Tantangan Menulis Akan Membuatmu Strong (Tips Menulis)


Habis TAT S4 Terbitlah TAT DUEL

Menulis itu memang tidak semudah membuat kalimat, “Saya Bisa Menulis atau Aku Penulis.”

Saya tidak akan mengatakan menulis itu susah, karena setiap permasalahan paling rumit di muka bumi ini, pasti ada jalan keluarnya. Tentu saja menulis pun ada caranya agar lebih mudah, seperti makan Biskuit yang diputar, dijilat dan dicelupin.

Menulis juga ada caranya, membaca, membaca, membaca dan menulis, menulis, menulis.
Saya jabarkan lagi arti 3 Membaca dan 3 Menulis.

Membaca yang pertama; tujuannya kita mendapatkan ide. Menulis yang pertama; menuliskan ide apa saja yang sudah tertangkap.
Menulis kedua; membaca tulisan yang sudah kita tulis. Menulis yang kedua; mengedit apa yang kita tulis.

Kemudian tulisan diendapkan untuk waktu yang cukup entah 3 hari atau seminggu. Selama diedapkan lupakan tulisan yang sudah ditulis, bawa refreshing anggap tidak ada pikiran. Tidak terlalu lama juga mengendapkan, lalu baca yang terakhir.

Membaca yang ke-3; posisikan kita sebagai pembaca awam, jadi harus netral jika merasa ada ketidakcocokan dalam aturan kepenulisan, maupun berkenaan dengan kisah yang disuguhkan.
Menulis yang terakhir; ialah benar-benar menulis semacam perbaikan total juga revisi. Jadi, sebagai penulis juga harus cakap menjadi editor sendiri sebelum mengirim naskahnya.

Hei itu salah satu tips mudah yang tentunya hanya dengan mencoba bisa mengetahui sejauh mana kemampuan menulisnya.
Beranjak dari hal yang sedemikian sederhana, kita uji nyali menantang diri. Gimana perasaanmu saat menulis dikasih sedikit tantangan?

Misalnya tenggat waktu, atau deadline. Ini sudah hal yang wajar ya, tapi bagaimana jika tenggat waktunya sangat kepepet. Menulis novel dalam waktu kurang dari 23 hari? Sudah pernah?
Mendapatkan genre yang paling dibenci?

Teror berupa denda, hingga status-status pertanyaan kapan selesai? Seperti jomlo ditanya kapan nikah? Untung gak sampai pilih jalan pintas semacam bunuh diri, “Ih serem!” Lebih serem lagi kalau pergi ke kondangan mantan.

NEXT …

Tantangan berikutnya ialah membuat versi remake dari novel penulis yang mengadakan tantangan ini. Semacam meng-cover lagu, agar lebih menarik atau memiliki hal yang baru tanpa mengurangi nilai dan isi dari cerita yang versi lawas.

Keseluruhan itu masuk dalam ajang TAT S4. Ada sedikit tips nih, dari saya yang kebetulan dinobatkan menjadi The Winner sama Ibu Kos. Cie, tidak sia-sia begadang, dan duduk dan tidur bareng Lappy (baca: Laptop), sampai ia harus masuk ruang servis. Mungkin karena sudah tidak mampu menahan beban hidup dan kenyataan yang pahit.

Tips pertama yang saya lakukan saat menghadapi tantangan TAT S4.
Menerima kenyataan, bahwa hidup memang harus dinikmati, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama tetap konsisten dalam belajar.

Selanjutnya, mulai cintai proses dan apa yang akan ditulis. Semua yang berasal dari hati, tentu akan menjadi lebih spesial. Dengan cinta, kita akan merasa lupa dan tidak peduli pada kegagalan yang akan dihadapi. Cinta menumbuhkan optimis, dan cinta selalu menemukan jalan keluar dalam sebuah permasalahan.

Saya awalnya merasa kesulitan menulis naskah Teenlit yang menjadi tantangan, karena bacaan terakhir saya sudah mulai masuk pada tipe bacaan yang ‘berat’. Seperti Rafiluss karya Budi Darma.

Maka hal pertama yang saya lakukan adalah membaca, mulai mengamati keadaan zaman putih abu-abu yang dulu itu. Sedikit sulit untuk bisa mengembalikan memori saya yang sudah tereset pada hari ini. Banyak hal-hal buruk yang saya alami semasa di SMA. Itu mengapa saya tidak menyimpan kenangan remaja.

Tak cukup dengan ‘memanggil’ kenangan yang lama saya mulai dengan hal yang lebih mudah yaitu berperan sebagai tokoh dalam cerita, seolah-olah itu saya yang mengalami.

Gimana caranya bisa menyelesaikan 120 lembar dalam waktu 3 mingguan?
Kita atur misalnya satu hari 10 lembar maka dalam 10 hari sudah selesai, bulan? Tapi pada kenyataannya, seringkali realita tidak sama dengan ekspektasi. Sehari saya hanya mampu satu-dua lembar. Itu sungguh menyedihkan.

Menulis tidak bisa mengandalkan mood, kalau menunggu mood bagus, sama saja menunggu hujan di tengah kemarau. Saya mulai berjuang saat itu, meski nyaris tidak tidur dan tulang ekor terasa akan copot saja. Saya abaikan segala hal yang mengganggu, sebisa mungkin saya tidak mengerjakan multitasking. Karena efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan otak.

Ini sudah nyaris pukul 1.00 saya belum bisa tertidur, padahal rutinitas hari ini bisa dibilang sangat padat. Tapi penulis tidak akan mudah menyerah, ia rela berdarah-darah demi bisa menulis walaupun mata suah terkantuk-kantuk.

The power of kepepet selalu menjadi paling ampuh, saya mengerjakan non stop itu saat waktu sudah tersisa hitungan hari.

Maka tantangan TAT DUEL kali ini yang akan saya hadapi, setelah mendapatkan tantangan menulis yang jauh dari genre, kini premis pun ditentunkan dari penerbit.

Bisa dikatakan jauh dari pengalaman menulis saya, ini bukan soal menulis perjalanan hidup. Tapi, menulis memiliki tujuan, manfaat dan dampak. Itu yang harus dipegang teguh oleh penulis.

Saya pun dibuat bingung dengan inti premis, hingga membuyarkan pikiran saya berkenaan dengan pengertian premis itu sendiri. Bersyukur, teman-teman TAT DUEL meski dalam hal berkompetisi kami saling mensupport satu sama lain, melalui semangat dan motivasi.

Meski ada beberapa peserta yang mendapatkan DL lebih cepat, kami pun terus berusaha untuk menyelesaikan naskah dengan baik.

Premis saya ternyata teka-teki yang harus dipecahkan oleh saya sendiri. Ini mah buka premis!
Selamat istirahat, punggung rasanya butuh sandaran—kasur.
Situbondo, 11/4/2018

Iklan

Alasan Mengapa Harus Mendapatkan Pasangan yang Baik


Hari Ke-6

Setiap bayi yang dilahirkan di muka bumi ini suci, baik, lucu dan masih bersih. Namun, orangtua yang menentukan masa depan si kecil. Orang tua pula yang membentuk karakter. Setiap orangtua pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Tetapi, Ada 3 pembentukan individu; orangtua, lingkungan dan teman pergaulan. 

source : pic in twitter
Saya rasa setiap orang berhak untuk kebaikan. Karena manusia terdiri dari dua sisi. Baik dan Jahat. Tak bisa dipungkiri. Hanya yang memberikan perbedaan seberapa besar persentase keduanya. 

Saya jadi teringat kepada salah satu film yang populer tahun lalu. Sanam Teri Kasam. Berkisah seorang mafia yang bertahun-tahun di penjara. Lalu bebas, jatuh cinta kepada gadis polos sebagai penjaga perpustakaan dan pecinta buku.

Lelaki yang penuh tato itu meminta rekomendasi buku, buku bagi orang yang baru keluar dari penjara. 

Saya melihat sosok lelaki yang baru bebas dari penjara pun suka memberi susu kepada kucing. Walaupun banyak orang mengecap ‘bajingan’. Mengingat perilakunya diluar tatanan hukum masyarakat. 

Uniknya dalam kisah ini, mereka saling jatuh cinta. Dengan ribuan konflik, sebelum mereka bersatu. 

Satu hikmah yang bisa dipetik, tidak bisa menilai orang hanya dengan tampilan. Kita bisa tahu perilaku orang melalui sikapnya, perilaku dan sudut pandang.

Berikan setidaknya tiga alasan bahwa kamu pantas memiliki pasangan hidup yang baik. #Harikeenam (Writing Challenge #7DaysKF #Basabasi)

Pertama, Saya sedang dalam tahap proses memperbaiki diri. Motivator yang saya kagumi berkata, “Seseorang yang selalu mengupgrade dirinya akan disandingkan dengan sosok yang setara.” Pasanganmu cerminan dirimu. 

Source: Instagram

Kedua, sudah banyak dipertemukan dengan orang tidak baik. Itu pertanda, harus bisa menjadi sosok baik. Setidaknya bisa bertingkah laku yang baik, minimal senyum setiap bertemu orang. Sebuah senyum, sama halnya berbagi kebahagiaan, juga membangun relasi yang baik. Hingga berkumpul dengan orang baik. 
Saya yakin diantara teman saya, pasti ada yang merupakan jodoh saya. Karena jodoh hakikatnya dekat. Dekat di sini bukan konotasi dengan jarak. Akan tetapi, jiwanya yang serupa. 
Terakhir, saya tumbuh dan dibesarkan di keluarga baik. Juga lingkungan yang baik. Bahkan Ayah saya sangat melarang keras pacaran. Demi menjaga buah hatinya. Selain itu pula sejak dini sudah dikenalkan dengan agama.

Source: Instagram

Tanpa Agama hidup terasa kosong. Sehingga saat akan melakukan hal yang kurang baik, bisa diminimalisir. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. 
Saya juga insan yang lemah. Banyak sisi kekurangan. Hanya dengan memiliki pasangan yang baik, bisa saling memperbaiki. 
Saya wanita. Wajib bagi saya mencari pemimpin yang baik. Seorang yang nantinya tak sekedar berstatus sebagai suami, namun kepala keluarga. Seorang ayah yang memberi teladan kepada anak. Membimbing istri, menemani setiap proses perjalanan hidup. 

 source : unname

Kebaikan tak mutlak sebuah kesempurnaan. Namun, kesempatan untuk sempurna selalu tentang kebaikan. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Maka kebaikan yang akan menutupi keburukan. 
Penulis : Baiq Cynthia

Sosok yang Ingin Kutemui 


Hari Ke-5

Sosok yang ingin kutemui dalam waktu dekat. Dia yang selalu memberikan inspirasi. Sosok yang menyumbangkan banyak suplai darah. Meski lama dalam setahun bertemu. 

Aku tak kecewa, mengapa kami tak bersama. Karena Allah maha tahu alasannya. Tidak ada yang benar-benar terjadi di bumi ini, tanpa sepengetahuan-Nya.  Aku pun tak ingin gundah, saat perlakuannya kurang mencerminkan kasih sayang. 
Mungkin, kesempatan ini jarang. Bahkan ikatan emosi di antara kita tak terwujud. Sedih. Tetapi, memang benar begitu.
Terlalu lama terpaku pada hal ego dan materi. Terlalu lama dekapan hangat itu terasa. Hingga tak ada sisa memori lagi. Aku akui aku salah. 
Tak ada yang benar-benar harus ditumpahkan. Selain rasa maaf dan penerimaan. Aku sadar. Kita pasti memiliki keping cinta. Tanpa diminta akan disediakan.Semoga bertemu kembali, Ayah-Ibu dan adik-adikku. 

Yang berikutnya yang ingin ditemui, sahabat lamaku. Yang selalu ada dalam suka maupun duka. Selama jarak hanya rintangan. Maka dengan menggulung jarak kita akan bersama lagi. Sebisa mungkin moment Hari Raya Idul Fitri sebagai pelipur lara. 
Terakhir adalah teman masa SMP, sudah hampir 8 tahun tidak bertentangan. Tidak ada kabar dan tidak mengabari. Berkat Ramadhan pun. Insyaallah kita akan berkumpul.
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan keberkahan. Karena itu aku enggan ditinggalkan lagi. Bulan ini terlalu indah dan menyenangkan. 
Karena setiap ada pertemuan akan ada perpisahan. Setiap ada yang berpisah akan ada kerinduan. ~Baiq Cynthia
#KampusFiksi

#7DaysKF

#BasabasiStore

HAL yang Tak Terkira, Mampu Membuatku Tersenyum [Hari Ke-4 #7DaysKF]


Hari ke-4.

Peristiwa yang kita alami terkadang penuh rasa. Memilukan, menyedihkan, membuat kita tertawa hingga merasa malu. Perasaan itu biasanya lebih lama mengendap dalam pikiran. Butuh umpan untuk mengembalikan ingatan lama. 

Hal pertama yang memalukan, saat semasa menjadi ketua tingkat di semester 2. Tugas kating (ketua tingkat.red) mengambil dan mengembalikan kunci kelas di ruang TU. 

Sore itu, setelah kelas selesai. Aku pun bergegas naik satu tingkat dari lantai 5 ke lantai 6. Saat mengembalikan kunci. Aku mendengar petugas pemberi kunci berteriak, “Pak! Kuncinya sudah ada,” jawabnya setengah teriak. 

Aku tidak menghiraukan. Karena hari itu benar-benar letih. Saat aku kembali. Aku bersisian dengannya. Wajahnya seperti mahasiswa senior. 

Dia : “Hei! Fakultas apa?” teriaknya dari belakang.

Aku : *Kaget dan berhenti sebelum turun tangganya. OMG mimpi apa bisa dipanggil si dia … Sedikit tergugu, dengan sikapnya yang humbe. “Iyaaa, Jurusan ilmu Komunikasi, Kak.” 

Dia : “Oh, iya satu fakultas,” jawabnya sedikit tergopoh ikutan turun tangga.” 

Aku : “Kakak sendiri jurusan, apa?” 

Dia : *Tersenyum dibalik mata yang teduh. “Hubungan Internasional!” 

Aku: “Saya duluan ya, Kak.” Aku langsung bergegas menuju lift. Sedangkan dia menuju ruangan yang aku tempati sebelumnya. Tepat di depan Lift.

*Seperti ada kilat di depan wajah.

Setelah aku ingat-ingat. Petugas tadi memanggil dia dengan sebutan Bapak!

Buru-buru aku pulang ke Kos menanyakan, nama pengajar yang sering teman kosku ceritakan. 

“Nama dia Pak Hafid!” 

“Kyaaaaa …. Benar dong!”

Saat itu aku ingin teriak…. Apa? Panggil dosen dengan sebutan “Kak!”

~*~*~
Episode ke-2

Saat itu sedang ada di kawasan camping. Di mana lokasi kemah kami jauh dengan toilet. Anehnya setelah acara api unggun berakhir. Aku kebelet pipis. Jam sudah menuju pukul 24.00 Malam itu sudah benar-benar gelap. Kecuali lampu senter yang muncul dari handphone kecilku. Api unggun sudah redup. Jarak lokasi ke tempat mandi sekitar 300 meter. Sialnya, semua teman cewek gak ada yang mau nemani ke kamar mandi. Alasannya udah capek. 

*ka*pret setiap mereka butuh temani, aku selalu ada. Kyaaaaa… Sabar-sabar…
Kujalani jalan setapak. Demi setapak. Dengan lampu senter hape jadul yang punya tombol 10 biji kalau gak salah. Kalau salah, ya udah hitung sendiri. 

Suasana benar-benar mencekam. Ada suara air di sekolan. Gemirisik angin dengan bebatuan. Setelah sedikit kepayahan 20 menit aku sampai di lokasi. Tetapi, kenapa penuh dengan orang kemah? Dimana toilet? 

X : “Mbak! Tengah malam mau ke mana?” 

Aku : *Melihat pertanyaan diajukan kepadaku, jalanku terhenti. “Eh … Ke toilet, Mas!” Sepertinya dia salah satu dari bagian camping yang lain. 

X : “Lewat sini mbak, bukan sana!” 

*Deggg! Wong tadi pagi aku hafal, bisa lewat sini. Bisa salah! 

Aku : “Eh, iya mas! Makasih.” 

*Wajahnya tertutup silaunya cahaya. Acara mereka sepertinya belum selesai. Aku abaikan banyak tatapan mata. 

X : “Sama-sama.” 

15 menit kemudian. 

X : “Mbak! Mau ke mana lagi?”

Aku : *Ihhh sudah gak kenal, suka urusin hidup orang. “Balik ke bumi perkemahan saya, Mas!” 

X : “Loh kok menuju luar gapura?” 

*Eng in eng. Rasanya ada soundtrack lagu ini,

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu. Butiran … es oyen. 
Ndak jelas. Seng penting aku malu. Lagi-lagi banyak mata mengekori langkahku. 
Penulis : Baiq Cynthia

3 Rasa Kehilangan yang Berarti~#7DaysKF


Hari Ke-3

Kehilangan–sebuah rasa yang merupakan antonim dari memiliki.

Kehilangan itu bersifat relatif setiap orang. Ketika ada sesuatu yang mungkin bagi kita berharga, belum tentu bagi mereka juga berharga. 

Tetapi, hal yang berharga biasanya yang sering melekat pada kita. Ada 3 kehilangan terbesar yang sulit aku lupakan. Meskipun sudah terlupakan. 

Pertama kali saat aku ingin memiliki sebuah flash disk. Harus benar-benar memendam perasaan itu. Aku tergolong tertutup saat zaman wajah masih tirus. (*Untung sekarang ada aplikasi bikin tirus)

Hingga sebuah senja, Ayahku menemani ke sebuah konter hape. Untuk mencari FD. Zaman hape qwerty, FD 2 GB sudah cukup. Tetapi, Ayahku membelikan yang 8GB. Awalnya, saya di tawarkan yang 16 GB. Saya menolak. 
Warna merah dan ada logo yang keren. Bisa dikasih gantungan kunci. Aku menyukainya. Di FD itu bisa menyimpan hal baru.

Mulai dari tugas sekolah SMA kelas 1 hingga lulus. Aku suka sekali mengambil objek yang unik. Sejak dibelikan handphone yang memiliki kamera. Saat itu 1.3MP sudah bagus. Apalagi vendor yang terkenal. 

Objek yang sering aku ambil, mulai dari kucing peliharaan, moment gambar kadal menyendiri, bunga kamboja yang berbuah, foto pribadi, dsg.
Ternyata, setiap minggu file selalu bertambah. Tidak terbatas pada foto, tugas, juga karya kreasi dengan photoshop dan Corel, aplikasi edit video dan path, film tentang Agama, hasil subtitle sendiri, musik, animasi, dan lain-lain.
Pertama kali suka menulis itu semenjak diberi pinjaman laptop oleh teman baikku. Aku bisa menulis. Juga menyimpan di Flash Disk. Semua draft novel tersimpan rapi di dalamnya. Termasuk file penting. Yang tidak bisa didapatkan di internet. 

Video saat aku bermain peran di lomba film pendek se-Jatim yang diadakan oleh ITS Surabaya. Sekolah kami masuk kategori favorit. 

Isi flash disk itu terkumpul 10.000 foto yang dihimpun dari handphone jadul- hape adikku yang keren. 

Suatu hari teman masa SMA yang tinggal 1 kamar kos denganku meminta izin untuk pinjam FD.

Awalnya aku ragu, karena dia suka lupa dengan barangnya sendiri. FD miliknya pun suka sekali hilang. Tetapi, dia sudah baik kepadaku. Menampung di tempatnya.

Aku berikan tanpa, ba-bi-bu. Ketika ditanya sudah selesai? Jawaban astaga, tertinggal di gedung PKM-nya. Begitu terus hingga FD ditemukan oleh orang lain. 

Ternyata setelah seminggu terlewatkan, FD itu dinyatakan hilang dari radar. Aku meminta lelaki itu mencarinya. Karena isinya penting! Aku gak bisa menjamin bagaimana jika semua dokumen disalahgunakan. :’) 

Karena moment itu bertepatan dengan Ramadhan akhir, detik-detik mudik. Dia tak mau ribet. Mengganti FD aku. Herannya dia memberikan FD yang berbeda dengan kapasitasnya sama. 
Padahal zaman saya beli hampir 90 ribu diganti dengan FD 45 ribuan. Syedih bukan main. Benar saja FD baru itu mudah terinfeksi virus. Berapa kali saya format data. 

Saya tidak menyukainya. Bahkan saya biarkan orang-orang mau pinjam FD tersebut. Lagi-lagi FD yang saya punya dipinjam orang lagi. Kembali–hilang. 
Memang harganya tidak seberapa, tetapi isinya yang sangat berharga. Foto yang sengaja dikoleksi, dari hari ke hari. Perjalanan hidup saya di pulau Dewata. 

Tak ada lagi. 

Yang kedua saya kehilangan handphone beserta kartunya, termasuk kartu memori. 

Saya suka sekali meminta hasil foto dan menggunakan memori card supaya aman. Tidak bisa dipinjam. 

Ternyata kalau sudah apes itu gak bisa mengelak. Tas saya digondol sama 2 orang yang Jahat. Semua isi tas ditarik dengan entengnya. Padahal yang ditarik bukan sekedar bunga di pagar rumah orang. 

Awalnya aku merasa tidak kehilangan, detik berikutnya sadar. Ada buku pinjaman milik perpustakaan Kampus. Mati! Ada dompet yang berisi kartu Identitas diri, KTM, ATM, surat-surat dispensasi, foto sahabat, surat perjanjian, antingku yang tinggal satu. 

Juga handphone pemberian seseorang. Di sana ada banyak kontak penting yang tidak memiliki salinan. Bahkan saya tidak hafal nomor keluarga di rumah. 

Menangis sejadi-jadinya. Meski jalanan ramai pada malam itu. Tidak, masih jam 18.15. 
Hanya karena kehilangan dalam satu detik. Ribuan detik harus dikorbankan. Meminta pemblokiran ATM lama. Membuat baru, dengan menunggu KTP baru. Semuanya menjadi rumit. Di mana tinggal di kota orang. Jadi, mau tak mau semua diurusi seorang diri. 

Repotnya jadi Maba sendirian ke barat ke timur. Hingga dimarahi habis-habisan, oleh orangtua pengasuh.

Oh iya, walaupun Sim card telepon itu bisa diperbaiki, nyatanya kontak akan kosong melompong. 

Terakhir, kehilangan yang paling besar yaitu kehilangan momentum bersama. Teknologi menggeser semuanya. Membuat yang jauh menjadi dekat yang biasanya dekat menjadi renggang. 
Dulu, masih hanya handphone biasa. Sering nelp hingga berjam-jam dengan adikku. Apalagi kalau gratis bicara hingga dower.
Sekarang era medsos, setiap ditanya pasti jawabnya singkat. Setiap diajakin VC pasti sibuk. Tetapi US (Update status.red) terus tiap menit. -_-
Akhirnya, biar lengkap kehilanganku. Aku hilangkan akun medsos milikku! 
Karena sejatinya, hanya dengan menghilang kita akan dicari. Meskipun saat-saat ‘genting’ saja. 

Hikmah kehilangan … kita menyadari, bahwa tidak ada yang benar-benar murni kita miliki. Bahkan jiwa kita sendiri–Milik-Nya.

By: Baiq Cynthia

Hewan, Sahabat Manusia


Hari ke-2

Jika saya diberikan kesempatan untuk bisa memelihara beragam binatang yang ada di rumah maka saya sangat senang sekali. 

Selain pecinta Binatang saya suka sekali dengan jenis-jenisnya. Meski keberadaannya sudah hampir punah. 

Binatang pertama yang ingin saya pelihara adalah burung Beo atau sejenis kakak Tua.

Mengapa? Burung ini bisa bicara dan saya termasuk orang yang tidak suka berbicara kepada keluarga. Lebih suka cerita kepada langit, angin yang lewat. Andai saja keberadaannya tidak termasuk hewan langkah. Pasti saya bahagia sekali.
Binatang yang kedua, mungkin saya ingin memelihara Monyet kecil. 

Spesies yang mudah dibawah ke mana-mana. Monyet kerdil ini seukuran jari orang dewasa. Saya ambivert, tidak suka dengan keramaian. (Terkadang) Meski ada di sekitar banyak orang. Terkadang ada rasa enggan untuk berinteraksi. Entah merasa minder atau mereka terlihat cuek.
Binatang ketiga yang ingin saya pelihara adalah burung hantu. 

Meski tidak terlihat seram. Tetapi, hewan nokturnal ini pasti akan bermanfaat. Di rumah terlalu banyak tikus. Saya benci. Mereka terlalu ahli memanjat lemari, hingga bisa memiliki terowongan di atap. Saya ingin punya security. Makanan yang di meja acap kali ludes. Padahal ditutup dengan tutup saji. Tikus zaman sekarang terlalu pintar. Saya yakin burung hantu yang bisa memutar kepala hingga 360°, mampu mencengkeram tikus nakal.
Binatang keempat tentu saja kucing. 

Saya pecinta kucing. Tetapi, dilarang memelihara. Alasannya saya alergi bulunya. Walaupun dilarang. Tetap saja saya suka mencuri waktu untuk bisa bermain dengan kucing peliharaan orang. Setiap melihat kucing milik orang pasti diajak selfi. Ya … walau meronta-ronta. Hingga ikutan eksis. Kucing anggora, persia, peak nose, atau lokal. Saya suka!
Terakhir, ni ya! Saya ingin memelihara simpanse.

Mamalia yang mirip manusia ini, sangat cerdas. Tak heran di beberapa film produksi Hollywood sering ikut syuting. Kalau saya malas mengambil barang, tinggal minta tolong dia. Apalagi kalau ada tamu, dia bisa jadi guardian pintu. Wahahaah tapi, saya gak mau dia ikut tidur bareng. 

*Absurd
Jadi kelima hewan itu pasti bikin hidup saya bahagia. Setidaknya hingga status j*mbl” itu punah. 

Haruskah cerita tentang Aku?


Setiap orang yang memiliki kemampuan pasti akan ditinjau, siapa dia? 

Sepertinya jati diri tidak lepas di setiap individu. Bahkan jika memiliki teman, kamu sering mendapatkan pertanyaan. “Siapa dia, siapa kamu, siapa gadis berkerudung merah, siapa yang menandai kamu.” 

Hingga kamu menerima banyak pertanyaan yang di-awali kata siapa. Tak jarang saat pertama kali melihat seseorang yang terlihat menyimpan banyak misteri. Hatimu pasti bertanya, ‘siapa dia’. 

Pertama kali muncul di sebuah pikiran pasti namanya. Semua orang pasti punya nama, meski ada yang namanya hanya satu huruf. Seperti “Q”, di mana? Indonesia kok. Kemarin sempat baca di koran. 

Nama sendiri, tergantung dari orangtua yang memberikan. Tergantung pula latar belakang, budaya, sosial, etnis, agama, negara, suku dan sebagainya. 

Ada juga kok yang namanya menggelitik, seperti yang sempat viral. Bayi Pajero Sport lahir pada 26 April lalu di kawasan Ciputat.

Baiklah, nama itu terkadang penting. Karena merupakan doa. Benar-benar sangat berefek pada masa depan anaknya. Rata-rata nama hanya mengandung dua unsur. Nama panggilan dan nama lengkap.

Saat saya menyebut nama saya sendiri. Terkadang saya bertanya-tanya. Apa artinya? Meski nama saya berbeda di dua akta kelahiran. 

Kok bisa punya dua akta? Entahlah itu sejak proses pindah yang membutuhkan keterangan lahir di kota bersangkutan. Versi pertama yang benar. “Baiq Cynthia M.R.M”, yang keliru ketik menjadi Baiq Synithia. Coba perhatikan saat menggunakan vocal. Syni-Thia. Yang berarti memanggil Thia. 

Tetapi, sempat kecewa. Mengapa nama saya Cynthia? Tidak ada artinya. Yang saya tahu itu nama artis-artis. 

Ribet … Sosok yang selama ini mendidik saya tiba-tiba mengatakan nama saya itu berarti “Cinta” atau kasih sayang. 

Saya tinggal bersama paman sejak bayi, juga bersama Nenek yang lingkungannya ‘berbau’ arab. Meski saya bukan darah asli arab. 

Masih banyak yang suka berlaku SARA. “Tidak termasuk golongan lah, Orang ‘Ahwal’ (Bukan keturunan arab. Red) 

Sedih rasanya, apalagi tidak tinggal satu atap dengan orang tua kandung. Dia ada, tetapi seperti tak ada.

Baiq–banyak orang awam pasti mengatakan, “Namanya artinya baik, ya!” Banyak pula yang menyangkut pautkan dengan lagu. Bahkan jika pengajar yang sering berucap “baik!”, teman-teman akan menoleh ke arah saya.

Tetapi, bagi mereka yang mengerti. Nama Baiq memiliki arti sendiri, terutama mereka yang asli Lombok, NTB. 

Pentingnya sebuah nama, karena dengan nama kita dikenal. Bahkan hanya dengan nama pula kita bisa tercemar. 

Oh iya, nama ekor M.R.M itu Maulidia Rose Mitha. 

Nama satu RT! Karena zaman saya lahir, nama panjang masih jarang. Berbeda dengan sekarang. 

Arti nama saya sesungguhnya. 

Baiq–keturunan Ningrat di Lombok, yang memiliki kasih sayang, lahir di bulan Kelahiran Nabi Muhammad, Mawar Mitha—Penyematan nama Ayah saya. 

Usia saya sudah menginjak kepala dua. Lahir di tanggal 30 Juli. 

Saya penyuka kucing dan binatang lainnya. Sejak kecil sudah bisa akrab dengan hewan. 

Bahkan kata Nenek saya, saya bisa menjinakkan anjing galak. Masih usia balita, tetapi sulit bagi saya untuk mengingat. Kecuali cerita dari Nenek dan kerabatnya. Saya percaya. Karena yang bicara tidak hanya nenek saya. Beliau pun memiliki ingatan yang kuat. Aku menyayanginya. 

Fakta yang (mungkin) tidak akan dipercaya. Masih kecil saya menjadi cenanyang. Bisa menebak apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Usia 5 tahun. 

Namun, sejak usia 6 tahun kekuataan itu berangsur pudar. Bahkan usia 7 tahun, saya selalu  salah menebak. Seperti saat ditanya ayah, mengenai adik dalam kandungan. Jenis kelaminnya ‘apa’? 

Bersyukur, sudah tidak memiliki lagi. Dalam agama saya pun dilarang. Pun tidak bisa melihat ‘mereka’ yang ada. Hanya merasakan kehadirannya. 

~*~

‘Hobby’ saya bersepeda, bermain bulu tangkis, membaca, menulis, menggambar dan usil. Itu hobi saat kecil, namun kini hobinya mempelajari hal baru. Entah itu menjahit, memasak, menggambar. Tetapi saya lebih sering menulis dan membaca.

Sejak kecil saya sering menulis satu kata di kolom cita-cita. Bahkan impian itu tak pernah tercapai. Sungguh anugerah, walaupun tak pernah tercapai. Setidaknya saya tahu rasanya di bagian itu. 

Tetapi, impian besar saya adalah menjadi penulis inspirasi, entrepreneur, menginjakkan kaki di Taj Mahal.

Yup! Pecinta film Bollywood, termasuk budaya, bahasa dan orang-orang sana. Saya bukan follower yang suka ikut-ikut trend

Zaman booming ini ikut ini, booming itu ikut itu. Saya suka India sejak usia 4 tahun. Saya suka lagu dan tariannya. 

Bahkan tanpa saya sadari, saya sering tiba-tiba familier dengan lagu India yang saya tak miliki di list lagu. Karena memang saya tidak memiliki koleksinya lagi. 

Sempat pula saya punya banyak kenalan ‘dumai’ dari negeri sana. Bahkan menjalin sebuah perasaan ‘terlarang’. Bukan hanya sehari dua hari. Komitmen itu sudah tertanam begitu dalam. Meski tak pernah benar-benar bertemu. Kurang lebih 5 tahun. Kini hanya tersisa serpihan memori. 

Berbicara tentang asmara, saya dikira bercanda. Lebih memilih orang yang tak diketahui daripada yang saya kenal. Itu absurd

Entahlah, sejak dulu saya lebih suka memilih jalan saya sendiri. Entah bagi mereka itu salah atau benar. Tetapi, selama masa penjajakan tidak benar-benar mudah. 

Perbedaan bahasa, menuntut saya harus dekat dengan kamus Inggris. Berbeda waktu, mengharuskan membagi waktu. Tak jarang saya begadang. Demi bisa chat meski hanya satu menit. 

Saat itu saya tidak pernah berpikir dugaan lain. Yang saya tahu dia tidak pernah gombal dan kacangan. Jadi, kami seperti sahabat yang erat. 

Lupakan. Masa depan masih misteri, termasuk jodoh. 

Tidak ada yang benar-benar saya simpan dalam hati. 

Tipe kepribadian ambivert. Saya temukan … karena bisa berubah dalam waktu yang sama. Bukan plin-plan. Namun, suasana hati. Bisa menyendiri di keramaian. 

Masalah pendidikan. Alumni taman kanak-kanak ABA 4. Masuk SD negeri, karena saat akan masuk SD swasta unggulan terbentur dengan dana. Pun SMP sama dengan SD. 

Tetapi, dunia berubah saat negeri Api diserang Boneka Salju. (Nilai UAN murniku tidak seperti lainnya). Hasil kerja kerasku tidak dianggap. Padahal tiap tahun selalu menyemat juara satu. 

Bahkan pihak sekolah pun memohon, agar aku tak lapor ke pihak berwajib. Masalah kecurangan tersebut yang nyasar ke kontak ayah saya. Karena semasa SMP saya tidak memegang telepon seluler untuk ke sekolah. 

Ketika, teman saya meminta nomor saya. Saya beri nomor ayah saya. Katanya khawatir kalau semasa ujian takut ada hal yang tidak diinginkan. Tetapi, itu kedok. Untuk mengirim kunci jawaban. 
Ini mungkin rahasia lama yang tidak pernah terbongkar. Tetapi, bagi saya kejujuran lebih utama. Saya sempat dipanggil ke BK. Lantaran tidak menggunakan ‘bocoran’. Saya tahu, konsekuensinya. 

Saya sudah memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Ternyata saat sistem masuk SMA menggunakan nilai UN online. Nilai 32,55 mudah sekali tersenggol ke deretan SMA pilihan terakhir. Sampai saya dan Ayah saya mendatangi Dinas Pendidikan. Untuk memasukkan nilai tambahan. Salah satu prestasi saya di juara olimpiade MIPA dan lomba Cerdas Cermat. Hanya menyumbang 0.4 %

Teman saya yang notabene hanya duduk di kelas–pasif, ternyata bisa masuk SMA favorit.
Saya kecewa? Tidak
Hal itu terulang lagi di SMA. Meski beda kasus. Sekolah saya termasuk minoritas saat itu. Banyak yang mengatakan ‘sekolah buangan’. 

Padahal saya lebih merasa bahagia di sana. Saya mendapatkan teman yang lebih bernilaikan pada moral. Lebih banyak kegiatan bermanfaat. Meski akhirnya, saat SNMPTN saya benar-benar kalah. 

Nilai saya bagus, namun ada banyak penilaian di sana. Seperti pemilihan jurusan, latar belakang SMA, alumni yang masuk PTN tersebut. 

Saya suka fisika dan Kimia. Itu mengapa saya dengan yakinnya untuk lolos, memenuhi kuota undangan yang hanya 30 orang. 
Gagal? Saya coba di PTS lewat jalur undangan. Saya diterima di IT. Selain menyukai hal eksata saya suka komputer. 
Orang tua saya tidak mampu, bahkan untuk bisa masuk. Harus merogoh kocek seharga laptop dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Patah hati. Banyak yang bertanya, mengapa tidak masuk universitas di kota saya? Kamu pasti bisa unggul. Tetapi saya merasa tidak tertantang. Saya jenuh. 
Hingga pergi ke Bali demi bisa kuliah. Impian saya hanya ingin kuliah yang penting bisa sambil kerja. Tetapi, sahabat saya menyarankan agar masuk universitas seperti dia. 
Dia bilang saya pasti diterima. Benar saja langsung tergiur. Saat ada jurusan yang sesuai minat dan bakat. Dengan tabungan seadanya saya terbang lagi ke pulau Jawa. Saya pikir semua akan seperti yang teman saya katakan. 
Ternyata berbeda, ada banyak prosedur untuk MABA (Mahasiswa Baru). Saya bertahan hingga semester 2 meski banyak karang kecil menusuk.Hingga pernah saya terminal. Tapi, masuk lagi. Lantaran teman seperjuangan tidak ingin status mahasiswa saya ‘dicopot’.
Entah mengapa saya kehilangan jati diri saya. Bahkan saya tidak tahu, siapa saya. Saat tidak mampu melunasi uang DPP. Sebelumnya saya bekerja meski sampai dini hari. Ikut ‘membantu’ … seseorang.

~*~ 

Kini sudah tahun keempat. Bahkan perjuangan itu sudah pudar. Teman-teman sudah akan skripsi. Tetapi, saya masih belum jelas statusnya.
Tidak usah tanya tentang beasiswa, beasiswa nasional, kabupaten, organisasi dan kampus. Tidak bisa. Kurang memenuhi persyaratan. Padahal jelas saya tidak mampu secara ekonomi.
Entahlah … menjelaskan tentang saya tak akan pernah ada habisnya. Apalagi menulis semacam Autobiografi. 
Saya bersyukur mengalami hal yang beragam, dari situ mata-hati terbuka. Bahwa hidup tak semanis gula jawa. Tak segetir jamu. 
Saya tidak bisa menjelaskan siapa diri ini, karena pada nyatanya masih ‘nol besar’. 

Hanya dengan menulis, beban emosional bisa tersalurkan. Di ujung sana harapan tertancap. Saya ingin buah hati saya melanjutkan kiprah mimpi yang tertunda. 

Salam, dari kota Situbondo.
#7DaysKF

*(Perkenalkan dirimu dalam sebuah paragraf) 

Sebuah Alasan, Bertahan Hidup


Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi selalu dengan alasan. Tidak ada sebuah kebetulan yang beruntun. Pasti ada makna yang tersirat pada kejadian yang telah terjadi. 

Faktanya hidup tidak selalu tentang kebahagiaan, hura-hura, kesedihan, kesuksesan, kegagalan, dan pernak-pernik lainnya. Hidup adalah proses panjang yang masih harus ditempuh. Sekalipun jiwa sudah berpisah dengan raga. Masih ada kehidupan, dalam dimensi yang lain. 

Life is an adventure. Banyak orang yang sukses, mereka ditempah pada proses yang sangat lama. Seperti intan di dalam lapisan bumi. Dengan suhu yang tinggi, juga waktu yang lama. Sebuah karbon bisa berubah menjadi intan. Berbeda dengan arang. Dia hanya ditempah dengan suhu biasa, waktu relatif singkat. Hasilnya juga hanya arang. Padahal dibentuk pada unsur yang sama. Karbon. 

Alasan aku masih bertahan hidup hanyalah satu. Aku pantang putus asa. Menyerah. Itu bukan tipikal yang cocok bagi calon entrepreneur. 

Ada banyak buah yang manis, dan tak sedikit yang getir. Nikmati hidup, meski sepahit buah pare. Khasiatnya pun banyak. Gula memang manis, tetapi terlalu banyak akan menimbulkan penyakit. Jamu itu pahit, cukup dikonsumsi akan membuat sehat. 

Sebenarnya tak ada alasan untuk frustasi. Rangkaian kehidupan akan terus mengitari jalan. Kita tidak tahu, kesakitan, kesusahan, yang dialami saat ini. Barangkali akan berbalik menjadi kemudahan, kecemerlangan di hari nanti. Setiap usaha tidak pernah menghianati hasil. Pasti ada feedback. 

Walau bagaimana pun. Setiap ada rasa kesungguhan untuk menyambung hidup. Penuh liku-liku, terjal, aral melintang. Pasti ada masanya hidup nyaman. Jika pun tak berkesempatan untuk menikmati hidup yang diimpikan. Kelak, percayalah. Ada hidup yang kekal pada keabadian. 

Hakikatnya hidup akan berlanjut, boleh saja tempat tinggal berubah. Namun, jiwa harusnya sama. Pantang menyetah. Punya jiwa optimistik. Daya juang tinggi.

Ingatlah, Presiden B.J Habibie pernah merasakan ditolak rancangan pesawatnya. Tetapi Beliau sukses di negara lain. Barangkali kita bisa, meneladani sikap pantang menyerah yang dimilikinya. 

Cobalah simak sebuah kisah lama yang mungkin sebelumnya pernah mendengar. Kisah Kijang dan Harimau. Kijang memiliki kecepatan berlari yang luar biasa daripada Harimau. Kecepatannya setara 98,1 km/jam sedangkan sang predator 60-65km/ jam. Jauh ya, rentang kecepatannya. 

Tapi, mengapa sang pemangsa mampu menangkap Kijang? 

Sangat benar Kijang mampu berlari cepat, seperti angin. Tetapi, setiap berlari Kijang terlalu sering menoleh ke arah belakang. Menatap sang lawan yang ingin memangsanya. Setiap menoleh ke arah berlawanan. Kijang menghabiskan sepersekian detik untuk menoleh. 

Kecepatan berangsur berkurang, saat proses menoleh. Kijang tidak percaya diri. Dia takut Harimau bisa menyusulnya. Itu sebabnya, mengapa Raja Hutan bisa menangkapnya dengan mudah. 

Pelajaran ini bisa kita petik, bahwa dalam hidup pun sama. Tidak perlu terlalu lama menyesali yang telah terjadi. Melihat masa lalu hanya membuat kita semakin rapuh. 

Percayalah, hidup tak mudah ditebak. Namun, bisa diupayakan. Sesulit apa pun hidupmu saat ini. Kelak akan berbuah kemudahan.

Jika ada kemarau panjang, akan ada masanya musim hujan. Air yang menumbuhkan benih harapan. Percayalah dan jangan menyerah. 

Hidup bukan untuk mencari alasan, tetapi alasan untuk hidup hanyalah hidup. 

#BaiqCynthia

#KampusFiksi

#HariKeTujuh 

#BasabasiStore 

#WritingChallenge7Days 

Tanpa rasa, Hampa~Kehilangan


Pernah merasa kehilangan. Rasa hilang yang sebenarnya tak hilang. Hanya raga yang hilang. Namun, hati terpaut.

Pernah juga aku kehilangan barang berharga. Diambil paksa oleh seseorang yang tak dikenal. Tetapi, awalnya ikhlas. Karena setiap apa yang kita punya akan kembali kepada Sang Pemilik keabadian. Setelah berpikir ada buku dan dokumen penting yang hilang. Airmata langsung tumpah. 

Memang tak mudah kehilangan sesuatu. Lebih tepatnya, sangat menyakitkan di awal. Tetapi jika ingat kembali, hidup hanya menumpang. Pasti akan berpikir kembali. 

Kamu akan ikhlaskan, walaupun barang itu berharga. Hal ini berlaku pada seseorang. Kita bisa jadi bersama sekarang. Kelak saat maut menjemput. Kita punya jalan masing-masing.

Bisa jadi kita kurang sedekah, sehingga kita merasa kehilangan. Sebab, ada hak orang lain pada harta kita.

Alasan Rasa Kehilangan yang terkadang lebih hampa dari Vakum udara. 

  • Ketika kita merasa kehilangan kepercayaan. Sudah sulit menjaga kepercayaan. Masih saja suka hilang.
  • Ketika kita kehilangan seseorang yang sebelumnya sangat baik kita kenal. Lantas dia pergi. Kita bertemu, bertatap muka. Tapi, seolah stanger. Itu kehilangan yang menyakitkan.
  • Kita kehilangan harapan. Saat sudah berupaya lebih kerasa mencapai sebuah kesuksesan. Namun, rintangan yang menghadang tanpa disangka-sangka. Harapan langsung luruh seketika. 
  • Kita kehilangan mimpi. Sudah lama merangkai impian. Menata masa depan. Tetapi, kita lupa bahwa ada yang hanya bisa menjadi impian. Tidak untuk jadi nyata. 
  • Saat rasa kehilangan sahabat. Sosok yang biasa menemani kita. Kala suka maupun duka. Entah mengapa, sahabat itu berubah. Dia ada taoi, membuat sebuah batas dia antara kita.
  • Saat kita merasa kehilangan ingatan. Sulit diungkapkan. Bagaimana mengembalikan ingatan yang sudah pupus. Memori indah hanya terasa seperti de javu. 
  • Kehilangan moment bersama keluarga. Keluarga yang damai dan tentram. Idaman semua orang. Tapi, tak semuanya harus selalu bersama. Bahkan air dan minyak pun sulit menyatu.
  • Kehilangan waktu. Tak bisa dipungkiri. Hidup ini hanya ditemani oleh detak waktu. Waktu tak bisa diulur atau dihambat. Saat sudah kehilangan waktu. Lantaran sibuk dengan kesedihan, terlalu bahagia. Lantas waktu hanya disia-siakan. Hingga sang waktu pun menghilangkan diri.
  • Kehilangan Kesempatan. Ini sangat menyakitkan. Ada pepatah mengatakan kesempatan tidak hadir dua kali. Saat ada kesempatan, sering kali kita mengabaikan. Seolah masih ada lagi kesempatan. Ternyata. Yang diharapkan sudah pupus. Usia yang terkadang menghapus kesempatan. 
  • Kehilangan cinta. Mungkin ini terbilang jarang. Tetapi, saya merasakannya. Bagaimana mungkin cinta bisa hilang? Bisa saja. Saat cintamu terabaikan. Dan tak ada cinta selain yang kamu harapkan. 

Kehilangan terbesar yang kadang kita lupakan. Hanyalah kehilangan kesehatan. Kita terlalu abai masalah menjaga kesehatan. Seolah hidup terlalu bebas. Padahal tak ada yang tahu hadirnya rasa sakit. Terlalu sering mementingkan kebahagiaan sesaat. Tapi, lupa sebahagia apapun yang kini kamu rasakan. Bersiaplah untuk merasakan kehilangan.

Boleh saja merasa kehilangan. Namun, tidak baik hingga meratapi. Carilah yang hilang. Atau ciptakan yang baru. Hidup akan suka saat ada yang hilang. Tapi, kita bisa belajar arti sebuah memiliki. 

#baiqcynthia 

#KampusFiksi

#BasabasiStore

#WritingChallenge7Days