Bisa membaca, berkat aplikasi perpustakaan digital. Saya bisa membaca tanpa merasa berat membawa buku. Sejauh ini, aplikasi ini selalu menjadi kawan saat di luar kota. Aplikasi yang ringan, berbobot dengan banyak buku dan e-perpustaka. Cara membacanya mudah, bisa digulir ke bawah maupun ke samping, juga transisi kertas. 

Lebih kerennya, aplikasi orange ini gratis!!! Berguna bagi mereka yang memiliki kendala budget untuk membeli buku. 

Terlepas dari hal tersebut, kerja sama dengan penerbit, seperti Noura Books. Bisa menyokong koleksi buku terupdate. 

Penerbit Noura yang merupakan bagian dari PT. Mizan Republika. Benar-benar mengetahui selera pembaca. Alhasil, buku-buku terbitannya menjadi favorit tersendiri bagi pembaca seperti saya. 

                               ~*~

Blurb 

“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia adalah rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.”

Mudah dicerna, sarat makna. Itu hal pertama yang saya dapat dari tulisan Bernard Batubara. 

Buku yang berjudul “Luka dalam Bara”, tak hanya memunculkan sebuah diksi. Buku penuh ilustrasi ini mampu menguras emosi. Sebuah tulisan yang khusus. Bukan serupa puisi atau novel. Buku ini berbeda, dikemas dalam sebuah rasa baru.

Beberapa penggalan rasa cemas juga sedih. Memunculkan fragmen baru yang indah. Bisa dinikmati banyak pencinta kata. Ini semacam album diari. Berbentuk lebih fresh dan mudah dipahami.

Menggamit buku dalam bentuk aplikasi, berjumlah 108 halaman tak memeras waktu. Justru berbekas pada palung hati. Kata-katanya sederhana, penuh metafora. Seolah membekukan suasana.

Metafora Ombak, berisi tentang sebuah ombak. Hanya ombak yang mampu menghancurkan karang. Terhempas menjadi buih.

Ada makna lain bagi Bara. Ombak yang seolah dirinya. Menaklukkan cinta membutuhkan perjuangan. Tak bisa hanya sekali. Pun tak bisa datar. Karena ombak memiliki ragam. Di sana juga dijelaskan tentang seorang peselancar yang menemui ombak. Peselancar dikiaskan sebagai sang kekasih ombak. Ditutup dengan kalimat;

“Aku akan menarik, menenggelamkanmu hingga ke laut terdalam.” (Halaman 19)

Pembuka buku ini begitu manis, berupa kata-kata yang kental dengan profesi penulis. Penulis yang terkadang dipandang sebelah mata. Lewat ini, selipan pesan bahwa membaca dan menulis seperti ikatan yang mustahil dilepaskan.

Penulis kelahiran Kalimantan sangat memesona saat mengolah kisah dalam bentuk baru. Dalam buku ini, sekurang-kurangnya ada 5 pola penulisan. 

1. Narasi singkat seperti judul Rumah,

2. Narasi panjang seperti judul Sepatu yang hilang. 

3. Dalam wujud surat yang terdiri dari beberapa part.

4. Semacam dialog.

5. Kisah flash back. 

Itu opini saya sebagai pembaca, model-model baru yang dimunculkan dalam satu buku ini. Ciamik. Tanpa menghilangkan rasa, irama, diksi yang manis. Membuat saya bertahan membaca, benar-benar membuat saya terhanyut. Hanyut pada memori kelam yang saya alami. 

Sepotong hati yang sudah lama hilang terasa kembali. Memoar kilasan hitam-putih menyusup. Bagi pecinta romance seperti saya, sudah klepek-klepek

Meski berupa kisah sendiri yang dibuat seakan blocknote pribadi. Kata-kata yang diracik seakan mengunci mata untuk tetap menatap buku ini. Hingga saya tak bosan membacanya berulang kali. 

Lebih dari itu, kata pepatah lama. Tak ada gading yang tak retak. Wajar, ada hal-hal yang masih kurang. Seperti, salah satu gambar ilustrasi yang kurang sesuai dengan isi yang disuguhkan. Seperti sub bab Doa, isinya tentang harapan dan keinginan untuk selalu merekam baik dan memutar ulang segala hal yang manis yang telah terjadi. 

Mungkin saja masih sedikit nyambung, dengan gambar sepasang kekasih merayakan ulang tahun. 

Tetapi, pembaca bingung. Sebab, penulis mengatakan, “Selamat berulang tahun, rembulan pagi. Satu hari penuh doa dan harapan baik kini melayang kepadamu dan menjadi milikmu. (Halaman 11)

Hanya soal selera bagi saya. Namun, karena pembuat ilustrasi sangat pandai. Menggoreskan gambar-gambar nuansa baru.Bukan masalah yang cukup krusial. 

Di beberapa bagian, juga ada sebuah kata yang bermakna ganda. Bagi saya, jarang digunakan. ‘Menyigi’. Apakah berarti menerangi atau mencungkil. Kata setelahnya berhubungan dengan hati yang terdalam. 

Terlepas dari minim kesalahan tulisan, nyaris tak ada. Bagi penikmat senja dan kisah cinta. Terus dibanjiri kisah romantis. Tidak berlebihan. Kisahnya pun lebih berbobot. Seperti “Cerita Kecil tentang Kartu Ucapan. Tempat yang Tua dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati.”

Kisah ini penuh dengan pasak-pasak kecil yang membuat kaki tersandung, terjerembab, namun berkat pasak-pasak. Sebuah kenangan kecil terekam sempurna. 

Selain, #MembacaLuka dan membuat hati terpilin. Penulis begitu kritis. Menyelipkan kisah persahabatan yang terpecah hanya karena perbedaan aliran politik. 

Juga tentang pembangunan yang merajalela. Hingga mempersulit pengguna jalan. 

Ada satu kutipan dari buku ini yang benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali. 

“Sesuatu yang membuatku mencintai seseorang begitu lama adalah, karena garis waktu dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu terulur, cinta semakin dalam terpancang.”

Walaupun, saya baru pertama kali membaca karya beliau. Saya langsung jatuh hati. Rasanya ingin mengoleksi semuanya. Buku ini merupakan karya ke-11 yang dimiliki Bara. 

Sebenarnya, saya ingin menulis panjang lebar tentang #Membacaluka. Seperti bagiamana perasaan seorang pecinta senja. Mencintai seseorang yang memiliki perasaan yang sama. Namun tujuan yang berbeda. 

Cinta wanita senja hanya dibalas dengan cinta tak murni. Itu mengapa setiap membaca Luka dalam Bara. Rasanya ada bara yang meletup ingin mengoyak luka.

Hanya dengan mencintai luka, kita akan benar-benar paham. Tentang luka yang tak benar-benar melukai si pemilik luka. 

Penulis : Baiq Cynthia

Info buku: 

Judul : Luka Dalam Bara Non Ttd  

No. ISBN : 9786023852321

Penulis : Bernard Batubara

Penerbit: Noura Book Publising 

Tanggal terbit: Maret – 2017

Jumlah Halaman : 108

Berat Buku : 200 gr

Jenis Cover: Hard Cover

Dimensi(L x P) : 130x200mm

Kategori : Romance

Iklan