Menjaga stabilitas perasaan itu penting. Seperti menjaga denyut jantung untuk tetap stabil. 

Pentingnya, saat merasa hal yang memang diimpikan, tapi belum waktunya. Entah butuh legalitas, belum terpenuhi syaratnya. Bersiaplah lapang dada.

 

Segalanya butuh rasa ikhlas, sabar, komitmen. Tanpa tiga komponen itu, hatimu mudah remuk saat gagal. Mudah berambisi saat ada kesempatan. Mudah sekali jatuh saat mudah mendaki.

Bagaimana mungkin aku tersenyum dalam kepura-puraan. Sementara aku tahu, itu melewati areaku. 
Lebih baik diam. Anggap saja aku tak pernah hadir. Engkau pun tak akan mengerti keinginganku.
Ada cara yang lebih baik. Selain bercengkrama dalam larangan. Percayalah, kelak Allah yang memberikan rute yang terbaik bukan yang tercepat. 
Let’s flow like a breathe.

Cinta bukan hanya sesaat, cinta perlu dipupuk, disemai dan disiram. Cinta bukan perkara dua insan. Tetapi dua keluarga. 
Andai saja aku menerima, mungkin sakit yang akan kutimbulkan. Hati ini masih terkunci rapat. Sudah kukatakan, aku tak butuh perasaan secepat kilat.

Aku hanya butuh, pendamlah gejolak cinta. Cinta hanya membunuhmu. Merusak jaringan otak. Meniti jalan yang tak benar. Saat cinta yang kau-torehkan hanya berujung pada larangan.
Cinta sejati ditemukan, di sebuah dimensi rindu yang kadang hanya berupa balutan doa.
Selamat Malam 

Iklan