Jodoh Datang Tidak Menunggu Mapan: Sebuah Kisah


Jodoh tidak menunggu kamu mapan.

Jodoh itu unik saat dikejar-kejar tak kunjung datang, namun saat kita sudah lelah mengejar ia menghampiri sendiri tanpa pemberitahuan telebih dahulu.

Mau cerita dikit nih, soal jodoh.
Ada seorang namanya Rapunzell ia selalu bertanya-tanya soal jodoh, setiap bertemu dengan pria ia berharap lelaki itu adalah jodohnya. Ternyata tak satu pun yang ia temui menjadi jodohnya hingga Rapunzell pun depresi berpikir soal jodohnya yang tak kunjung datang.

Lagi

Iklan

Tentang Bisikan Rinai Hujan~Baiq Cynthia


Manik mataku merasa panas saat beberapa kilasan cerita begitu melesat dengan cepatnya. Kaki terus berlari meski bercak-bercak bening mulai berceceran di antara sepasang sepatu yang bergantian berpacu. Mendongak ke atas, langit begitu kelabu dan sepertinya hujan deras akan datang.

Lagi

Kisah-kisah Unik Pembuatan Naskah September Wish (Part 2)


Lanjutan TAT S4
Cerita seru dibalik proses pembuatan TAT S4. Selain galau dengan kisah cerita Septian yang harus jadi penjual bakso. 
What? Iya! Dia cowok keren, naas takdir membuatnya harus berganti profesi. Tapi, apakah hanya karena sekolah sambil kerja masalahnya. Enggak! Ini masalah Sephia.

Loh? Mereka kembar? Sepertinya sih begitu. Nama mereka sama-sama berarti September. Mereka lahir di bulan September. Lantas apa hubungannya? 
Mangkanya kita baca bareng-bareng buku September Wish. Masih open Pre Order sampai tanggal 10 Januari 2018.
Mau lihat tampilan kovernya. Nih boleh deh dilihat gratis! 😀

Tahu gak sih? Di balik kover yang keren itu. Ada banyak cerita lucu. Tapi akan saya ceritakan nanti di part terakhir.
Perbedaan di kover lama dan baru jelas terlihat, yang baru lebih manis. Mirip wajah Amzon yang kasih surprise. Hihihi.
Kebanyakan bercanda deh! Lanjut ceritanya.

Pembuatan bab satu sedikit rumit, karena saya harus membuka awalan dengan sedikit misterius, berbeda dengan pada umumnya. Tanpa meninggalkan karakter asli tokoh utama Septian dan Sephia. Mau enggak mau, suka tidak suka. Harus bisa terjun. Mengingat hari semakin mendekati DL. Hanya diberi batas waktu 23 hari?!! Hari pertama, kedua, ketiga saya sibukkan dengan riset. Ibu Kos (Ariny NH) marah-marah saat tahu perkembangan peserta AT di hari ke sekian masih menunjukkan progres yang minim. Apalagi novel versi asli yang dikirim e-book sudah diserahkan dua minggu sebelum tantangan AT.

Ambivert sama sekali tidak membuka isinya, hanya membaca blurb di internet. Sepertinya akan sangat membosankan. Apalagi harus bercerita nuansa remaja yang benar-benar labil, penuh emosi dan tingkah konyol lainnya. Entahlah. Membaca novel asli membuat mata sedikit mengantuk.

Selain pembawaan yang flat—karena gaya bercerita benar-benar (R+13) juga menggunakan POV 3. Sedangkan akhir-akhir ini asupan bacaan saya tentang novel berat, ‘serius’ dan jelas jauh dibandingkan dengan genre teenlit. Teenlit lebih mengarah pada pop, sedangkan bacaan saya lebih mengarah pada ‘serius’. Memang apa yang kita baca akan sangat berpengaruh pada gaya tulisan.

Misalnya kegagalan di TOP 7 UNSAM 2018. Saya terlalu banyak mengonsumsi tulisan cerpen serius, puisi-puisi yang sedikit berat, bacaan mencekam hingga sulit menulis sebuah cerpen komedi yang diberi batasan karakter harus 800 kata. Padahal normal cerpen itu 1000 cws. Ditambah waktu pengumpulan hanya 54 jam. Itu benar-benar membuat kepala ingin membenturkan pada besi.

Berikut komentar dari juri undangan. Oh, iya! Juri UNSAM pun undangan. Jadi saya sulit menentukan tingkat ‘humoris’ juri.

Hingga harus masuk ke bottom 2. 

Lantas setelah saya gagal UNSAM apakah saya kecewa? TIDAK! Kenapa? Karena waktu akan terbuang sia-sia. Tinggal 18 hari saya belum selesai menulis. Menurut penuturan Ibu Kos, naskah minimal yang dikumpulkan berjumlah 100 halaman. Jika peserta TAT S4 tiap hari menulis 5 lembar maka hari ke-23 sudah selesai 115 halaman. OMG! Sedangkan saya sudah absen menulis beberapa hari. Terpotong dengan riset dan membaca novelnya. Juga mengatasi move on dari kegagalan UNSAM 2018.

Ambivert harus semangat! Meski gagal ya, harus terus semangat. Begitu kata-kata yang sering saya katakan kepada diri sendiri. Saat saya baru memulai menulis beberapa halaman. Peserta lain sudah ada yang menulis bab ke-6. Sekitar 30 halaman. GILA!

Persaingan begitu ketat. Gimana gak ketat, peserta yang paling baik akan mendapatkan sebutan winner juga akan diberikan reward. Saya lupa mengenai reward tersebut. Dalam pikiran saya hanya terbayang-bayang 2 JT. Uang siapa yang akan digunakan, jika meleset dari deadline satu detik saja.

Pernah suatu ketika saya menawarkan berkenaan dengan genre yang diganti. Kata ibu kos harus siap melayang uang 500 ribu. Kembali menelan air liur. Ya Ela, paket-an saja yang 50 ribu lama kalau mau beli lagi. Benar, saat itu saya tidak punya paket-an hanya mengadalkan gratisan dari operator kesayangan. Hanya bisa dihubungi melalui WA. Saat yang sama tugas Pre Order Kumpulan Cerpen DARAH 2 masih berlangsung.

Rasanya kepala saya sudah akan meledak. Tapi, saya mencoba menjernihkan pikiran. Mencoba meyakinkan diri—bisa melewati tantangan AT. Ekspektasi satu hari 10 lembar jadi sepuluh hari bisa 100 lembar.
Kenyataannya?

Satu hari baru nulis 3 lembar sudah mengantuk. Rasanya laptop ingin dijadikan bantal. Kembali saya melakukan chatting. Karena saat yang sama Laptop sudah menunjukkan gejala sakit. Saya hanya bisa mengabaikan. Bagaimana caranya mengetik tidak tidur. Saya mematikan ponsel dan terus mengetik. Ditambah suntikan motivasi dari sahabat pena.

Seperti orang gila—mengerjakan tugas TAT S4; jarang makan, jarang mandi dan tidur pun jarang. Tapi, nyatanya saya malah tidak mengerjakan. Chatting, dengan adik-adik yang unyu. Mereka menjadikan inspirasi baru bagi saya.

Sebisa mungkin saya menjaga mood, meski kenyataannya saat itu bertepatan dengan masa PMS. Mudah baper dan mudah galau. Malah lebih sering waktu saya gunakan untuk memasak, bersih-bersih dan mencuci. Otot tangan sudah lelah, pikiran stuck. Semua orang malah berlagak menjadi ibu kos. Lebih parah lagi, setiap online bentar saja. Diomelin. 

Saya mencoba membaca buku sejenis September Wish, mulai dari buku Matahari untuk Jingga, Friend Zonk dan lainnya. Dari sana saya mulai mempelajari teknik menulisnya genre pop. Berbeda dengan tulisan Kak Ariny yang santai, bisa dibilang humoris tapi bagi saya masih flat. Gitu-gitu saja. Timbul ide baru yang muncul di otak saya.

Masih bab awal tapi gak mau bergerak maju, maka saya yakinkan diri untuk memasukkan karakter tokoh kesayangan saya—Marsyah. Teman dekat saya yang membaca karya cerpen di blog lawas pasti akan tahu, siapa Marsyah.

Mengikuti jejak kak Reyhan yang juga pernah menjadi teman duet di ajang UNSAM 2018. Dia memberikan bocoran, bahwa menulis novel teenlit merupakan genre yang paling mudah. Maka saya akan membaca sekali lagi novel September Wish. Berusaha menjadi pembaca awam, tidak tahu apa-apa. Karena sebelumnya–membaca seolah mengoreksi kesalahan tanda baca. Membaca yang kedua kali lebih cepat, karena ada beberapa plot yang sudah saya hafal. 

Ternyata ini novel bukan flat yang saya kira sebelumnya. Penulis begitu telaten menjadi dua sosok yang unyu-unyu. Mendalami karakter, karakternya bisa dibilang sangat kuat dan bikin baper.

Bergegas menulis, sudah semangat di awal. Eh, malah mati lampu. Ini namanya penulis tangguh (Cie ela puji sendiri). Biasanya saya paling tidak suka jamu buatan Nenek. Sejak mengerjakan naskah yang bikin ngantuk, segelas diembat tanpa bernapas. Bahkan sampai tetes terakhir, enggak peduli endapan jamu juga turut diminum.

Hari semakin mendekati deadline. Ada saja ujian yang mengganggu. Itu berkenaan masalah keluarga dan tidak mungkin ambivert share di sini. Pokoknya membuat galau dan gak bisa melanjutkan naskah seharian. Otomatis terpotong waktu menulisnya. Giliran sudah semangat untuk menulis. Pas malam itu!

Tuuutttttttttt … suara dari lappy. Dia benar-benar bernada sumbang, seakan sekarat. Benar saja berkali-kali dicoba untuk hidup dia tak mau. Kesal bukan main. Maka saya tidur lebih cepat malam itu. Membiarkan naskah yang gak sampai 30 persen. Saya mencoba menulis melalui ponsel, yang ada malah tertidur. Iya! Ponselnya malah liatin saya ngorok. (Mungkin).

Esoknya pas Subuh sudah kembali menghubungi teman saya yang katanya akan ada hunting, dia meminta saya untuk berangkat lebih awal. JAM TUJUH. Itu jam-jam masih enak mendekam di kamar atau minum secangkir teh plus roti. Eh, tidak ada santai-santai. Semuanya gelap!

Langit pun gelap, semuanya terlihat sangat buram. Atau mata saya yang berkaca-kaca.
File belum sempat dipindah ke flash disk atau ponsel, sementara lappy saya divonis stadium 4. Dia memang sudah tua. Intel atom keluaran 2007, sepuluh tahun yang lalu. Dibeli bekas, baru sampai di rumah pun sudah berbunyi bib panjang. Ternyata ada kerusakan di bagian keyboard diakibatkan oleh debu. Begitu penuturan teman saya.

Sudah hampir satu jam berkelut dengan program yang akan di-install. Windows-nya yang membuat tercengang. Raib. Kok bisa ada system yang tereset otomatis hanya karena blue screen? Tak ingin berpikir macam-macam, saya meminta untuk menyelamatkan data saja. 

Nasar baik sekali, ia menyuguhkan segelas kopi. Biasanya saya anti sama kopi, sejak panik karena lappy mati. Maka saya putuskan untuk menandaskan. Untung saja saya tidak bisa online, setidaknya bisa terbebas dari status bully-an. Tapi, jangan salah! Saya punya agen FBI untuk mengetahui status yang di-posting oleh Ibu Kos.

Tiba-tiba dia buat status yang bikin geger peserta TAT S4. “Gimana kalau ide cerita diganti?” Kalau gak salah itu yang saya ingat. Entahlah apa pun itu, yang namanya diganti pasti akan merombak lagi.
Apalagi waktu semakin mepet. Tersisa beberapa hari lagi.

Bagaimana nasib lappy ambivert???

To be continue ….

Cerita Seru TAT S4 dan UNSAM 2018 (Part 1)


Alhamdulillah, Usaha tidak pernah menghianati `hasil. Orang-orang yang berada di sampingmu, sejatinya adalah guru terbaik. Meski kadang banyak yang membencimu dari bagian yang paling dekat denganmu. Itu karena mereka tak mampu, mereka terlalu mudah terbawa oleh suasana.

Lagi

Kisah Cinderella, Hadiah Terindah dari Allah


Beberapa bulan lalu, sempat mampir dan tinggal di Surabaya bersama kerabat dari Aunty. 

Pertama kali masuk rumahnya. Aku kaget. Ini mimpi apa nyata? 

Saking kagetnya, aku ‘ndlosor’ setelah bersalaman dengan pemilik rumah. 

“Lho kok duduk di bawah? Dikasih kursi biar duduk di atas.”

Aku hanya mengangguk, duduk pun tak sampai separuh. Bingung. Ini rumah milik Cinderella? 

Dinding bermotif kembang, ciamik dilihat mata. Lalu, aku melihat kursi santai yang biasa kulihat di TV. 

(Begini ya, orang kampung pergi ke kota). 

~*~

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Pic resource : google 

Suatu ketika beliau yang sudah sepuh tapi masih terlihat cantik. Bercerita kepada kami. Aku dan dua sepupuku. Kira-kira kalau saya ceritakan ulang dengan bahasa Indonesia, begini. 
Ada orang yang punya perusahaan sukses, juga baik akhlaknya mencari wanita untuk dinikahinya. Tradisi yang masih digunakan yaitu menjodohkan. 

Diberitahu, fotonya juga ciri spesifiknya. Ternyata lelaki itu mengangguk. Juga ingin mempersunting segera. 

Saat ditanya, “Mahar apa yang diinginkan?” calon mertuanya sebagai perantara anaknya. 

Wanita itu hanya diam, tidak menjawab. 

Karena bingung, sang calon besan. Akhirnya meninggalkan sebuah cek untuk diisi bebas, berapapun. Selain itu memberikan sebuah cincin dibalik kotak kecil. Cincin bermata berlian. 

Subhanallah, wanita yang menerima itu merupakan perempuan sederhana. Berakhlak karimah. Meski dirinya tak pandai merias diri dengan make up yang glamor. Tetapi, mendapatkan pangeran yang tak pernah terbetik dalam hatinya. Sebuah hadiah terindah dari Allah.

Ternyata Cinderella, bukan hanya sebuah cerita fiksi. Allah yang maha membolak-balik hati manusia. Allah pula yang memberikan ketentuan. Bahkan yang Maha mencondongkan perasaan mahkluk-Nya. 

Subhanaallah. Mereka menikah, akhirnya dengan mahar yang telah ditulis pada cek tersebut. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:
“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

Wahai kaum Ikhwan. Saat engkau mencari kawan hidup selama di dunia. Utamakan mencari yang baik akhlaknya. Pilihlah jodoh yang baik agamanya pun sudah diberi petunjuk dalam surat Al Hujurat: 13 

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa.” 

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra)

Wahai diriku, sebagai akhwat. Semoga, selalu semangat memperbaiki akhlak. Di tengah derasnya pergaulan bebas. Pun teknologi yang terus menghujam, menghilangkan sekat dan batas.

Ya Allah, yang Maha membolak-balikkan hati. Teguhkanlah diri ini dalam agama-Mu. Kuatkanlah jiwa yang selalu rapuh, tergoda dengan manisnya dunia.
Pertemukanlah hati dengan belahan jiwa yang telah Engkau tuliskan pada Kitab-Mu (Lauhul Mahfudz). 

Berikan limpahan hidayah kepada kami. Semoga kami selalu berada di jalan-Mu. 

Aamiin.

Based true story*)

#SalamUkhwuah

Penulis : Baiq Cynthia

Cerpen : Kenari Menanti Cinta oleh Baiq Cynthia


Mata sembab, dibalik kilas kornea terlukis sketsa bunga kecil. Mahkota ungu yang mengantung, dengan tangkai mungil. Anggunnya bunga anggrek, tak bosan mata memandang. Duduk di beranda belakang rumah. Sendiri, menemani semut berbaris rapi mengangkat makanan. Meski sedih, setidaknya aku merasa tidak begitu banyak beban. Tiba-tiba sosok sepuh yang menggunakan syal abu-abu menepuk pundakku.

“Nduk, pokoknya apa pun yang terjadi. Nenek janji bakalan mencarikan jodoh untukmu. Kamu yang sabar, ya!” suara wanita sepuh yang sangat lembut terus menghiburku. Seakan masa depanku sudah runtuh. Memang kuakui, semenjak orangtua tak sanggup membayar biaya perkuliahan. Aku tinggal bersama Nenek. Tepatnya di Malang, di kota yang notabene pendidikan. 

Sebagai wanita dewasa, karir menjadi tujuan. Namun, sayang sekali pekerjaan rata-rata meminta kualifikasi yang tinggi. Hatiku gundah, bukan karena merindukan seseorang. Aku merasa bingung dengan masa depan. 

“Nduk, melamun lagi? Sudahlah kamu akan Nenek jodohkan dengan seseorang yang baik. Dia punya perusahaan sendiri, Alhamdulillah sukses. Usianya sudah matang. Cocok kayaknya sama kamu!”

Mendengar hal demikian, rasanya tenggorokan tercekat. Ini seperti zaman Siti Nurbaya. Padahal aku sendiri sudah memiliki bayangan pangeran. Seseorang yang baik dan aku kenal. Berdiri tegap dengan bahu siap membantu. Entah, sepertinya dia sudah pergi. Empat tahun lamanya kami tak bersua. Meski komunikasi begitu gencar-gencarnya. Untuk pertama kali aku jatuh cinta, tetapi tak terbalaskan. Dia memilih untuk pergi. Demi wanita lain, padahal janjinya masih terpahat dalam palung hati. Janji sakral katanya ingin bersama sehidup-semati. Sedikit menyeka airmata. Aku tersenyum menganggukkan kepala. 

Wanita tua yang sering merajut baju hangat, baik sekali. Cucunya hampir selusin. Tetapi, beliau begitu sayang denganku. Tuntutan kuliah menyebabkan harus tinggal bersama. Rumah asalku di Situbondo. Kota terpencil yang ikonik dengan pantai Pasir Putih dan Baluran. Perbedaan suhu dan bentang alam, membuatku betah. 

Nenek sudah mengabarkan akan memberikan calon pendamping. Ada rasa penasaran dengan sosok yang akan dikenalkan denganku. Tak sedikit pun terbetik dalam sanubari. Bagaimana rupa, perangai, tutur bicara. Hingga satu kalimat mendarat dengan mudahnya.

“Nek, kenapa aku dijodohkan?”

Bukannya menjawab, justru Nenek bercerita tentang masa lalunya. Anak-anaknya. Sangkut-paut dengan pasangan hidup. Alasan realistis, mengapa menikah dan dijodohkan penting. Petuah kuno yang penuh nilai.

Aku memahami tiap kata yang terlontar. Meski zaman digital sudah tidak menganggap perjodohan identik dengan jadul. Perempuan dengan garis tegas di kening. Usia mencapai 70 tahun. Tubuhnya masih kuat untuk menghadiri kegiatan rutin bulanan. Arisan  sekitar kompleks di rumah lama, tepatnya Batu. 

Sekelibat bayangan muncul tentang kota dingin yang pernah kusinggahi. Dalam acara yang sama. Saat acara arisan bertempat di rumah tanteku. Sebuah rumah kediaman yang begaya minimalis. Dengan tatanan taman penuh tumbuhan perdu juga bonsai.

Matahari sudah bersemangat menyiram kami. Aku hanya membantu menyiapkan beberapa makanan, menu favorit. Kare, nasi kuning, ayam krispi dan aneka kue. Beberapa minuman dingin tersuguhkan di meja kaca.

 Kota Batu berbeda dengan Malang. Lantai keramik, terasa dingin. Brrr. Tak sanggup jika tidak memakai kaos kaki. Apalagi air dari shower yang mengucur. Rasanya tidak ingin mandi. Sedikit berkeringat di kota dingin. Cukup gunakan parfum, tidak kentara jika tidak mandi. 

Acara arisan dimulai, aku berkumpul dengan sepupu, rapat juga di lantai dua. Arisan anak muda. Kami membicarakan tentang aplikasi anak muda terbaru, tentang selfi. Sesekali menyomot pisang goreng yang masih hangat. Obrolan kami seputar kuliah, kuliner sampai hal paling konyol.

“Maharani, kamu sudah punya pacar?” sapa sepupu yang memiliki rambut lurus dengan bibir polesan lipstik. 

“Oh, enggak Kak! Saya dilarang pacaran!” Aku hanya tersenyum tipis. Meski melihat mereka sedikit melengos. 

Sepupu lainnya tak mengomentari, mereka berdua sibuk dengan gadget masing-masing. Sesekali tertawa. Aku hanya diam melihat handphone tanpa kamera. Melihat jam, sesekali menulis catatan di aplikasi kalender. 

“Kak Maharani, dipanggil Mama!” keponakan cantik yang polos membuatku menoleh. 

Ternyata kami disuruh makan siang, satu persatu turun tangga. Rasanya hanya diriku yang kesulitan. Mengingat menggunakan Khimar panjang. Sedikit menjinjing rok panjang tanpa memperlihatkan kaos kaki berwarna coklat.

Saat kami mengambil makanan, beberapa wanita paruh baya menyapa kami. Lebih tepatnya, kami bersalaman dengan mereka. Mereka begitu memuji sepupuku, yang kuliah jurusan kebidanan dan apoteker. Aku sedikit mengutuk diri, mengapa tidak seperti mereka. 

Ya Allah, Kuatkan hamba-Mu. Menahan rasa ini, membuatku tak berdaya. 

***

Hanya itu bayangan yang kumiliki tentang acara arisan yang digelar sederhana. Hari ini, aku sudah siap berkemas pulang kampung. Mengingat tak ada lagi yang bisa dilakukan di rumah Nenek. Akses ke kampus pun ditempuh dengan sepeda ontel. Meskipun ada mobil dan sepeda motor. Apa daya itu bukan milikku. Hanya menumpang di rumah Nenek. 

Saat embun sore tak kunjung datang, rona hati menyemai rindu. Rindu kepada sosok yang bahkan belum pernah bersua. Menantikan momen yang tak pasti seperti merajut tulisan di atas air. Hati selalu bertanya, apakah cinta itu ada?

Sudah pulang kampung, malah menganggur tidak menemukan pekerjaan yang tepat. Kota kecil jarang dengan lapangan kerja. Jika pun ada tidak banyak yang bisa dilakukan dengan perempuan berhijab. Diam sendiri memangku tangan. Berharap Romeo menjemput Juliet. Dengan setangkai mawar segar, seraya mengatakan cinta. Sering mendengarkan dua nama yang melegenda. Seperti kisah Qais dan Laila cinta yang terhalang untuk bersatu. Cinta laksana aksara yang menetap dalam kertas. Sekali ditulis sulit untuk dihapus. Diam-diam kusebut namanya dalam doa, berharap bisa bertemu dengan sosok yang menurut Nenek akan menjadi pasanganku. Tak banyak harapan, selain berdoa dan menanti kehadirannya.

Doaku terijabah, delapan bulan menunggu tanpa tahu siapa namanya, tidak tahu rupanya. Selama itu pula aku menjaga perasaan. Menutup hati rapat-rapat untuk lelaki lain. 

Pernah suatu ketika di bulan lima menanti kabarnya. Tiba-tiba lelaki semasa sekolah dulu datang ke rumah dengan tujuan untuk meminangku. Entah setan dari mana, aku menolak. Aku berdalih telah ada calon yang siap menikahiku. Kusampaikan bahwa perjodohan itu pasti berhasil. Mungkin celotehan kecil, menyakiti hatinya. Dia pergi tanpa kabar setelah itu. Bagaimana pula, tak ingin melukai hati Nenek. Dia peduli dengan masa depan, impian menjadi seorang yang bahagia.

Benih-benih cinta mati-matian kutanam, masa bertemu telah datang. Itu menjadi sebuah jawaban sekaligus pertanyaan. Sore setelah seharian lelah dengan acara keluarga kecil. Bermain dengan satwa juga melepas penat di salah satu wahana wisata. Tidak jauh dengan rumah tanteku di Batu. 

Punggung dan telapak kaki terasa encok. Berkeliling luasnya Secret Zoo. Tidak peduli saat ada tamu berkunjung ke rumah tanteku. Kaki yang diluruskan di atas karpet. Kutatap wajahnya, merasa sangat familiar. Ternyata tetangga, rumah yang berdiri tegap di depan rumah yang kutempati. Gaya bangunan minimalis modern, dengan lantai dua yang begitu stylish. Pernah terketuk dalam hati, bisa mempunyai rumah elegan.

Batu benar-benar seperti es batu. Air yang keluar dari pancuran, di bak mandi sangat dingin. Rasanya seperti mengambil tumpukan es yang cair. Aku pikir dunia sedang bercanda dengan air es, gemeletuk gigi seperti ikut tantangan Ice Berg. 

Baru saja duduk di kursi kayu. Tetangga Tente–perempuan yang sempat berbincang dengan kerabatku. Kini menghampiri dan ikut duduk di sampingku. 

“Sekolah di mana?” raut wajah penuh antusias.

“Euu … Saya sudah kuliah aslinya. Harusnya semester 6 hanya saja ambil cuti.”

Jujur ini pertanyaan mudah, namun sulit kuungkapkan. Banyak sekali orang menyebut saya masih SMA, lebih parahnya mengira masih SMP. Wajah babyface, dengan perawakan tubuh kurus tidak terlalu pendek. Masih cocok jika masuk SMA. 

“Maaf, Habis wajahnya masih imut! Oh, iya kenalkan tante ini Mamanya Varid. Kamu Maharani, ya? Manis sekali,” tandasnya. 

Sedikit menelan ludah, pipiku bersemu. Astaga, dalam keadaan tidak siap. Baju masih berupa baju santai, pinjaman tante. Sekarang bertemu dengan calon mertua. Lagi- lagi, lebih tidak percaya. Usai Margrib akan dipertemukan dengan lelaki yang selama ini aku nantikan. Padahal make-up dan pakaian yang anggun. Seharusnya dikenakan saat bertemu. Rencana berantakan. Tidak sesuai ekspektasi, tidak bertemu di rumah Nenek. Tetapi di rumah tante.

Kuhirup napas dalam-dalam, sesekali mengangguk mendengarkan perempuan berkerudung bunga. Wajahnya masih cantik, meski ada kerutan kecil di sudut mata. Aku menduga Varid memiliki wajah yang serupa dengan Mamanya. 

Sedikit memiliki ruang gerak, saat Mama Varid bergegas. Setengah berlari ke arah rumah berjarak jalan lebar di kompleks ini. Setidaknya ada waktu untuk memperbaiki sendi yang kaku. Bekas berjalan jauh di kebun binatang. Perasaan tegang bertemu Mamanya, yang kelak menjadi orangtuaku juga. 

Sudah terbayang sosok tegap, wajah oriental khas Arab. Mengingat masih ada keturunan arab. Aku berdoa dalam hati, meski sudah tak sempat memoles diri dengan bedak lagi. Berharap pujaan hati tidak shock  melihat penampakan diriku yang ala kadarnya.

“Assalamualaikum!” 

Degup jantung kian tidak keruan. Sedari tadi aku duduk di kursi kayu ruang tamu, sekaligus terhubung ke ruang makan. Persis dekat pintu dapur suara itu terdengar. Sebuah kepala muncul dari pintu dapur. Dia melihat banyak orang berkumpul di meja makan.

Bagai hujan membasahi bunga mawar, hatiku terasa kuncup. Harapan yang tidak sesuai kenyataan. Lelaki yang berjalan menuju ruang tamu bertolak belakang dari segi bayanganku. Wajahnya bulat, dengan rambut sedikit keriting. Bola mata bulat dan senyum khas.

Saat bersamaan itu pula, 5 anggota keluarga yang tadi sibuk mengobrol, dan berceloteh panjang lebar kini sibuk dadakan. Kakak iparku, tiba-tiba pergi keluar urusan belanja. Tanteku sibuk membuatkan teh, menyuguhkan tahu petis. Sisanya naik ke lantai dua.

Hanya nyanyian jangkrik yang memecah kesunyian. Selama 3 menit kami hanya diam. Lelaki bertubuh gempal itu duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu ruang tamu. Kami berjarak satu bangku panjang, sekaligus menjadi meja tempat tahu petis dan teh kami.

Aku hanya menatap kedua kaki yang terbalut kaos. Varid pun seakan menatapku. Seperti melihat hal yang aneh. Meski mata tak bertaut, aku merasa dia melihat ke arahku. Mengingat sebelah kanannya hanya jendela tertutup tirai. Hatiku semakin berdebar tak keruan. Malu dengan keadaan tidak rapi, harusnya tersapu bedak sedikit. Satu hari penuh dibakar dibawah sorot matahari. Ah, lupakan.

Kini suara beratnya mulai mengambil bagian. Mengajukan pertanyaan ringan seputar nama, umur dan hobi. Aku jawab meski ada keraguan untuk menatapnya. Kutatap sebuah bunga segar. Teronggok di sudut ruangan dekat pintu, menjadi saksi pertemuan dua insan yang selama ini hanya diam membisu. 

Meski bibirku kelu, sebisa mungkin untuk balik bertanya. Rasanya tak sopan jika pasif. Kutanyakan kegiatanya. Seperti pekerjaannya. 

“Aku hanya bantu-bantu di bengkel,” jawabnya sambil tertawa kecil. Dalam hati menolak, berlawanan dengan ucapan Eyangku. 

“Jadi, suka bersih-bersih di tempat kerja?” suara lirihku tanpa ragu.

Dia hanya mengangguk, sedikit menyeringai. Ada kagum, meskipun dia pengelola perusahaan Ayahnya. Kelihatannya pribadi yang rendah hati. Ternyata dia anak pertama, menjadi panutan adik tirinya. What? Pantas saja tidak mirip dengan wanita cantik yang tadi. Mamanya sudah lebih dahulu dipanggil Ilahi Rabbi. Ada kerut di keningku, mengapa usia yang sangat matang namun enggan menikah. Kubiarkan saja rasa penasaran menjadi besar. Toh, yang penting kami dijodohkan. 

Lelaki dengan kumis tipis yang sering tersenyum, memiliki kegemaran yang sama denganku. Membaca buku, menonton film, lebih jarang bersosialisasi. Dari segi penampilan, dia lebih suka pakaian casual. Musik kesukaannya adalah jazz. 

Menurut buku yang pernah kuingat, mengenai tipe pribadi sesuai dengan musik kesukaan. Salah satu alunan jazz yang santai, memiliki arti sosok yang lembut dan easy going. Terkesan melow, pribadi yang perasa juga sedikit sensitif. Bagiku Varid sosok humoris. Wajahnya juga manis. Setiap melihat gaya bicaranya, entah mengapa aku merasa nyaman dan aman.

Kedatipun bibirnya menghitam, efek rokok. Tak menjadi masalah besar. Sisi paling lucu tentang dirinya, dia takut dengan hewan yang cepat dan terbang. Kepalaku langsung menangkap signal bahwa hewan yang maksud ialah si kecoa. Binatang mungil suka sekali terbang dan datang semau gue. Tak terbayangkan jika sama-sama takut kecoa. Pasti saling teriak kali, ya? 

Dering ponsel menggugurkan lamunanku. Sepertinya, seseorang menelpon dia. Sudah berapa lama aku bermain dengan khayalanku. Wajahnya tampak serius, aku hanya diam menatap semut yang berbaris di dinding. 

“Okey, Ma! Saya segera ke sana,” suara Varid menatap tembok dengan serius. Aku hanya menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya. Tak ayal dia menutup panggilan dengan seulas senyum. 

“Maaf ya! Sepertinya saya harus akhiri bincang singkat ini. Setidaknya, kita sudah saling kenal,” ujarnya setelah meletakkan telepon pintar di sakunya.

“Oh, tentu! Saya bersyukur bisa bertemu. Lain kali kita sambung kembali,” jawabku singkat. Ada rasa getir, mengapa hanya sesaat. Padahal aku belum sempat bercerita tentang Eyang yang sering menggoda namanya. Tentang foto selfi dengan Unta. Keseruan mengelilingi rumah hantu, juga asyiknya dengan tornado.

 Dia pergi malam itu juga, tanpa ada rasa atau ungkapan lainnya. Beberapa menit setelah pamit dengan Linda—tanteku. Bayang punggungnya sudah menghilang dibalik pintu. Aku hanya bisa menatap jendela dengan berkas cahaya yang memantulkan tubuhnya. Perempuan yang berprofesi sebagai guru kini menarik kedua bibir manisnya, seolah ingin tahu perbincangan singkat kami. Aku hanya menunduk dengan semburat ranum di wajah. 

“Kamu tahu tidak? Varid sebenarnya mencuri pandang waktu di acara arisan Nenek. Awalnya dia mau bermain dengan Keyzila. Dia suka membelikan es krim untuk Key. Ternyata saat mendengar hentakan kaki dari tangga. Bukan Key yang muncul. Tetapi kamu. Mangkanya dia ingin bertemu denganmu!” tangan tante Linda mulai mencuil pipiku. Kali ini aku sedikit tersipu. 

“Oh iya tante, masa benar dia kerja di bengkel?” selidik rasa penasaran.

“Hehehe … Dia emang gitu anaknya. Suka sekali ngibul. Aslinya dia manager, juga mengelolah event organiser ada lagi dia ngurusi resto yang dekat kota itu loh!” 

Aku hanya mematut diri dalam cermin jendela. Pantaskah, seorang wanita yang tidak selesai kuliah bersanding dengan sosok hartawan. Sedikit terseyum, semoga ini jalan yang terbaik. Setelah gagal kuliah. 

Sepotong malam, seperti bentuk puzzle yang tak lengkap. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak. Apakah dia akan menelponku? Masihkah ada waktu untuk bertemu kembali. Desiran halus kini terasa, setiap melihat rumah yang dihuninya. Malam itu malam pertama berjumpa dan terakhir pula. Aku harus kembali pulang. 

Bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaikan bayangan merindukan pemiliknya. Setiap kali berusaha menghubungi, selalu saja sibuk. Bahkan dalam pesan singkat pun tak terbalas. Jiwa yang tak hanya haus pada sukma, rindu yang kusematkan dalam setiap do’a. Tak sampai tangan untuk merangkul impian, kutulis sebaris surat untuknya. Sebagai butir rindu yang mengapung di udara.
Teruntuk seseorang yang dinanti

Assalamualaikum….

Percikan air dari langit membuat atap rumah berisik. Ini hujan pertama di kotaku. Setelah sekian lama pengap tanpa awan yang biasanya beradu pandang denganku. Mungkin di tempatmu hujan akan lebih sering menyelimuti. Pun rasa dingin yang tak bisa dibayangkan. Bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dalam Lindungan Allah. Aku pun masih dalam tahap pemulihan. Mohon do’anya, tapi… mungkin setiap hari engkau pasti berdo’a. Ya Aku yakin! Karena setiap menangkupkan tangan aku merasa kauhadir.

Sejak hari itu–hari kita dipertemukan untuk saling bersua. Tidurku tak lagi nyenyak. Rutinitas tak seperti biasa. Makan pun terasa hambar. Terasa sepotong hatiku tertinggal di sana.

Ada rasa membuncah untuk pertama kali melihat sosokmu. Pernah terlintas sebelum hari pertemuan tentang sosok agamis, atletis, modis dan humoris. Namun, semua itu hanya dalam negeri dongengku. Bagiku engkau cukup menggemaskan, tampang yang selalu tersenyum. Hingga kerut di pelipis menenggelamkan bola mata saat engkau tertawa. Aku tak mempermasalahkan perutmu yang mirip pemeran di Teletubbies. Kulit sawo matang khas Arab. Juga hidung yang tak semancung Ranveer. 

Aku menerima dengan lapang meski kita terpaut satu dekade. Batinku .. .engkau segalanya. Aku merasa kedamaian saat waktu mempertemukan kita di tempat yang memiliki jarak. Bukan seberapa lama kita beradu pendapat. Tapi, seberapa sabar engkau mengiyakan pendapatku.

Aku suka kamu. Bukan karena sejumlah aset Abahmu, sejuta teman di komunitasmu atau sedekat engkau dengan anak kecil. Meskipun jujur aku akui engkau HEBAT. Begitu sederhana menampik kalau engkau memiliki segalanya.

Aku kadang iri, mengingat aku hanyalah gadis desa yang gagal mendapatkan impianku. Harusnya aku bisa seperti teman seperjuangan yang akan menyabet ‘title’. 

Tapi, lagi-lagi disadarkan oleh ucapanmu, tentang selembar kertas tak akan ada gunanya. Jika tak memiliki kemampuan. Saat rindu menyapa, aku ingin kauhadir walau hanya sebuah kata, “Hai!”.

Nyatanya pesanku terabai. Aku tak tahu keadaanmu. Aku harap engkau menyempatkan membaca secarik surat ini. 

Ini bukan sebuah kata-kata manis merayu. Lebih dari itu. Ini tentang ungkapan hati yang merindu. 

Hanya dengan menulis aku bisa tenangkan diri. Lebih menguasai emosi. Agar tak menjual hormat diri. 

Maafkan aku jika selama ini tak mampu mengendalikan diri. Aku selalu berpikir kau-acuh. Padahal engkau bersusah payah ‘tuk perjuangkan hidup seseorang.

“Semoga ada jodoh dan bisa bertemu di tempat yang lebih baik,” ucapan itu terus terngiang. Walau hanya dalam bentuk kalimat singkat dan padat. 

Insyaallah, jika kita ditakdirkan bertemu kembali dalam sebuah mahligai suci. Aku sangat bersyukur. Hanya soal waktu yang memisahkan jarak kita.

Aku akhiri lebih awal, karena sepanjang rel kereta pun pasti ada ujungnya. Kita saling memantaskan diri dalam menuju jenjang lebih tinggi. Aku tahu engkau sosok yang tak mungkin mendua. 

Terima kasih, telah membaca hingga akhir. Semoga kita sama-sama diberikan jalan untuk menggapai tujuan yang sama.

Akhir kata …. Sampai bertemu di tempat yang lebih indah. 

Jaga diri, jaga hati dan mantapkan kepada Ilahi. 

Wassalamu’alaikum.

Situbondo, 24 September 2016

~Sabtu, ketika hujan menyemai~
***

Suara petasan hiasi malam pergantian tahun, aku hanya mendengarkan saja. Dentuman demi dentuman meramaikan. Seolah penghuni bumi tak tidur. Sudah tiga purnama terlampaui, tak ada kabar. Pesan yang pernah kulayangkan tak terbalas. Sepi di antara hingar-bingar gemerlap malam. Menyendiri dalam kamar, pasrah dengan waktu yang terus bergulir. 

Katanya jarak bukan masalah, hanya ratusan kilometer. Komunikasi sudah canggih, tapi apa salahku? Mengapa hanya seperti pita dalam bungkus kado. Cantik tapi tak berguna, seolah komunikasi hanya sebuah riasan saja. 

Saat ulat kecil bermimpi menjadi kupu-kupu, cantik rupawan. Saat itu aku pun ingin menjadi ulat. Bisa terbang dengan hebatnya. Sebenarnya aku sendiri bingung dengan tujuan hidup. Aku menangis bukan karena tak mempunyai impian. Tetapi, impian kecilku seolah runtuh. Saat impian yang kurajut, sudah berakhir. Kuliah sudah berakhir, impian menikah pun hanya tinggal cerita. Apakah aku tak pantas untuk bahagia? 

Hasrat untuk menjadi sosok yang menginspirasi pun seakan pudar. Jika saja hatiku terbuat dari besi. Mungkin saja berkarat seiring banyaknya airmata yang merembes. Terlalu banyak lebam. Luka yang masih menganga. Impian harapan merajut cinta. Tersenyum bahagia, menari dengan malaikat kecil. Seolah gelap. Sudah pupus. 

Hal paling menyakitkan, saat mendengar Varid menikah. Terlebih kini aku memegang undangan berwarna maroon. Sebuah ukiran nama yang begitu jelas. Itu nama Varid dia memilih bersanding dengan orang lain. Wanita yang entah siapa. Sepertinya rinduku selama ini percuma. Doa-doa yang kulayangkan ke langit. Pudar bersama hujan. Harapan-harapan kecil. Pecah tanpa sisa. Sudah tak ada lagi. Hanya tetesan bening yang membentuk lingkaran kecil di atas undangan pernikahan. 

Ini kabar menyenangkan sekaligus memilukan. Kabar menyenangkan, sepasang insan yang berjumpa dalam mahligai rumah tangga. Terasa pilu pengantinnya bukan aku. Bahkan aku tak tahu alasan dia memilih orang lain. Untuk apa kita berjumpa jika ada perpisahan. 

Separuh jiwaku, seakan terlepas dari raga. Serpihan hatiku luka, saat sosok yang kumimpikan menjadi pelindung. Sudah tak ada lagi. Impian sholat berjamaah setiap sepertiga malam pun pudar. Ini takdir atau kutukan? 

Wahai yang maha membolak-balikan hati, sesungguhnya hati ini milikmu. Jiwa ini dalam lindunganmu. Aku hanya menahan bulir bening itu untuk. Tak terlepas. Sesegukan kecil sudah tak terbendung lagi. Astaugfirullah. Mungkin ini sudah garis jalanku. Aku harusnya lebih sadar diri. Aku siapa, dia siapa. Jika jodoh tak harus berakhir dengan menikah. Kuikhlaskan. Kubiarkan sembilu menancap dalam segumpal daging. Kubiarkan denyut perlahan menipis. 

Menatap langit yang terang, melihat kenari dalam sangkar. Matanya seolah berkata kepadaku. Dia sedang rindu dengan kekasihnya. Terjerembab dalam sangkar emas pun, bukan pilihannya. Kenari tak bisa menangis. Baginya diberi makan oleh empuhnya sudah cukup. Tersadar di dalam sepiku. Bahkan jodoh tak bisa disalahkan. 

  Setiap cinta yang datang pasti akan pergi. Kala cinta tak tergenggam, boleh terlepas. Cinta yang indah akan melengkapi benak yang hampa. Begitu pula dengan takdirku. Jika Varid memilih pergi, hatiku tidak bisa. Cinta itu sudah bersemayam terlalu dalam. Butuh waktu untuk menghapusnya. Perlahan cinta semakin meredup, hingga aku mengusap bulir bening. Aku harus ridha, kehidupan, kematian, rizki dan jodoh Allah yang mengatur. Ini isyarat dari-Nya. Allah cemburu kepada hamba-Nya. Maafkan hamba-Mu yang dhoif. Ingin kudekap selalu. Cinta sejati tak harus diucapkan, biarkan saja mencari cinta yang lain. Biarkan cinta bertepuk sebelah tangan. Jika cinta, dia datang bersama wali. Tidak membiarkan menunggu, seperti a

#BaiqCynthia 

Februari, 27 2017

Biodata Penulis
Nama Lengkap : Baiq Synithia Maulidia Rose Mitha

Nama Pena : Baiq Cynthia

Aku Medsos

FB : Baiq Cynthia

Twitter : @BaiqVerma

Instagram : BaiqCynthia

Blog : Baiqcynthia.wordpress.com

E-mail : Baiqcynthia@gmail.com

Nyanyian Jangkrik~Baiq Cynthia


​Dear Mantan. Hahaha. Gak cocok. GANTI.

Dear Penulis. 

Malam ini kusempatkan menulis di beranda yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Sebagai (calon) penulis, saya ingin menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur.

Alkisah, binatang kecil yang bernama Janma. Suka sekali mengerik. Membuat si Doki, tetangganya. Tak bisa terlelap. Hingga, usikannya. Membuat tanduk merah langsung menyala. Si doki langsung, ingin balas dendam.

Mengorok ala kodok. Emang doki itu seekor kodok lincah. 

Si Janma tak nerima, Doki punya suara yang mirip.

“Kamu kopas? Ya?” Mentah-mentah Janma negur doki. Dengan kaki mungilnya naik ke batu. Ala bos.

“Idihh, siapa kamu? Aku emang punya suara gini. Bagusan aku kemana-mana,” Doki semakin nyinyir. Sebetulnya Doki malam itu sedang ingin bersenandung. Mencari kekasihnya yang pergi, dibawa lari. Entah mengapa, Janma tak menerima.

“Oke kita duel malam ini!” suara serak di Janma memulai.

“Oke,” jawaban tak kalah lantang.

Mereka saling menunjukkan suara paling nyaring. Janma menggesek sayapnya dengan semangat. Doki menabu tenggorokannya tak mau kalah.

Malam, yang kabutnya mulai tebal. Awan mulai selimuti Dewi Malam. Dia bertengger, tanpa bergeser dari pangkuan langit.

Dewi Malam melihat seekor srigala yang kelaparan. Matanya merah mencari mangsa. Mulai mendongakkan kepala. “Auuuuuuuu!”

Seketika Doki dan Janma terdiam. Suara si Mister penjaga Dewi Malam, membuat bulu kuduk merinding.

Doki memilih pergi, meninggalkan Janma yang tiap malam bernyanyi tanpa nada. Mengusik siapa pun yang lewat. Janma sendiri sudah tak peduli dengan suara apa pun yang muncul di malam berikutnya.

Baginya, setiap suara punya ciri khas tersendiri. Tak perlu ada namanya mesin fotocopy di hidupnya. Janma, tak ingin menuduh Doki mengopas suaranya yang mirip.

~Goodnight

#StoryAiq

#basedtrue

#cernak

#minidoang

Cinta di Pelupuk Senja (Baiq Cynthia)


​Judul     : Cinta di Pelupuk Senja

Penulis : Baiq Cynthia

Sumber gambar 
“Ayo, cepat! Entar langit akan segera gelap,” dengus wanita cantik yang membolak-balik majalah. Wajahnya seperti salah satu girls band yang digandrungi banyak lelaki. Meski matanya menatap banyak mode pakaian, sesekali mencuri pandang dengan jam yang melingkar di tangannya.

“Iya sayang, ini udah beres,” lelaki yang masih mencoba mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tergopoh-gopoh menuju asal suara. Wanita yang duduk di beranda rumah, dengan wajah tertekuk masih terus mengomel.

Dengan kunci yang ditancapkan di kepala sepeda motor, Roy langsung menstater Ninja merahnya. Derung suara dari cerobong kecil di belakang. Membuat Santi segera mengambil posisi mantap, duduk di jok belakang. Tangan indahnya melingkari perut lelaki yang datar.

Udara terasa hangat karena matahari telah bergeser 30º dari ujung kepala. Perjalanan yang menempuh jarak yang tak begitu dekat. Namun, dinikmati tanpa ada suara. Santi merebahkan kepalanya di punggung lelakinya. Membiarkan matanya menatap nyalang ke arah rumah-rumah yang berjalan mundur. 

Aroma pasir dan sejuknya angin laut memancing banyak orang untuk mengunjungi pantai Pathe’. Roy segera memarkir motornya. Santi bergegas menuju ke arah laut. Deru ombak saling mengejar. Melihat anak-anak yang bermain pasir.

Roy, menuju ke warung mungil di sekitar pantai. Tujuannya tak lain mencari es degan.

“Mbak, pesan es degan satu, sedotan dua!” sambil melempar wajah sinis melihat perempuan berusia sekitar 18 tahunan yang terkesan kampungan.

“Tunggu sebentar pak!” jawabnya ketus.

“Eh, aku masih mudah kok dipanggil Bapak.”

“Nah, terus aku manggil siapa?”

Wanita yang mulai terganggu, mengambil kelapa muda. Sangat terampil mengupas dengan golok.

“Panggil saja, Roy!” nadanya jelas sambil meletakkan Nokia Lumia 1020 di atas meja.

“Oh, aku Rahma,” timpanya, menyelipkan dua buah sedotan.

“Berapa?”

“Lima ribu rupiah saja.” 

Roy berdiri dan memberikan uangnya lantas pergi sambil membawa es degan.

“Dasar lelaki aneh datang-datang seperti monster!” 

Perempuan yang baru menerima selembar uang. Beralih komat-kamit, jengkel. Roy yang saat itu baru berjalan 3 langkah mendengar kata-kata Rahma sontak berbalik 180º dan melemparkan es degan ke arah perempuan berambut ikal itu. Serta membuat beberapa pelanggan kaku.

“Woy! saya gak mukul sampeyan, kenapa  ngelempar gak jelas!”

“Nah, ‘kan elo yang cari gara-gara sama cowok ganteng sepertiku.”

“Lebih ganteng monyet.”

“Sialan!” Hampir saja tangan Roy mendarat di pipi Rahma yang eksotis. Sebuah tangan menahannya.

“Santi!”

“Iya, lebih baik kita cabut dari tempat kumuh seperti ini,” sorot mata yang tajam menarik lengan kekasihnya. Sementara Rahma sibuk membereskan lantai dan acuhkan mereka. Lemparan tadi meleset, namun membuat lantai becek. Alas yang hanya sebuah gundukan tanah. 

“Aku mencarimu, ternyata di situ bersama cewek kampungan.

“Maaf Say. Tadinya aku memesan es degan buat kita berdua. Eh, dia cari masalah denganku. Awas saja dia muncul lagi!” 

Roy sudah sangat jengkel, bahkan baru yang tak berdosa pun dianiaya. Di tendang. Gumpalan kesalnya membuat moodnya ingin pulang saja. Padahal moment di pantai masih sebentar. Santi pun setuju dengan rayuan Roy yang begitu dasyat. Merangkul menuju parkiran.

~*~

“Huh, capek banget! Nemani Santi, sekarang waktunya istirahat. Entar malam time for Eka,” ujar Roy dalam hati sambil merebahkan badannya. Seringai kecil terselip di antara dua rahang yang keras.

Di tempat yang berbeda, Rahma masih kesal dengan perlakuan Roy. Dia memilih tempat yang sama, saat Roy duduk. Ketika akan menjatuhkan diri ke kursi. Santi melihat ponsel mewah di atas meja.

“Rahma, itu ponsel siapa?” Suara ibunya tiba-tiba mengagetkan Rahma.

“Anu, mungkin punya Roy.”

“Roy? Pacar kamu?”

“Hah, Aku punya pacar seperti monster?” 

Kemudian ponselnya berdering, incoming call dari Eka. Tanpa sedikit ragu. Tangannya sudah menempelkan pada telinga.

“Halo? Ini siapa?” 

“Ini siapa!” Suaranya terdengar menggelegar ke telinga Rahma. 

“Ini Eka ya?”

“Lah, kamu kok tahu namaku? Ponsel Roy kok sama kamu?”

“Anu, ketinggalan!” Tut … tut … tut …. Tiba-tiba sambungan putus, ponselnya mati.

“Huh, ponsel kampungan!” seraya meletakkan kembali. 

Ibunya tercenung, melihat ekspresi Rahma. Wanita dengan bibir tipis terlihat tegang. Rahma berusaha meyakinkan ibunya, bahwa Roy akan menjemput ponselnya. 

Bagi seseorang yang memiliki waktu padat, melayani pembeli. Selalu memikirkan waktu di hemat. Membiarkan Rahma kini hanyut dalam lamunan.

Pengunjung mulai sepi, malam telah merenggut siang. Ombak seakan teriak, memanggil temannya. Rumah Rahma berdekatan dengan warung mungilnya. Seakan bisa tidur dengan melodi laut. 

Andai saja engkau masih ada. Mungkin aku masih bisa tertawa denganmu. Mencari kerang bersama. Membuat hari-hariku menjadi hangat. Juga menemani ibu. 

Hari telah berganti. Rahma pergi ke tengah laut yang surut. Kerang-kerang dimasukkan ke ember kecil. Ember berdiameter 30 cm. Mengambang di laut. Meski diberi beban.

Baru saja, mengangkat ember. Terdengar  sahutan keras, samar-samar. Rahma mendongakkan kepala. Dilihatnya lelaki berpostur tinggi. Dengan dada datar. Wajah oriental. Sedikit menjengkelkan. Diam-diam Rahma kagum. 

“Iya, kembalikan HP-ku, pencuri!” 

“Hei, jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas kamu yang pikun sama ponsel!”

Rahma mulai menuju asal suara. Membawa beban kerang yang tidak terasa berat.

“Hei, gara-gara kamu Aku putus dengan Eka. Semalam dia nyamperin rumah, menampar pipi mulusku ini. Lucunya, Santi juga datang mengambil majalah yang ketinggalan. Rekor muri sepanjang sejarah playboy, sudah diraih. 2 kali cap 5 jari. Puas!”

Rahma hanya memegang perutnya. Mulai tertawa mirip nenek sihir. Dilepasnya kerang yang banyak. Sebagai ucapan maaf. Rahma siap menemani sang Play Boy.

“Sini, mendekat lihatlah kepiting itu. Aku akan menangkapnya untukmu,” ada sorot binar dari wanita yang berbulu mata lentik.

“Coba saja kalau berani,” Roy melipat kedua tangan di depan dada. Roy melihat tangan cekatan gadis yang menurutnya juga manis.

“Yeah, ini buat kamu!” Rahma melemparkan ke arah Roy. Tepat di bahunya sang kepiting ukuran sedang mencapit bajunya. Alhasil dia menjerit, lari pontang-panting mengejar Rahma. 

“Hei, cewek aneh ini ambil saudaramu!” Melihat Roy yang ketakutan, Rahma menghampiri. Lagi-lagi senyum lepas hadir di antara mereka.

“Oke, kita akan panggang nanti sore! Gimana kalau sekarang kita beradu mendayung ke tengah laut?” 

“Siapa takut,” kata Roy sambil meletakkan barang-barang yang melekat di saku ke atas pasir.

“Itu perahuku, dan ini perahumu,” tangan Rahma menunjuk ke arah Perahu yang ditambatkan di bibir pantai. 

“Are you ready?” tantang Roy. 

“Ready,” jawabnya mantap.

Mereka mendayung di lokasi sedikit jauh dari objek wisata. Sunyi yang terasa, deburan ombak menghantam karang. Semakin menantang adrenalin mereka. Matahari mulai menyengat. Seolah tak ada. Tiba-tiba perahu milik Roy oleng, dan Roy terjebur ke dalam air yang mulai pasang. 

“Tolong … tolong ….” Rahma segera mungkin mendayung ke arah Roy dan berusaha menaikkan ke perahu. Namun, sayang Roy malah mengguncang perahu Rahma dan gadis berkulit coklat ikut terjebur juga. 

Roy tertawa kencang. Ini hanya rencana balas dendam. Saat kepiting keras mencapit. Lelaki yang memiliki alis tebal, diam-diam kagum dengan sosok sederhana Rahma. Tidak marah meski dikerjai.
“Haha, wajahmu pucat. Takut kehilanganku?”

“Jangan bercanda, ini tidak lucu. Ayo bantu aku menarik dua perahu itu,” bibirnya mengerucut, kesal. Rahma menarik perahu-perahu kayu, mengamankan kembali.

“Au, sakit.”

“Kenapa?” Roy berhenti  tertawa.

“Lihat, sesuatu menancap di kakiku.” 

Darah mulai mengalir dari telapak kaki Rahma, sebuah duri. Bekas babi laut, telah menancap cukup dalam, hingga tak mampu berdiri. Roy tak tega melihat temannya. Menggendong ke rumah Rahma. 
“Lukamu parah! Sini Aku obati, rumahmu tampak sepi.” 

“Au, iya ibu jualan di warung, sakit tahu!”

Kaki Rahma terbalut dengan perban dan masih berjalan pincang.

 “Aku boleh, gak ngomong sesuatu?” Roy mendekati Rahma di beranda rumah.

“Apa? Katakan cepat! Janjiku masih belum lunas kepadamu.” Janji Rahma untuk menemani seharian. 
“Iya, sebenarnya aku lupa kalau sekarang ada janji sama teman.”
“Aku pikir ada apa,” diam-diam Rahma telah berharap. Lelaki ganteng akan menyatakan cinta. Debar-debar kecil mulai menyeruak. Ada rasa ingin mendekapnya.

“Aku pulang ya, aku janji sore nanti aku kembali.” 

“Oke,” balas Rahmah sambil menahan sakit.

Suara Ninjanya meraung, melesat. Tak terdengar lagi. Rahma hanya menatap matahari. Perlahan membuat air laut kembali menyusut. Ia menanti kedatangan Roy. 

“Aku jatuh cinta? Entahlah.” Kakinya yang diperban tidak terasa sakit lagi. Duduk di bawah pohon kelapa dan melempar batu ke arah laut. Beberapa jam kemudian menanti, namun tak ada kabar. 

~*~

Suara benturan keras yang membuat orang-orang berkumpul Rahma yang penasaran juga bergabung. Ternyata seorang lelaki sepeda Ninja. Berlumuran darah. Di tangannya ada kantong plastik bermotif bunga. 

Rahma memungutnya, sebuah kado, seperti bungkusan kecil. Ada kertas terselip di antara pita. Orang-orang sudah mengeksekusi Roy. Mata Rahma menatap nanar. Hatinya lebam. Tadi, pagi masih bersama. Kini tergeletak. Dengan darah mengucur. Tidak tahu pasti keadaanya. Rahma tak bisa mendekat. Beberapa saat, petugas sudah menutup dengan koran. 

Tangis Rahma pecah. Kini Rahma merasa seorang diri. Di tengah keramaian. Tangannya masih meremas kertas. 

“Aku telah jatuh cinta kepada sosok gadis yang menyebalkan namun membuatku rindu. Cinta itu begitu cepat, aku telah yakin dan tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang lalu. Maafkan aku, sebenarnya aku telah jatuh cinta sejak kita masih berusia 8 tahun. Namaku Rangga Roy, aku baru sadar kalau kau adalah Diana Rahma yang aku cari. Diana, maukah kau menjadi kekasihku dan menemani hari-hariku bersama mentari? Anggukan kepalamu, jika kau setuju. Ini, aku belikan ponsel yang kau impikan. Dan itu cincin pertunanganku. Tetaplah di sini bersamaku. Karena kau matahariku dan aku bunga matahari. Cintaku seperti bunga matahari yang tak pernah berpaling dari cahayamu. Aku mencintaimu, Diana Rahma. Salam cinta, Rangga Roy.” 

Seketika, Rahma meletakkan sepucuk surat itu. Dirinya berlari menuju lelaki yang tak bernyawa. Memeluk jasad Roy.

“Tidak, jangan pergi Roy!” Polisi mulai datang dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Menarik Rahma untuk tak mendekati Roy.

Meski berat, Rahma meninggalkan Roy. Menatap mentari yang perlahan hilang ditelan laut.
~TAMAT~

*Cerita ini ditulis karena ada lomba di SC. Sebagai cerpen romans perdana yang saya buat 3 tahun silam. Terlepas dari ide yang terlalu aneh. Saya tetap cinta sama cerpen ini. Semoga terhibur. 🙂

Cinta yang Gugur di Tahun Baru


Oleh: Baiq Cynthia

Desember telah di depan keningku. Aku lewati lagi tanpa kejelasan status. Semuanya tampak buram, di saat setiap orang mempersiapkan hadiah natal dan pohon yang yang dihiasi pernak-pernik indah. Beberapa hari lagi pun langit akan diwarnai oleh kembang api

Oman

Keindahan kota Oman dari atas. Dokumen Pribadi

Baca Selanjutnya….

Menanti Embun dan Cahaya Syurga


Menanti Embun dan Cahaya Syurga

By: Baiq Synthia M.R.M

       Bagi Zahra seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan,sosok orang yang ia sayangi, kagumi dan akan menjadi imam dalam mengarungi bahtera kehidupan telah meninggalkannya.

Lagi

Follow Daily's Baiq on WordPress.com