Aku suka, aku suka. Ini bagian terakhir sekaligus paling mem-baperin. Wkwkwk. Tantangan #7DaysKF ini, sungguh berkesan. Bisa lebih membantu penulis #MalasRapuhpayah kayak saya. Juga bikin terteror dengan pertanyaannya. Hingga terkadang harus mencari ide. Bikin galau juga, kalau tiba-tiba paket internet habis. Bisa-bisa galau seharian. 

Eits malah curcol. Ya udah kini kupersembahkan bagian terakhir. 

Surat Untuk Masa Depan 

Hai … Baiq! Kamu pasti sudah berubah ya … tekstur wajahmu lebih keibu-ibu an. Lebih manis lagi. Masih ingat sama Baiq yang dulu? Kekanak-kanakan dan terkadang menangis untuk hal yang tidak jelas. 

Mungkin saat ini kamu sudah memiliki buah hati. Berapa? Tiga … Empat atau kesebelasan sepak bola? Kurasa hanya dua. Program pemerintah. Miris ya! Nasib penduduk kamu di masa depan semakin banyak. Semakin sedikit lahan. Semakin sempit. Sesak banget. Polusi udara semakin banyak ya? Duh! Air sungai bukan tercemar lagi. Mirip kolam sampah? Astaga … terus-terus bagaimana dengan laut? Apakah masih sama? 

Ketakutan terbesarku air krisis. Semua harga pangan melonjak. Kriminalitas meningkat. Kaum hedon dan sosialita bertebaran.

Selamat datang di abad milineum. Yang serba canggih. Namun minim interaksi. Sekarang saja, zamanku pengguna gadget seperti tidak kenal tetangganya. Yang jalan menyapa pun terkadang diabaikan. Oh, iya aku membawa selembar ini. Bacalah dan renungkan. 

Suatu saat kamu akan merindukan jalan setapak sawah, yang keberadaannya susah hampir tiada. 
Hai! Masih ingatkah dengan impianmu? Kini telah kau wujudkan berkat bekal usaha, tekad kuat dan doa-doa mereka. 

Mungkin mereka kini, berangkat lebih dahulu. Meninggalkanmu sendirian. Berjuang dengan dunia yang pelik. 

Hai! Dulu kamu sering bermimpi sebuah pernikahan yang harmonis dan indah. Kini kamu temukan keteduhan itu.

Pun kamu akan tersenyum, saat membaca komentar pembaca setiamu. Buku hasil tulisanmu, benar-benar berdiri di deretan rak buku—tempat biasa kamu belanja buku. Selamat ya!

Perjuangan berdarah-darahmu belum berakhir. Bagaimana dengan impianmu yang ingin menjadi designer? Apakah terwujud. Semoga benar-benar seperti target masa mudamu. 

Aku turut bahagia di sini. Tetapi, jangan pernah lupakan aku. Yang membuatmu bisa berdiri di antara tepuk tangan.

Sahabat-sahabatmu, Gurumu. Mereka selalu menemani setiap langkahmu. Terutama orangtuamu dan Umi’. Sosok ringkih yang selalu medoakan cucunya. 

Berikan apresiasi yang terbaik untuk mereka. Kalaupun saat ini, kamu telah berpisah. Entah karena jarak atau dimensi waktu yang berbeda. 

Tolong, hapus airmata-mu dulu. Aku tidak suka kamu menjadi rapuh begitu. 

Oh iya, siapa nama anakmu? Barangkali sudah memiliki cucu? Turut bahagia. 

Jangan lupa, ceritakan kepada mereka. Bahwa kamu pernah berjuang menulis. Salah satunya mengikuti event yang diadakan Kampus Fiksi bersama Basabasi. Meski di tengah banyak tuntutan deadline

Seperti menulis laporan hingga engkau lupa merasakan tidur pulas. Tetapi, hari ini pula. Kamu menebusnya. Ya! Kamu tidur dengan pulas. Hingga terbangun dari mimpi buruk.

Surat ini aku tulis di bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah di sepuluh hari terakhir juga. Meski sekarang aku tidak memikirkan pakaian apa yang akan dipakai untuk lebaran. Hiks

Mungkin kamu yang di masa depan tidak repot untuk hal itu. Kamu sudah memiliki karir yang cemerlang. Mampu memiliki yang pernah diimpikan. Seperti sekarang yang ingin sekali memiliki sebuah laptop. Ingin sekali lagi mendapatkan kesempatan kuliah lagi. Maafkan aku yang dulu. Yang terlalu angkuh. Egois dan ingin menang sendiri. 
Tolong hapus sifat itu ya, pun aku ingatkan. Jangan karena materi kamu menjadi pongah. Lupa diri. Jangan!

Selalu dekap dengan kuat, membaca Al-Quran. Seperti yang sering dilakukan Nenekmu. Kau tahu, hatiku teriris. 
Bahkan aku belum mampu membelikan musyaf terbaru untuknya. Sungguh buku yang bisa dia baca, terpenggal menjadi beberapa bagian. Hingga sering jatuh. Dalam benakmu saat itu hanya memikirkan buka puasa bersama. 
Aku tidak tahu, pesan apa yang harus aku sampaikan lagi. Mungkin masa lalumu tak seindah temanmu. Tetapi, justru kamu mendapatkan porsi tangguh lebih besar. 

Baiklah, meski mama dan ayahmu tetap sama seperti yang dulu. Tetap hormati ya. Tanpa mereka, kamu tak akan pernah melihat dunia yang istimewa.
Kurasakan, diriku mulai menipis. Waktunya kembali ke dimensi asalku. Jangan pernah menyerah. Aku tahu hidup selalu tak pernah sama dengan rencana kita. 

Kita hanya pandai berencana, Allah tetap yang Menentukan. Tetap teguh pada pendirianmu. Jangan terlalu banyak mendengarkan bisikan murahan. Istiqomah di jalan kebaikan dan nikmati masa depanmu yang (pernah) kamu impikan. 
Salam dari Masa Lalu, 17 Juni 2017

Baiq Cynthia

Masih di tempat mungil, kota Situbondo.

#HariKetujuh

#7DaysKF

Iklan