Nyebur ke Kolam tak Akan Membuatmu Tenggelam, Malahan Jadi Ikan


Nyebur ke Kolam tak Akan Membuatmu Tenggelam, Malahan Jadi Ikan.

Sebuah pengalaman baru hari ini, selain mendapatkan kesempatan jalan-jalan gratis. Bisa juga menikmati home stay yang sangat elegan di sebuah daerah Sumbersari di Jember. Awalnya, berniat mengerjakan tugas saja alias mendekam di kamar penginapan. Sekaligus menikmati fasilitas tersebut, ada televisi, dan AC. Pura-pura jadi orang elit sehari dulu, ya! Bersyukur ada yang ngajakkin ke sini. Siapa lagi yang mau ngajak aku jalan-jalan ke luar kota, menginap dan makan-makan enak. Alhamdulillah, nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?

Baca lebih lanjut

Iklan

Sajak Pertemuan Semut ~ Baiq Cynthia


Pertemuan hal paling berharga dalam hidup

Meski pada akhirnya akan berpisah.
Pertemuan yang mengajarkan banyak arti dalam hidup. Bahwa kamu tidak lebih baik dari apa yang kamu pikirkan, Baiq.

Pertemuan yang menyatukan satu kesatuan yang baru.

Pertemuan yang kelak akan dirindukan, kesan manis, asam, dan getir.

Pertemuan seekor semut dengan temannya tidak akan sama dengan pertemuan kucing jantan yang mengeluarkan taringnya.

Aku tahu, setiap pertemuan sudah diatur oleh-Nya. Tidak ada pertemuan yang dibiarkan terjadi tanpa izin-Nya.

Tetapi yang aku sesalkan dari pertemuan, ketika aku berharap akan bertemu lagi.

Pada akhirnya aku sendiri yang terluka.

Pertemuan itu pertama dan terakhir yang kadang menyesakkan rongga dada.

Aku bertemu denganmu tanpa batas ruang dan waktu. Tapi, pada akhirnya pertemuan itu hanya sebuah bertemunya semut-semut yang harus kembali berjalan.

Kemudian aku sadar, tidak ada pertemuan yang abadi, selain pertemuan seorang hamba dengan yang Maha mempertemukan.

Aku bersyukur bisa bertemu denganmu meski akhirnya aku tahu, bisa jadi itu yang terakhir kali.

Pertemuan tidaklah salah. Bukan lebih baik tidak bertemu, kataku?

Hingga tidak mengisahkan kenangan terlanjur manis yang harus dihapus perlahan.

Jika memang pertemuan itu tidak berarti? Aku tidak yakin. Karena bagiku itu sangat berarti.

Di sudut pintu bus kami bertemu lalu kami harus berpisah setelah mendengarkan kisahmu.

Kisah tentang pertemuan yang harus diakhiri pada masanya.

Jika tidak karena bertemu dengan yang lebih baik.

Mungkin bertemu dengan ajal.

Itulah kisah pertemuan semut.

Situbondo, 2018

Perjalanan Baiq Cynthia 2017 (Awas! Membacanya Membuat Kecanduan)


Sudah di penghujung tahun. Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk masih bisa menghirup udara dengan gratis. Padahal baru kemarin saya menulis resolusi 2017 dan Alhamdulillah banyak yang terealisasi.
Sebagai wujud syukur saya coba refleksikan dalam bentuk tulisan di blog Daily’s Baiq. Seperti judulnya, hampir semua tulisan yang diposting di sini mengambil opini, kata hati dan pikiran Baiq Cynthia, penulis ambivert.

Langsung saja kita intip bersama apa saja yang sudah berhasil dilakukan oleh sosok ambivert. 

Bulan Desember 2017
Resolusinya menulis novel 6-9 hari. Loh? Emang bisa? Itu terinspirasi dari novel Semua Ikan di Langit yang hanya ditulis dalam waktu seminggu oleh penulis kece yang memenangkan Sayembara DKJ 2016.
Ternyata bentuk pencapaiannya berupa projek menulis tantangan yang diselenggarakan oleh Arsha Teen. Wih … 23 Hari! Sudah pernah baca kan? Gimana keseruan mengikuti tantangan AT. Tak hanya itu, bulan Desember bertemu dengan salah satu orang yang selama ini saya cari, bertemu dengan beliau saya semakin membuka mata untuk kembali bersyukur. Tentunya saya pernah posting di Blog ini tentang Still Find Dreams.

Saya juga berkesempatan belajar mengambil gambar dengan kamera DLSR yang baik dan benar, meski masih belajar rasa pegal saat memegang kamera tidak menganggu. Kemudian di bulan Desember berhasil memenangkan tugas TAT S4. Itu di luar resolusi, Alhamdulillah.

Mendapatkan rezeki dari buku yang dibagikan oleh Mbak Raisa. Keren dah, buku-bukunya. Menambah list bacaan 2018 😀 Alamat enggak beli buku, deh!

Percaya dengan Maha Kuasa Allah, memberikan rezeki tanpa batas kepada makhluk-Nya. Tugas kita hanya berusaha, berusaha, berdoa, berdoa dan tawakkal.
Tugas Desember juga makin banyak, di antaranya menjadi proof reader untuk naskah kawan-kawan, juga mengeditnya. 
Ini yang dinamakan learning by doing, yang penting optimis.


November 2017

Targetnya hanya menulis dan entrepreuner. Bulan November ternyata disibukkan dengan kontes UNSA 2018, Alhamdulillah lolos TOP 10. Meskipun harus gagal di TOP 7, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tentunya juga sudah saya bahas di blog maupun status medsos saya.  Bulan November saya juga diberikan kesempatan bertemu dengan keluarga di Bali. Sebuah anugerah yang bertahun-tahun saya harapkan. Selain itu, bertambah relasi dengan teman-teman penulis. Banyak hal baru yang didapatkan.

Belajar entrepreuner misalnya PASUKAN RESELLER buku DARAH yang masih proses Finishing. Mendapatkan banyak support dari teman-teman, itu hal yang luar biasa di bulan November ini. Intinya tetap harus low profile dan stay calm.



Beranjak ke bulan Oktober 2017

Mendapatkan panggilan untuk interview. Tapi, di bulan yang sama disuruh fokus persiapan ke Malang oleh kerabat. Aku mengalah deh, dan pada akhirnya rencana itu hanya menjadi wacana.

Harusnya bulan ini pindah ke Malang, tetapi Allah mungkin belum mengizinkan. Oh, Iya bulan ini dapat banyak hadiah berkat dunia literasi. Seperti hadiah dari I-Jakarta, setelah menang kontes mereview sebuah komik yang ditentukan oleh penyelenggara. Sekaligus hadiah dari Mpit Tivani, sebagai reward menjadi Proofreader naskah Kusindir Takdir.




Bulan ini juga banyak tawaran menulis review atas sebuah buku, meski belum maksimal. Ada sahabat pena yang memberikan masukan kepada saya, berkenaan review buku untuk lebih objektif. Itu mengapa akhir-akhir ini saya memilih mengurangi porsi mereview buku. Memang sebagai reviewer posisinya sulit. Selain diminta memberikan ulasan yang jujur, tugasnya menaikkan citra buku. Kesempatan selanjutnya saya akan mencoba belajar review buku yang benar-benar objektif.

Kembali lagi, tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Bulan ini juga seleksi UNSA yang harus mengirimkan sebuah video profil diri dan alasan ikut UNSAM 2018.

Bulan September 2017

Tim Darah mengadakan Kelas Menulis Online, ini benar-benar sulit. Karena tugasnya seperti seorang tentor. Memahami materi lebih cepat, juga menyisihkan banyak waktu untuk peserta kelas yang hadir dalam kelas online secara terlambat. Bulan ini juga sebagai awal dari proses belajar entreprenur. Saya bersama si kembar yang membuat grup bernama Trilogi, belajar praktik marketing out door di lapangan.

Mencari peluang di awal bulan di Job Fair, meski waktu hanya sehari di akhir lagi. Malam sebelum hari terakhir membuat surat lamaran kerja begitu banyak. Saking banyaknya sampai mepet saat pengumpulan. Pada akhirnya hanya ada beberapa perusahaan yang masih sempat dikirimi lamaran.

Seru banget, selain membuat kita makin percaya diri bisa bertemu dengan orang-orang baru maupun tidak sengaja bertemu kerabat dan teman lama. Bulan ini benar-benar tak terduga, harus ke Surabaya! Ini gak ada di target tahunan maupun mingguan ambivert. Awalnya hanya pergi ke Probolinggo, menghadiri acara nikahan kerabat. Eh, moro-moro kami diajak ke Surabaya hanya tujuan refreshing. Uniknya, kami malah harus tinggal selama 15 hari di kota Pahlawan, untuk menunggu jemputan. Banyak pengalaman seru dan asyik selama di kota besar yang notabene ibu kota Jawa Timur.

Acara dari perpustakaan kota yang pengelolaannya diberikan kepada komunitas kami, KPMS dan GSM. Lumayan selama 3 hari diberikan kesempatan jualan buku, beberapa karya anak Situbondo maupun buku titipan dari penerbit.

Terkadang kita tidak tahu kejutan apa yang hadir dalam hidup kita, apa pun itu. Allah telah mengatur skenario yang indah kepada makhluknya. Tidak ada yang benar-benar terjadi kebetulan di dunia ini. Pasti ada sebab dan akibat.

Sudah lelah dengan jalan-jalan dan menggagalkan proses belajar marketing. Lanjut pada bulan Kemerdekaan RI.
Agustus 2017




Bulan yang penuh semarak bendera merah-putih di tiap tempat ternyata menyimpan banyak kenangan. Salah satunya juga touring gratis ke Tuban! Meski hanya sehari, tapi ambivert punya pengalaman seru nih.

Pas baru sampai di alun-alun Tuban, kami membeli pentol. Salah satu di antara kami kepo (penasaran, red). Lantas bertanya tentang bahasa Madura, wajah bapak kembali kaku. Eh, dia malah diam. Pas kita udah beranjak pergi, dia misuh-misuh pakai bahasa Madura. *Reng, Madhura Jereee.

Lupakan, selain rasanya yang kurang enak dengan pentok/cilok di kota sendiri. Udara di Tuban panas banget! Ngalah-ngalahi kota Santri—Situbondo. Kapok, dah pergi ke sana. Enggak cocok, perjalanannya jauh, jalan rusak dan bikin pusing karena sepanjang perjalanan jarang pohon rindang. Orangnya juga sedikit yang ramah menyambut pendatang.

Alhamdulilllah, dapat kabar dari penerbit Scrittobooks buku DARAH di-ACC. Selain itu diberikan kesempatan belajar Content Writer. Agak sulit menulis dan mencari ide, saat yang bersamaan sering keluar kota, Jember, Probolinggo dan kota-kota lainnya. Bulan ini juga selesai mengedit naskah garapan teman penulis di tim Darah. Juga bertemu dengan orang-orang MLM. Itu tidak sengaja, saya pikir hanya sebuah demo kosmetik. Eh, ternyata salah satu produk MLM—enggak ikut Alhamdulillah dapat konsumsi gratis. Hihi
Bulan ini juga dapat Give Away dari Laksana.

Sempat bulan ini mendapat teguran dari Allah melalui cacian seorang penulis yang katanya sangat produktif. Sebenarnya saya tidak ingin ikut-ikut masalah kedua belah pihak, hanya sedikit ikut komentar. Eh, imbasnya malah buat status bandingan sepanjang rel kereta api. Saya sama sekali tidak menanggapi. Meski saya tahu itu dibuat untuk saya. Kok bisa tahu? Karena memberikan ciri-ciri bahasa kata yang menunjuk ke arah saya. Lantas saya diam.
Benar saja, beberapa menit kemudian dia mengirimkan pesan ke inbox. Semacam permohonan maaf.

Ah, sudahlah terkadang kita hanya perlu diam, mendengarkan, kemudian melupakan.


Juli 2017

Bulan ini sengaja tidak menargetkan apa pun, berkenaan dengan bulan kelahiran saya. Tak disangka diberikan tawaran untuk mengedit novel keroyokan yang diusung oleh Mpit Tivani. Sekaligus menunggu paketan berupa novel GPU milik Rini Hidayat untuk diberikan ulasan. Alhamdulillah senang banget. Tugas mengerjakan dua cerpen bergenre psyco? Risetnya butuh berminggu-minggu hingga kepala ikut mumet.

Selain mendapatkan kiriman buku dari penulis yang tinggal di Canada. Berkesempatan menang give away dari Mazaya Publishing.

Bulan ini refresing ke kolam bersama sepupu tercinta, tapi kali ini saya memilih menulis. Mencari ide berkenaan cerpen Psyco-pat. Di saat yang sama disuruh resume tugas bulanan Indonesia Membaca.

Bahkan tak jarang saya melewatkan event-event menulis karena terlalu banyak deadline yang harus dikerjakan. Ditambah dengan kegiatan outdoor yang tiada henti. Seperti acara nikahan yang banyak bulan Syawal. Baik nikahan maupun lahiran. 

Huhu bikin baper kaum jomlo.
Kabar baiknya, setelah mengindamkan lappy. Alhamdulillah bisa beli juga, meski bekas dan jadul banget setidaknya membantu menulis. Tidak lagi menulis dua jari. Tapi dua belas jari, bahkan untuk memaksimalkan kinerja lappy. Aplikasi di lappy hanya ada dua, program office dan antivirus (saja). Berharap kelak bisa upgrade ke laptop yang lebih tahan banting untuk kerja semacam design grafis.

Bulan ini juga diminta menjadi reviewer oleh rekan Gerakan Situbondo Membaca di Rumah Baca. Sedikit gugup karena manusia berjenis kelamin perempuan hanya saya sendiri. Setidaknya saya ditemani oleh ayah. Ayah? Ikut acara itu? Iya!!!

JUNI 2017

Mendapatkan tugas dari kakak saya selaku Dokter hewan. Merekap hasil menyuntik hewan ternak berupa sapi. Sebanyak 5000 data sapi. Itu benar-benar pengalaman yang tak terlupakan apalagi di bulan Ramadhan. Bertumpuk-tumpuk file yang harus dicocokan, sampai tidak tidur. 
Duduk, menulis dan fokus hampir 23 jam. Pernah! Mata sudah kayak hantu. Hihihi. Ditambah dehidrasi kurang minum, terlalu banyak duduk bersimpuh. Bersyukur enggak kena penyakit lama duduk itu loh.
Setelah menyelesaikan, saya langsung berhenti dengan baik-baik. Tidak mampu rasanya, hingga mengabaikan banyak kontes menulis. Apalagi saat yang sama tidak punya lappy. Akan makin melelahkan menulis melalui ponsel.

Bulan Ramadhan hanya punya kesempatan bukber (buka bersama) sekali dengan teman SMP. Itu pun di akhir bulan. Juga diberikan kesempatan ke Probolinggo.

Bisa dibilang bulan ini lebih sedikit berkarya, karena bulan-bulan meraup banyak keuntungan bagi Muslim. Bulan ini mendapat cobaan hati juga, selain patah hati karena sudah salah menaruh harapan. Terkena masalah dengan hati. Pokoknya hanya dengan menyibukkan diri untuk bisa menyelesaikan masalah luka itu.

Hingga sakit di ujung Ramadhan hingga bulan Syawal. Sakit yang jarang kambuh selama setahun terakhir.

Tapi, bersyukur masih diberikan kesehatan setelahnya. Hanya satu yang wajib diperhatikan—mindset positif.

Mei 2017

Menghadiri salah satu gerakan literasi Nasional di GOR. Safari Gerakan Nasional benar-benar acara yang luar biasa yang didekasikan untuk pecinta literasi, pesertanya juga berasal dari beragam golongan. Setidaknya meski tidak lanjut sekolah, ada kegiatan bermanfaat yang disuguhkan oleh Pemerintah. 
Alhamdulillah punya mesin jahit. Itu keinginan usai belajar menjahit di BLK. Salah satu resolusi yang ditunggu-tunggu bisa ikut pelatihan tersebut.

Bulan ini juga, hampir seluruh waktu tercurah untuk belajar menjahit, berurusan dengan mesin, jarum dan gambar pola. Gimana gak hampir seluruh waktu. Berangkat ke BLK jam 6.00 pagi dan pulang sore, usai magrib masih belajar menjahit di rumah teman hingga pukul 22.00 bahkan sampai rumah berusaha mengecek tugas-tugas literasi. Tetapi, dengan mengikuti kegiatan ini setidaknya hidup lebih berwarna.

Lebih telaten lagi menjahit, salah ya harus mendedel. Tidak ada yang instan dalam hidup. Bahkan teh instan perlu air panas dan gula untuk menjadi secangkir teh yang nikmat.

Bulan ini mendapatkan banyak pengalaman dari teman-teman juga, tentang arti disiplin waktu, menghargai proses dan pantang menyerah. Karena setiap usaha akan membuahkan sebuah hasil yang luar biasa jika dikeluti dengan sungguh-sungguh.

Dalam sebulan yang diberikan tugas oleh BLK (Lembaga Pelatihan Kerja) untuk bisa menjahit, minimal busana sendiri. 
Alhamdulillah selesai membuat 5 busana.
Minggu pertama belajar mengendalikan mesin, menggambar pola, mengukur . Minggu berikutnya belajar memotong, dan membuat baju mini (1). Minggu ketiga membuat baju mini (2) dan diberikan tugas tambahan dari Disperindag (1) busana bawahan. Lantas minggu terakhir mengebut buat tugas baju atasan wanita, rok, dan baju anak. Masing-masing batas waktu hanya selang 2 hari. Greget kan?

Ditambah di rumah tidak ada mesin jahit, jadi kalau belum selesai lembur bisa sampai jam 8 malam. Hahaha. Jangan bayangkan wajah kucel belum mandi atau perut kelaparan.

Kesempatan yang sama juga bisa beli buku salah satu penulis favorit. Dengan uang hasil tabungan. Meski sibuk dengan rutinitas, ke perpustakaan wajib.

Juga pernah sehari izin pulang lebih cepat demi bisa jalan-jalan ke Jember bersama sepupu. Di saat yang sama berkesempatan bisa makan makanan khas Italy yang selama ini hanya bisa dibayangkan saja. Alhamdulillah.

Oh, iya dapat buku dari Diva Press saat yang sama juga dapat hadiah mini speaker dari TV channel India.

Juga diberikan kesempatan bisa membantu acara nikahan saudara, selain baper ya happy!

Oh iya, sukses jualan online inner rajut beauty. Memang awalnya gak percaya ada yang mau beli, pada akhirnya laku semua. Itu sesuatu.

Intinya di mana ada kemauan pasti ada jalan, jangan pernah berhenti bermimpi.

Bulan April 2017

Bulan yang masih sibuk dengan kegiatan di BLK karena awal pembukaannya di akhir bulan Maret. Beberapa deadline menulis seperti mencari naskah Budak Setan (2) juga tidak dilaksanakan.

Bulan April full dengan kegiatan BLK. Saya hampir tidak ada waktu untuk online maupun menulis, bekejaran dengan waktu. Tapi, kami senang karena peserta pelatihan sangat lucu dan saling membantu.

Bulan Maret 2017

Paling Produktif! Selain bekerja sebagai marketing Haha Parfume masih sibuk jalan-jalan ke Sumenep ke acara nikahan saudara. Itu hanya satu hari dua malam. Bayangkan punggung rasanya retak duduk di bus 8 jam dan paginya acara walimah, malam resepsi dan kami langsung pulang Situbondo. Sampai di Situbondo tepat matahari bersinar.
Karena ikut seleksi di Teacher Clinic saat ada informasi tersebut. Alhamdulillah tanggal 8 Maret 2017, diundang untuk tes kedua berupa tes tulis. Maka saya langsung berangkat esoknya. Meski orangtua menangis derai seperti akan ditinggal berangkat Haji. Saya yakin ini mimpi saya, ditambah selama ini belajar English bersama Mr. Budi Waluyo secara online di Facebook.


Test Teacher Clinic
nantinya akan diberikan asrama di Pare, lokasinya di Kediri. Maka saya berangkat siang itu menuju Malang. Sendiri! Hihi nekat gitu ya? Walau Situbondo-Probolinggo ditemani sama Babe. Dia itu Ayah luar biasa yang tidak tega sendiri, tetapi karena minimnya ongkos, maka kami berpisah di terminal Probolinggo.

Sebelumnya saya juga sudah menghubungi teman kos lama juga sebagai kakak. Ingin ke Pare, dia sangat membantu. Subhanaallah, rasanya begitu dimudahkan perjalanan ke Pare, Kediri. Saat yang sama Malang sedang ada masalah mogok angkot. Saya juga sempat kontak teman saya di Malang, banyak yang tidak bersedia menjemput dengan alasan tidak ada waktu maupun tidak ada sarana.
 Alhamdulillah, salah satu sahabat dari SMA bersedia membantu. Benar saja sampai di Malang banyak penumpang yang ditelantarkan di Arjosari tanpa ada angkot yang beroperasi.

Sudah pukul setengah lima sore, tapi kami seolah lost kontak. Kembali dihubungi teman belum juga diangkat. Hingga dia datang menjemput jam 17.15 setelah berdiri sekian lama. Alhamdulillah perjalanan lancar meski sedikit macet. 
Kakak yang juga teman kos bersama sudah menunggu dia bilang abis Magrib mau berangkat ke Kediri. Takutnya makin malam. Iya, kami langsung ke sana, perjalanan 45 menit.

Susah payah memberikan uang ganti bensin, hingga saya harus pura-pura beli pulsa di indomaret. Tapi ditujukan untuknya. :’) Emang enggak seberapa setidaknya bisa membalas meksi belum setimpal. Dia sahabat yang baik banget. Semoga sehat selalu ya, kawan. Meski kita sudah lama tak bersama-sama lagi.
Perjalanan menempuh Kediri dilanjutkan, meski bokong sudah lelah duduk. Demi impian! Dikejarlah rasa khawatir itu. Kakak perempuan tangguh (teman kos yang kuanggap kakak), dia baru pulang dari kegiatan magang di India. 
Jurusan Hubungan Internasional membawa dia harus bekerja di Kedutaan. Maka perjalanan kami tidak terasa, karena sambil mendengarkan ceritanya selama di India. Negeri yang selama ini aku impikan.
Maka kalau ini diteruskan akan menjadi novel. Intinya setelah tes tulis ada tes wawancara. 
Peserta sudah tersisih 350 dari pelosok Indonesia. Aku gagal di tahap interview yang menyisahkan 50 peserta saja. Padahal sudah belajar sampai begadang dan semangat di pagi hari untuk datang tidak terlambat. Setidaknya sudah berusaha, hasil akhir kan Allah yang menentukan. Maka, kami pulang ke Malang esoknya hari Sabtu. Aku memberikan kabar pada orangtua di rumah, gagal dan akan pulan hari Minggu.

Nah, bulan Maret ini spesial! Karena bisa bertemu salah satu penulis yang selama ini aku kagumi. Dia menulis buku Go Internasional. Malam Minggu kami keliling kota Malang. Hihi senang rasanya kembali bernostalgia, meski banyak bangunan baru. Terakhir ke Malang bulan September 2016.

Pulang dari Malang pun sendiri, aku berangkat pagi. Harapan tidak terjebak macet, karena Weekend. Ternyata harga bus lebih mahal saat hari libur. Yang penting sampai dengan selamat, itu saja.

Selain pulang dari Malang dengan rasa lelah, aku juga ikut kegiatan literasi KPMS dan GSM berupa PekanLiterasik. Molor waktunya, terpaksa harus datang terlambat ke tempat kerja. Tapi, setidaknya lebih membahagiakan bisa berkumpul dengan teman-teman literasi.
Saya memutuskan resign, selain tidak bisa bebas. Saya juga mengincar kegiatan di BLK, ya! Menjahit itu loh. Test tulis esoknya setelah pulang dari Malang, mata masih sembab. Alhamdulillah lolos sampai test wawancara.

Dapat banyak buku, Go Internasional, buku dari Diva Press hadiah menulis KF, Cinta di Langit Konstatinopel dari penulisnya langsung, Alhamdulillah.

Di balik kegagalan ada keceriaan.
Rasanya masih ada 2 bulan lagi. Tapi, mengingat jumlah tulisan sangat panjang maka saya tulis point-pointnya saja.


Bulan Februari

Dapat hadiah dari Diva Press, Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault, Tamasya Cikaracak. Menerima pesanan kado untuk pasangan milik sahabat. Selain itu beli buku UNSA gratis member card yang selama ini diidamkan. Buku dari Padang, juga. Bulan ini lebih produktif selain gencar promosi tempat kerja, juga gencar menulis seperti mengirim sampel TAT S2 meski ujung-ujungnya gagal.

Ikut cerpen Feminax yang ujung-ujungnya tidak jelas pemenangnya. Saat itu juga sering baca buku di SCOOP selain di Ijakarta.

Masa Penantian yang tak berujung. Aku bahkan tak tahu. Labirin kesuksesan itu muncul. Akankah bisa pudar nantinya?
Seberkas cahaya telah pudar. Aku bukan penjaga mesin waktu. Bukan penghitung bintang gemilang. Aku hanya menanti bersamamu.

Finally, Januari!

Lebih banyak tugas di bulan ini merampungkan tugas terbengkalai di tahun lalu. Apalagi hobinya mereview buku. Ikut gabung di Indonesia Membaca, grup yang mewajibkan anggota meresume satu buku tiap bulan juga memberikan apresiasi kepada anggota lainnya.

Apakah kesendirian membuatmu lemah? Tidak! Allah selalu bersamamu. Kelak akan datang jodohmu.

Secara keseluruhan. Resolusi 2017 sudah tercapai kecuali menikah.

Kenapa? Itu masalah hati, meski banyak yang melamar tapi hati belum siap. Tentu tak akan bisa tercapai.

Lantas apa resolusi 2018?

Justru tidak ada, hanya ingin menjadi pribadi lebih baik lagi, lebih produktif dan lebih banyak bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil.

Oh iya tentang jodoh?!

Kalau masih ada yang menyinggung masalah tersebut, maka aku tak segan tanya kembali. KAPAN MATI?!




Sudah dijabarkan bahwa, hidup, mati, rezeki dan jodoh sudah menjadi kekuasaan-Nya. Kita hanya bisa berikhtiar juga berdoa. Karena jodoh tidak akan tertukar.

Sebesar apa pun resolusimu kika tidak ada keinginan untuk mewujudkan maka tidak akan ada artinya.

Salam literasi.
-Baiq Cynthia-

Tahun Baru Ala Ambivert (Coret-coret Akhir Tahun)


Merayakan Tahun Baru Ala Ambivert.
Dari dulu sama sekali belum tahu rupa dari tahun yang baru. Perayaan tahun baru itu apa? Menyambut tahun yang baru? Nungguin detik-detik jam 00.00? Ngapain? Lihat kembang api? Abis itu dingin-dingin pulang ke rumah? Macet? OMG!

Kalau dihitung beberapa tahun silam kurang lebih yang bekesan tentang malam tahun baru adalah … bunyi petasan yang menggelegar. Dentumannya mengusik alam bawah sadar, ya begitulah. Ingar-bingar di jalanan, tak jarang ada pesta miras. Kalimat barusan itu sudah sering kita dengar. Begitu yang disodorkan oleh acara televisi di beberapa stasiun. Selalu ada masalah. Tapi, ambivert punya cerita unik tentang Pengalaman Tahun baru di beberapa kota.

Tahun pergantian 2014 menuju 2015 (Denpasar, Bali). 

Rekan kerja sudah menyiapkan jadwal untuk party di Kuta yang notabene kota yang tidak pernah tidur. Tapi, tempat kerja saya yang ownernya Muslim meminta kami menghadiri salah satu agenda rutin tahunan. Rukyah dan muhasabah diri. Bertempat di kediaman Big Boss. Acara dimulai seusai sholat Isya’.

Semua peserta rukyah harus duduk tenang dengan mata terpejam. Mengikuti apa yang dikatakan oleh pembimbing rukyah. Doa-doa khusus digemakan dalam ruangan tersebut. Kami pun mulai khidmat. Baru berjalan beberapa menit, dari ujung sudah terdengar teriakan. Ya! Ada peserta yang kesurupan.

Lantas semua formasi berubah menepi, menjauh dari sosok yang kemasukan jin. Sedikit ngeri, karena yang kami lihat mata nyalang ingin menerkam. Suara yang lebih nyaring dan saya tidak bisa menceritakan kejadian itu.

Intinya setelah rukyah, kami mendapatkan pelajaran. Bahwa jiwa kami pun butuh untuk selalu diberi tameg untuk terhindar dari lubang-lubang masuknya setan. Pukul 10.30 pm WITA kami disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing. 
Berhubung jalan yang saya tempuh rawan macet, juga posisi banyaknya pengguna miras. Saya tidak ikut pulang ke rumah, saya memilih pulang dengan mbak V. Dia baik banget, ternyata kami pulang berenam. Saya, mbak V, Mbak I, dan satu lagi teman kami dari beda Showroom, ikut mengantar.

Jalan mulai sepi di area rumah Big Boss, mengingat jauh dari kompleks dan pertokoan. Tapi, kami berusaha untuk tidak gentar. Udara sudah dingin malam itu Rabu malam Kamis. Untung bukan malam Jumat. Lantas Aku, Mbak V dan Mbak I bertamu di rumah mbak I, kebetulan rumah mbak V tidak jauh dari mbak I. Sembari menunggu malam pergantian tahun. Mata sudah mengantuk sejak tadi. Tapi ditahan.

Tibalah saatnya malam itu berakhir, kami segera naik ke lantai dua rumah mbak I, untuk melihat taburan langit yang penuh dengan kembang api. Beragam yang timbul di langit, seketika aku merindukan rumah. Hanya selang beberapa menit, malam itu sudah berakhir.

Jadi, malam tahun baru hanya begitu saja?
Akhirnya kami ngobrol di ruang tengah kediaman mbak I, karena penghuni rumah sudah terlelap semua. Makanya mirip maling bisik-bisik. Mata kami sudah lima watt, ditambah keesokan hari, kami tetap masuk kerja. Akhirnya disudahi acara kami, aku dan mbak V pulang ke rumah mbak V. Kami pun melanjutkan acara menonton TV. Hihihi, bisa dibilang master begadang. Tapi, tak sampai pukul 2 dini hari sudah usai acara kita. Esoknya malah tepar.

Jadi kesimpulannya? Malam tahun baru membuat mata makin hitam. Efek begadang. Tubuh kurang fit karena dipaksa untuk terjaga.
Beda lagi pergantian tahun 2015 menuju 2016 (Malang, Jawa Timur).

Cepat sekali waktu bergulir, yang sebelumnya masih berstatus karyawan sekarang sudah berstatus mahasiswa. Malam tahun baru, bisa dibilang tugas yang menumpuk. Karena masih sore kami masih mengerjakan tugas di ITC. 
Bayangkan saja, itu hal yang menyebalkan. Walhasil aku pulang ke kontrakan. Bunda angkatku mengizinkan aku tahun baru bersama temanku. Tapi, aku gak suka. Karena kota Malang yang padat akan membuat jalanan macet.

Sedangkan temanku memaksa mengajak. Akhirnya aku ikutin saja, tapi sebelum itu kami mencari makan. Mencari makan. Jam 22.00 WIB mencari makan? Ada? Setelah keliling hampir sampai ke perbatasan Batu. Kami menemukan di salah satu warung. Membeli sate ayam. Bisa dibilang Mahasiswa itu kere, makan saja pas-pasan. Muka udah belepotan.

Usai mengisi perut, kami pun pergi melihat pertandingan basket di kampus, semacam latihan. Tapi, aku sudah merengek kepada temanku untuk pulang lebih awal. Entahlah aku merasa kalut, takut dan macam-macam. Tidak ada malam tahun baru selain ditraktir makan gratis. Tidur nyenyak sampai pagi.

Malam Tahun Baru 2016 menuju 2017 (Situbondo)

Kalau sudah di kota sendiri maka menjadi Rapunzell, di rumah. Eh tapi kebetulan kemarin itu masih sempat sibuk. Ngapain? Akhir tahun menyelesaikan bacaan. Buku Tentang Kamu-Tere liye dalam sehari semalam. Kebetulan bukunya dikasih oleh seseorang yang dermawan. Hihi, kemudian aku menulis resensinya.

Bisa baca resensinya di sini.

Punya waktu sendiri, membaca buku tuntas membaca sampai jam 20.00 WIB lantas langsung ngebut menulis. WAHHHH! Gak menyangka buku setebal 500 halaman bisa selesai dalam sehari. Xixixi. Itu karena selain bukunya memikat, juga isi ceritanya bagus. Bahkan tak jarang malah menangis sendiri. Terharu dengan perjuangannya yang super sabar , menghadapi segala cobaan.

Tetangga sudah ramai dengan acara bakar-bakar jagung dan ikan, aku hanya bisa diam mencium aromanya. Tak sampai pukul sepuluh, sudah memilih tepar. Tidur! Tiada masalah walaupun tak ikut melihat kembang api.

Tahun 2017 menuju 2018

Perkiraan ambivert sepertinya tidak akan jauh-jauh dari yang kemarin. Kalau enggak membaca buku, ya menulis atau mengedit saja. Toh, tidak ada manfaatnya melihat kembang api di tengah malam, berdesak-desakan dan menyebalkan saja kalau momentumnya hanya untuk melihat kembang api.

Sedih juga sih, akhir bulan kan sama aja dengan akhir tahun. Sama-sama tinggal dikit uangnya. Mending di rumah atau tidur, daripada begadang hingga kesehatan terganggu. Apalagi sekarang udah musim sakit, batuk dan macam-macam.

Saran Ambivert buat yang jomlo gak punya teman. Tahun baru tetap happy asal kita kreatif saja menjadikan momen yang baru. Misalnya nih, yang suka banget nonton film. Bisa tuh nonton film bareng keluarga, atau sahabat.

Buat yang suka baca kayak saya, nah- tantang dirinya untuk terus membaca. Selama masih diberikan kesempatan untuk membaca. Pilih buku-buku yang ringan dan pembahasan yang tidak begitu memeras otak, misalnya buku fiksi atau komik.

Bagi yang hobinya melukis atau menggambar, bisa banget memanfaatkan waktu untuk kreatifitas seninya.
Intinya, apa pun profesinya tetap untuk terus berproduktivitas. Demi masa depan lebih cerah. Tahun baru hanya sebuah bergantinya hari. Tidak otomatis dirimu berganti juga. Memanfaatkan resolusi tahun lalu yang belum direalisasikan agar segera tercapai.

Tahun baru ala ambivert itu berposes. ☺😊
Kalau ada yang bingung kenapa sampul postingan gak ada gambar kembang api(?) Kok malah hanya tiga koin dan stiker bekas kegiatan literasi. Karena akhir tahun baru hanya itu yang tersisa. 😂 

Realisasinya masih jauh dari resolusi. 

Terima kasih sudah mampir. 🙂

Selamat liburan! 😄🙏

Hati Ada Saatnya Retak


Terkadang kita begitu mudah mengatakan, “Aku tidak papa”. Daripada mengatakan yang sebenarnya. Mulut bisa sekali mengelak. Tapi, hati tidak. 

Perwujudan hati yang berselimut pada rongga dada, bisa terlihat dari mimik. Mudah saja wajah berkamuflase dengan sebuah senyuman. Tertawa dengan keras. 

Nyatanya, setiap hati pernah merasakan kecewa. Kecewa karena pengharapan terlalu tinggi. Kecewa yang terlanjur tertanam sejak lama. Pun oleh cita-cita yang kandas sebelum terbang. 

Seperti hati manusia yang berubah-ubah. Layaknya cuaca di langit. Sekarang mungkin mendung, entah esok cerah, atau gerimis. Bahkan gujan maupun badai. Tak bisa diketahui. Hanya saja, prediksi manusia melalui gejala alam. 

Hati yang luka berkali-kali tak lantas membuat pemiliknya lemah, tak selamanya begitu. Lihatlah, besi yang terus menerus mendapat bara api. Terus ditempah oleh kobaran panas. Terus ditindih oleh kekerasan. Bisa menghasilkan keris yang indah. Juga tajam. 
Seperti itu, barang kali. 
Hati menjadi lebih peka, merasakan. Hati menjadi lebih tangguh menghadapi hal remeh. Hanya dengan luka dalam hati, bisa membungkus kekebalan. Seolah ada tameng yang melindungi.
Itu sebuah filosofi hati. Yang entah dari mana hinggap pada pemilik ranting hati yang patah. 

Ada banyak drama yang mudah diperankan oleh aktor. Tetapi, tak bisa mempermainkan hati. Hanya Tuhan yang maha membolak-balikkan hati. 
Percayalah, saat musim gugur menghempas daun maple di atas gundukan tanah yang gamang. Akan tiba saatnya musim semi menyemai, daun-daun mungil di antara ranting yang pernah patah. 
Kita yang pernah terluka, masih memiliki kesempatan untuk bahagia. Hanya satu penyembuhan hati, melepaskan benalu yang mengikat hati. Mengosongkan rasa rendah diri. Mengingat Sang Pemilik hati. Berdekatan dengan-Nya. Curahkan semua tepian gerigi bimbang, keluh kesah yang tak beujung. Tentang impian yang terpendam.
Curahanmu akan didengar dan pasti dijawab. Pemilik hati akan selalu menjaga, mengilhami. Memberikan benih-benih RahmatNya.

Karena hati adalah lentera hidupmu.

Salam dari teratai yang merindukan kupu-kupu.

Situbondo, 12 Juli 2017