Jika Dia Jodohmu, Ia Akan Mendekatimu


Jodoh itu dekat.

Awalnya aku tidak percaya jika jodoh itu dekat. Pasalnya kita setiap hari dipertemukan dengan orang baru dan tidak bisa dipungkiri mereka hadir dari beberapa tempat. Selama ini menunggu jodoh seperti menanti mekarnya bunga Desember. Ia hanya sekali berbunga setiap tahun. Jodoh itu dekat.

Bertemu dengan suami seperti hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Kami tidak saling kenal dan tempat tinggal kami lumayan jauh. Jarak tempuh bisa sampai tiga jam setengah. Pertama hanya iseng dijodohkan dengan sahabat saya yang notabene masih dulur dengan kerabat kakaknya.

Pun rencana kami menikah tanpa persiapan yang sakral, hanya 15 hari saja. Menikah dadakan, bahkan banyak yang enggak percaya kalau kami sudah nikah tanpa pacaran. Memang dari dulu saya memimpikan itu, menikah dengan orang salih yang serius berkomitmen menjalani biduk rumah tangga tanpa main-main dulu (pacaran). Dalam benak saya soal menikah dengannya tidak memasang prioritas lagi, yang terpenting akhlak dan agamanya.

Alhamdulillah ternyata dia salah satu alumni ponpes di Bondowoso. Masyaallah, saat saya berkunjung di salah satu kerabat di Bondowoso. Tanya-tanya seputar pondok pesantren tempat ia mengenyam ilmu agama. Ayah kerabat saya jadi kepala sekolah di sana. Saya pun bertanya apakah mengenalnya. Ternyata memang kenal. Masyaallah.
Malam ini ada acara sambung tali silaturahmi di tempat pondok suami.

Entah tanpa sengaja bisa bertemu dengan sepupu nenek saya. Saya berbincang kemudian mengatakan kalau datang bersama suami. Ia merasa suami saya sangat familiar dengannya. Benar saja, ternyata mereka dulu bekerja di satu kantor yang sama.

Saya tanya kembali soal kepala sekolah dengan kakek saya yang memang menjadi salah satu pengurus di Ponpes. Beda, karena pengurus yang menaungi beberapa instansi. Sejak kejadian ini, saya makin yakin bahwa lelaki yang kini menjadi suami saya ialah jodoh yang dikirim oleh Allah untuk menemani perjalanan hidup sampai Jannah.

Meskipun kami berasal dari latar belakang budaya yang berbeda tetapi ada banyak ciri yang membuat saya yakin bahwa jodoh ialah dekat. Dekat bukan diukur dari jarak namun seberapa yakin dirimu bahwa hatinya dengan pemilik hati sangat dekat.
Menikah tidak menunggu mapan atau harus jatuh cinta dulu. Perbaiki niat terlebih dahulu nanti cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Cinta yang diutamakan ialah cinta kepada Allah.

Bondowoso, 3 November 2018

Iklan

Izinkan Aku Cemburu


Perempuan bisa menahan luka dan sedih dengan sedalam kekuatan hatinya. Tapi menahan cemburu? Sama sekali enggak bisa. Walaupun lelaki yang engkau cintai hanya melihat foto perempuan lain. Itu menyakitkan sekali bagi kaum wanita. Apalagi harus melihatnya memandang lebih dari lima menit, rasanya seperti ada gumpalan api bergumul di hati. Panas dan nyeri begitu dalam.

Aku tahu lelaki memang memiliki kodrat yang tidak bisa menutup mata ketika melihat wanita dengan paras cantik. Padahal menjaga pandangan itu penting, dengan terjaganya pandangan akan tertutup pintu menuju maksiat.

Wahai kaum lelaki, bisakah engkau menjaga pandangan untuk dirimu sendiri maupun kemurnian cinta sang istri? Seorang istri sudah melepaskan orangtuanya, kesenangan masa mudanya, maupun kesenangan untuk diri dan temannya. Ia rela dan patuh pada lelaki yang disebut suami. Ia menanggalkan segalanya hanya untuknya.

Lelaki memang tidak mampu jika melihat wanita yang menggoda imannya, tetapi sangat tangguh menahan cemburu. Sebaliknya, wanita bisa mengabaikan lelaki tampan bahkan ada wanita yang tidak tertarik pada harta bendanya maupun karirnya. Ia jatuh cinta murni karena kasih sayang dan perilakunya. Wanita bisa mengabaikan seribu pria demi lelaki yang paling dicintainya. Tetapi untuk menahan cemburu(?)

Wanita tidak mampu. Suruh jatuhkan saja peluru, jika batas cemburu terlampau besar. Ia tidak bisa melihat lelaki yang dicintainya menatap lawan jenis terlalu lama, apalagi sampai di tahap yang tidak sewajarnya.

Aku paham cemburu itu bisa menjadi peluru, yang membunuh perlahan. Tetapi hanya wanita yang setia dan sayang pasti akan merasa cemburu tatkala pasangannya mulai perlahan menjaga jarak, mengabaikan dan condong dengan sesuatu yang melupakan soal pasangannya.

Cemburu itu wajar, tetapi jangan terlalu besar. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja yang menanggung.

Baiq Cynthia

November Baru Bersemi, Peluk Erat.


Mengawali bulan November dengan kejutan yang tak terduga, ada banyak hal-hal baru yang harus dibenahi pada pilihan dalam hidup. Semua terjadi begitu cepat bahkan berubah bak gerakan air di laut. Kalau sedikit throwback November 2015 saya masih berkutat dengan tugas dan ujian tengah semester, menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang prodi Ilmu Komunikasi. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang tinggal belajar dan memahami soal-soal. Saya harus berurusan dengan masalah eksternal yang juga menganggu konsentrasi belajar. Bayangkan saja, besok ujian malam ini bermalam di kota Turen, pagi buta harus kembali ke Malang dengan bus yang dilanjutkan dengan angkot, sendiri.

Lagi

Tetap Genggam Tanganku, Honey.


Gumpalan kapas raksasa bergantung di langit seperti seorang istri yang menggantungkan hidupnya kepada suami. Pun juga rentangan cakrawala melindungi seisinya, menjadi tempat penampung beban kehidupan yang setiap hari mendayu untuk menikmati sebuah waktu yang panjang. Seperti mentari yang tiada henti menyingsingkan cahaya. Engkau pancarkan cinta yang membuat separuh jiwaku yang dulunya lembab, gelap menjadi lebih bersinar dan sejuk.

Tak pernah kudengar suara desisan dari bibir ranummu, tentang peliknya aral yang menjadi pembatas antara bahagia dan kesedihan. Engkau selalu pandai menyembunyikan duka, menyelipkan tawa melipat muram dan menyisipkan pada sepotong hati yang terbebat perban terlalu dalam.

Lagi

Pengabdi Deadline


Entah mengapa saat mendengar kata deadline yang terlintas pertama kali ialah mengerjakan tugas di ujung batas waktu. Padahal sejak hari pertama sebelum deadline sudah disiapkan secara matang, rancangannya. Tetapi apa? Semua menjadi berantakan.

Lagi-lagi harus perbaiki senyaman mungkin proses manajemen waktu, ini sangat krusial. Mengingat status bukan lagi single yang bebas melakukan rutinitas kapan pun dan di mana pun yang diinginkan. Sudah menikah punya tanggung jawab baru, kepada diri sendiri dan pasangan juga kepada keluarga pasangan.

Menulis sudah menjadi passion saya, karena tidak ada yang bisa dilakukan di banyak kesempatan selain menulis dan membaca. Bagi mereka yang tidak menyukai proses menulis, mungkin sangat membosankan. Kebayang enggak sih? Menulis dengan waktu yang terbatas, selalu menjadi deadliner. Ini memang kebiasaan yang buruk sebenarnya. Selain pikiran kita terpecah, hasilnya mungkin akan kurang bagus dan risiko jauh lebih besar.

Saya ambivert yang sudah memiliki jalan hidup dan prinsip sendiri, ia tidak mudah tergoyahkan dengan pilihan lainnya. Sekali melangkah pantang untuk mundur dan sekali mengambil jalan ia akan terus memperjuangkan sampai akhir. Terkadang ia sendiri memilih banyak pilihan yang lebih sulit dan cenderung menyiksa dirinya sendiri. Seperti pengabdi deadline. Niatnya mengerjakan on time tetap saja nanti bakalan ngerjakan di ujung waktu.

Sudah berapa kali diwanti-wanti sama suami untuk segera selesaikan, tetapi apa? Tuntutan lainnya juga tidak kunjung selesai, bahkan waktu seakan cepat di pagi dan siang hari. Berbeda dengan malam hari, waktu terasa lambat dan di waktu-waktu seperti ini lebih mudah mencerna sebuah tugas dan cocok sebagai bahan renungan. Di samping itu, efek negatifnya tidak baik untuk kesehatan.

Pengabdi deadline berarti harus siap dengan konsekuensinya, berpacu dengan waktu dan siap selalu terjaga. Tetapi sejak di Jember, rasanya lebih semangat dan termotivasi lagi untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.

Anyway, cara terampuh bagi pengabdi deadline ialah tidak menunda segala sesuatu, cukup dinikmati dan segera dituntaskan.

Jember, 25 Oktober 2018
Baiq Cynthia

Meniti Cinta Baru


Selama beberapa tahun yang lalu, terlalu sering memimpikan indahnya pesta pernikahan terlebih film-film India selalu menyuguhkan kisah romantisnya hari-hari setelah menikah. Mungkin sering terdengar di telinga soal ‘shaadi’—menikah. Pertemuan dua hati yang diikat dengan sebuah ikrar yang sangat sakral kepada Allah. Janji untuk menerima seorang wanita menjadi teman sehidup-semati.
Diam-diam terlalu sering aku menangkupkan doa dalam selipan tangis dan harapan untuk bisa bertemu dengan belahan jiwa yang akan menjadi pelindung di kala suka maupun duka. Mimpi membangun keluarga yang harmonis bersama bayi-bayi gempal menggemaskan. Impian semua wanita ialah menikah dengan orang yang mencintainya dan membuatnya nyaman akan hadirnya sosok lelaki yang sudah ditakdirkan untuk bersama, merajut kehidupan yang bahagia.

Lagi

Penulis Handal Mampu Jadi Editor


Sejak tahun-tahun lalu, saya punya keinginan untuk menjadi editor di sebuah penerbit. Maka, sebelum itu terealisasi, maka saya coba dengan mengedit naskah orang-orang terdekat. Menerima tantangan mengedit dari penerbit Indie. Bahkan saya pernah ditolak dalam sebuah penerbit. Menjadi editor itu enggak mudah sebenarnya. Kita dikasih tugas untuk reparasi naskah klien. Tidak hanya soal menyunting namun memperbaiki secara utuh.Kesuksesan sebuah naskah terletak pada sang editor, editor sebagai kacamata kedua penulis. Mereka harus kompak dan beriringan.

Mencari lowongan editor ternyata sulit, terlebih harus menetap di pusat kerjanya. Bagai mimpi di siang bolong, bisa bertemu dengan teman kolaborasi menulis tahun lalu. Ia langsung menawari, kerja bareng gitu. Ternyata ada sesi training, ya sudahlah jalani saja. Hitung-hitung bisa belajar. Tapi, untuk memutuskan, diterima atau tidak. Saya harus memutar pikiran, mengingat ambivert itu ya selalu moody, dan mudah bosan. Sementara menjadi editor konsekuensinya dikejar oleh deadline.

Tetiba pikiran soal biaya pernikahan, mungkin ini sudah jalanku. Hanya dengan begini bisa terus mengisi pundi-pundi ATM, apalagi masih punya tanggungan sama penerbit itu. Belum lagi yang keep buku belum membeli, dan buku masih di sana. Satu lagi yang menjadi pegangan hidup. Kalau saya takut, berarti belum pasrah sama Allah. Padahal kalau sudah mau pasrah, tentu saja akan mudah segala sesuatu yang diminta.

Diterima tugas editor, berarti tanggung jawab juga baru dimulai, menjadi pemungut kata. Kalau ditanya bisa enggak, Insyaallah akan terus belajar. Karena manusia memang hanya terus belajar. Tapi kalau sudah menyerah, enggak akan bisa berkembang. Orang sukses ialah yang suka mencari solusi bukan suka mencari alasan.

Dimasukkan dalam grup utama dalam penerbitan, diberitahukan strukturnya. Lalu dimasukkan ke grup kumpulan para cabang. Sungguh kaget, banyak juga yang saya kenal. Rasanya seperti reuni, seru dan tentu sangat bikin baper. Apalagi yang mengaku ngefans sama saya, berkat artikel Menulis Membuatmu Gemuk. Soalnya sebagai penulis jarang banget interaksi langsung paling hanya saling tegur sapa. Kali ini mereka saling menyapa, semakin menguatkan proses untuk menjaga komitmen di dunia literasi.

Kalau disuruh memilih antara menulis novel genre pop, sastra, atau fiksi saya tidak bisa memilih. Tapi, kalau disuruh artikel atau ngeblog pasti saya pilih dua-duanya. Dari ngeblog,dan nulis artikel kita menjadi terbiasa untuk menulis, ya meskipun harus terkantuk-kantuk nulisnya. Menulis di blog selalu akhir prioritas. Karena terlalu sering nulis blog di awal, esoknya enggan untuk menulis lagi.

Satu lagi soal menjadi editor trainingan, selain memperhatikan setiap huruf dari ribuan naskah, dan memperhatikan kelogisan cerita, juga tak lupa memperhatikan kondisi pikiran dan mental. Tidak bisa mengutak-atik naskah dalam keadaan depresi dan banyak fokus. Pasti semerawut hasilnya. Ingat saja, lelah akan menjadi berkah jika kita pasrah kepada yang Maha Kuasa, apalagi kalau motivasinya buat modal nikah.

Situbondo, 13 Sep. 18
Baiq Cynthia

Penulis Butuh Istirahat


Memilih profesi sebagai penulis tidak bisa disamakan dengan pekerja kantoran. Terlebih kerjannya hanya dari rumah, penulis yang baik ialah yang mampu memanajemen waktu menulis dengan waktu aktivitas harian. Terlebih ada banyak sebab yang menyebabkan penulis harus bernapas berat karena banyak aktivitas di luar skenario harapan, misalnya Ayah sakit. Itu yang saya alami beberapa hari terakhir. Bahkan ikut menulis di ruangan serba bau obat.

T

Tapi, penulis bukan robot … ketika tagihan naskah sudah diminta oleh penerbit maka penulis harus jujur apa yang sedang dialami. Jangan lantas mengatakan hal yang mengarang cerita, meminta maaf dan mulai mengerjakan. Seperti yang di awal tadi saya utarakan, penulis bukan robot. Is butuh jam istirahat untuk mengembalikan pikiran yang semerawut akibat padatnya kegiatan.

Pengalaman saya kemarin, niatnya itu mau begadang menyelesaikan tulisan secepatnya ditemani dengan segelas kopi. Memang jarang minum kopi bahkan tidak pernah. Tetapi, karena ingin melawan kantuk dicoba dan berujung sakit.

Kepala pening dan demam tinggi, bukannya selesai tugas menulis. Ini malah harus bed rest, seharian pula. Semakin lama proses menulisnya dan tak kunjung selesai. Sedih, kan?

Kalau gak mau sakit maka jaga kesehatan, kesehatan mahal harusnya dijaga benar-benar. Intinya jaga pola makan aku dan keluarga.

Tidur dulu, malam ini. Mata sudah mengantuk kepala pening lagi.

12.9.18

Atur Kembali Rencanamu, Mulai Sekarang!


Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah Buat Perubahan Baru!

Detik menuju detik, mengubah menit menjadi jam dan hari hingga tahun harus kembali berganti. Semalam keseruan malam pergantian tahun baru Islam yang riuh di beberapa sudut jalan dengan karnaval lampu obor maupun lampion.

Menjadi momentum yang membahagiakan sekaligus sebagai refleksi diri untuk selalu berubah menjadi pribadi lebih baik lagi. Karena ada pepatah lama mengatakan, hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik lagi dari sekarang.

Mengawali 1 Muharram 1440 H saya mendapatkan sebuah bingkisan dari Cheria Holiday, berupa kaos bertuliskan #BloggerTRAVELJamanNOW.

Yeay! Dapat bingkisan dari Cheria Holiday

Lagi

Benci Sewajarnya, Cinta pun Gitu.


Jangan bilang Benci, Nanti Cinta loh.

Pepatah ini sangat familiar hampir di seluruh belahan dunia. Judulnya emang mainstreams sih. Daripada blog ini kosong melompong ditinggal terus sama pemiliknya yang super duper sibuq. Ngalahin artis ibu kota sampai gak sempat buka medsos. Jadi wajar lah ya, job dadakan selalu ada. Mulai dari tukang masak, asisten henna wedding sampai jadi calon ibu. Hehehe, doakan saja Baiq segera niqah. Biar gak pasang status galau terus karena gak menemukan sandaran.

Lagi

Previous Older Entries

Follow Daily's Baiq on WordPress.com