Ada pertanyaan yang lebih horor dari “kapan nikah?” 

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban. 

Tetapi, karena menghormati mereka yang memang memiliki hubungan kekerabatan. Memang butuh jawaban. Apalagi, bulan Ramadhan tidak bisa berkata dusta, walau hanya bercanda.

Satu pertanyaan ini mudah dijawab, harusnya. Tanpa membutuhkan rumus hukum newton, logika, maupun aljabar.

Pertanyaan tidak lebih dari 100 cws bahkan bisa dihitung hanya 2 kata.

Pertanyaan itu sedikit mengorek isi dalam kepala. Menguras sedikit kenangan. Meski saya tidak tersinggung atau merasa kecil hati. Hanya saja saya sulit menerjemahkannya.

Saya bukan lagi karyawan atau pramuniaga, bukan pula mahasiswa, juga bukan lagi admin konsultan proyek. Saya juga bukan lagi marketing, maupun siswa menjahit. Hal-hal yang berhubungan dengan status lainnya.

Kita akan berubah-ubah. Terkadang menjadi anak jika dalam keluarga, menjadi pekerja dalam tempat kerja, menjadi istri/suami saat menikah. Menjadi ayah/ibu saat memiliki buah hati. Dan lain-lain.

Tetapi, apakah soal status bisa membuat kita terlihat ‘tersisih’ kan?

Misalnya saja: 

Ketika status saya menjadi pekerja di sebuah perusahaan, ada beberapa costumer yang terkadang kurang menghargai saya. Menghargai di sini bukan tentang sebuah rasa tunduk, seperti yang dilakukan orang jepang jika bertemu. Membungkukkan badan. 

Nilai-nilai etika yang terkadang luntur hanya karena sebuah status. 

Belum luntur dalam memori saya, perlakuan mereka yang statusnya sosialita. Mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas.

Tetapi, saya maklumi. Mungkin sedang pms, sedang mengalami gejala darah tinggi. Lupakan masalah status terkadang membuat kita lupa diri.

Berbeda pula, saat saya bersama saudara, yang kebetulan numpang status sosialita. Begitu dihargai.

Saya jadi teringat saat saya ingin memfotokopi tugas. Di sebuah tempat fotokopian tidak jauh dari rumah Eyang saya. Karena hanya sekitar 700 meter. Saya gunakan sepeda ontel. Mengingat hampir hujan, saya bawa jas hujan mini dan menggunakan sandal jepit. Saya lebih suka pakaian yang nyaman digunakan. Lagi-lagi saya lupakan soal trend.

Sesampai di sana, ada mahasiswa yang ingin fotokopi. Terlihat dari tugasnya dia mahasiswi tetangga. Ya, mungkin sepulang dari kampusnya. Terlihat berpakaian semi formal. 

Padahal saya sudah lebih dahulu meminta bantuan tetapi tak ada respon. 

Di saat yang sama ada warga asing, dari perawakannya asal luar. Mengingat dia sedang sibuk dengan ketikan berbahasa arab. Oh iya, selain tempat foto kopi, menyediakan rental komputer. Saya pun sempat menyewa untuk mengedit tugas. 

Mahasiswa yang berbeda namun dari kampus yang sama terlihat sibuk duduk di dekat warga asing itu. 

Aku hanya berdiri menunggu si petugas foto kopi merespon.

Terdengar bisik-bisik keras sang warga asing kepada salah satu pengelola foto kopi. Sepertinya menggunakan bahasa inggris. Saya tidak begitu ikut campur, karena saya tidak dipanggil. Nanti dikira geer.

Ternyata lelaki yang sibuk dengan mesin foto kopi berhenti sejenak, bertanya kepada mahasiswa yang sibuk dengan naskahnya. Tak jauh dari tempat warga asing.

Saya hanya termangu, menanti responnya. Entah mengapa si ambivert mulai usil. 

Ikut-ikut berdiri dekat pria berwarga negara asing. Daripada bosan menunggu jawaban yang tak pasti. Saya ajak bicara. Bersusah payah mengingat kosakata arab semasa Madrasah Aliyah. Ternyata dia juga fasih berbahasa inggris.

Wah, rumah dia juga tak jauh dari komplek saya.

Entah menit ke berapa, lelaki yang tadi sibuk dengan mesin foto kopian dan lebih berfokus kepada mahasiswa yang berpakaian semi formal. Menatap kami. 

“Oh, ternyata bisa bahasa Inggris juga, ya?” katanya nyeletuk.

Aku hanya menggangguk, membiarkan dia menunggu kertas yang kupegang. 

“Mbak mana yang mau difotokopikan?” 

Selepas itu aku hanya mengeluarkan selembar uang. Yang mana masih ditanya, “ada uang kecil?”

Entahlah raut wajahnya yang sebelumnya kebas, tiba-tiba meminta maaf. Aku hanya tersenyum dan meminta plastik. Agar kertas aman dari hujan. Antisipasi, sih.

Kembali lah ke sepeda keranjang berwarna biru. Aku gayuh dengan hati senang. 😃

Mungkin, penampilan boleh saja terlihat kampungan, asal otaknya modern. 😇

*Selamat Menunaikan ibadah Puasa. 

*IniSemacamOret-oretan

Iklan