Masih ingat info lomba cerpen eksperimental? Yang diadakan oleh penerbit Basa-Basi. Hadiahnya 7 Juta. Gila kan? Beh, gila juga bikinnya.


Berhubungan dengan deadline masih panjang. Siap-siap amunisi, buat nulis. Awalnya aku menulis 3 lembar kemarin. Selesai. Eh, pas baca ada sayembara cerpen, yang diadakan Wahyu Qolbu. Ngeri … n_n 

Sudah lama gak nulis. Kebanyakan nulis status, begitu akibatnya. Hari gini masih suka nulis status nggak jelas, habis-habisin kuota yang ada. Gak ada manfaatnya. 

Eh, aku ngomong sama cermin ya! Udah aku nulis 7 lembar tuh. Gak bisa tola-tole. Matikan paket data yang pertama. Karena emang lagi nulis di hape. Abal-abal lagi. Bersyukur punya hape bisa diandalkan. Aku sih ngarepnya laptop. Bisa 10 jari. 

Mau gimana lagi, udah koar-koar di status BBM, FB, di grup jual beli online, pantengi berjam-jam status orang yang jualan PC/Laptop. Gak ada! Ya gak kira ada, bahkan ada tapi kondisi udah memprihatinkan. 

Aku nyari yang 900 an :v Emang duit aku masih segitu. Maklum, masih proses jadi miliyader. Berakit-rakit ke hulu. Lanjutkan sendiri.

Kemudian 3×60 menit, saya mencoba saja. Menulis, meski tempat pindah-pindah. Karena kram. Mata sedikit sakit lihat hape terus. Nikmati deh. Kalau biasanya 10 jari, aku ngetuk hape dengan 11 jari. Jempol kanan dan kiri. Wkwkw
Akhirnya selesai masa menulisnya. Kemudian, aku endapkan. Ternyata pas dibaca lagi. Banyak typo, berwarna-warni. Ada juga yang gak nyambung. 

Karena punya rekan yang baik hati dan gak sombong, aku minta tolong untuk bedah cerpen aku. Teng teng teng …. 

Ternyata lebih mirip sinopsis novel. Jleb. Tapi, aku bersyukur. Aku jadi tahu kelemahan saat menulis cerpen. Memang sebelumnya lebih suka menulis novel. Ah … payah. Novelnya suka nyangkut di mana-mana. 

Lupakan tentang novel yang gak rampung. Setelah bincang-bincang lewat chat sama Mas Sufi, hayo siapa yang gak kenal. Penulis produktif asal Situbondo itu. Bukunya udah macem-macem. Untuk lebih lengkapnya browsing saja. 

Aku hanya ingin menuliskan ulang, cerpen itu apa sih. 

Gusti Trisno : 

Cerpen adalah cerita pendek. Ukuran pendeknya berapa kata bagi Indonesia belum ada kesepakatan para ahli. Namun, Brooks dalam bukunya Tarigan berjudul Prinsip-prinsip Sastra mengatakan ada 2 versi cerpen. Yakni short short story dan long short story. Short story itu sampai 5000 kata. Kalau long short story itu maksimal 10.000 kata. Di Indonesia kita umumnya cerpennya masuk kategori Short short story. Hal ini merupakan pengaruh dari pembatasan yang dilakukan media massa.
Saya tulis ulang apa yang menjadi pokok bahasan cerpen. Oleh Ahmad Sufiatur Rahman.

Cerpen hanya memiliki 1 kejadian, dimana tokoh yang bersangkutan mengalami hal ‘berkesan’.
Sedangkan yang ditulis baiq, lebih mengarah pada sinopsis novel. 
Beberapa bagiannya, bisa dikembangkan menjadi novel. 
Dalam menulis cerpen, baiq harus bisa mendetailkan adegan, membangun suasana/ atmosfer.
Singkat cerita cerpen hanya cerita pendek yang bisa dibaca sekali duduk. Jadi, kesimpulannya.
Harus lebih mendetail dalam membahas satu ide cerita.

Yang baiq tadi tulis, 7 lembar. Ternyata ada 4 sub bab yang bisa menjadi cerpen lagi.

Indahnya beruwet-ruwet.

Tapi, Baiq kadang sering bingung. Kok rasanya 3 tahun silam lebih mudah bikin cerpen, daripada novel. 
Ah … embuh. Yang jelas Deadline semakin mendekat. Mari tertawa 😀 

Salam gila. :v 

Iklan