Sarapan Dulu Biar gak Sarap.


Makanan Khas Situbondo

#TajinPalappa

#Situbondo

Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah ‘Pahlawan’ & Kucing 


Tolong menolong dalam kebaikan, begitu ungkapan yang sering saya simpan dalam benak. Meski hanya beberapa persen bisa mewujudkannya. 

Sumber gambar : google

Karena setiap bantuan yang kita berikan akan kita terima dalam bentuk yang lain. Janji Tuhan itu pasti, sedikit pertolongan yang diberikan akan dibalas berlipat-lipat tak terhitung. 

Terkadang, kesadaran akan membantu sesama pun pudar. Entah karena faktor rutinitas kesibukan yang luar biasa padat. Kurangnya empati terhadap sesama. Menjadi pahlawan, tak perlu menjadi tentara untuk membela tanah air. Membantu orang-orang lansia, anak-anak atau yang membutuhkan ‘perhatian’ khusus saat menyebrang jalan sudah meringankan beban mereka. 

    Hal-hal sederhana yang diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama;

  1. Seperti memberi tahu orang yang tersesat. Itu hal kecil. Tapi, sangat dibutuhkan bagi yang yang membutuhkan. 
  2. Mengembalikan barang yang jatuh atau tertinggal. Hal ringan, tapi bagi yang kehilangan sangat berarti.
  3. Mungkin punya banyak baju bekas. Pun bisa sangat berarti bagi orang yang kekurangan, korban bencana dan lainnya. 
  4. Meminjamkan uang, saat kondisi darurat. Pun merupakan pertolongan yang luar biasa bagi yang butuh.
  5. Hal sederhana lainnya, meluangkan waktu bercengkrama dengan keluarga. 

Hal-hal kecil di atas jika diupayakan secara maksimal. Kita bukan hanya sebagai pahlawan. Kita akan disegani, pun saat kita butuh akan diberi kemudahan. 

Mereka yang butuh pertolongan hanya sebagai perantara bagi kita untuk mendapatkan kesempatan berbagi, menolong sesama juga ujian. Apakah kita benar-benar bisa menjadi pahlawan bagi diri sendiri? 

Mustahil kita bisa melakukan sendiri. Kita hidup dan tumbuh besar karena orang lain (orangtua), kita belajar sesuatu pun melalui orang lain (pendidik), menikmati hal-hal yang bisa dikonsumsi dari orang lain (produsen), terakhir kita mati pun juga akan butuh orang lain (keranda tak akan jalan sendiri ke makam).

Sedikit senyum membahagiakan yang ikhlas untuk orang lain juga merupakan sedekah. Wujud berbagi kebahagiaan yang paling kecil. Sebuah senyum. 
Lantas, ada tumbuh begitu angkuh setelah dia mendapatkan target yang dia capai. Padahal, mustahil bisa diwujudkan sendiri. Coba, lihatlah betapa tangguhnya semut kecil mengangkat remah roti. Mustahil dia bisa mengangkat sendiri. Hadirnya teman, rekan, kerabat, semua orang di hidup kita wujud adanya peduli Tuhan. 
Sebelum, benar-benar ditutup. Izinkan saya berbagi kisah keluarga kecil kucing. Panggilannya luzi, kucing anggora yang usai melahirkan. Anaknya diadopsi oranglain. Dia kesepian, kehilangan. Sementara hasil indukan luzi dengan kucing lokal menghasilkan kucing blasteran yang lebih mirip kucing lokal. Ia pun memiliki tiga anak kucing. Berbulu mirip induknya.

Berhari-hari luzi merasa sedih, dia ikut merawat ketiga anak kucing. Melihat tuan rumahnya juga hidup susah. Memberi makan hanya sekali sehari. Luzi khawatir anak kucingnya kelaparan. Dia pun tak segan berbagi kelenjar mamae. Meski luzi sibuk menyusui. Sang induk pun berusaha mencari makanan. Mulai dari ikan di tong sampah, memburu tikus hingga mencuri ikan. 

Sebagai kucing yang tidak punya akal. Mencuri adalah jalan menyelamatkan nasibnya. Dia tidak tahu cara berkomunikasi, cara membuat pepes ikan, cara memancing atau cara menjual saham. Dalam pikirannya hanya anaknya dan cara menangkap tikus, kecoa, belalang, cicak yang bisa dilakukan. 
Maka, jika masih ada yang kurang peduli terhadap sesama. Bahkan melukai, berarti masih kalah dengan nurani binatang. Akalnya sudah tewas karena sifat kebinatangan lebih digunakan. 
Dari sana, kami menulis kisah-kisah manusia yang tidak peduli, mengeluarkan sisi binatang, rakus, tamak juga hilangnya hati nurani dalam sebuah kumpulan cerpen DARAH. >>Baca Selengkapnya 

Kemudian tak kalah penting, kembali lagi kepada sang Pencipta. Allah sudah membagikan rezeki sesuai kadar yang kita butuhkan. Bahkan masalah Rezeki, Jodoh, Kehidupan dan Kematian sudah diatur jauh sebelumnya. Sebelum penciptaan bumi. Subhanallah. Maha Suci Allah atas segala sesuatu. Menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran : 190-191)


Manusia yang baik tentu akan menyukuri kehidupannya. Sebagai bentuk pedulinya bisa meluangkan waktu maupun materi untuk mereka yang membutuhkan. Jadilah pahlawan demi membantu sesama, peduli lingkungan dan binatang. 
Jika ada pakaian bekas yang masih layak pakai bisa donasikan kepada kami. LASNAS LMI SITUBONDOWOSO.

Kiranya itu saja yang bisa saya share di sini. Tidak menutup kemungkinan saya membutuhkan komentar anda. Barangkali ada yang tidak sepedapat. Bisa kita diskusikan bersama di FB : Baiq Cynthia

#SalamLiterasi 

Saat Rindu Mengerang-Baiq Cynthia (Sebuah Puisi)


Aku terpaku di sini. Menatap nanar pada serpihan rindu yang mengusik. Mereka bercanda denganku. Rintik hujan tak lagi datang. 

Senyap. Tremor serambi jantung yang tak terbedah. Menginginkanmu berdiri di dekatku. Kelak. 

Aku belum mampu tuk sekadar menyapa. Aku sadar, ragaku belum mampu menembus dimensimu. 

Jika engkau ingin berkata, kalimat suci yang sengaja kutunggu. 
 Janji kepada Abah, ikrar kepada Allah. 

Entah kapan. 
Sebuah penantian tak akan pernah berakhir sia-sia.
Sengaja kumenjauh. 

Aku ingin Allah-lah yang mendekatkan, debaran dengan jantung. 

Ah … sudahlah. Malam ini biarkan kututup rapat–jendela hati. Aku ingin hanya kamu yang mengetuk. Kelak.
Ya … kamu yang kutatap dari sini. ❤
Selamat malam. Kuharap malammu tak sayu oleh rembesan rindu. 
🍃

Di sudut kota, Saat rindu mengerang.

Baiq Cynthia
#Situbondo #bookstagram #blogger #autor #buzzer #futuredesign #Indonesian #muslim #poetry #puisi #jatim #rindu #love #malam #malang

10 Pemuda yang dimaksud Bung Karno


Tak usah bicara tentang keadilan di birokrasi dan jajarannya, Pemerintah dan perangkatnya. Itu urusan hukum. 

http://answersafrica.com/wp-content/uploads/2015/07/shutterstock_Symbol-of-law-and-justice-1.jpg

Berbicara saja bisa kena pasal. Apalagi, hingga mencemarkan nama baik. 

Berbicara tentang suara nurani. Suara rakyat seolah hanya dengungan dalam ruang hampa.
Berbicara soal ketimpangan ‘adil’. Saya temui dalam sebuah forum. Di mana banyak tamu penting. Saya segani semua. 
Meskipun saya tak sempat berkenalan, mereka tidak asing bagi saya. Fotonya sering terpampang pada banner, maupun baliho. Saya simak setiap tutur katanya. Hingga sesi penyambutan selesai. 
Beralih pada acara inti. Saya pikir seorang lelaki yang memegang mikrofon seorang pembicara. Namun, setelah mendengar isi pembicaraan. Ia pemegang kendali forum tersebut. (Baca : moderator).
Meski terselip pesan jenaka, yang seolah menjatuhkan satu pihak. Saya tidak mengerti siapa gerangan yang dia maksud. Mengkritik secara simile.
Pembicara di depan hanya sesekali tersenyum. 

Bola mataku fokus pada mereka. Pemateri. Meski ada beberapa bagian yang keluar dari topik. Membuat seseorang harus berdiri, menghilangkan rasa kaku. Terlalu lama duduk. 
Aku hanya terus mengikuti sumber suara. Ide-ide gagasannya. Sumbang pikiran untuk membangun bangsa yang ‘berpikir’. Bukan hedonis. 

~*~
Tibalah detik-detik terakhir. Di mana pembicaraan tidak hanya satu arah. Butuh suara dari ‘audience’.
Seseorang yang ingin bertanya untuk mewakili suara kami. Aku pun yang terbiasa bertanya, urungmengeluarkan suara. Aku yakin dia lebih bisa mengeluarkan suaranya. 

Tahukah kamu? 
Seseorang yang sudah mengacungkan tangan lebih dulu justru diabaikan. Seseorang yang mengikuti acara demi acara dengan takzim. Justru tak dilihat oleh pembawa acaranya. 

Kesempatan itu dialihkan kepada mereka yang masih dalam cakupan sama. Padahal undangan tak hanya terdiri dari pelajar, ada dari media, perangkat-perangkat berpangkat, hingga aktivis dan komunitas. 
Pertanyaannya pun seolah pernyataan. “Sudah dibahas saat materi, masih ditanyakan lagi. Aku tak mengerti, dia sekolah atau enggak!”  Mendengar suara si pemandu acara berkata kecil. Tanpa mic, aku tatap kerut wajahnya. Mimiknya, hanya tertawa masam. 
Aku hanya diam, mendengarkan seorang pelajar yang menjelaskan panjang lebar. Namun intinya satu. Pertanyaan tersebut hanya sebuah pernyataan tak berbobot. Mengapa aku katakan seperti itu, 4 pemateri di podium sudah menjelaskan dengan detail. 

Mungkin saja beda pikiran beda masa penyerapan informasi. Itu hanya bisa menengahi pikiranku. 
Kembali ke inti. Seseorang yang memang ingin menyuarakan suara, sebagai wakil banyak suara. Meminta kepada seorang panitia, untuk meminta mic-nya. 
Dalam waktu sekian detik, si pemandu suara. Tergopoh-gopoh dari sudut ruangan, berusaha merebut mic. Jadilah konflik kecil selang 3 detik. 
Seperti, dua anak kecil yang merebut es krim. Ini bukan sebuah es krim yang bisa dibeli lagi. Lebih dari itu.
Pembawa acara yang bertampang jenaka kini berubah merah padam. Seolah, ada butir kebencian kepada seseorang yang sempat mengusulkan pertanyaan. 

Aku sebagai penonton aktif, yang mengikuti acara dari awal sampai akhir merasa kecewa. 

Aku tatap dalam-dalam wajahnya. Tiga baris guratan. Cengar-cengir, tertawa sendiri. Tak segan-segan, dia memotong pembicara utama. Yang mungkin dalam benaknya dia tak berpangkat seperti yang ketiga. 

Aku tak pandai meramal, tapi aku hanya melihat jiwanya yang bicara. Bahwa, hanya dia yang benar-benar bisa menentukan siapa yang berhak bertanya. Siapa yang berhak berbicara. Meski sebuah pencitraan. 

Esensi forum yang penuh ilmu, ternoda oleh satu oknum tak bertanggung jawab. Membiarkan salah seorang calon penanya, harus terabaikan. 
Saat aku mendengar orang yang dia pilih, rata-rata hanya tentang ‘aku’. Ke-akuan. Di mana revolusi mental yang dimaksud? 

Acara yang hanya memakan belanja negara, tak menggubris suara rakyat kecil. 

Hanya sebuah forum ketidak adilan sudah bisa terlihat. Bagaimana, dalam cakupan lebih besar? 

Indonesia … bisakah sepesat negeri Jepang yang meski sempat mati oleh ledakan bom atom. Jepang mampu bangkit secara mandiri. Meski keterbatasan SDA maupun SDM.
Indonesia negeri yang kaya. Bahkan 1/3 dikelilingi lautan yang penuh kekayaan mineral maupun tambang. 
Ingat perkataan Ir. Soekarno selalu Pahlawan Proklamator:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno).
Justice for All. Harapannya, munculkan rasa keadilan tanpa ketimpangan. Tanpa berat sebelah. Meski kita melihat banyak ketimpangan sosial. 

Jika satu individu saja mewujudkan keadilan. Banyak individu pun ikut berpartisipasi. Tumpaskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Akan muncul 10 keadilan. Begitu seterusnya.

Indonesia, sudahkan merdeka? Merdeka dari rezim yang bernama KKN, Hukum memiliki mata uang, krisis kepercayaan. 
Ayo pemuda bergerak! 

“Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia.” (Bung Karno)

Penulis : Baiq Cynthia