Aku berdiri … tanpa jantung

Aku hidup … tanpa napas

Bagai tetes air, memeluk daun berduri

Bulir bening itu luruh

Memecah kesunyian

Aku memandang tetesan itu

Dia hilang ditelan tanah

Mustahil menyimpan dalam kantong daun
Pelita kasih sudah padam 

Sudah jutaan kali gelembung yang pernah bersemi, pecah.

Walau pun kelak kau memiliki (ku) 

Tapi tidak hati (ku)
Aku bukan Tania 

Yang bisa menari di atas kepiluan

Aku tak sama dengan Saru

Menyatukan air mata dalam timbunan buku

Aku adalah serpihan kerang

Terhempas di atas pasir tak bertuan
Tak mampu merangkak

Meski mengandung mutiara 
Kilaunya turut gelap 

Tapi, purnama ‘biarkan pemburu mutiara

Merenggut dari ku 
Jika aku pun dipasung dalam sepi … 
Itu Lebih baik 
Daripada aku bebas dalam hampa
Permainan kabbadi

Mengejar ombak,

Aku tak bisa.

Tertawa lepas lagi … Mustahil


Dia katupkan bibirku
Dengan topeng bernama ‘tawa’

Jika dapat melempar surat ke Langit

Akan kutulis …
“Sahabatku…”

Terlalu lama pergi

Tak muncul di sini

Sudikah, rangkul aku.

Peluk erat

Hingga deru bising tak terdengar

Aku ingin pinjam mahkotamu

Yang tersemat di sela rambutmu

Aku ingin melahap melati gading

Yang pernah disisipkan, saat tertidur

Aku ingin tidur

Dan tak terjaga 

Lagi

Keheningan Mendung, 12 Juni 2017

Iklan