Meniti Cinta Baru


Selama beberapa tahun yang lalu, terlalu sering memimpikan indahnya pesta pernikahan terlebih film-film India selalu menyuguhkan kisah romantisnya hari-hari setelah menikah. Mungkin sering terdengar di telinga soal ‘shaadi’—menikah. Pertemuan dua hati yang diikat dengan sebuah ikrar yang sangat sakral kepada Allah. Janji untuk menerima seorang wanita menjadi teman sehidup-semati.
Diam-diam terlalu sering aku menangkupkan doa dalam selipan tangis dan harapan untuk bisa bertemu dengan belahan jiwa yang akan menjadi pelindung di kala suka maupun duka. Mimpi membangun keluarga yang harmonis bersama bayi-bayi gempal menggemaskan. Impian semua wanita ialah menikah dengan orang yang mencintainya dan membuatnya nyaman akan hadirnya sosok lelaki yang sudah ditakdirkan untuk bersama, merajut kehidupan yang bahagia.

Lagi

Iklan

Penulis Handal Mampu Jadi Editor


Sejak tahun-tahun lalu, saya punya keinginan untuk menjadi editor di sebuah penerbit. Maka, sebelum itu terealisasi, maka saya coba dengan mengedit naskah orang-orang terdekat. Menerima tantangan mengedit dari penerbit Indie. Bahkan saya pernah ditolak dalam sebuah penerbit. Menjadi editor itu enggak mudah sebenarnya. Kita dikasih tugas untuk reparasi naskah klien. Tidak hanya soal menyunting namun memperbaiki secara utuh.Kesuksesan sebuah naskah terletak pada sang editor, editor sebagai kacamata kedua penulis. Mereka harus kompak dan beriringan.

Mencari lowongan editor ternyata sulit, terlebih harus menetap di pusat kerjanya. Bagai mimpi di siang bolong, bisa bertemu dengan teman kolaborasi menulis tahun lalu. Ia langsung menawari, kerja bareng gitu. Ternyata ada sesi training, ya sudahlah jalani saja. Hitung-hitung bisa belajar. Tapi, untuk memutuskan, diterima atau tidak. Saya harus memutar pikiran, mengingat ambivert itu ya selalu moody, dan mudah bosan. Sementara menjadi editor konsekuensinya dikejar oleh deadline.

Tetiba pikiran soal biaya pernikahan, mungkin ini sudah jalanku. Hanya dengan begini bisa terus mengisi pundi-pundi ATM, apalagi masih punya tanggungan sama penerbit itu. Belum lagi yang keep buku belum membeli, dan buku masih di sana. Satu lagi yang menjadi pegangan hidup. Kalau saya takut, berarti belum pasrah sama Allah. Padahal kalau sudah mau pasrah, tentu saja akan mudah segala sesuatu yang diminta.

Diterima tugas editor, berarti tanggung jawab juga baru dimulai, menjadi pemungut kata. Kalau ditanya bisa enggak, Insyaallah akan terus belajar. Karena manusia memang hanya terus belajar. Tapi kalau sudah menyerah, enggak akan bisa berkembang. Orang sukses ialah yang suka mencari solusi bukan suka mencari alasan.

Dimasukkan dalam grup utama dalam penerbitan, diberitahukan strukturnya. Lalu dimasukkan ke grup kumpulan para cabang. Sungguh kaget, banyak juga yang saya kenal. Rasanya seperti reuni, seru dan tentu sangat bikin baper. Apalagi yang mengaku ngefans sama saya, berkat artikel Menulis Membuatmu Gemuk. Soalnya sebagai penulis jarang banget interaksi langsung paling hanya saling tegur sapa. Kali ini mereka saling menyapa, semakin menguatkan proses untuk menjaga komitmen di dunia literasi.

Kalau disuruh memilih antara menulis novel genre pop, sastra, atau fiksi saya tidak bisa memilih. Tapi, kalau disuruh artikel atau ngeblog pasti saya pilih dua-duanya. Dari ngeblog,dan nulis artikel kita menjadi terbiasa untuk menulis, ya meskipun harus terkantuk-kantuk nulisnya. Menulis di blog selalu akhir prioritas. Karena terlalu sering nulis blog di awal, esoknya enggan untuk menulis lagi.

Satu lagi soal menjadi editor trainingan, selain memperhatikan setiap huruf dari ribuan naskah, dan memperhatikan kelogisan cerita, juga tak lupa memperhatikan kondisi pikiran dan mental. Tidak bisa mengutak-atik naskah dalam keadaan depresi dan banyak fokus. Pasti semerawut hasilnya. Ingat saja, lelah akan menjadi berkah jika kita pasrah kepada yang Maha Kuasa, apalagi kalau motivasinya buat modal nikah.

Situbondo, 13 Sep. 18
Baiq Cynthia

Penulis Butuh Istirahat


Memilih profesi sebagai penulis tidak bisa disamakan dengan pekerja kantoran. Terlebih kerjannya hanya dari rumah, penulis yang baik ialah yang mampu memanajemen waktu menulis dengan waktu aktivitas harian. Terlebih ada banyak sebab yang menyebabkan penulis harus bernapas berat karena banyak aktivitas di luar skenario harapan, misalnya Ayah sakit. Itu yang saya alami beberapa hari terakhir. Bahkan ikut menulis di ruangan serba bau obat.

T

Tapi, penulis bukan robot … ketika tagihan naskah sudah diminta oleh penerbit maka penulis harus jujur apa yang sedang dialami. Jangan lantas mengatakan hal yang mengarang cerita, meminta maaf dan mulai mengerjakan. Seperti yang di awal tadi saya utarakan, penulis bukan robot. Is butuh jam istirahat untuk mengembalikan pikiran yang semerawut akibat padatnya kegiatan.

Pengalaman saya kemarin, niatnya itu mau begadang menyelesaikan tulisan secepatnya ditemani dengan segelas kopi. Memang jarang minum kopi bahkan tidak pernah. Tetapi, karena ingin melawan kantuk dicoba dan berujung sakit.

Kepala pening dan demam tinggi, bukannya selesai tugas menulis. Ini malah harus bed rest, seharian pula. Semakin lama proses menulisnya dan tak kunjung selesai. Sedih, kan?

Kalau gak mau sakit maka jaga kesehatan, kesehatan mahal harusnya dijaga benar-benar. Intinya jaga pola makan aku dan keluarga.

Tidur dulu, malam ini. Mata sudah mengantuk kepala pening lagi.

12.9.18

Atur Kembali Rencanamu, Mulai Sekarang!


Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah Buat Perubahan Baru!

Detik menuju detik, mengubah menit menjadi jam dan hari hingga tahun harus kembali berganti. Semalam keseruan malam pergantian tahun baru Islam yang riuh di beberapa sudut jalan dengan karnaval lampu obor maupun lampion.

Menjadi momentum yang membahagiakan sekaligus sebagai refleksi diri untuk selalu berubah menjadi pribadi lebih baik lagi. Karena ada pepatah lama mengatakan, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik lagi dari sekarang.

Mengawali 1 Muharram 1440 H saya mendapatkan sebuah bingkisan dari Cheria Holiday, berupa kaos bertuliskan #BloggerTRAVELJamanNOW.

Yeay! Dapat bingkisan dari Cheria Holiday

Lagi

Benci Sewajarnya, Cinta pun Gitu.


Jangan bilang Benci, Nanti Cinta loh.

Pepatah ini sangat familiar hampir di seluruh belahan dunia. Judulnya emang mainstreams sih. Daripada blog ini kosong melompong ditinggal terus sama pemiliknya yang super duper sibuq. Ngalahin artis ibu kota sampai gak sempat buka medsos. Jadi wajar lah ya, job dadakan selalu ada. Mulai dari tukang masak, asisten henna wedding sampai jadi calon ibu. Hehehe, doakan saja Baiq segera niqah. Biar gak pasang status galau terus karena gak menemukan sandaran.

Lagi

Follow Daily's Baiq on WordPress.com