Alasan Mengapa Harus Mendapatkan Pasangan yang Baik


Hari Ke-6

Setiap bayi yang dilahirkan di muka bumi ini suci, baik, lucu dan masih bersih. Namun, orangtua yang menentukan masa depan si kecil. Orang tua pula yang membentuk karakter. Setiap orangtua pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Tetapi, Ada 3 pembentukan individu; orangtua, lingkungan dan teman pergaulan. 

source : pic in twitter
Saya rasa setiap orang berhak untuk kebaikan. Karena manusia terdiri dari dua sisi. Baik dan Jahat. Tak bisa dipungkiri. Hanya yang memberikan perbedaan seberapa besar persentase keduanya. 

Saya jadi teringat kepada salah satu film yang populer tahun lalu. Sanam Teri Kasam. Berkisah seorang mafia yang bertahun-tahun di penjara. Lalu bebas, jatuh cinta kepada gadis polos sebagai penjaga perpustakaan dan pecinta buku.

Lelaki yang penuh tato itu meminta rekomendasi buku, buku bagi orang yang baru keluar dari penjara. 

Saya melihat sosok lelaki yang baru bebas dari penjara pun suka memberi susu kepada kucing. Walaupun banyak orang mengecap ‘bajingan’. Mengingat perilakunya diluar tatanan hukum masyarakat. 

Uniknya dalam kisah ini, mereka saling jatuh cinta. Dengan ribuan konflik, sebelum mereka bersatu. 

Satu hikmah yang bisa dipetik, tidak bisa menilai orang hanya dengan tampilan. Kita bisa tahu perilaku orang melalui sikapnya, perilaku dan sudut pandang.

Berikan setidaknya tiga alasan bahwa kamu pantas memiliki pasangan hidup yang baik. #Harikeenam (Writing Challenge #7DaysKF #Basabasi)

Pertama, Saya sedang dalam tahap proses memperbaiki diri. Motivator yang saya kagumi berkata, “Seseorang yang selalu mengupgrade dirinya akan disandingkan dengan sosok yang setara.” Pasanganmu cerminan dirimu. 

Source: Instagram

Kedua, sudah banyak dipertemukan dengan orang tidak baik. Itu pertanda, harus bisa menjadi sosok baik. Setidaknya bisa bertingkah laku yang baik, minimal senyum setiap bertemu orang. Sebuah senyum, sama halnya berbagi kebahagiaan, juga membangun relasi yang baik. Hingga berkumpul dengan orang baik. 
Saya yakin diantara teman saya, pasti ada yang merupakan jodoh saya. Karena jodoh hakikatnya dekat. Dekat di sini bukan konotasi dengan jarak. Akan tetapi, jiwanya yang serupa. 
Terakhir, saya tumbuh dan dibesarkan di keluarga baik. Juga lingkungan yang baik. Bahkan Ayah saya sangat melarang keras pacaran. Demi menjaga buah hatinya. Selain itu pula sejak dini sudah dikenalkan dengan agama.

Source: Instagram

Tanpa Agama hidup terasa kosong. Sehingga saat akan melakukan hal yang kurang baik, bisa diminimalisir. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 
Saya juga insan yang lemah. Banyak sisi kekurangan. Hanya dengan memiliki pasangan yang baik, bisa saling memperbaiki. 
Saya wanita. Wajib bagi saya mencari pemimpin yang baik. Seorang yang nantinya tak sekedar berstatus sebagai suami, namun kepala keluarga. Seorang ayah yang memberi teladan kepada anak. Membimbing istri, menemani setiap proses perjalanan hidup. 

 source : unname

Kebaikan tak mutlak sebuah kesempurnaan. Namun, kesempatan untuk sempurna selalu tentang kebaikan. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Maka kebaikan yang akan menutupi keburukan. 
Penulis : Baiq Cynthia

Iklan

Sosok yang Ingin Kutemui 


Hari Ke-5

Sosok yang ingin kutemui dalam waktu dekat. Dia yang selalu memberikan inspirasi. Sosok yang menyumbangkan banyak suplai darah. Meski lama dalam setahun bertemu. 

Aku tak kecewa, mengapa kami tak bersama. Karena Allah maha tahu alasannya. Tidak ada yang benar-benar terjadi di bumi ini, tanpa sepengetahuan-Nya.  Aku pun tak ingin gundah, saat perlakuannya kurang mencerminkan kasih sayang. 
Mungkin, kesempatan ini jarang. Bahkan ikatan emosi di antara kita tak terwujud. Sedih. Tetapi, memang benar begitu.
Terlalu lama terpaku pada hal ego dan materi. Terlalu lama dekapan hangat itu terasa. Hingga tak ada sisa memori lagi. Aku akui aku salah. 
Tak ada yang benar-benar harus ditumpahkan. Selain rasa maaf dan penerimaan. Aku sadar. Kita pasti memiliki keping cinta. Tanpa diminta akan disediakan.Semoga bertemu kembali, Ayah-Ibu dan adik-adikku. 

Yang berikutnya yang ingin ditemui, sahabat lamaku. Yang selalu ada dalam suka maupun duka. Selama jarak hanya rintangan. Maka dengan menggulung jarak kita akan bersama lagi. Sebisa mungkin moment Hari Raya Idul Fitri sebagai pelipur lara. 
Terakhir adalah teman masa SMP, sudah hampir 8 tahun tidak bertentangan. Tidak ada kabar dan tidak mengabari. Berkat Ramadhan pun. Insyaallah kita akan berkumpul.
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan keberkahan. Karena itu aku enggan ditinggalkan lagi. Bulan ini terlalu indah dan menyenangkan. 
Karena setiap ada pertemuan akan ada perpisahan. Setiap ada yang berpisah akan ada kerinduan. ~Baiq Cynthia
#KampusFiksi

#7DaysKF

#BasabasiStore

HAL yang Tak Terkira, Mampu Membuatku Tersenyum [Hari Ke-4 #7DaysKF]


Hari ke-4.

Peristiwa yang kita alami terkadang penuh rasa. Memilukan, menyedihkan, membuat kita tertawa hingga merasa malu. Perasaan itu biasanya lebih lama mengendap dalam pikiran. Butuh umpan untuk mengembalikan ingatan lama. 

Hal pertama yang memalukan, saat semasa menjadi ketua tingkat di semester 2. Tugas kating (ketua tingkat.red) mengambil dan mengembalikan kunci kelas di ruang TU. 

Sore itu, setelah kelas selesai. Aku pun bergegas naik satu tingkat dari lantai 5 ke lantai 6. Saat mengembalikan kunci. Aku mendengar petugas pemberi kunci berteriak, “Pak! Kuncinya sudah ada,” jawabnya setengah teriak. 

Aku tidak menghiraukan. Karena hari itu benar-benar letih. Saat aku kembali. Aku bersisian dengannya. Wajahnya seperti mahasiswa senior. 

Dia : “Hei! Fakultas apa?” teriaknya dari belakang.

Aku : *Kaget dan berhenti sebelum turun tangganya. OMG mimpi apa bisa dipanggil si dia … Sedikit tergugu, dengan sikapnya yang humbe. “Iyaaa, Jurusan ilmu Komunikasi, Kak.” 

Dia : “Oh, iya satu fakultas,” jawabnya sedikit tergopoh ikutan turun tangga.” 

Aku : “Kakak sendiri jurusan, apa?” 

Dia : *Tersenyum dibalik mata yang teduh. “Hubungan Internasional!” 

Aku: “Saya duluan ya, Kak.” Aku langsung bergegas menuju lift. Sedangkan dia menuju ruangan yang aku tempati sebelumnya. Tepat di depan Lift.

*Seperti ada kilat di depan wajah.

Setelah aku ingat-ingat. Petugas tadi memanggil dia dengan sebutan Bapak!

Buru-buru aku pulang ke Kos menanyakan, nama pengajar yang sering teman kosku ceritakan. 

“Nama dia Pak Hafid!” 

“Kyaaaaa …. Benar dong!”

Saat itu aku ingin teriak…. Apa? Panggil dosen dengan sebutan “Kak!”

~*~*~
Episode ke-2

Saat itu sedang ada di kawasan camping. Di mana lokasi kemah kami jauh dengan toilet. Anehnya setelah acara api unggun berakhir. Aku kebelet pipis. Jam sudah menuju pukul 24.00 Malam itu sudah benar-benar gelap. Kecuali lampu senter yang muncul dari handphone kecilku. Api unggun sudah redup. Jarak lokasi ke tempat mandi sekitar 300 meter. Sialnya, semua teman cewek gak ada yang mau nemani ke kamar mandi. Alasannya udah capek. 

*ka*pret setiap mereka butuh temani, aku selalu ada. Kyaaaaa… Sabar-sabar…
Kujalani jalan setapak. Demi setapak. Dengan lampu senter hape jadul yang punya tombol 10 biji kalau gak salah. Kalau salah, ya udah hitung sendiri. 

Suasana benar-benar mencekam. Ada suara air di sekolan. Gemirisik angin dengan bebatuan. Setelah sedikit kepayahan 20 menit aku sampai di lokasi. Tetapi, kenapa penuh dengan orang kemah? Dimana toilet? 

X : “Mbak! Tengah malam mau ke mana?” 

Aku : *Melihat pertanyaan diajukan kepadaku, jalanku terhenti. “Eh … Ke toilet, Mas!” Sepertinya dia salah satu dari bagian camping yang lain. 

X : “Lewat sini mbak, bukan sana!” 

*Deggg! Wong tadi pagi aku hafal, bisa lewat sini. Bisa salah! 

Aku : “Eh, iya mas! Makasih.” 

*Wajahnya tertutup silaunya cahaya. Acara mereka sepertinya belum selesai. Aku abaikan banyak tatapan mata. 

X : “Sama-sama.” 

15 menit kemudian. 

X : “Mbak! Mau ke mana lagi?”

Aku : *Ihhh sudah gak kenal, suka urusin hidup orang. “Balik ke bumi perkemahan saya, Mas!” 

X : “Loh kok menuju luar gapura?” 

*Eng in eng. Rasanya ada soundtrack lagu ini,

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu. Butiran … es oyen. 
Ndak jelas. Seng penting aku malu. Lagi-lagi banyak mata mengekori langkahku. 
Penulis : Baiq Cynthia

3 Rasa Kehilangan yang Berarti~#7DaysKF


Hari Ke-3

Kehilangan–sebuah rasa yang merupakan antonim dari memiliki.

Kehilangan itu bersifat relatif setiap orang. Ketika ada sesuatu yang mungkin bagi kita berharga, belum tentu bagi mereka juga berharga. 

Tetapi, hal yang berharga biasanya yang sering melekat pada kita. Ada 3 kehilangan terbesar yang sulit aku lupakan. Meskipun sudah terlupakan. 

Pertama kali saat aku ingin memiliki sebuah flash disk. Harus benar-benar memendam perasaan itu. Aku tergolong tertutup saat zaman wajah masih tirus. (*Untung sekarang ada aplikasi bikin tirus)

Hingga sebuah senja, Ayahku menemani ke sebuah konter hape. Untuk mencari FD. Zaman hape qwerty, FD 2 GB sudah cukup. Tetapi, Ayahku membelikan yang 8GB. Awalnya, saya di tawarkan yang 16 GB. Saya menolak. 
Warna merah dan ada logo yang keren. Bisa dikasih gantungan kunci. Aku menyukainya. Di FD itu bisa menyimpan hal baru.

Mulai dari tugas sekolah SMA kelas 1 hingga lulus. Aku suka sekali mengambil objek yang unik. Sejak dibelikan handphone yang memiliki kamera. Saat itu 1.3MP sudah bagus. Apalagi vendor yang terkenal. 

Objek yang sering aku ambil, mulai dari kucing peliharaan, moment gambar kadal menyendiri, bunga kamboja yang berbuah, foto pribadi, dsg.
Ternyata, setiap minggu file selalu bertambah. Tidak terbatas pada foto, tugas, juga karya kreasi dengan photoshop dan Corel, aplikasi edit video dan path, film tentang Agama, hasil subtitle sendiri, musik, animasi, dan lain-lain.
Pertama kali suka menulis itu semenjak diberi pinjaman laptop oleh teman baikku. Aku bisa menulis. Juga menyimpan di Flash Disk. Semua draft novel tersimpan rapi di dalamnya. Termasuk file penting. Yang tidak bisa didapatkan di internet. 

Video saat aku bermain peran di lomba film pendek se-Jatim yang diadakan oleh ITS Surabaya. Sekolah kami masuk kategori favorit. 

Isi flash disk itu terkumpul 10.000 foto yang dihimpun dari handphone jadul- hape adikku yang keren. 

Suatu hari teman masa SMA yang tinggal 1 kamar kos denganku meminta izin untuk pinjam FD.

Awalnya aku ragu, karena dia suka lupa dengan barangnya sendiri. FD miliknya pun suka sekali hilang. Tetapi, dia sudah baik kepadaku. Menampung di tempatnya.

Aku berikan tanpa, ba-bi-bu. Ketika ditanya sudah selesai? Jawaban astaga, tertinggal di gedung PKM-nya. Begitu terus hingga FD ditemukan oleh orang lain. 

Ternyata setelah seminggu terlewatkan, FD itu dinyatakan hilang dari radar. Aku meminta lelaki itu mencarinya. Karena isinya penting! Aku gak bisa menjamin bagaimana jika semua dokumen disalahgunakan. :’) 

Karena moment itu bertepatan dengan Ramadhan akhir, detik-detik mudik. Dia tak mau ribet. Mengganti FD aku. Herannya dia memberikan FD yang berbeda dengan kapasitasnya sama. 
Padahal zaman saya beli hampir 90 ribu diganti dengan FD 45 ribuan. Syedih bukan main. Benar saja FD baru itu mudah terinfeksi virus. Berapa kali saya format data. 

Saya tidak menyukainya. Bahkan saya biarkan orang-orang mau pinjam FD tersebut. Lagi-lagi FD yang saya punya dipinjam orang lagi. Kembali–hilang. 
Memang harganya tidak seberapa, tetapi isinya yang sangat berharga. Foto yang sengaja dikoleksi, dari hari ke hari. Perjalanan hidup saya di pulau Dewata. 

Tak ada lagi. 

Yang kedua saya kehilangan handphone beserta kartunya, termasuk kartu memori. 

Saya suka sekali meminta hasil foto dan menggunakan memori card supaya aman. Tidak bisa dipinjam. 

Ternyata kalau sudah apes itu gak bisa mengelak. Tas saya digondol sama 2 orang yang Jahat. Semua isi tas ditarik dengan entengnya. Padahal yang ditarik bukan sekedar bunga di pagar rumah orang. 

Awalnya aku merasa tidak kehilangan, detik berikutnya sadar. Ada buku pinjaman milik perpustakaan Kampus. Mati! Ada dompet yang berisi kartu Identitas diri, KTM, ATM, surat-surat dispensasi, foto sahabat, surat perjanjian, antingku yang tinggal satu. 

Juga handphone pemberian seseorang. Di sana ada banyak kontak penting yang tidak memiliki salinan. Bahkan saya tidak hafal nomor keluarga di rumah. 

Menangis sejadi-jadinya. Meski jalanan ramai pada malam itu. Tidak, masih jam 18.15. 
Hanya karena kehilangan dalam satu detik. Ribuan detik harus dikorbankan. Meminta pemblokiran ATM lama. Membuat baru, dengan menunggu KTP baru. Semuanya menjadi rumit. Di mana tinggal di kota orang. Jadi, mau tak mau semua diurusi seorang diri. 

Repotnya jadi Maba sendirian ke barat ke timur. Hingga dimarahi habis-habisan, oleh orangtua pengasuh.

Oh iya, walaupun Sim card telepon itu bisa diperbaiki, nyatanya kontak akan kosong melompong. 

Terakhir, kehilangan yang paling besar yaitu kehilangan momentum bersama. Teknologi menggeser semuanya. Membuat yang jauh menjadi dekat yang biasanya dekat menjadi renggang. 
Dulu, masih hanya handphone biasa. Sering nelp hingga berjam-jam dengan adikku. Apalagi kalau gratis bicara hingga dower.
Sekarang era medsos, setiap ditanya pasti jawabnya singkat. Setiap diajakin VC pasti sibuk. Tetapi US (Update status.red) terus tiap menit. -_-
Akhirnya, biar lengkap kehilanganku. Aku hilangkan akun medsos milikku! 
Karena sejatinya, hanya dengan menghilang kita akan dicari. Meskipun saat-saat ‘genting’ saja. 

Hikmah kehilangan … kita menyadari, bahwa tidak ada yang benar-benar murni kita miliki. Bahkan jiwa kita sendiri–Milik-Nya.

By: Baiq Cynthia

Hewan, Sahabat Manusia


Hari ke-2

Jika saya diberikan kesempatan untuk bisa memelihara beragam binatang yang ada di rumah maka saya sangat senang sekali. 

Selain pecinta Binatang saya suka sekali dengan jenis-jenisnya. Meski keberadaannya sudah hampir punah. 

Binatang pertama yang ingin saya pelihara adalah burung Beo atau sejenis kakak Tua.

Mengapa? Burung ini bisa bicara dan saya termasuk orang yang tidak suka berbicara kepada keluarga. Lebih suka cerita kepada langit, angin yang lewat. Andai saja keberadaannya tidak termasuk hewan langkah. Pasti saya bahagia sekali.
Binatang yang kedua, mungkin saya ingin memelihara Monyet kecil. 

Spesies yang mudah dibawah ke mana-mana. Monyet kerdil ini seukuran jari orang dewasa. Saya ambivert, tidak suka dengan keramaian. (Terkadang) Meski ada di sekitar banyak orang. Terkadang ada rasa enggan untuk berinteraksi. Entah merasa minder atau mereka terlihat cuek.
Binatang ketiga yang ingin saya pelihara adalah burung hantu. 

Meski tidak terlihat seram. Tetapi, hewan nokturnal ini pasti akan bermanfaat. Di rumah terlalu banyak tikus. Saya benci. Mereka terlalu ahli memanjat lemari, hingga bisa memiliki terowongan di atap. Saya ingin punya security. Makanan yang di meja acap kali ludes. Padahal ditutup dengan tutup saji. Tikus zaman sekarang terlalu pintar. Saya yakin burung hantu yang bisa memutar kepala hingga 360°, mampu mencengkeram tikus nakal.
Binatang keempat tentu saja kucing. 

Saya pecinta kucing. Tetapi, dilarang memelihara. Alasannya saya alergi bulunya. Walaupun dilarang. Tetap saja saya suka mencuri waktu untuk bisa bermain dengan kucing peliharaan orang. Setiap melihat kucing milik orang pasti diajak selfi. Ya … walau meronta-ronta. Hingga ikutan eksis. Kucing anggora, persia, peak nose, atau lokal. Saya suka!
Terakhir, ni ya! Saya ingin memelihara simpanse.

Mamalia yang mirip manusia ini, sangat cerdas. Tak heran di beberapa film produksi Hollywood sering ikut syuting. Kalau saya malas mengambil barang, tinggal minta tolong dia. Apalagi kalau ada tamu, dia bisa jadi guardian pintu. Wahahaah tapi, saya gak mau dia ikut tidur bareng. 

*Absurd
Jadi kelima hewan itu pasti bikin hidup saya bahagia. Setidaknya hingga status j*mbl” itu punah. 

Haruskah cerita tentang Aku?


Setiap orang yang memiliki kemampuan pasti akan ditinjau, siapa dia? 

Sepertinya jati diri tidak lepas di setiap individu. Bahkan jika memiliki teman, kamu sering mendapatkan pertanyaan. “Siapa dia, siapa kamu, siapa gadis berkerudung merah, siapa yang menandai kamu.” 

Hingga kamu menerima banyak pertanyaan yang di-awali kata siapa. Tak jarang saat pertama kali melihat seseorang yang terlihat menyimpan banyak misteri. Hatimu pasti bertanya, ‘siapa dia’. 

Pertama kali muncul di sebuah pikiran pasti namanya. Semua orang pasti punya nama, meski ada yang namanya hanya satu huruf. Seperti “Q”, di mana? Indonesia kok. Kemarin sempat baca di koran. 

Nama sendiri, tergantung dari orangtua yang memberikan. Tergantung pula latar belakang, budaya, sosial, etnis, agama, negara, suku dan sebagainya. 

Ada juga kok yang namanya menggelitik, seperti yang sempat viral. Bayi Pajero Sport lahir pada 26 April lalu di kawasan Ciputat.

Baiklah, nama itu terkadang penting. Karena merupakan doa. Benar-benar sangat berefek pada masa depan anaknya. Rata-rata nama hanya mengandung dua unsur. Nama panggilan dan nama lengkap.

Saat saya menyebut nama saya sendiri. Terkadang saya bertanya-tanya. Apa artinya? Meski nama saya berbeda di dua akta kelahiran. 

Kok bisa punya dua akta? Entahlah itu sejak proses pindah yang membutuhkan keterangan lahir di kota bersangkutan. Versi pertama yang benar. “Baiq Cynthia M.R.M”, yang keliru ketik menjadi Baiq Synithia. Coba perhatikan saat menggunakan vocal. Syni-Thia. Yang berarti memanggil Thia. 

Tetapi, sempat kecewa. Mengapa nama saya Cynthia? Tidak ada artinya. Yang saya tahu itu nama artis-artis. 

Ribet … Sosok yang selama ini mendidik saya tiba-tiba mengatakan nama saya itu berarti “Cinta” atau kasih sayang. 

Saya tinggal bersama paman sejak bayi, juga bersama Nenek yang lingkungannya ‘berbau’ arab. Meski saya bukan darah asli arab. 

Masih banyak yang suka berlaku SARA. “Tidak termasuk golongan lah, Orang ‘Ahwal’ (Bukan keturunan arab. Red) 

Sedih rasanya, apalagi tidak tinggal satu atap dengan orang tua kandung. Dia ada, tetapi seperti tak ada.

Baiq–banyak orang awam pasti mengatakan, “Namanya artinya baik, ya!” Banyak pula yang menyangkut pautkan dengan lagu. Bahkan jika pengajar yang sering berucap “baik!”, teman-teman akan menoleh ke arah saya.

Tetapi, bagi mereka yang mengerti. Nama Baiq memiliki arti sendiri, terutama mereka yang asli Lombok, NTB. 

Pentingnya sebuah nama, karena dengan nama kita dikenal. Bahkan hanya dengan nama pula kita bisa tercemar. 

Oh iya, nama ekor M.R.M itu Maulidia Rose Mitha. 

Nama satu RT! Karena zaman saya lahir, nama panjang masih jarang. Berbeda dengan sekarang. 

Arti nama saya sesungguhnya. 

Baiq–keturunan Ningrat di Lombok, yang memiliki kasih sayang, lahir di bulan Kelahiran Nabi Muhammad, Mawar Mitha—Penyematan nama Ayah saya. 

Usia saya sudah menginjak kepala dua. Lahir di tanggal 30 Juli. 

Saya penyuka kucing dan binatang lainnya. Sejak kecil sudah bisa akrab dengan hewan. 

Bahkan kata Nenek saya, saya bisa menjinakkan anjing galak. Masih usia balita, tetapi sulit bagi saya untuk mengingat. Kecuali cerita dari Nenek dan kerabatnya. Saya percaya. Karena yang bicara tidak hanya nenek saya. Beliau pun memiliki ingatan yang kuat. Aku menyayanginya. 

Fakta yang (mungkin) tidak akan dipercaya. Masih kecil saya menjadi cenanyang. Bisa menebak apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Usia 5 tahun. 

Namun, sejak usia 6 tahun kekuataan itu berangsur pudar. Bahkan usia 7 tahun, saya selalu  salah menebak. Seperti saat ditanya ayah, mengenai adik dalam kandungan. Jenis kelaminnya ‘apa’? 

Bersyukur, sudah tidak memiliki lagi. Dalam agama saya pun dilarang. Pun tidak bisa melihat ‘mereka’ yang ada. Hanya merasakan kehadirannya. 

~*~

‘Hobby’ saya bersepeda, bermain bulu tangkis, membaca, menulis, menggambar dan usil. Itu hobi saat kecil, namun kini hobinya mempelajari hal baru. Entah itu menjahit, memasak, menggambar. Tetapi saya lebih sering menulis dan membaca.

Sejak kecil saya sering menulis satu kata di kolom cita-cita. Bahkan impian itu tak pernah tercapai. Sungguh anugerah, walaupun tak pernah tercapai. Setidaknya saya tahu rasanya di bagian itu. 

Tetapi, impian besar saya adalah menjadi penulis inspirasi, entrepreneur, menginjakkan kaki di Taj Mahal.

Yup! Pecinta film Bollywood, termasuk budaya, bahasa dan orang-orang sana. Saya bukan follower yang suka ikut-ikut trend

Zaman booming ini ikut ini, booming itu ikut itu. Saya suka India sejak usia 4 tahun. Saya suka lagu dan tariannya. 

Bahkan tanpa saya sadari, saya sering tiba-tiba familier dengan lagu India yang saya tak miliki di list lagu. Karena memang saya tidak memiliki koleksinya lagi. 

Sempat pula saya punya banyak kenalan ‘dumai’ dari negeri sana. Bahkan menjalin sebuah perasaan ‘terlarang’. Bukan hanya sehari dua hari. Komitmen itu sudah tertanam begitu dalam. Meski tak pernah benar-benar bertemu. Kurang lebih 5 tahun. Kini hanya tersisa serpihan memori. 

Berbicara tentang asmara, saya dikira bercanda. Lebih memilih orang yang tak diketahui daripada yang saya kenal. Itu absurd

Entahlah, sejak dulu saya lebih suka memilih jalan saya sendiri. Entah bagi mereka itu salah atau benar. Tetapi, selama masa penjajakan tidak benar-benar mudah. 

Perbedaan bahasa, menuntut saya harus dekat dengan kamus Inggris. Berbeda waktu, mengharuskan membagi waktu. Tak jarang saya begadang. Demi bisa chat meski hanya satu menit. 

Saat itu saya tidak pernah berpikir dugaan lain. Yang saya tahu dia tidak pernah gombal dan kacangan. Jadi, kami seperti sahabat yang erat. 

Lupakan. Masa depan masih misteri, termasuk jodoh. 

Tidak ada yang benar-benar saya simpan dalam hati. 

Tipe kepribadian ambivert. Saya temukan … karena bisa berubah dalam waktu yang sama. Bukan plin-plan. Namun, suasana hati. Bisa menyendiri di keramaian. 

Masalah pendidikan. Alumni taman kanak-kanak ABA 4. Masuk SD negeri, karena saat akan masuk SD swasta unggulan terbentur dengan dana. Pun SMP sama dengan SD. 

Tetapi, dunia berubah saat negeri Api diserang Boneka Salju. (Nilai UAN murniku tidak seperti lainnya). Hasil kerja kerasku tidak dianggap. Padahal tiap tahun selalu menyemat juara satu. 

Bahkan pihak sekolah pun memohon, agar aku tak lapor ke pihak berwajib. Masalah kecurangan tersebut yang nyasar ke kontak ayah saya. Karena semasa SMP saya tidak memegang telepon seluler untuk ke sekolah. 

Ketika, teman saya meminta nomor saya. Saya beri nomor ayah saya. Katanya khawatir kalau semasa ujian takut ada hal yang tidak diinginkan. Tetapi, itu kedok. Untuk mengirim kunci jawaban. 
Ini mungkin rahasia lama yang tidak pernah terbongkar. Tetapi, bagi saya kejujuran lebih utama. Saya sempat dipanggil ke BK. Lantaran tidak menggunakan ‘bocoran’. Saya tahu, konsekuensinya. 

Saya sudah memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Ternyata saat sistem masuk SMA menggunakan nilai UN online. Nilai 32,55 mudah sekali tersenggol ke deretan SMA pilihan terakhir. Sampai saya dan Ayah saya mendatangi Dinas Pendidikan. Untuk memasukkan nilai tambahan. Salah satu prestasi saya di juara olimpiade MIPA dan lomba Cerdas Cermat. Hanya menyumbang 0.4 %

Teman saya yang notabene hanya duduk di kelas–pasif, ternyata bisa masuk SMA favorit.
Saya kecewa? Tidak
Hal itu terulang lagi di SMA. Meski beda kasus. Sekolah saya termasuk minoritas saat itu. Banyak yang mengatakan ‘sekolah buangan’. 

Padahal saya lebih merasa bahagia di sana. Saya mendapatkan teman yang lebih bernilaikan pada moral. Lebih banyak kegiatan bermanfaat. Meski akhirnya, saat SNMPTN saya benar-benar kalah. 

Nilai saya bagus, namun ada banyak penilaian di sana. Seperti pemilihan jurusan, latar belakang SMA, alumni yang masuk PTN tersebut. 

Saya suka fisika dan Kimia. Itu mengapa saya dengan yakinnya untuk lolos, memenuhi kuota undangan yang hanya 30 orang. 
Gagal? Saya coba di PTS lewat jalur undangan. Saya diterima di IT. Selain menyukai hal eksata saya suka komputer. 
Orang tua saya tidak mampu, bahkan untuk bisa masuk. Harus merogoh kocek seharga laptop dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Patah hati. Banyak yang bertanya, mengapa tidak masuk universitas di kota saya? Kamu pasti bisa unggul. Tetapi saya merasa tidak tertantang. Saya jenuh. 
Hingga pergi ke Bali demi bisa kuliah. Impian saya hanya ingin kuliah yang penting bisa sambil kerja. Tetapi, sahabat saya menyarankan agar masuk universitas seperti dia. 
Dia bilang saya pasti diterima. Benar saja langsung tergiur. Saat ada jurusan yang sesuai minat dan bakat. Dengan tabungan seadanya saya terbang lagi ke pulau Jawa. Saya pikir semua akan seperti yang teman saya katakan. 
Ternyata berbeda, ada banyak prosedur untuk MABA (Mahasiswa Baru). Saya bertahan hingga semester 2 meski banyak karang kecil menusuk.Hingga pernah saya terminal. Tapi, masuk lagi. Lantaran teman seperjuangan tidak ingin status mahasiswa saya ‘dicopot’.
Entah mengapa saya kehilangan jati diri saya. Bahkan saya tidak tahu, siapa saya. Saat tidak mampu melunasi uang DPP. Sebelumnya saya bekerja meski sampai dini hari. Ikut ‘membantu’ … seseorang.

~*~ 

Kini sudah tahun keempat. Bahkan perjuangan itu sudah pudar. Teman-teman sudah akan skripsi. Tetapi, saya masih belum jelas statusnya.
Tidak usah tanya tentang beasiswa, beasiswa nasional, kabupaten, organisasi dan kampus. Tidak bisa. Kurang memenuhi persyaratan. Padahal jelas saya tidak mampu secara ekonomi.
Entahlah … menjelaskan tentang saya tak akan pernah ada habisnya. Apalagi menulis semacam Autobiografi. 
Saya bersyukur mengalami hal yang beragam, dari situ mata-hati terbuka. Bahwa hidup tak semanis gula jawa. Tak segetir jamu. 
Saya tidak bisa menjelaskan siapa diri ini, karena pada nyatanya masih ‘nol besar’. 

Hanya dengan menulis, beban emosional bisa tersalurkan. Di ujung sana harapan tertancap. Saya ingin buah hati saya melanjutkan kiprah mimpi yang tertunda. 

Salam, dari kota Situbondo.
#7DaysKF

*(Perkenalkan dirimu dalam sebuah paragraf)