Kisah ‘Pahlawan’ & Kucing 


Tolong menolong dalam kebaikan, begitu ungkapan yang sering saya simpan dalam benak. Meski hanya beberapa persen bisa mewujudkannya. 

Sumber gambar : google

Karena setiap bantuan yang kita berikan akan kita terima dalam bentuk yang lain. Janji Tuhan itu pasti, sedikit pertolongan yang diberikan akan dibalas berlipat-lipat tak terhitung. 

Terkadang, kesadaran akan membantu sesama pun pudar. Entah karena faktor rutinitas kesibukan yang luar biasa padat. Kurangnya empati terhadap sesama. Menjadi pahlawan, tak perlu menjadi tentara untuk membela tanah air. Membantu orang-orang lansia, anak-anak atau yang membutuhkan ‘perhatian’ khusus saat menyebrang jalan sudah meringankan beban mereka. 

    Hal-hal sederhana yang diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama;

  1. Seperti memberi tahu orang yang tersesat. Itu hal kecil. Tapi, sangat dibutuhkan bagi yang yang membutuhkan. 
  2. Mengembalikan barang yang jatuh atau tertinggal. Hal ringan, tapi bagi yang kehilangan sangat berarti.
  3. Mungkin punya banyak baju bekas. Pun bisa sangat berarti bagi orang yang kekurangan, korban bencana dan lainnya. 
  4. Meminjamkan uang, saat kondisi darurat. Pun merupakan pertolongan yang luar biasa bagi yang butuh.
  5. Hal sederhana lainnya, meluangkan waktu bercengkrama dengan keluarga. 

Hal-hal kecil di atas jika diupayakan secara maksimal. Kita bukan hanya sebagai pahlawan. Kita akan disegani, pun saat kita butuh akan diberi kemudahan. 

Mereka yang butuh pertolongan hanya sebagai perantara bagi kita untuk mendapatkan kesempatan berbagi, menolong sesama juga ujian. Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

Mustahil kita bisa melakukan sendiri. Kita hidup dan tumbuh besar karena orang lain (orangtua), kita belajar sesuatu pun melalui orang lain (pendidik), menikmati hal-hal yang bisa dikonsumsi dari orang lain (produsen), terakhir kita mati pun juga akan butuh orang lain (keranda tak akan jalan sendiri ke makam).

Sedikit senyum membahagiakan yang ikhlas untuk orang lain juga merupakan sedekah. Wujud berbagi kebahagiaan yang paling kecil. Sebuah senyum. 
Lantas, ada tumbuh begitu angkuh setelah dia mendapatkan target yang dia capai. Padahal, mustahil bisa diwujudkan sendiri. Coba, lihatlah betapa tangguhnya semut kecil mengangkat remah roti. Mustahil dia bisa mengangkat sendiri. Hadirnya teman, rekan, kerabat, semua orang di hidup kita wujud adanya peduli Tuhan. 
Sebelum, benar-benar ditutup. Izinkan saya berbagi kisah keluarga kecil kucing. Panggilannya luzi, kucing anggora yang usai melahirkan. Anaknya diadopsi oranglain. Dia kesepian, kehilangan. Sementara hasil indukan luzi dengan kucing lokal menghasilkan kucing blasteran yang lebih mirip kucing lokal. Ia pun memiliki tiga anak kucing. Berbulu mirip induknya.

Berhari-hari luzi merasa sedih, dia ikut merawat ketiga anak kucing. Melihat tuan rumahnya juga hidup susah. Memberi makan hanya sekali sehari. Luzi khawatir anak kucingnya kelaparan. Dia pun tak segan berbagi kelenjar mamae. Meski luzi sibuk menyusui. Sang induk pun berusaha mencari makanan. Mulai dari ikan di tong sampah, memburu tikus hingga mencuri ikan. 

Sebagai kucing yang tidak punya akal. Mencuri adalah jalan menyelamatkan nasibnya. Dia tidak tahu cara berkomunikasi, cara membuat pepes ikan, cara memancing atau cara menjual saham. Dalam pikirannya hanya anaknya dan cara menangkap tikus, kecoa, belalang, cicak yang bisa dilakukan. 
Maka, jika masih ada yang kurang peduli terhadap sesama. Bahkan melukai, berarti masih kalah dengan nurani binatang. Akalnya sudah tewas karena sifat kebinatangan lebih digunakan. 
Dari sana, kami menulis kisah-kisah manusia yang tidak peduli, mengeluarkan sisi binatang, rakus, tamak juga hilangnya hati nurani dalam sebuah kumpulan cerpen DARAH. >>Baca Selengkapnya 

Kemudian tak kalah penting, kembali lagi kepada sang Pencipta. Allah sudah membagikan rezeki sesuai kadar yang kita butuhkan. Bahkan masalah Rezeki, Jodoh, Kehidupan dan Kematian sudah diatur jauh sebelumnya. Sebelum penciptaan bumi. Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala sesuatu. Menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran : 190-191)


Manusia yang baik tentu akan menyukuri kehidupannya. Sebagai bentuk pedulinya bisa meluangkan waktu maupun materi untuk mereka yang membutuhkan. Jadilah pahlawan demi membantu sesama, peduli lingkungan dan binatang. 
Jika ada pakaian bekas yang masih layak pakai bisa donasikan kepada kami. LASNAS LMI SITUBONDOWOSO.

Kiranya itu saja yang bisa saya share di sini. Tidak menutup kemungkinan saya membutuhkan komentar anda. Barangkali ada yang tidak sepedapat. Bisa kita diskusikan bersama di FB : Baiq Cynthia

#SalamLiterasi 

Iklan

Nyanyian Jangkrik~Baiq Cynthia


​Dear Mantan. Hahaha. Gak cocok. GANTI.

Dear Penulis. 

Malam ini kusempatkan menulis di beranda yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Sebagai (calon) penulis, saya ingin menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur.

Alkisah, binatang kecil yang bernama Janma. Suka sekali mengerik. Membuat si Doki, tetangganya. Tak bisa terlelap. Hingga, usikannya. Membuat tanduk merah langsung menyala. Si doki langsung, ingin balas dendam.

Mengorok ala kodok. Emang doki itu seekor kodok lincah. 

Si Janma tak nerima, Doki punya suara yang mirip.

“Kamu kopas? Ya?” Mentah-mentah Janma negur doki. Dengan kaki mungilnya naik ke batu. Ala bos.

“Idihh, siapa kamu? Aku emang punya suara gini. Bagusan aku kemana-mana,” Doki semakin nyinyir. Sebetulnya Doki malam itu sedang ingin bersenandung. Mencari kekasihnya yang pergi, dibawa lari. Entah mengapa, Janma tak menerima.

“Oke kita duel malam ini!” suara serak di Janma memulai.

“Oke,” jawaban tak kalah lantang.

Mereka saling menunjukkan suara paling nyaring. Janma menggesek sayapnya dengan semangat. Doki menabu tenggorokannya tak mau kalah.

Malam, yang kabutnya mulai tebal. Awan mulai selimuti Dewi Malam. Dia bertengger, tanpa bergeser dari pangkuan langit.

Dewi Malam melihat seekor srigala yang kelaparan. Matanya merah mencari mangsa. Mulai mendongakkan kepala. “Auuuuuuuu!”

Seketika Doki dan Janma terdiam. Suara si Mister penjaga Dewi Malam, membuat bulu kuduk merinding.

Doki memilih pergi, meninggalkan Janma yang tiap malam bernyanyi tanpa nada. Mengusik siapa pun yang lewat. Janma sendiri sudah tak peduli dengan suara apa pun yang muncul di malam berikutnya.

Baginya, setiap suara punya ciri khas tersendiri. Tak perlu ada namanya mesin fotocopy di hidupnya. Janma, tak ingin menuduh Doki mengopas suaranya yang mirip.

~Goodnight

#StoryAiq

#basedtrue

#cernak

#minidoang