Cinta dalam diam. Tak semudah memegang belati tanpa tangan. Emang bisa? Bisa. Saat kakimu masih mampu bergerak. Beralih fungsi sebagai tangan. 
Pertama kakimu pasti merasa bergesekan dengan lancipnya ujung belati. Aku tak mampu membayangkan. Hanya orang spesial yang bisa mengendalikan dengan tapak kakinya. 

Abaikan. Dia pasti bisa. Sejak kecil sudah terbiasa menggunakan kaki. Kaki menjadi tangannya. Dia masih mampu bertahan.
Tapi, cinta dalam diam. Menyembunyikan rasa itu. Seperti memegang belati dengan mulut. Karena kaki dan tangan tak ada.
Jika bukan bibir yang mengelupas. Maka belati yang akan menancap pada pangkal lidahmu. 

Rumit. 

Memang hanya segelintir yang tak memiliki tangan dan kaki. Tapi… bukan berarti dia tak mampu menjalani hidup ini. Bahkan saat motivasi hidupnya tinggi, belati tak mampu mengoyak dirinya. Justeru dirinya yang mampu mengendalikan belati. Mengendalikan banyak otak manusia.

Aku pernah membaca tulisannya. Sangat menginspirasi. Mungkin kamu tahu, siapa dia. Nick Vujicic, penulis dan motivator handal tanpa tangan dan kaki.

Cinta dalam diam, bisu mengungkapkan. Cinta tak punya tangan dan kaki. Hanya perasaan yang bertaut dalam senyap. Lalu, doa-doa yang dirapalkan setiap detik pun. Menjadi tak berarti. Dia yang kau-sebut dalam diam, memilih pergi dengan yang lain. 

Padahal dia dahulu pernah berjanji, untuk menjemput diri. Membebaskan dari belenggu sepi. Nyatanya hatinya menyimpan belati yang dilepaskan hari ini. 

Aku sudah berupaya keras, menjaga hati itu. Tak membiarkan orang lain menjamah hatiku. Bahkan aku menghilangkan kesempatan menjadi seorang ratu sehari. Demi menebus janjimu. Janji dan sumpah pada Ilahi. Hatiku pecah. Kamu memeluk perempuan itu, di bawah hujan. 

Aku hanya bisa diam. Karena rasa itu belum pernah kukatakan. Aku hanya diam saat kamu mengatakan akan mengajakku ke istanamu. Aku tak berkata iya atau menolak.

Kini baru kusadari, hati yang sakit bisa cepat pulih. Seperti luka sayatan belati. Bahkan hilang tak berbekas. Pergilah, sejauh kau mampu. Bersama pujaan hatimu. Aku tak bersedih. Aku tak akan sudi, menerimamu lagi.

Mengunci hati dengan gembok yang kuat. Ditambah rantai besi. Menjadi pilihanku sekarang. Aku hanya ingin berserah diri. Kepada-Nya. Aku yakin azzam-Nya lebih tepat. 

“SETIAP HATI YANG LUKA OLEH BELATI, TAK AKAN PERNAH TERASA PERIH. JIKA, MENCINTAI ALLAH.” 

Aku putuskan, dalam tulisan ini. Tak akan menanti. Tak akan memberi kesempatan kepada siapapun, yang hanya ingin melukai diri. Aku ingin menjaga diri ini. Menjaga hatiku. Menjaga agamaku. Dari cinta yang belum pantas kumiliki.
Baiq Cynthia
Situbondo, 10 Agustus 2017 

Iklan