Terkadang kita begitu mudah mengatakan, “Aku tidak papa”. Daripada mengatakan yang sebenarnya. Mulut bisa sekali mengelak. Tapi, hati tidak. 

Perwujudan hati yang berselimut pada rongga dada, bisa terlihat dari mimik. Mudah saja wajah berkamuflase dengan sebuah senyuman. Tertawa dengan keras. 

Nyatanya, setiap hati pernah merasakan kecewa. Kecewa karena pengharapan terlalu tinggi. Kecewa yang terlanjur tertanam sejak lama. Pun oleh cita-cita yang kandas sebelum terbang. 

Seperti hati manusia yang berubah-ubah. Layaknya cuaca di langit. Sekarang mungkin mendung, entah esok cerah, atau gerimis. Bahkan gujan maupun badai. Tak bisa diketahui. Hanya saja, prediksi manusia melalui gejala alam. 

Hati yang luka berkali-kali tak lantas membuat pemiliknya lemah, tak selamanya begitu. Lihatlah, besi yang terus menerus mendapat bara api. Terus ditempah oleh kobaran panas. Terus ditindih oleh kekerasan. Bisa menghasilkan keris yang indah. Juga tajam. 
Seperti itu, barang kali. 
Hati menjadi lebih peka, merasakan. Hati menjadi lebih tangguh menghadapi hal remeh. Hanya dengan luka dalam hati, bisa membungkus kekebalan. Seolah ada tameng yang melindungi.
Itu sebuah filosofi hati. Yang entah dari mana hinggap pada pemilik ranting hati yang patah. 

Ada banyak drama yang mudah diperankan oleh aktor. Tetapi, tak bisa mempermainkan hati. Hanya Tuhan yang maha membolak-balikkan hati. 
Percayalah, saat musim gugur menghempas daun maple di atas gundukan tanah yang gamang. Akan tiba saatnya musim semi menyemai, daun-daun mungil di antara ranting yang pernah patah. 
Kita yang pernah terluka, masih memiliki kesempatan untuk bahagia. Hanya satu penyembuhan hati, melepaskan benalu yang mengikat hati. Mengosongkan rasa rendah diri. Mengingat Sang Pemilik hati. Berdekatan dengan-Nya. Curahkan semua tepian gerigi bimbang, keluh kesah yang tak beujung. Tentang impian yang terpendam.
Curahanmu akan didengar dan pasti dijawab. Pemilik hati akan selalu menjaga, mengilhami. Memberikan benih-benih RahmatNya.

Karena hati adalah lentera hidupmu.

Salam dari teratai yang merindukan kupu-kupu.

Situbondo, 12 Juli 2017

Iklan