Hari ke-4.

Peristiwa yang kita alami terkadang penuh rasa. Memilukan, menyedihkan, membuat kita tertawa hingga merasa malu. Perasaan itu biasanya lebih lama mengendap dalam pikiran. Butuh umpan untuk mengembalikan ingatan lama. 

Hal pertama yang memalukan, saat semasa menjadi ketua tingkat di semester 2. Tugas kating (ketua tingkat.red) mengambil dan mengembalikan kunci kelas di ruang TU. 

Sore itu, setelah kelas selesai. Aku pun bergegas naik satu tingkat dari lantai 5 ke lantai 6. Saat mengembalikan kunci. Aku mendengar petugas pemberi kunci berteriak, “Pak! Kuncinya sudah ada,” jawabnya setengah teriak. 

Aku tidak menghiraukan. Karena hari itu benar-benar letih. Saat aku kembali. Aku bersisian dengannya. Wajahnya seperti mahasiswa senior. 

Dia : “Hei! Fakultas apa?” teriaknya dari belakang.

Aku : *Kaget dan berhenti sebelum turun tangganya. OMG mimpi apa bisa dipanggil si dia … Sedikit tergugu, dengan sikapnya yang humbe. “Iyaaa, Jurusan ilmu Komunikasi, Kak.” 

Dia : “Oh, iya satu fakultas,” jawabnya sedikit tergopoh ikutan turun tangga.” 

Aku : “Kakak sendiri jurusan, apa?” 

Dia : *Tersenyum dibalik mata yang teduh. “Hubungan Internasional!” 

Aku: “Saya duluan ya, Kak.” Aku langsung bergegas menuju lift. Sedangkan dia menuju ruangan yang aku tempati sebelumnya. Tepat di depan Lift.

*Seperti ada kilat di depan wajah.

Setelah aku ingat-ingat. Petugas tadi memanggil dia dengan sebutan Bapak!

Buru-buru aku pulang ke Kos menanyakan, nama pengajar yang sering teman kosku ceritakan. 

“Nama dia Pak Hafid!” 

“Kyaaaaa …. Benar dong!”

Saat itu aku ingin teriak…. Apa? Panggil dosen dengan sebutan “Kak!”

~*~*~
Episode ke-2

Saat itu sedang ada di kawasan camping. Di mana lokasi kemah kami jauh dengan toilet. Anehnya setelah acara api unggun berakhir. Aku kebelet pipis. Jam sudah menuju pukul 24.00 Malam itu sudah benar-benar gelap. Kecuali lampu senter yang muncul dari handphone kecilku. Api unggun sudah redup. Jarak lokasi ke tempat mandi sekitar 300 meter. Sialnya, semua teman cewek gak ada yang mau nemani ke kamar mandi. Alasannya udah capek. 

*ka*pret setiap mereka butuh temani, aku selalu ada. Kyaaaaa… Sabar-sabar…
Kujalani jalan setapak. Demi setapak. Dengan lampu senter hape jadul yang punya tombol 10 biji kalau gak salah. Kalau salah, ya udah hitung sendiri. 

Suasana benar-benar mencekam. Ada suara air di sekolan. Gemirisik angin dengan bebatuan. Setelah sedikit kepayahan 20 menit aku sampai di lokasi. Tetapi, kenapa penuh dengan orang kemah? Dimana toilet? 

X : “Mbak! Tengah malam mau ke mana?” 

Aku : *Melihat pertanyaan diajukan kepadaku, jalanku terhenti. “Eh … Ke toilet, Mas!” Sepertinya dia salah satu dari bagian camping yang lain. 

X : “Lewat sini mbak, bukan sana!” 

*Deggg! Wong tadi pagi aku hafal, bisa lewat sini. Bisa salah! 

Aku : “Eh, iya mas! Makasih.” 

*Wajahnya tertutup silaunya cahaya. Acara mereka sepertinya belum selesai. Aku abaikan banyak tatapan mata. 

X : “Sama-sama.” 

15 menit kemudian. 

X : “Mbak! Mau ke mana lagi?”

Aku : *Ihhh sudah gak kenal, suka urusin hidup orang. “Balik ke bumi perkemahan saya, Mas!” 

X : “Loh kok menuju luar gapura?” 

*Eng in eng. Rasanya ada soundtrack lagu ini,

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu. Butiran … es oyen. 
Ndak jelas. Seng penting aku malu. Lagi-lagi banyak mata mengekori langkahku. 
Penulis : Baiq Cynthia

Iklan