Aku tidak tahu, bagaimana cara menjelaskan seseorang yang kena asma. Mungkin kalian yang pernah mengalaminya, pasti mengerti. 

Pertama kali divonis sesak nafas (asma) semenjak SD kelas 3. Masih ingat dibenak. Saya merasa sulit bernapas, semakin berusaha bernapas semakin sesak. 

Hampir setiap bulan asma itu kambuh. Bahkan harus istirahat total hingga 4 hari. Saya masih ingat betul. Obat sirup berwarna merah bergambar paru-paru, lupa namanya. Yang jelas setelah minum sirup, juga resep obat dokter langganan saya. Penyakit itu berangsur sembuh.

Sudah berkali-kali rujuk ke macam-macam dokter pun. Tak pernah bisa sembuh. Saya bertanya, mengapa saya punya penyakit asma? Sementara adik-adik saya tidak. 

Gen orang tua, bisa jadi alergen. Alergen semacam pemicu asma. Seperti debu, makanan, minuman, asap rokok, dsg. 

Bertahun-tahun saya pelajari penyakit yang menjangkiti tubuh ini, juga teman saya yang sudah lebih dulu terbang ke Syurga karena komplikasi.

Asma–penyempitan saluran pernafasan. Penyakit ini tidak menular, hanya menurun. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang menurunkan gen itu. Gejala awal biasanya flu ringan, hingga flu berat dan batuk kering. Jika sudah masuk tahap terakhir. Pada malam hari mulai batuk rejan, memicu fluks lambung. Sehingga merasa mual. Kepala akan berat. Tetapi, sulit untuk tidur berbaring. Saya sudah sering tidur duduk. Hanya dengan begitu, membantu bernapas lega. 

SMP semakin akut. Setiap hari menggunakan inhaler, juga membawa obat yang meredakan sesak. Biasanya disemprot di dalam mulut. Bahkan oxigen, sewaktu-waktu udara kotor. 

Sebisa mungkin menghindari makanan yang memang memicu penyakit itu. Sejenis kacang goreng, makanan berminyak, durian, makanan santan, es teh, udara terlalu panas–terlalu dingin, polusi udara, asap rokok, ruangan berdebu, pola pikir berat.

Lingkungan yang tidak kondusif, beberapa kejadian yang membuat trauma mudah sekali membuat penderita asma down, berujung sesak.

Saya merasa asma berkurang semenjak masuk SMA. Mungkin karena teman-teman yang begitu mendukung, tugas pun sudah ringan. Paling-paling sakit hanya 2 hari, dan saya cenderung memaksakan diri untuk masuk. Tetapi, puncaknya saat UN. Terpaksa mengerjakan soal lebih cepat. Saya sakit, tapi dipaksakan untuk ikut. Baru pertama kali ke UKS dan tiada yang menemani.

Beberapa orang yang dekat kadang jengkel, penyakit itu dibilang “Manja”. Gak boleh ini, gak boleh itu. Memang demikianlah.

Saya berjuang mati-matian agar tidak sesak saat bekerja di Bali. Jadwal padat, dan semua dikerjakan sendiri. Termasuk pergi ke kursus english harus menempuh perjalanan 1 jam dengan kaki. Alhamdulillah, Allah selalu melindungi.

Saat saya benar-benar sakit bulan maret 2015. Saya merasakan rindu kota lahir. Hanya umi yang mengerti kondisi saya. Yang ada saya mendapatkan omelan tinggal bersamanya, juga menyiksa. Itu mengapa, saya tidak tahan di Bali. 

Meski demikian, membersihkan sepatu dan tas menjadi ‘santapan’ tiap hari. Saya bersyukur tidak asma. Padahal debu sudah pasti banyak, ditambah asap kendaraan dari luar.

Saya pergi ke Malang. Udara di sana sangat dingin. Tak jarang sering bersin-bersin sendiri. Tetapi, tidak sampai asma. Karena saya benar-benar berusaha menjaga diri. Agar bersin hilang–supaya batuk tidak terjadi. Tetapi, saya mendapatkan guncangan diri. Masalah dana kuliah. Saya bingung, orangtua sendiri sudah angkat tangan. Semester 1 tidak bisa kerja. Hampir 7 hari selalu masuk kuliah. Ada tambahan ESP dan AIK.

Beruntung ada orangtua angkat yang baik. Selalu menganggap saya seperti anaknya sendiri. Pernah tengah malam masuk UGD. Pemicunya stress.

Akhirnya saya tahu, pemicu asma saya bukan makanan, debu, atau lainnya. Lebih tepatnya stress.

Saya pernah tinggal di Batu, Malang. Meski awal-awalnya bakalan bersin2 karena cuaca benar-benar ekstrim. Gimana tidak, perjalanan Situbondo-Malang-Madiun-Batu itu tanpa jeda. Tetapi, Alhamdulillah tidak asma. Hanya flu. 

Balik ke kota tempat tinggal, saya malah divonis radang usus dan lambung luka. Mungkin salah makan, atau terlambat makan.

Jadilah sekarang penyakitnya dua. Asma dan luka lambung.

Entahlah, semakin menjelaskan hanya membuat saya sakit. Saya hanya butuh pikiran yang tenang. Bahagia dan hanya itu.

Saya tidak bisa menjelaskan detail yang pasti. Setiap berbicara pasti ingin muntah, setiap berjalan ingin roboh. Setiap bernapas, perasaan ingin mati.

Saya tidak boleh menangis, hanya itu pemicu asma. Sekali saya menangis dengan kenceng. Maka saya flu, saat flu berubah jadi batuk maka tidak akan pernah berhenti batuk dengan meludah. Terasa gatal tenggorokan, kepala berat saat ingin muntah.

Saat asma pun, makanan jarang bisa masuk. Tidak bisa makan makanan berminyak, pedas, asam, santan, kacang seperti sate, termasuk tempe goreng, telur goreng itu gak boleh.

Akhirnya saya hanya bisa makan bakso, telur rebus, kuah bening, dan hanya itu. Coklat pun tidak diperkenankan.

Saya tidak menyesal, karena ritme asma memang tidak bisa diramalkan. Terakhir sakit asma 2016 saya lupa bulan ke berapa.

Bersyukur, setidaknya asma tidak datang tiap hari. Hanya datang saat mengalami 2 hal itu, flu dan batuk berat. Tetapi, obat batuk maupun permen pelega tenggorokan tidak cocok. Hanya memperparah. Sudah pernah saya coba.

Masih ingat dalam benak, kadang saya tidur di bawa pohon untuk mencari udara. Juga pernah saat malam, duduk di teras rumah demi mencari angin. Tak jarang saya suka sekali ikut Babe ke mesin ATM untuk sekedar menghirup AC. Memang aneh.

Normalnya asma tidak bisa panas dan dingin. Tetapi pernah di awal januari tidak menggunakan jas hujan Situbondo-Jember, Jember-Situbondo. Juga saat itu tidak sempat mampir ke saudara. Jadilah basah kuyup berjam-jam. :’) Alhamdulillah tidak asma.

Saya putuskan, alergen saya hanya satu. Pikiran berat. Tidak bisa menanggung banyak pikiran. Ambivert tidak suka bercerita apa yang ada dipikirannya.

Bahkan saya yang sering bersin gara-gara bulu kucing. Ternyata pun (Bisa) tidak asma.

Intinya saya hanya butuh hiburan saat sakit. Entahlah …. Penyakit aneh….

Pernah dirujuk ke rumah sakit yang bagus di Jember, tidak bisa mendeteksi penyakit asma yang saya alami. Karena saat itu, memang dalam kondisi tidak sakit. Saya pikir bisa di test alergen. Tetapi, obatnya mirip biji salak. :v 

*Efek pertanyaan kapan nikah(?), kapan kuliah(?) kapan kerja (?) bisa memicu asma. >_<

#Syafakillah

Iklan