Hari Ke-3

Kehilangan–sebuah rasa yang merupakan antonim dari memiliki.

Kehilangan itu bersifat relatif setiap orang. Ketika ada sesuatu yang mungkin bagi kita berharga, belum tentu bagi mereka juga berharga. 

Tetapi, hal yang berharga biasanya yang sering melekat pada kita. Ada 3 kehilangan terbesar yang sulit aku lupakan. Meskipun sudah terlupakan. 

Pertama kali saat aku ingin memiliki sebuah flash disk. Harus benar-benar memendam perasaan itu. Aku tergolong tertutup saat zaman wajah masih tirus. (*Untung sekarang ada aplikasi bikin tirus)

Hingga sebuah senja, Ayahku menemani ke sebuah konter hape. Untuk mencari FD. Zaman hape qwerty, FD 2 GB sudah cukup. Tetapi, Ayahku membelikan yang 8GB. Awalnya, saya di tawarkan yang 16 GB. Saya menolak. 
Warna merah dan ada logo yang keren. Bisa dikasih gantungan kunci. Aku menyukainya. Di FD itu bisa menyimpan hal baru.

Mulai dari tugas sekolah SMA kelas 1 hingga lulus. Aku suka sekali mengambil objek yang unik. Sejak dibelikan handphone yang memiliki kamera. Saat itu 1.3MP sudah bagus. Apalagi vendor yang terkenal. 

Objek yang sering aku ambil, mulai dari kucing peliharaan, moment gambar kadal menyendiri, bunga kamboja yang berbuah, foto pribadi, dsg.
Ternyata, setiap minggu file selalu bertambah. Tidak terbatas pada foto, tugas, juga karya kreasi dengan photoshop dan Corel, aplikasi edit video dan path, film tentang Agama, hasil subtitle sendiri, musik, animasi, dan lain-lain.
Pertama kali suka menulis itu semenjak diberi pinjaman laptop oleh teman baikku. Aku bisa menulis. Juga menyimpan di Flash Disk. Semua draft novel tersimpan rapi di dalamnya. Termasuk file penting. Yang tidak bisa didapatkan di internet. 

Video saat aku bermain peran di lomba film pendek se-Jatim yang diadakan oleh ITS Surabaya. Sekolah kami masuk kategori favorit. 

Isi flash disk itu terkumpul 10.000 foto yang dihimpun dari handphone jadul- hape adikku yang keren. 

Suatu hari teman masa SMA yang tinggal 1 kamar kos denganku meminta izin untuk pinjam FD.

Awalnya aku ragu, karena dia suka lupa dengan barangnya sendiri. FD miliknya pun suka sekali hilang. Tetapi, dia sudah baik kepadaku. Menampung di tempatnya.

Aku berikan tanpa, ba-bi-bu. Ketika ditanya sudah selesai? Jawaban astaga, tertinggal di gedung PKM-nya. Begitu terus hingga FD ditemukan oleh orang lain. 

Ternyata setelah seminggu terlewatkan, FD itu dinyatakan hilang dari radar. Aku meminta lelaki itu mencarinya. Karena isinya penting! Aku gak bisa menjamin bagaimana jika semua dokumen disalahgunakan. :’) 

Karena moment itu bertepatan dengan Ramadhan akhir, detik-detik mudik. Dia tak mau ribet. Mengganti FD aku. Herannya dia memberikan FD yang berbeda dengan kapasitasnya sama. 
Padahal zaman saya beli hampir 90 ribu diganti dengan FD 45 ribuan. Syedih bukan main. Benar saja FD baru itu mudah terinfeksi virus. Berapa kali saya format data. 

Saya tidak menyukainya. Bahkan saya biarkan orang-orang mau pinjam FD tersebut. Lagi-lagi FD yang saya punya dipinjam orang lagi. Kembali–hilang. 
Memang harganya tidak seberapa, tetapi isinya yang sangat berharga. Foto yang sengaja dikoleksi, dari hari ke hari. Perjalanan hidup saya di pulau Dewata. 

Tak ada lagi. 

Yang kedua saya kehilangan handphone beserta kartunya, termasuk kartu memori. 

Saya suka sekali meminta hasil foto dan menggunakan memori card supaya aman. Tidak bisa dipinjam. 

Ternyata kalau sudah apes itu gak bisa mengelak. Tas saya digondol sama 2 orang yang Jahat. Semua isi tas ditarik dengan entengnya. Padahal yang ditarik bukan sekedar bunga di pagar rumah orang. 

Awalnya aku merasa tidak kehilangan, detik berikutnya sadar. Ada buku pinjaman milik perpustakaan Kampus. Mati! Ada dompet yang berisi kartu Identitas diri, KTM, ATM, surat-surat dispensasi, foto sahabat, surat perjanjian, antingku yang tinggal satu. 

Juga handphone pemberian seseorang. Di sana ada banyak kontak penting yang tidak memiliki salinan. Bahkan saya tidak hafal nomor keluarga di rumah. 

Menangis sejadi-jadinya. Meski jalanan ramai pada malam itu. Tidak, masih jam 18.15. 
Hanya karena kehilangan dalam satu detik. Ribuan detik harus dikorbankan. Meminta pemblokiran ATM lama. Membuat baru, dengan menunggu KTP baru. Semuanya menjadi rumit. Di mana tinggal di kota orang. Jadi, mau tak mau semua diurusi seorang diri. 

Repotnya jadi Maba sendirian ke barat ke timur. Hingga dimarahi habis-habisan, oleh orangtua pengasuh.

Oh iya, walaupun Sim card telepon itu bisa diperbaiki, nyatanya kontak akan kosong melompong. 

Terakhir, kehilangan yang paling besar yaitu kehilangan momentum bersama. Teknologi menggeser semuanya. Membuat yang jauh menjadi dekat yang biasanya dekat menjadi renggang. 
Dulu, masih hanya handphone biasa. Sering nelp hingga berjam-jam dengan adikku. Apalagi kalau gratis bicara hingga dower.
Sekarang era medsos, setiap ditanya pasti jawabnya singkat. Setiap diajakin VC pasti sibuk. Tetapi US (Update status.red) terus tiap menit. -_-
Akhirnya, biar lengkap kehilanganku. Aku hilangkan akun medsos milikku! 
Karena sejatinya, hanya dengan menghilang kita akan dicari. Meskipun saat-saat ‘genting’ saja. 

Hikmah kehilangan … kita menyadari, bahwa tidak ada yang benar-benar murni kita miliki. Bahkan jiwa kita sendiri–Milik-Nya.

By: Baiq Cynthia

Iklan