Setiap orang yang memiliki kemampuan pasti akan ditinjau, siapa dia? 

Sepertinya jati diri tidak lepas di setiap individu. Bahkan jika memiliki teman, kamu sering mendapatkan pertanyaan. “Siapa dia, siapa kamu, siapa gadis berkerudung merah, siapa yang menandai kamu.” 

Hingga kamu menerima banyak pertanyaan yang di-awali kata siapa. Tak jarang saat pertama kali melihat seseorang yang terlihat menyimpan banyak misteri. Hatimu pasti bertanya, ‘siapa dia’. 

Pertama kali muncul di sebuah pikiran pasti namanya. Semua orang pasti punya nama, meski ada yang namanya hanya satu huruf. Seperti “Q”, di mana? Indonesia kok. Kemarin sempat baca di koran. 

Nama sendiri, tergantung dari orangtua yang memberikan. Tergantung pula latar belakang, budaya, sosial, etnis, agama, negara, suku dan sebagainya. 

Ada juga kok yang namanya menggelitik, seperti yang sempat viral. Bayi Pajero Sport lahir pada 26 April lalu di kawasan Ciputat.

Baiklah, nama itu terkadang penting. Karena merupakan doa. Benar-benar sangat berefek pada masa depan anaknya. Rata-rata nama hanya mengandung dua unsur. Nama panggilan dan nama lengkap.

Saat saya menyebut nama saya sendiri. Terkadang saya bertanya-tanya. Apa artinya? Meski nama saya berbeda di dua akta kelahiran. 

Kok bisa punya dua akta? Entahlah itu sejak proses pindah yang membutuhkan keterangan lahir di kota bersangkutan. Versi pertama yang benar. “Baiq Cynthia M.R.M”, yang keliru ketik menjadi Baiq Synithia. Coba perhatikan saat menggunakan vocal. Syni-Thia. Yang berarti memanggil Thia. 

Tetapi, sempat kecewa. Mengapa nama saya Cynthia? Tidak ada artinya. Yang saya tahu itu nama artis-artis. 

Ribet … Sosok yang selama ini mendidik saya tiba-tiba mengatakan nama saya itu berarti “Cinta” atau kasih sayang. 

Saya tinggal bersama paman sejak bayi, juga bersama Nenek yang lingkungannya ‘berbau’ arab. Meski saya bukan darah asli arab. 

Masih banyak yang suka berlaku SARA. “Tidak termasuk golongan lah, Orang ‘Ahwal’ (Bukan keturunan arab. Red) 

Sedih rasanya, apalagi tidak tinggal satu atap dengan orang tua kandung. Dia ada, tetapi seperti tak ada.

Baiq–banyak orang awam pasti mengatakan, “Namanya artinya baik, ya!” Banyak pula yang menyangkut pautkan dengan lagu. Bahkan jika pengajar yang sering berucap “baik!”, teman-teman akan menoleh ke arah saya.

Tetapi, bagi mereka yang mengerti. Nama Baiq memiliki arti sendiri, terutama mereka yang asli Lombok, NTB. 

Pentingnya sebuah nama, karena dengan nama kita dikenal. Bahkan hanya dengan nama pula kita bisa tercemar. 

Oh iya, nama ekor M.R.M itu Maulidia Rose Mitha. 

Nama satu RT! Karena zaman saya lahir, nama panjang masih jarang. Berbeda dengan sekarang. 

Arti nama saya sesungguhnya. 

Baiq–keturunan Ningrat di Lombok, yang memiliki kasih sayang, lahir di bulan Kelahiran Nabi Muhammad, Mawar Mitha—Penyematan nama Ayah saya. 

Usia saya sudah menginjak kepala dua. Lahir di tanggal 30 Juli. 

Saya penyuka kucing dan binatang lainnya. Sejak kecil sudah bisa akrab dengan hewan. 

Bahkan kata Nenek saya, saya bisa menjinakkan anjing galak. Masih usia balita, tetapi sulit bagi saya untuk mengingat. Kecuali cerita dari Nenek dan kerabatnya. Saya percaya. Karena yang bicara tidak hanya nenek saya. Beliau pun memiliki ingatan yang kuat. Aku menyayanginya. 

Fakta yang (mungkin) tidak akan dipercaya. Masih kecil saya menjadi cenanyang. Bisa menebak apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Usia 5 tahun. 

Namun, sejak usia 6 tahun kekuataan itu berangsur pudar. Bahkan usia 7 tahun, saya selalu  salah menebak. Seperti saat ditanya ayah, mengenai adik dalam kandungan. Jenis kelaminnya ‘apa’? 

Bersyukur, sudah tidak memiliki lagi. Dalam agama saya pun dilarang. Pun tidak bisa melihat ‘mereka’ yang ada. Hanya merasakan kehadirannya. 

~*~

‘Hobby’ saya bersepeda, bermain bulu tangkis, membaca, menulis, menggambar dan usil. Itu hobi saat kecil, namun kini hobinya mempelajari hal baru. Entah itu menjahit, memasak, menggambar. Tetapi saya lebih sering menulis dan membaca.

Sejak kecil saya sering menulis satu kata di kolom cita-cita. Bahkan impian itu tak pernah tercapai. Sungguh anugerah, walaupun tak pernah tercapai. Setidaknya saya tahu rasanya di bagian itu. 

Tetapi, impian besar saya adalah menjadi penulis inspirasi, entrepreneur, menginjakkan kaki di Taj Mahal.

Yup! Pecinta film Bollywood, termasuk budaya, bahasa dan orang-orang sana. Saya bukan follower yang suka ikut-ikut trend

Zaman booming ini ikut ini, booming itu ikut itu. Saya suka India sejak usia 4 tahun. Saya suka lagu dan tariannya. 

Bahkan tanpa saya sadari, saya sering tiba-tiba familier dengan lagu India yang saya tak miliki di list lagu. Karena memang saya tidak memiliki koleksinya lagi. 

Sempat pula saya punya banyak kenalan ‘dumai’ dari negeri sana. Bahkan menjalin sebuah perasaan ‘terlarang’. Bukan hanya sehari dua hari. Komitmen itu sudah tertanam begitu dalam. Meski tak pernah benar-benar bertemu. Kurang lebih 5 tahun. Kini hanya tersisa serpihan memori. 

Berbicara tentang asmara, saya dikira bercanda. Lebih memilih orang yang tak diketahui daripada yang saya kenal. Itu absurd

Entahlah, sejak dulu saya lebih suka memilih jalan saya sendiri. Entah bagi mereka itu salah atau benar. Tetapi, selama masa penjajakan tidak benar-benar mudah. 

Perbedaan bahasa, menuntut saya harus dekat dengan kamus Inggris. Berbeda waktu, mengharuskan membagi waktu. Tak jarang saya begadang. Demi bisa chat meski hanya satu menit. 

Saat itu saya tidak pernah berpikir dugaan lain. Yang saya tahu dia tidak pernah gombal dan kacangan. Jadi, kami seperti sahabat yang erat. 

Lupakan. Masa depan masih misteri, termasuk jodoh. 

Tidak ada yang benar-benar saya simpan dalam hati. 

Tipe kepribadian ambivert. Saya temukan … karena bisa berubah dalam waktu yang sama. Bukan plin-plan. Namun, suasana hati. Bisa menyendiri di keramaian. 

Masalah pendidikan. Alumni taman kanak-kanak ABA 4. Masuk SD negeri, karena saat akan masuk SD swasta unggulan terbentur dengan dana. Pun SMP sama dengan SD. 

Tetapi, dunia berubah saat negeri Api diserang Boneka Salju. (Nilai UAN murniku tidak seperti lainnya). Hasil kerja kerasku tidak dianggap. Padahal tiap tahun selalu menyemat juara satu. 

Bahkan pihak sekolah pun memohon, agar aku tak lapor ke pihak berwajib. Masalah kecurangan tersebut yang nyasar ke kontak ayah saya. Karena semasa SMP saya tidak memegang telepon seluler untuk ke sekolah. 

Ketika, teman saya meminta nomor saya. Saya beri nomor ayah saya. Katanya khawatir kalau semasa ujian takut ada hal yang tidak diinginkan. Tetapi, itu kedok. Untuk mengirim kunci jawaban. 
Ini mungkin rahasia lama yang tidak pernah terbongkar. Tetapi, bagi saya kejujuran lebih utama. Saya sempat dipanggil ke BK. Lantaran tidak menggunakan ‘bocoran’. Saya tahu, konsekuensinya. 

Saya sudah memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Ternyata saat sistem masuk SMA menggunakan nilai UN online. Nilai 32,55 mudah sekali tersenggol ke deretan SMA pilihan terakhir. Sampai saya dan Ayah saya mendatangi Dinas Pendidikan. Untuk memasukkan nilai tambahan. Salah satu prestasi saya di juara olimpiade MIPA dan lomba Cerdas Cermat. Hanya menyumbang 0.4 %

Teman saya yang notabene hanya duduk di kelas–pasif, ternyata bisa masuk SMA favorit.
Saya kecewa? Tidak
Hal itu terulang lagi di SMA. Meski beda kasus. Sekolah saya termasuk minoritas saat itu. Banyak yang mengatakan ‘sekolah buangan’. 

Padahal saya lebih merasa bahagia di sana. Saya mendapatkan teman yang lebih bernilaikan pada moral. Lebih banyak kegiatan bermanfaat. Meski akhirnya, saat SNMPTN saya benar-benar kalah. 

Nilai saya bagus, namun ada banyak penilaian di sana. Seperti pemilihan jurusan, latar belakang SMA, alumni yang masuk PTN tersebut. 

Saya suka fisika dan Kimia. Itu mengapa saya dengan yakinnya untuk lolos, memenuhi kuota undangan yang hanya 30 orang. 
Gagal? Saya coba di PTS lewat jalur undangan. Saya diterima di IT. Selain menyukai hal eksata saya suka komputer. 
Orang tua saya tidak mampu, bahkan untuk bisa masuk. Harus merogoh kocek seharga laptop dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Patah hati. Banyak yang bertanya, mengapa tidak masuk universitas di kota saya? Kamu pasti bisa unggul. Tetapi saya merasa tidak tertantang. Saya jenuh. 
Hingga pergi ke Bali demi bisa kuliah. Impian saya hanya ingin kuliah yang penting bisa sambil kerja. Tetapi, sahabat saya menyarankan agar masuk universitas seperti dia. 
Dia bilang saya pasti diterima. Benar saja langsung tergiur. Saat ada jurusan yang sesuai minat dan bakat. Dengan tabungan seadanya saya terbang lagi ke pulau Jawa. Saya pikir semua akan seperti yang teman saya katakan. 
Ternyata berbeda, ada banyak prosedur untuk MABA (Mahasiswa Baru). Saya bertahan hingga semester 2 meski banyak karang kecil menusuk.Hingga pernah saya terminal. Tapi, masuk lagi. Lantaran teman seperjuangan tidak ingin status mahasiswa saya ‘dicopot’.
Entah mengapa saya kehilangan jati diri saya. Bahkan saya tidak tahu, siapa saya. Saat tidak mampu melunasi uang DPP. Sebelumnya saya bekerja meski sampai dini hari. Ikut ‘membantu’ … seseorang.

~*~ 

Kini sudah tahun keempat. Bahkan perjuangan itu sudah pudar. Teman-teman sudah akan skripsi. Tetapi, saya masih belum jelas statusnya.
Tidak usah tanya tentang beasiswa, beasiswa nasional, kabupaten, organisasi dan kampus. Tidak bisa. Kurang memenuhi persyaratan. Padahal jelas saya tidak mampu secara ekonomi.
Entahlah … menjelaskan tentang saya tak akan pernah ada habisnya. Apalagi menulis semacam Autobiografi. 
Saya bersyukur mengalami hal yang beragam, dari situ mata-hati terbuka. Bahwa hidup tak semanis gula jawa. Tak segetir jamu. 
Saya tidak bisa menjelaskan siapa diri ini, karena pada nyatanya masih ‘nol besar’. 

Hanya dengan menulis, beban emosional bisa tersalurkan. Di ujung sana harapan tertancap. Saya ingin buah hati saya melanjutkan kiprah mimpi yang tertunda. 

Salam, dari kota Situbondo.
#7DaysKF

*(Perkenalkan dirimu dalam sebuah paragraf) 

Iklan